Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
38 : Perang Lelembut


__ADS_3

Perang lelembut seolah akan segera terjadi dan itu ditandai oleh para anj*ing yang kompak menggonggong layaknya serigala. Keadaan yang sudah langsung membuat ibu Ryuna sekeluarga terlebih Aqwa, gelisah.


“Kembalikan istriku, Yut!” tegas Aqwa sambil menarik tangan kanan Asih yang ia genggam erat. Matanya yang basah, menatap marah kedua mata Asih.


“Asih masih punya tugas sekaligus kewajiban yang harus segera diselesaikan, Mas. Mengenai kematian orang tuanya, juga nasib bangsanya!” yakin Asih masih dengan suara kakek buyut.


Mendengar itu, Aqwa makin sibuk menggeleng. Air matanya makin deras membasahi pipi.


“Itu kenapa, hanya Asih yang mampu mengakhiri semua ini!” yakin Asih lagi.


“Lalu apa gunanya aku, dan juga segala keistimewaan yang ada dalam diriku? Ambil semuanya, tapi jangan pernah Buyut memisahkan aku dari Asih!” marah Aqwa.


“Jangan melibatkan Asih, Yut! Pakai cara lain saja! Lebih baik bertahap daripada tuntas tapi berisiko! Karena andai Buyut memberi anugerah Asih agar bisa kembali menjadi ratu ikan untuk melawan semua teror ....” Opa Helios yang akhirnya sampai, tak kalah emosi. Malahan karena terlalu emosi, ia sampai tak sanggup berkata-kata.


Air mata opa Helios berjatuhan hanya karena melihat Aqwa tersedu-sedu. Cucu pertamanya itu tampak sangat han*cur, padahal belum apa-apa. Hingga opa Helios tak tega, dan memang tidak berani mengatakan, bahwa andai Asih sampai diberi anugerah bisa kembali menjadi ratu ikan demi membasmi Lumut dan anak buahnya hingga teror tak kasatmata berakhir, kemungkinan Asih bisa menjadi manusia, sangat kecil. Yang dengan kata lain, perpisahan akan menjadi akhir dari hubungan Asih dan Aqwa.


Aqwa yang muak, membawa Asih ke jembatan sungai merah. Di tengah suara gonggongan para anj*ing, ia berteriak, menantang hantu kepala maupun semua yang menginginkannya untuk hadir.

__ADS_1


“Cepat keluar kalian! Bukankah ini yang kalian mau?!” teriak Aqwa.


Sebagai wanita yang telah melahirkan Aqwa, ibu Ryuna histeris menyaksikan putranya justru memasuki pusara kematian. Ibu Ryuna tak segan membentak, mendor*ong, bahkan mendorong suaminya untuk menghentikan semuanya.


“Cepat ambil anakku! Aku enggak mau anakku kenapa-kenapa, Pah!” Ibu Ryuna yang tak mendapat tanggapan berarti karena pak Kim maupun opa Helios hanya diam meratapi kebersamaan Aqwa dan Asih di tengah jembatan sana, memilih lari menghampiri.


Bersamaan dengan itu, tubuh Asih mendadak sempoyongan. Asih berakhir pingsan lantaran ditinggalkan oleh kakek buyut. Aqwa sudah langsung menangkap tubuh istrinya, mendekapnya erat dan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya.


Di bawah alam sadarnya, Asih melihat sebuah kejadian. Mirip sebuah film, tapi mungkin itu bagian dari anugerah yang kakek buyut berikan. Karena dalam kejadian tersebut, Asih melihat kejadian sepasang manusia yang memberikan bayi perempuan kepada opa Helios. Pasangan tersebut rela menyetop mobil opa Helios malam-malam, dan kejadiannya persis di jembatan sungai Merah.


Meski awalnya tampak layaknya manusia berpenampilan sederhana, ketika keduanya turun ke sungai, keduanya langsung berubah menjadi raja dan ratu ikan. Asih berpikir, keduanya merupakan orang tuanya. Terlebih meski sudah di tengah sungai, keduanya masih tetap berusaha berinteraksi dengan opa Helios yang mengemban bayi pemberian mereka. Opa Helios yang berdiri di pinggir sungai, tersenyum tapi juga berlinang air mata melepas keduanya. Kemudian, para leluhur dari keluarga opa Helios datang, termasuk kakek buyut yang memang mengetuai.


Lumut dan sang bapak yang kala itu bertubuh setengah ular, dirangkul dengan hangat. Sang ratu ikan merangkul Lumut yang belum sedewasa sekarang, sementara sang raja ikan memeluk bapaknya Lumut.


