Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
41 : Asih Sang Ratu Ikan


__ADS_3

Sempat ketakutan, tapi mereka yang memang berwatak pecund*ang sengaja menyera*ang secara bersamaan.


“Sekarang aku tahu kenapa aku sampai memiliki dua puluh satu tangan!” batin Asih.


“Tusu*k perutnya, agar bayinya mat*i dan itu menjadi satu-satunya kelemahannya!” ucap kelapa pak Sanusi secara bersamaan.


Asih yang muak mendengar itu, makin cepat dalam menggerakkan tangan-tangannya. Kenyataan yang langsung berkaitan dengan doa bersama yang Aqwa sekeluarga lakukan di jembatan sana.


Bangsa ular yang menyerang dengan bringa*s dan itu di kerajaan bangsa ikan, seketika dikejutkan oleh kehadiran bangsa ikan yang mengepung dari belakang.Tak terima ratunya diserang dengan brut*al, bangsa ikan juga bergegas membalas menggunakan pedang mereka.


Pertempura*n benar-benar terjadi. Raja Rajaksa yang telanjur kehilangan nyali terlebih setelah menyaksikan sang putri dihab*isi dengan keji, mencoba melarikan diri. Namun, Asih yang terus mengawasi di tengah gemp*uran serang*an yang dihadapi, segera menyusul. Hanya saja, kepala pak Sanusi dengan segera menghadang kemudian menyera*ng.


“Mana yang asli? Aku harus menemukan yang asli agar kepala dukun ini berhenti berulah!” batin Asih refleks mundur lantaran kepala-kepala itu melesat dengan sangat cepat layaknya bola kasti yang dilempar.


Layaknya permainan kasti, tangan-tangan Asih segera menangkis kepala pak Sanusi menggunakan pedang panjang. Namun makin kepala itu terbelah, makin banyak juga jumlahnya.

__ADS_1


“Makin hancur makin banyak. Seperti membelah diri secara masal. Sepertinya ini efek ilmu kebal sekaligus keabadian. Satu-satunya cara adalah membakarnya!” pikir Asih yang sudah langsung mempraktikannya.


Akan tetapi untuk kepala pak Sanusi, bukannya jadi abu, kepala itu malah berubah jadi sangat besar menyerupai raksasa.


“Ini beneran aku harus menemukan kepala yang aslinya!” batin Asih beranjak mundur lantaran kepala pak Sanusi, berangsur mendekat. Namun karena kepala itu terlalu besar, ruang kerajaan di sana runtuh.


Keadaan kini membuat Asih gelisah. “Bismillah ...,” lirih Asih sambil memejamkan mata. “Di atas, suamiku dan keluarganya sedang berdoa untuk kebaikanku sekaligus kebaikan bersama. Aku cukup fokus, apalagi rakyat ikanku sudah berjuang berpera*ng dengan bangsa ular,” pikir Asih berusaha fokus. Kemudian, ia mendadak teringat teguran Aqwa yang sangat sering memintanya untuk tidak meninggalkan ibadah, khususnya salat lima waktu.


Detik itu juga Asih memejamkan kembali kedua matanya seiring ia yang merapal doa. Tak peduli meski kepala pak Sanusi mendekat. Bahkan kini, ia bisa mendengar suara ngaungan mengerikan dari hantu kepala itu yang kompak berseru layaknya lembu. Napas dari setiap lubang hidung maupun mulut juga turut Asih rasa. Seolah kepala itu masih memiliki sisi manusia.


Braaaaakkkk .... kepala pak Sanusi akhirnya mental ketika berusaha menggigi*t perut Asih. Yang di perut sana bekerja, seolah mewarisi kekuatan sang papah. Lebih mendukung lagi, kepala pak Sanusi tinggal satu dan tak lagi berupa kepala raksasa.


Asih yang murka sengaja mengeluarkan sebuah panah dari tangan kanannya. Tak tanggung-tanggung, panah kali ini bukan panah biasa layaknya panah yang menghanguskan Lumut. Sebab, ada puluhan anak panah yang siap melesat dari tangan Asih. Anak panah raksasa yang seketika ada karena mungkin menyesuaikan dengan sosok yang dihadapi.


Kepala pak Sanusi yang awalnya tertawa congkak langsung mendelik kebingungan.

__ADS_1


“Matilah kau bersama dosa-dosamu!” tegas Asih menatap bengis kepala pak Sanusi. “Kali ini kau tidak bisa lagi lari. Bahkan tubuh anj*ing terlalu berharga untuk kamu tumpangi!” tegas Asih menatap puas kenyataan kepala pak Sanusi yang melesat terbirit-birit menghindari panah-panah api.


“Tolong ... tolong aku. Tolonggggggggg!” teriak kepala pak Sanusi.


Ajaibnya, panah-panah itu sama sekali tidak mengenai apalagi melukai sosok lain atau setidaknya salah sasaran. Kepala pak Sanusi menjadi satu-satunya yang diincar dan berakhir hangus setelah melewati satu ruangan dari ruang ibadah selaku tempat awal mula peperangan.


Sadar panah apinya sangat mematikan, Asih sengaja mengeluarkannya lagi untuk membasmi bangsa ular dari sana. “Wahai rakyat-rakyatku yang berjiwa bersih, panah ini tidak akan sedikit pun melukai kalian asal kalian berhati bersih. Namun, panah ini akan senantiasa mengejar setiap mereka yang berhati jahat. Agar kehidupan kalian di sini damai sekaligus sejahtera!” tegas Asih yang kemudian melesatkan anak-anak panahnya.


Puluhan anak panah terus Asih lesatkan. Dan seperti apa yang Asih katakan, anak panah itu mengejar sekaligus menghanguskan semua bangsa ular yang ada di sana. Namun, memang ada beberapa ikan yang turut terbakar.


“Tidak usah khawatir, ... itu bertanda bahwa mereka memang sudah terkontaminasi kejahatan bangsa ular!” tegas Asih meyakinkan. Ia yang tangan-tangannya masih memegang busur panah, tersenyum ramah kepada rakyat-rakyatnya. Semuanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Mereka tampak terharu, tapi cenderung sedih.


“Aaaaa!” refleks Asih lantaran yang di dalam perutnya, mendadak sibuk menendang.


“Ada apa, ini?” pikir Asih lagi, mencoba mencerna kode keras dari jabang bayi di perutnya. Jabang bayi yang tampaknya sakti melebihi papahnya.

__ADS_1


Ketika Asih masih menerka-nerka, Rajaraksa yang melarikan diri berniat ke daratan. “Aku tidak memiliki pilihan lain. Aku harus ke daratan kemudian, aku harus memakan daging Aqwa secepatnya! Aku harus menghabiskan darahnya agar aku memiliki kekuatan abadi yang bisa mengalahkan Asih!” batinnya.


Seperti rencana, raja pecund*ang itu siap naik ke daratan. Namun sebelum ia melesat, ia sengaja mengubah rupa atau itu wujud menjadi Asih, sang Ratu Ikan.


__ADS_2