Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
49 : Hanya Sementara


__ADS_3

“Ada mayat ... ada mayat!”


Seru ibu-ibu dari belakang sana. Ketiga ibu-ibu yang sedang tandur ata itu menancapkan sekaligus menanam bibit padi di sawah agak tengah, berbondong-bondong menepi. Ketiganya histeris dan sudah langsung mencuri perhatian.


Para lelaki yang awalnya sedang mencari ikan di sawah dekat jalan, langsung turun menghampiri. Kebetulan, sawah di sekitar sana memang berair dalam. Alasan tersebut juga yang membuat ikan di sana terbilang banyak.


“M—mayat?” lirih Aqwa sambil menatap Asih. Ia berusaha mengawasi ke belakang sana. Tampak seorang wanita yang sudah kaku dan dibawa secara gotong royong oleh para pria.


Ketika Aqwa memilih mengawasi yang sedang diangkat dari sawah sana, Asih memberanikan diri untuk menatap yang ada di belakangnya. Wajah itu sudah pucat dan sebagiannya bolong. Wajah seorang wanita yang jujur saja sampai membuat Asih menangis karena takut. Terlebih meski memang sangat takut, Asih tidak bisa menjerit. Karena sekadar membuat bibirnya terbuka saja, ia tak bisa.


Di tengah detak jantungnya yang sudah sangat kacau, Asih yang juga jadi panas dingin berkeringat, tetap memberanikan diri, berkomunikasi dengan sosok wanita kuyup berbau anyir itu, lewat hati. Hanya saja Asih juga sadar, hanya dirinya yang melihat maupun menyiu*m aromanya. Sebab yang lain dan itu dua bapak-bapak yang ada di sana, termasuk itu Aqwa, tetap damai tanpa sedikit pun terusik.


Asih ingat, dirinya tidak boleh langsung takut apalagi kabur. Ketika berjumpa dengan arwah penasaran meski sangat menakutkan, wajib ia tanya. Karenanya, ia mencoba melakukannya, dan itu benar-benar sekarang.


“Kamu siapa?” batin Asih.


“Kamu lupa ke aku, Sih?” balas si wanita berambut panjang itu.


“Makanya jawab biar aku ingat. Yang namanya manusia kan gudangnya lupa,” balas Asih.


“Aku Ayu, Sih. Yang suka jualan masakan di pasar. Kamu sering beli sayur tutut ke aku, Sih.”


“Heh ...? Kamu meninggal kenapa?” batin Asih lagi, lama-lama jadi bisa bersikap biasa.

__ADS_1


“Kepleset Sih. Vertigo, pas cari tutut buat dijual.”


Mendengar itu, Asih jadi kasihan. Dan Asih terkejut lantaran mayat yang tengah diributkan justru mayat Ayu. “Oh, kamu kepleset di situ?”


Ayu yang wajah maupun tatapannya masih datar lurus kepada Asih, mengangguk-angguk.


“Dari kemarin-kemarin, ya?” balas Asih keceplosan tak lagi bicara dalam hati.


“Iya, ... sudah mau tiga hari Sih. Makanya tolong antar aku pulang Sih.”


“Yaitu pasti diantar pulang ke rumah. Sudah kamu jangan macam-macam. Yang tenang, ya. Bismilah ....”


Mendengar Asih berbicara sendiri, Aqwa berangsur memegangi kepala Asih.


Asih yang membiarkan kepala maupun dahinya dipegangi Aqwa, berangsur mengangguk-angguk.


Pengalaman pagi ini membuat Asih belajar hal baru yaitu berkomunikasi dengan hantu.


“K-kamu ngompol, Sih?” tuduh Aqwa karena tak lama setelah Asih turun dan itu membuat motornya tak seberat sebelumnya, ada air di sana, di sofa motor yang bahkan banjir sekaligus anyir.


“Sembarangan ... masa iya aku masih ngompol. Itu tadi ada yang numpang Mas. Itu korba*an yang meninggal. Ngerti, kan, maksudnya? Ini minta tolong buat diantar pulang,” ucap Asih.


“Kamu enggak usah ikut antar!” sergah Aqwa karena meski sama kata, kadang artinya bisa dilebih-lebihkan. Bagaimana jika Asih juga diajak pulang dan itu maksudnya diajak meninggal juga?

__ADS_1


Aqwa meraih sebelah tangan Asih bertepatan dengan tubuh Asih yang tiba-tiba terlempar ke sawah para pria mencari ikan. Kedua pria di sana sampai heran kenapa tiba-tiba, tubuh seolah dilempar dan membuat Aqwa maupun motornya masuk sawah hanya karena berusaha menahan Asih.


Acara motoran yang awalnya untuk mencari ketenangan malah membuat mereka berakhir masuk sawah. Sawah yang kebetulan dalamnya sepusar Aqwa. Asih sampai menenggak air sawah karena jatuhnya ke sana dalam keadaan terbant*ing.


“Sadis banget ih jadi arwah!” ucap Asih masih terbatuk-batuk.


“Sekarang kamu ngerasain tersik*sanya punya mata batin,” batin Aqwa sambil terus memperhatikan Asih. Ia merangkul kedua lengan Asih setelah motor uang nyaris menindihnya andai tidak ditahan kedua pria di atas, ditarik tuntas.


Aqwa tak lagi berkomentar. Ia menuntun kemudian mengangkat tubuh Asih untuk naik ke atas. Seorang pria yang di sana dan tidak memegangi motor Aqwa, sudah langsung mengulurkan kedua tangan sekaligus membantu.


“Doa, Sih ... doa!” bawel Aqwa yang juga segera berdoa. Ia tak mau sang istri kembali diganggu.


“Kalau caramu begitu, kamu sendiri yang rugi ya, ... bismillahirrahmanirrahim,” batin Asih memang marah. Di hadapannya, Ayu hanya menatapnya datar. Namun tak lama dari doa yang ia lakukan, arwah itu jadi gelisah.


“Panas Sih ... panas ... ampun.” Ayu terus memohon ampun, tapi Asih tidak peduli dan terus membaca doa dalam hati.


Acara motor kali ini yang diwarnai tragedi, Aqwa dan Asih ceritakan kepada keluarga di rumah.


“Oh ... pantas.” Opa Helios hanya berkomentar begitu. “Tapi sepertinya enggak akan selamanya kok Sih. Hanya sementara karena memang masih ada yang mengganjal. Ibaratnya, ada misi di balik semua itu. Bismillah, kamu siap-siap saja. Soalnya sebelum ini, kamu juga pernah berurusan dengan teror wewegombel.”


“Hah ...?” Asih benar-benar terkejut mendengarnya. Dirinya, sampai berurusan dengan teror wewegombel? Kok bisa? Masih berkaitan dengan kemampuan Aqwa yang kini menghilang, kah?


“Aqwa belum cerita?” balas opa Helios tak kalah terkejut. “Khusus yang itu harus diceritakan Mas. Karena yang kemarin memang belum tuntas. Takutnya, ada arwah yang menyamar jadi bibimu. Bibimu sudah meninggal dan ini berkaitan dengan teror wewegombel yah, Sih.”

__ADS_1


Mendengar itu, Asih makin bingung. Otaknya jadi sulit untuk berpikir. “Jangan bilang kalau hidupku selama satu tahun ke belakang memang horor! Jangan-jangan karena itu juga, aku amnesia!” pikir Asih.


__ADS_2