“Mereka sedekat itu? Jika itu orang tuaku, tampaknya mereka pemimpin yang sangat bijaksana sekaligus merakyat,” pikir Asih membiarkan anugerah pemberian kakek buyut, terputar di benaknya.


Raja dan Ratu memeluk Lumut dan sang bapak, berdampingan. Namun diam-diam, Lumut dan sang bapak saling lirik dan perlahan mengeluarkan senja*ta berupa pedang tajam yang mereka hunj*am ke leher Raja maupun Ratu ikan di waktu yang nyaris bersamaan.

__ADS_1


Dar*ah segar sudah langsung mengucur dari leher Raja dan Ratu ikan. Namun, Lumut dan bapaknya dibantu siluma*n ular lainnya, langsung membab*ibuta menggunakan pedang mereka. Tubuh Raja dan Ratu ikan berakhir tak berupa menjadi beberapa potongan karenanya. Dengan cepat, Lumut dan bapaknya mengh*isap sekaligus mema*kan tubuh Raja dan Ratu ikan. Termasuk para silu*man ular di sana yang turut berpesta menyantap tubuh Raja dan Ratu ikan.


“Makan daging mereka dan hisa*p darah mereka agar kalian juga mendapatkan kekuatan abadi! Kalian bahkan akan awet muda jika memakan daging apalagi meminum darah mereka!” ucap bapaknya Lumut.


Lumut yang awalnya masih sangat serakah menghi*sap leher, memegang erat kepala Ratu ikan yang terpisah dari tubuh, menyadari ada yang kurang. “Pak, putri ikan mereka di mana? Bukankah harusnya dia ada?” ucapnya, tapi keingintahuan itu enyah begitu saja setelah ia menyadari, tubuh ularnya perlahan berubah menjadi ikan yang begitu cantik.


Kini, di kenyataan, Asih terbangun dan perlahan mengawasi sekitar dengan saksama. Asih memang sempat menatap dalam kedua mata Aqwa yang basah. Namun karena mimpinya yang juga bagian dari anugerah kakek buyut, yang ia cari langsung Lumut dan sang bapak.


“Dulu, ibarat manusia, mereka tak ubahnya pengem*is. Mereka diperlakukan dengan baik oleh orang tuaku, tapi mereka begitu serakah!” batin Asih yang perlahan berdiri.


Dari pinggir jembatan, Asih mengawasi sungai Merah. Di tengah kegelapan yang dihiasi gonggongan para anj*ing, sungai di sana benar-benar tenang. Namun tiba-tiba saja, Asih seolah melihat kelanjutan dari anugerah layaknya mimpi yang baru saja ia akhiri. Bahwa di dalam sana, rombongan Lumut dan sang bapak, segera menuju kerajaan ikan.


“Raja dan Ratu ikan memiliki kekuatan abadi layaknya mas Aqwa, hingga Lumut dan bapaknya melakukan semua ini,” pikir Asih.


“Termasuk teror tak kasatmata yang terus mereka lakukan. Walau niatnya ingin mendapatkan Aqwa maupun mendapatkan kamu demi kekuatan abadi, tapi keinginan sekaligus ambisi mereka pasti akan terus bertambah. Buktinya, awalnya mereka hanya mengincar orang tua kamu. Namun tahu ada yang lebih, mereka juga kembali berambisi sekaligus terobsesi,” ucap kakek buyut yang bisa mendengar suara hati Asih. Ia juga sengaja mengajak Asih berkomunikasi sambil berdiri di sebelahnya.


Karena Asih sudah langsung menatap sekaligus menyimaknya dengan serius, kakek buyut berkata, “Satu-satunya cara mengakhirinya hanyalah menghab*isi mereka. Dan memang hanya kamu yang bisa melakukannya. Karena selain kamu yang memiliki kekuatan, mereka pasti akan bersembunyi ke sungai lagi dengan segala tipu daya yang mereka jeratkan pada setiap hal yang mereka manfaatkan, ... termasuk calon anakmu dan Aqwa!”

__ADS_1


Asih paham maksud kakek buyut yang jujur saja baru ia lihat. Namun dari sebelah, ada yang menggenggam tangannya dan itu Aqwa.


Aqwa menggenggam sebelah tangan Asih menggunakan kedua tangan. Sambil terus menatap Asih penuh kepedihan di tengah kedua matanya yang basah, Aqwa menempelkan tangan Asih ke dadanya.


__ADS_2