Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
22 : Mitos dan Ilmu Hitam


__ADS_3

Dalam sekejap, Gendis berhasil menceki*k pak Sanusi kemudian membawanya melesat ke daratan. Gendis menatap kedua mata pak Sanusi dengan keji.


Tidak ada yang tidak terkejut atas apa yang Gendis lakukan. Bahkan keluarga pacarnya Sukma refleks mundur. Namun keempatnya yang terdiri dari pacar Sukma, orang tua pacar Sukma, juga bibi pacar Sukma, juga tak kalah ketakutan ketika akhirnya mereka justru nyaris menghantam para wewegombel yang ada di sekeliling mereka.


Kendati demikian, Sukma yang sempat syok, dan sampai detik ini masih gemetaran, memilih untuk diam-diam turun ke sungai. Terlebih, tak ada satu pun yang memperhatikannya termasuk itu keluarga pacarnya.


“Andai mereka tidak melihat kepergianku, mereka pasti akan mengira jika aku telah mati!” pikir Sukma yang juga berniat mencari Asih.


“Ayam jago masih sering berkokok tengah malam, kan, Pak?” ucap Gendis berat akibat tangis dan juga kesedihannya yang membuncah.


Gendis teringat kekejian yang ia terima dari sang bapak. Pria yang sudah lama mempelajari ilmu hi*tam hingga membuat mamah Gendis minggat itu tak sedikit pun tampak terkejut.


Meski pada kenyataannya, detik itu juga, pak Sanusi yang masih diceki*k dengan keji oleh Gendis, mengenali suara Gendis. “Gendis ...?” lirihnya refleks.


Mendapati itu, Gendis langsung mengakhiri tatapannya dari sang bapak. Ia terlalu kecewa lantaran tanggapan sang bapak terlalu biasa. Gendis mengawasi sekitar, membuatnya mendapati para wewegombel dan juga keluarga pacar Sukma. “Bapak bersekutu dengan mereka? Dulu Bapak menghabisiku tanpa alasan karena di tasku ada test pack, sementara test pack itu punya bibi Narsih yang sengaja dititipkan kepadaku agar aku memberikannya kepada pacarnya!”


“Namun sekarang, tampaknya Bapak sengaja membuka jasa abor*si dengan iming-iming menggiurkan, padahal setelah itu, wanita yang menjalani abosr*i kepada Bapak, justru mati dan menjadi wewegombel juga?” ucap Gendis yang kemudian kembali menatap pak Sanusi dengan amarah menyala.

__ADS_1


“Mati kamu! Mati kamu ... kamu sudah mati! Pergiiiii!” tegas pak Sanusi sambil berusaha menggunakan pisau di tangan kanannya untuk meluka*i wajah Gendis yang tampak hitam layaknya gosong.


“Bahkan meski Bapak sudah mengenaliku, Bapak sama sekali tidak merasa bersalah apalagi menyesal?” lirih Gendis benar-benar tak percaya. Ia kian merasa terluka sekaligus kecewa. Ia sungguh tak terima karena ulah bapaknya, kini ia terlunta-lunta menjadi arwah gentayangan yang juga sangat kesepian.


Semua luka dan kekecewaan membuat Gendis merasa sangat sedih bahkan hancur. Gendis berakhir menangis meraung-raung.


“Aaaaaaarrrrrrrrrrrrrgggggghhhh!” Gendis berteriak sekeras-kerasnya bersama tangannya yang mencek*ik pak Sanusi makin keras.


Wajah pak Sanusi makin lama makin pucat. Tak ada ekspresi lain di wajah pria itu selain kesakitan. Juga, pak Sanusi yang sampai tidak bisa untuk sekadar bersuara paling lirih.


Bersamaan dengan itu, suara an*jing mendadak terdengar dari segala penjuru. Mereka seolah bisa merasakan dendam sekaligus kekecewaan yang Gendis rasakan kepada pak Sanusi. Juga, kenyataan suara tersebut yang seolah menjadi saksi pembalasan dendam Gendis kepada sang bapak. Alasan yang juga membuat Gendis menjadi hantu gentayangan layaknya sekarang.


Sukma sudah mengulurkan tangan kanannya. Ia siap menggandeng Asih, kembali melanjutkan pelarian mereka, tapi Asih yang tampak sudah tidak berdaya dan wajahnya saja sangat pucat, membalasnya dengan menggeleng lemah.


