
“Aku pasti kembali,” ucap Asih tak ubahnya menabur janji. Ia masih menatap lurus kedua mata sang suami seiring tubuhnya yang jatuh ke sungai.
Bersamaan dengan itu, Aqwa sekeluarga termasuk para leluhur, berangsur menepi ke pinggir jembatan. Mereka menatap saksama Asih di sungai sana. Asih juga balas menatap mereka. Wajah cantik Asih yang tampak dingin—khas orang yang menahan dendam mendalam—perlahan mengurai senyuman. Namun dalam sekejap, adanya kepala-kepala yang melesat dari dalam sungai ke daratan, membuat kedua tangannya dengan cekatan bekerja.
Semua kepala itu langsung tercincang atau setidaknya terbelah menjadi beberapa bagian. Ibu Ryuna mendadak muntah-muntah hanya karena menyaksikan semua itu.
Asih yang kembali ke sungai, masih ngos-ngosan, tapi sebuah pedang melesat tanpa disertai pengendali dan lagi-lagi mengincar leher Aqwa.
Segera Asih melesatkan anak panahnya. Kemudian ia juga turut melesat ke daratan meski pedang tadi sudah berubah menjadi abu hitam akibat anak panahnya.
Asih berhenti tepat di hadapan Aqwa. Sebuah pedang bermata ganda, Asih berikan kepada Aqwa. “Terlalu banyak sihir. Hati-hati! Mas juga jangan sampai tenggelam!” sergah Asih wanti-wanti.
“Kamu jangan mengkhawatirkan aku. Asal kamu baik-baik saja, aku pasti juga akan baik-baik saja!” yakin Aqwa tak mau terus-menerus bersedih agar ia bisa fokus menolong Asih. Selain Asih yang ia yakini akan jauh merasa lebih tenang andai Aqwa juga bisa menyikapi keadaan dengan lebih tenang juga.
“Kepala pak Sanusi yang asli sepertinya belum benar-benar keluar. Jangan biarkan dia tetap hidup bahkan di tubuh anj*ing sekalipun. Ingat, sihir hanya bisa dikalahkan dengan doa!” ucap Asih yang kemudian menatap wajah-wajah di sana. Wajah keluarga Aqwa yang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Antara takjub, tapi juga takut.
“Aku pergi!” sergah Asih segera masuk sungai dan tak membiarkan Aqwa menahannya walau hanya melalui suara. Ekornya yang bercahaya dengan cepat bergerak mendorong tubuhnya hingga dengan cepat, melesat.
__ADS_1
Layaknya seorang dewi yang sekadar tubuhnya saja bercahaya, kehadirannya sudah langsung membuat Asih menjadi fokus perhatian. Beberapa ikan yang tak sengaja melihatnya langsung menunduk hormat, bersujud dan mereka langsung menjelma menjadi pasukannya.
Setiap ikan yang langsung kompak mengikuti Asih, segera mengeluarkan senjata. Pedang dan panah menghiasi tangan mereka, baik laki-laki maupun perempuan.
“Apa saja yang terjadi selama saya tidak di sini?” tanya Asih tak segan bertanya. Jiwa empati ikan sekaligus kepemimpinannya di sana langsung bisa menguasai situasi.
“Raja sementara digantikan oleh panglima. Sementara kabarnya, dalam waktu dekat, putri Lumut akan menikah, Ratu!” jawab salah satu wanita ikan yang mengiringi Asih dan berdiri tepat di sebelah Asih.
“Mereke pengkhianat. Mereka telah membu*nuh orang tua saya yang dengan kata lain, Raja dan Ratu kita sebelum sekarang. Bahkan alasan saya pergi sangat lama juga untuk mencari pembun*uh orang tua saya. Selain, mereka yang dengan sengaja mengirimi saya gun*a-gun*a agar saya tidak kembali. Mereka ingin menguasai kerajaan sekaligus bangsa ikan!” tegas Asih sambil menatap saksama sebagian rakyatnya yang hidup di luar istana.
Rencana penye*rangan sudah langsung Asih rancang. Ia mengajak rakyatnya untuk memanggil rakyat lain. Ruang pemujaan menjadi tujuan utama Asih.
“Detik itu juga kedua pengawal Asih langsung terjaga bahkan terlihat ketakutan. Lain dengan Asih yang segera mengobr*ak-abrik meja yang penuh ses*ajen di sana. Darah yang tercium anyir juga turut ada di sana.
