Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
35 : Lancang!


__ADS_3

Sudah bisa dipastikan, Lumut dan bapaknya menjadi biang kerok atas kecelakaan yang selalu terjadi di sekitar jembatan sungai Merah. Kecelakaan yang juga membuat korbannya sering berakhir tenggelam di sungai, selain mereka yang akan menjadi pengganggu mereka-mereka yang lewat, bahkan tak segan mengganggu Aqwa. Jadi, hal yang benar-benar harus dilakukan ialah mengamankan bahkan bila perlu memu*askan Lumut maupun sang bapak.


“Papah belum kasih kabar, Mah?” tanya Aqwa kepada sang mamah yang ada di depan televisi lantai bawah kediaman mereka.


Ibu Ryuna yang diam di sofa panjang, tampak sedang menunggu. Terbukti, ibu Ryuna sudah langsung kaget kemudian menoleh sekaligus menatap ke Aqwa yang memang bertanya.


“Kamu ngapain keluar dari kamar? Sudah, di kamar saja. Tunggu di sana, ini sudah mau isya!” omel ibu Ryuna setengah mengomel kepada sang putra.


Aqwa yang ada di tengah-tengah anak tangga dan terdiam di sana refleks mendengkus bosan. “Ya sudah, aku mau ajak Asih buat siap-siap salat isya di masjid.”


“Salatnya di rumah saja. Ayo sama Mamah sekalian!” sergah ibu Ryuna bergegas meletakan bantal sofa yang awalnya ia pangku sekaligus dekap.


“Arrrrrrrggghhhh!”


Belum apa-apa, teriakan yang mereka yakini merupakan teriakan Asih, sudah langsung membuat Aqwa apalagi ibu Ryuna panik.


“Mas kan! Kenapa Asih ditinggal sendiri?!” ibu Ryuna jga refleks memarahi sang putra. Layaknya Aqwa, ia juga langsung lari menaiki anak tangga yang menghubungkan ke lantai atas. Anehnya, untuk kali ini, anak tangga di kediamannya seolah menjadi sangat banyak hingga ia tak kunjung selesai.


“Astafirullah ... ya Allah, kenapa jadi begini? Ini rumahku loh. Ngapain kalian datang kalau niat kalian saja sudah enggak baik?!” marah ibu Ryuna mengakhiri langkahnya.

__ADS_1


Di dalam kamarnya, Aqwa yang baru datang dan membuka tuntas pintu kamarnya, tak mendapati tanda-tanda keberadaan Asih. Dada Aqwa makin bergemuruh karena kenyataan tersebut.


“M—Mas ....”


Suara lirih dan jelas ketakutan milik Asih, mengusik Aqwa yang awalnya akan ke kamar mandi dan itu masih untuk memastikan keberadaan sang istri. Tak disangka, di langit-langit kamarnya, tubuh sang istri yang sudah dililit banyak ular menempel di sana.


Dari ujung kaki bahkan wajah Asih nyaris tertutup banyak ular. Pantas Asih begitu ketakutan. Jangankan bersuara, bernapas saja Asih tampak tidak sanggup.


“Kalian benar-benar membuatku marah. Kalian dengan sangat lancang masuk ke sini dengan niat jahat dan kalian mengusik istriku?!” lirih Aqwa yang benar-benar lirih.


Keringat dingin mengalir dari ujung kepala ibu Ryuna membasahi pipi. Jilbab biru gelap yang ia pakai mulai basah seiring ia yang menyadari, ada yang berputar-putar di atasnya, selain beberapa sosok tak kasatmata yang sengaja berlarian. Semuanya kompak melewatinya dengan dengan cepat dan itu menuju lantai atas. Ibu Ryuna sudah langsung merinding karenanya.


Terbiasa diganggu makhluk tak kasatmata ketika dirinya hamil Aqwa, kini, demi kebaikan keluarganya, ibu Ryuna memberanikan diri untuk berpe*rang melawan makhluk gaib itu. Dengan sabar kakinya ia langkahkan sambil terus terjaga mengawasi sekitar. Benar-benar masih ada yang lewat melaluinya dan itu menimbulkan sekelebat.


