
Orang yang telah menyelamatkan Asih dari sera*ngan wewegombel, hingga Asih tak berakhir menjadi wewegombel juga. Pernyataan tersebut teramat menggelitik kedua wanita di sana, ibu Ryuna maupun Asih sendiri yang seolah telah melupakan jasa si wewegombel. Ibarat pepatah, kacang lupa kulit meski alasan Asih lupa tentu karena amnesia yang Asih alami. Hanya saja, ada seseorang yang mulai memenuhi ingatan ibu Ryuna. Termasuk juga dengan suara Ara yang baginya sangat mirip dengan orang tersebut dan memang seorang wanita.
“Kamu Sukma?” tegas ibu Ryuna sudah langsung pasang punggung untuk Asih.
Ibu Ryuna menuntun agak memaksa Asih untuk berdiri di belakang punggungnya. Sebab Asih yang tampaknya telanjur penasaran, hendak merangkul Ara yang kini dikendalikan Sukma.
“Kamu Sukma, yang waktu itu menyelamatkan Asih dari praktik dukun abor*si yang bersekutu dengan para wewegombel?” lanjut ibu Ryuna kali ini jauh lebih tegas.
Menyaksikan anak dan menantunya dipermainkan oleh arwah penasaran, membuat jiwa ingin melindungi dalam diri ibu Ryuna memberontak. Ibu Ryuna benar-benar tak akan membiarkan siapa pun mengusik apalagi melukai keluarganya. Ia akan melakukan apa pun, termasuk itu berhadapan dengan arwah jah*at.
“Sukma ...? Siapa itu Sukma? Dukun abors*i yang bersekutu dengan wewegombel, ini apa lagi?” pikir Asih makin bertanya-tanya sekaligus gelisah.
Ara yang masih dikuasai sang wewegombel, menatap sendu kedua mata ibu Ryuna. “Ibu ingin melindungi anak dan menantu Ibu, aku pun begitu. Lihat anakku, Bu. Dia tidur enggak bangun-bangun ...!”
“Lantas kamu justru menyalahkan Asih sementara tadi kamu sendiri yang mengatakan saya bahkan ingin melindungi anak dan menantu saya?!” sergah ibu Ryuna benar-benar marah.
__ADS_1
Ara langsung diam, menatap tak percaya kedua mata ibu Ryuna.
“Melindungi anak sudah menjadi kewajiban orang tua terlebih ibu. Itu benar-benar kewajiban kamu sebagai orang tuanya, bukan kewajiban orang lain termasuk orang yang pernah kamu tolong dan kamu harapkan akan menolong kamu juga! Ingat, yang membuat kamu kecewa bukanlah orang lain, melainkan kamu sendiri karena terlalu berharap!” sergah ibu Ryuna tak mengizinkan Sukma menyela penjelasannya.
“Jadi, jangan pernah menyalahkan orang lain untuk semua kegagalan sekaligus luka-luka yang kamu dapatkan. Apalagi sampai menyalahkan orang yang pernah kamu tolong hanya karena dia belum bisa membalas pertolonganmu! Andai pun kamu ingin meminta tolong, lakukan dengan cara baik-baik agar yang diminta bantuan tidak salah jalan!” tegas ibu Ryuna.
“Ibu bersikap begitu karena ibu tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku yang harus berjuang bertaruh nyawa dan akhirnya mati oleh kekejaman,” tangis Ara tersedu-sedu.
“Sukma mohon maaf, tapi sampai kapan pun, orang yang telanjur membuat kita marah apalagi kecewa, memang akan selalu salah di mata kita. Sekarang begini ... jika memang ada yang harus aku bantu, katakanlah. Andai memang bisa, InsyaAllah aku bantu,” ucap Asih memberanikan diri melongok dari sisi bahu kanan ibu Ryuna.
Detik itu juga mata Ara yang selalu santun penuh keteduhan, menjadi sangat tajam tertuju kepada Asih.
Di bawah, suara langkah lari terdengar riuh. Menandakan yang datang tidak hanya ada satu atau dua orang saja. Namun lebih.
“ARAAAAA!” teriak Aqwa marah. Ia masih berlari dan memang paling depan. Ia berteriak bertepatan dengan tangan kiri Ara yang turut menyusul tangan kanan mencek*ik Asih.
__ADS_1
Tubuh Asih perlahan terangkat menandakan kekuatan Ara ada di atas normal. Aqwa yang pernah berurusan dengan arwah penasaran hingga bosan yakin, ada yang merasu*ki sang adik. Terlebih, bola mata Ara berwarna putih sempurna.
Namun yang Aqwa khawatirkan, bukan hanya itu. Melainkan kenyataan laptopnya yang terjatuh setelah dilepaskan begitu saja oleh tangan kiri Ara. Bukan perkara kerus*akan, tapi karena laptop berwarna silver itu terjatuh dengan keadaan agak terbuka!
“Celaka!” refleks Aqwa yang langsung mempercepat larinya.
Di hadapan Aqwa merupakan anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai atas. Namun pak Kim mendadak mencekal sebelah tangan Aqwa.
“Dia bukan adikmu! Ara dirasuk*i. Lihat matanya putih semua. Warna kulitnya juga hitam apalagi otot-ototnya yang seolah mirip akar hidup!” tegas pak Kim memberi peringatan keras di tengah napasnya yang terengah-engah.
Di belakang, opa Helios yang dengan sangat hati-hati merangkul sekaligus memboyong oma Chole, melerai Aqwa dan pak Kim.
“Jangan lupa amankan laptopnya karena Aqwa belum membuat kelanjutan apalagi akhir agar semuanya selamat dan semua wewegombel musnah!” tegas opa Helios.
“Ara ... Asih ... Ra ... Sih, Opaaaa ... Opa tolong Asih, Pah!” panik ibu Ryuna di atas sana.
__ADS_1
Karena selain masih dalam keadaan dicek*ik Ara, tubuh Asih juga ikut tersedot ke laptop Aqwa yang menyala. Di layar laptop Aqwa yang menampilkan salah satu halaman komik Aqwa, seolah ada medan magnet yang terus berputar-putar dan terus berusaha menarik Ara maupun Asih. Ibu Ryuna kewalahan karena harus menahan keduanya di tengah medan magnet yang terus menarik.
“Opa, Papah, Aqwa, tolooooong!”