“Mereka menganut ajaran se*sat. Jangan-jangan, sebenarnya sudah dari dulu juga, mereka dan pak Sanusi bersekutu? Dengan kata lain, mereka sudah menipu Gendis mentah-mentah, seperti yang mereka lakukan kepadaku, bahkan orang tuaku!” batin Asih yang berangsur menoleh ke belakang lantaran terdengar pintu yang digeser.
Pintu berbahan batu layaknya temburu karang selaku pintu tempat ibadah ataupun pemujaan Asih berada, sudah dibuka seutuhnya. Lumut, sang Raja, dan juga kepala pak Sanusi yang jumlahnya ada dua puluh satu, melangkah pelan memasuki ruang pemujaan. Semuanya kompak menatap Asih sambil tersenyum penuh kemenangan.Seolah, mereka sudah berhasil memenangkan peperang*an akbar.
__ADS_1
“Mas, ... mohon doanya,” batin Asih yang sudah menatap bengis rombongan Lumut.
Asih pikir yang datang hanya ketiganya, tapi di belakang mereka juga diikuti oleh manusia setengah ular.
Di jembatan, Aqwa seolah bisa mendengar permohonan Asih. Kedua telinga Aqwa bergerak-gerak. Padahal Aqwa sendiri sudah duduk sila di pinggir sungai sekaligus menghadap sungai Asih menghilang. Semuanya sudah mulai berdoa, termasuk kakek buyut dan para leluhur lainnya setelah mereka membuat makhluk kasatmata yang mereka ringkus dari kamar Aqwa, menjadi abu berwarna hitam, tanpa sisa.
“Kamu yakin mau pera*ang dan melawan kami? Kamu ingin mati sia-sia layaknya orang tuamu, Sih?” ujar Lumut dengan sombongnya. Ia masih bertubuh setengah ikan.
Asih yang melirik sinis Lumut, tersenyum keji seiring benaknya yang dihiasi adegan kekejia*n Lumut maupun sang bapak, kepada orang tuanya. Dalam sekejap, meski ia tak sampai bersuara, anak panahnya melesat lurus mengenai mulut Lumut yang baru terbuka.
“Arrrrggghhh!” keluh Lumut yang mendapati, bukan hanya anak panah Asih yang menancap di mulut tembus ke kepala bagian belakangnya. Karena gigi-giginya juga kompak rontok. Semua giginya ia muntahkan di tangan kanan bersama darah segar yang turut mengucur.
“Bedeb*ah! Bangsa*t kamu Sih!” emosi Lumut. Sambil maju menghampiri Asih, Lumut yang perlahan menjadi setengah ular, bukan ikan lagi, berkata, “Ser*a*ng aku sesukamu. Lihat hasilnya, ... aku kebal karena aku sudah memakan daging orang tuamu. Karena aku sudah meminum darah suci mereka. Persis seperti pemandangan yang kamu saksikan dari anugerah kakek buyut Aqwa!” Ia mengakhirinya dengan senyum penuh kemenangan yang perlahan menjadi tawa. Ia tertawa tepat di depan wajah Asih bersama lidahnya yang sudah menyerupai lidah ular dan memang mengandung bisa.
Asih memang hanya diam, dingin tak tersentuh. Namun dalam sekejap, keduapuluh satu tangan Asih bekerja membuat tubuh Lumut menjadi bagian paling kecil. Terakhir, kedua puluh satu tangan itu melakukan gerakan tegas dan detik itu juga menyemburkan api hingga tubuh Lumut yang awalnya akan kembali menyatu, terbakar menjadi abu.
Sang Raja bahkan kepala pak Sanusi, terbengong-bengong menyaksikan semua itu. Nyali mereka menciut, meraka tak lagi menatap penuh kemenangan apalagi sombong kepada Asih. Yang tersisa hanyalah tatapan takut, selain tubuh maupun kepala mereka yang jadi gemetaran hebat.
__ADS_1
“Sesuatu yang kalian curi tak akan membuat kalian menjadi abadi. Karena sesuatu yang kalian curi hanya akan menjadi duri, bahkan kehancuran kalian sendiri!” tegas Asih yang kemudian meminta mereka yang ada di hadapannya untuk maju. “Maju, ... satu-satu, atau sekaligus. Aku siap!”