Di anak tangga, ibu Ryuna mendadak turun. Wanita itu lari ke dapur dan mengambil stok garam dari sana. Sebelum kembali menaiki anak tangga, ia sengaja meraih telepon rumah. Ia bermaksud menggunakannya lantaran ponselnya mendadak tidak dihiasi sinyal. Namun, tak beda dengan nasib ponselnya, telepon di rumahnya juga tidak berfungsi hingga ia memtuskan untuk naik ke anak tangga berbekal membawa garam.


“Sayang, ... Pah! Ini kalian di mana? Di sini enggak baik-baik saja!” batin ibu Ryuna benar-benar ketakutan. Namun demi anak dan menantu, calon cucu, bahkan keluarganya, ia memaksakan diri menjadi tegar melebihi super hero.


Di dalam kamar, Aqwa menyadari yang datang dan sudah memenuhi kamarnya ialah mereka-mereka yang menjadi korban Lumut dan rombongannya. Puluhan arwah penasaran yang datang merupakan korban dari hantu kepala pak Sanusi.

__ADS_1


Namun, ada satu yang membuat Aqwa bertanya-tanya, siapa sebenarnya pimpinan sil*uman ular yang bisa diperdaya Lumut dan sang bapak? Atau malah, bangsa ular, juga merupakan bagian dari Lumut dan bapaknya? Terlebih, Lumut dan bapaknya juga telah merebut tahta bangsa ikan dari orang tua Asih?


“Mereka selalu mengandalkan para ular untuk meneror bahkan menyera*ng!” kesal Aqwa yang detik itu juga loncat kemudian meraih Asih.


Aqwa menyingkirkan kasar setiap ular dari tubuh istrinya. Tak peduli meski karena itu, ia turut terkena ular yang melilit tubuh Asih. Malahan, beberapa dari ular tersebut melilit tubuh Aqwa meski itu tidak berlangsung lama. Karena marahnya Aqwa membuat tubuh pemuda itu panas.


Tubuh Aqwa tak ubahnya bara api. Pemuda itu berteriak karena tak kuasa menahan amarah. Bukan hanya para ular yang berjatuhan lemas dan perlahan hangus. Karena Asih juga perlahan melipir, menatap khawatir bahkan takut keadaan suaminya. Asih turut merasakan panasnya.


“M-mas, istighfar ....” Asih takut, kenyataan Aqwa yang tidak bisa mengontrol amarah malah berakhir fatal. Namun, ia juga tidak tahu harus berbuat apa? Karena sebelumnya, meski bertahun-tahun lamanya bersama, ia belum pernah melihat Aqwa seperti sekarang.


“Braaaaak!” Seseorang membuka pintu dari luar. Itu ibu Ryuna.


Bersamaan dengan itu, Asih baru saja maju sementara kedua tangannya berusaha meraih tubuh Aqwa. Ibu Ryuna benar-benar terkejut menyaksikan kenyataan tersebut karena ia tidak tahu putranya bisa seperti itu.


“Ya Allah ini bagaimana? Tolong, suami dan papah mertuaku sedang tidak di rumah ... ini aku harus bagaimana?” Hati ibu Ryuna remuk redam. Ia benar-benar ketakutan di tengah air matanya yang berlinang.


Tanpa bisa mengendalikan diri, ibu Ryuna terus maju menghampiri Aqwa. Meski langkahnya juga berangsur berhenti, ketika sosok berpakaian serba putih dan memancarkan cahaya datang. Pria yang ia ketahui sebagai leluhur sekaligus buyutnya opa Helios.


Membawa rombongan lelulur, kakek buyut mendekati bahkan memasuki tubuh Asih. Detik itu juga tubuh Asih yang sempat menggeliat berangsur memeluk Aqwa. Pelukan yang benar-benar lembut sekaligus menenangkan. Satu tangan Asih mendekap punggung Aqwa, satunya lagi mengelus-elus kepala Aqwa.

__ADS_1


“Jangan pada ganggu. Memangnya, apa salah buyutku?” ucap Asih dan itu jelas suara pria tua yang sangat halus. “Kalian meminta tolong, tapi kalian bersekutu dengan bangsa j*in dan lelembut yang jelas-jelas sudah membuat kalian seperti sekarang. Lancang kalian!”


Menyaksikan itu, ibu Ryuna tersedu-sedu. Ia benar-benar tidak terima, terlebih ketika ia mengawasi sekitar, sosok-sosok tak kasatmata itu akhirnya menampakkan diri.


__ADS_2