Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
44 : Kembalinya Raja dan Ratu Ikan


__ADS_3

“Aku pikir semuanya sudah berakhir ... tapi kini aku melihat banyak cahaya. Entah bintang berukuran kecil, atau malah kunang-kunang meski jelas kini aku di dasar sungai. Ikan-ikan kecil bercahaya ... mungkin ini memang hanya mimpi.” Tubuh Asih masih terjebak di sungai.


Sungai yang harusnya gelap di sana perlahan terang karena cahaya yang berasal dari ikan-ikan kecil. Merekalah yang Asih kira sebagai bintang kecil atau malah kunang-kunang. Mereka yang jumlahnya banyak tengah memandangi apa yang keluar dari pangkal perut Asih. Ada seonggok berukuran mungil yang juga turut dihiasi cahaya. Sosok tersebut makin lama makin besar dan wujudnya jadi makin mirip bayi.


Tak lama kemudian, ada satu lagi yang keluar dari pangkal perut Asih. Hanya saja, Asih yang sampai detik ini menjadi ratu ikan, masih belum sadarkan diri. Tak ubahnya seonggok tadi, sosok itu juga perlahan membesar dan lama-lama mirip bayi. Bayi bertubuh ikan, tepatnya. Ada sepasang dan perlahan berukuran makin besar bahkan tumbuh menjadi sosok dewasa melebihi Asih sendiri.


“Byuuur!”


Dua sosok manusia ikan tadi melesat ke atas, melakukan gerakan loncat, sebelum berakhir melayang di udara. Keduanya menyapa opa Helios dengan senyuman khas mereka yang tengah merayakan kemenangan.


“Masya Allah ... orang tua Asih kembali hidup?” pikir opa Helios masih bertahan mendekap Aqwa. Namun bisa ia pastikan, sepasang raja dan ratu ikan itulah yang delapan belas lalu menitipkan Asih kepadanya, di jembatan. Iya, opa Helios mengenali keduanya sebagai orang tua Asih. Ibarat pelangi setelah hujan bahkan badai, mungkin kini merupakan gambaran dari ungkapan tersebut. Setelah apa yang terjadi pada Asih dan orang tuanya.

__ADS_1


Layaknya Asih, Aqwa juga masih tak sadarkan diri.


“Jiwa keduanya yang ditawan Rajaraksa dan Lumut, akhirnya lepas bersama kematian pelaku yang sudah menawan. Orang tua Asih lahir dari anak mereka yang sebelumnya sudah membalaskan dendam mereka,” ucap kakek buyut yang kemudian menatap Aqwa. “Berkat kekuatan dari mas Aqwa, anugerah ini terjadi. Semuanya tidak ada yang sia-sia. Namun karena itu juga, mas Aqwa jadi tidak punya kekuatan maupun indra keenam lagi.” Kemudian tatapannya berangsur mengawasi para anji*ng yang perlahan bubar dari sana.


Tak ada lagi suara gonggongan atau setidaknya riuh. Semuanya tampak damai. Termasuk hawa dingin di sana yang perlahan menjadi hangat layaknya udara normal di tempat tanpa makhluk astral berkekuatan jah*at. Termasuk itu, para arwah penasaran yang sempat menyerb*u kamar Aqwa, mereka juga perlahan hilang bersama penahan mereka yang memang sudah dibumihanguskan.


“Lalu bagaimana dengan Asih?” sergah ibu Ryuna yang juga segera meminta mereka khususnya opa Helios dan kakek buyut, untuk mengembalikan Asih sebagai istri Aqwa. “Kembalikan Asih kepada Aqwa! Putraku bisa gil*a jika tahu istri dan calon anaknya tidak ada!” Walau dalam hatinya, ibu Ryuna jadi berpikir, raja dan ratu ikan itulah anak dari anaknya. Dengan kata lain, keduanya wujud dari cucu pertamanya. Karenanya, kini ia refleks menatap keduanya yang juga langsung membalas dengan tatapan sangat ramah.


Membahas Asih, ratu ikan muda itu masih tak sadarkan diri. Namun berbeda dari sebelumnya, kini perut Asih tak buncit lagi. Dengan kata lain, janin yang awalnya di sana memang sudah menjelma menjadi raja dan ratu ikan selaku orang tua Asih sendiri.


“Terima kasih banyak karena telah merawat Asih,” ucap raja ikan sangat santun sekaligus berwibawa. Beda dengan Rajaraksa yang clengean, selain bapak dari Lumut itu yang tak segan buru-buru kabur jika ada masalah.

__ADS_1


Opa Helios yang diajak bicara, langsung tersenyum kemudian mengangguk. “Sama-sama. Meski sampai detik ini, saya masih tidak menyangka sekaligus sulit percaya, kisah yang terlahir akan sangat di luar prediksi saya,” ucapnya.


“Namun seperti kemauan kami bersama. Seperti sewajarnya status Asih sebagai istri dari cucu saya, ... biarkan dia kembali ke daratan dan menjadi manusia lagi,” lanjut pak Helios sangat berwibawa.


Permintaan pak Helios membuat raja dan ratu ikan di sana, saling bertatapan. Keduanya yang sempat bertatapan berat, perlahan mengangguk seiring senyuman yang menghiasi wajah satu sama lain.


“Asih pasti akan kembali, tapi masih harus menunggu. Butuh waktu untuk membuatnya kembali menjadi manusia seutuhnya.” Sang Raja meyakinkan penuh ketulusan. “Namun sekali lagi, benar-benar terima kasih. Secepatnya pasti akan kami buat agar Asih bisa menjadi bagian dari kalian lagi.”


Malam yang panjang kali ini dan terasa layaknya menjalani waktu bertahun-tahun lamanya, ditutup dengan kemenangan mereka. Suasana sungai juga menjadi hidup penuh kunang-kunang di sekitarnya. Angin yang berembus syahdu menggiring aura mistis, juga suara kodok dan jangkrik yang saling bersautan.


Setelah obrolan hangat di antara opa Helios dengan sang raja ikan, pasangan raja dan ratu ikan itu kembali melesat masuk ke dalam sungai dengan gerakan ekor yang begitu indah.

__ADS_1


Para leluhur juga pamit. Tak lama kemudian, mas Tri datang menggunakan mobil. Walau tak sampai disertai Asih, juga Aqwa yang masih belum sadarkan diri, mereka kembali ke rumah dengan rasa lega yang juga membuat mereka benar-benar tenang.


__ADS_2