“Aku benar-benar bingung, kenapa aku tak kunjung menjadi ikan? Kenapa aku tetap menjadi manusia tak berdaya seperti sekarang?” batin Asih, ia yang sempat makin tenggelam, kini ditarik paksa oleh Sukma. Wanita yang baru ia kenal itu terus membawanya pergi dari sana meski Sukma juga tampak sangat kelelahan.


Sukma pandai berenang meski wanita itu bukan si—luman ikan. Sukma tampak tulus menolong Asih. Sementara di daratan sana, kepala pak Sanusi akhirnya melorot.

__ADS_1


Tulang leher pak Sanusi seolah remuk kemudian lepas hingga tak mampu menopang kepala, meski kulit dan daging leher masih utuh. Kendati demikian, Gendis sengaja membuat kepala pak Sanusi terpisah dari tubuh. Gendis memisahkannya menggunakan pisau yang awalnya digenggam erat tangan kanan pak Sanusi. Mencab*iknya secara brutal bersama ingatannya yang dihiasi kekejian pak Sanusi kepadanya hingga Gendis mereg—ang nyawa.


Ibu dari pacar Sukma, berakhir terjatuh pingsan hanya karena melihat apa yang Gendis lakukan kepada pak Sanusi. Keluarga pacar Sukma langsung kebingungan sekaligus ketakutan, terlebih pasukan wewegombel masih dibiarkan berkeliaran.


Berisiknya suara anj*ing dari segala penjuru juga teriakan Gendis yang langsung Aqwa kenali, mengantarkan pemuda itu ke pinggir sungai sebagai sumber suara. Aqwa tak memakai kendaraan apa pun. Pemuda itu berlari menggunakan kekuatan supernya, dengan hasil yang benar-benar cepat.


Dari pinggir jembatan yang benar-benar sepi sekaligus gelap, Aqwa bisa melihat apa yang terjadi di tanggul sana. Aqwa melihat Gendis juga banyak wewegombel di sana.


“Wewegombel identik dengan wanita hamil, bayi, maupun anak kecil. Namun, kenapa Gendis ada di sana dan apa yang sedang dia lakukan?” pikir Aqwa yang kemudian mendapati pisau berkilau dan turut disertai darah yang mengalir. “Sebentar, ... Gendis menghabis*i orang lagi setelah ia mendadak menghilang setelah ditaklukan Asih?”


Detik itu juga jiwa Aqwa bergejolak. Jantungnya juga menjadi berdetak lebih cepat. “Harusnya hanya Asih yang bisa melepaskan Gendis. Jadi, jika Gendis sudah bisa berkeliaran, berarti Asih juga ada ...,” yakin Aqwa yang kemudian mencari-cari ke sekitar khususnya ke sungai.


Sebuah motor yang dikemudikan dengan cepat berangsur mendekat. Motor yang dikendalikan oleh opa Helios berhenti tepat di belakang Aqwa. “Hati-hati, Mas. Hati-hati. Biar Opa saja. Nanti kalau masih belum bisa, papahmu juga bisa bantu. Papah sama mamahmu pakai mobil.” Opa Helios bergegas menepikan motor dan meninggalkannya.


Opa Helios langsung turun dari jembatan menuju jalan setapak pinggir sungai. Jalan setapak yang juga sempat Aqwa maupun Asih pakai ketika keluar dari sungai.


Aqwa yang tak mau ketinggalan segera menyusul sang opa. Bersamaan dengan itu, ia melihat adegan pertemuan Gendis dengan sang bapak. Namun, sampai detik ini Aqwa belum bisa melihat Asih. Malahan di benak Aqwa sampai dihiasi adegan balas dendam Gendis kepada pak Sanusi.

__ADS_1


“A'udzu billahi minas-syaitanir-rajim ....,” ucap opa Hellios yang sudah langsung bertasbih sambil berdiri di pinggir sungai.


“ASIHHHHHHHHH!” teriak Aqwa yakin, maksud doa dari sang opa karena Asih sudah ada di sana. “Asih, maafin aku, Sih! Aku salah!” lanjutnya lagi, yang benar-benar menyesal. Namun, meski sampai menangis, Aqwa tetap bertahan di belakang sang opa.


__ADS_2