Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
30 : Ketakutan Aqwa


__ADS_3

Keesokan harinya, di sorenya, Asih diboyong pulang oleh Aqwa sekeluarga. Dari perbincangan Aqwa sekeluarga, Asih menyimpulkan, semua anggota keluarga Aqwa yang ada di Jakarta dilarang ke kampung untuk dua minggu ke depan.


Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi larangan tersebut dirasa Asih masih berkaitan dengan wanti-wanti opa Helios kepada Aqwa. Agar selama dua minggu ke depan, Aqwa diminta untuk tidak lewat sekitar sungai Merah. Selain, Aqwa sekeluarga yang dilarang ke Jakarta karena ditakutkan, demi*t-demi*t yang di sana malah ikut rusuh ke Jakarta.


“Berarti ibaratnya, Mas sekeluarga memang sudah diincar, ya?” tanya Asih lembut bertepatan dengan ibu Ryuna yang menutup pintu kamar Aqwa.


Saking dimohon untuk tidak pergi ke sekitar sungai merah, ibu Ryuna sampai meminta Asih untuk mengurung Aqwa di kamar saja.


“Diincar apaan? Itu tuh ... itu, Sih!” lirih Aqwa yang lama-lama histeris dan memang sengaja menakut-nakuti Asih.


Yang Asih lakukan ialah memu*ul asal bahu maupun punggung Aqwa yang langsung minggat melarikan diri darinya. “Mas kebiasaan ih. Sekarang aku lagi hamil enggak mungkin pecicilan apalagi lari-lari kayak dulu!”


Asih menyusul Aqwa. Lebih menyebalkannya lagi, setelah menurunkan ransel maupun dua kantong belanjaan yang dibawa, Aqwa malah melemparkan tubuhnya sendiri ke tengah-tengah tempat tidur hingga Asih tak memiliki tempat untuk duduk selonjor apalagi rebahan.


Asih memilih duduk di sofa tunggal yang ada di sudut kamar dan keberadaannya tidak begitu jauh dari tempat tidur. Sofa tunggal dekat jendela yang juga menjadi tempat Aqwa biasa menghabiskan waktu. Baik untuk bersantai, belajar, atau malah bekerja. Karena meski Aqwa clengean dan akan sangat jail jika kepada Asih, begitu-begitu, Aqwa sudah ikut membantu pekerjaan sekaligus usaha orang tuanya.


“Sini lah, sih. Apaan sih kamu, ngambekan banget!” lirih Aqwa yang lagi-lagi menertawakan Asih.


Sambil beranjak duduk, Aqwa berkata, “Sebenarnya aku lagi pusing banget. Andai kepalaku bisa dilepas dulu, terus taruh lemari pendingin, kayaknya enakan.”


“Apaan sih, bikin parno saja! Ingat yang di jembatan sungai Merah saja sudah gemetaran. Ih Mas sengaja banget!” sebal Asih tetap bertahan di sofa.

__ADS_1


Detik berikutnya, Asih mendadak teringat statusnya dan perubahannya. Sebelumnya, alasannya ke kamar Aqwa pasti untuk beres-beres atau setidaknya membantu bahkan dijaili Aqwa. Namun kini, alasannya di sana karena ia memang akan menjadi penghuni sekaligus pemilik kamar, setelah Aqwa kembali menikahinya secara resmi.


“Yang namanya takdir memang enggak ada yang tahu. Tadinya bagaimana, sekarang bagaimana? Aku juga jadi curiga, jangan-jangan, masih Lumut dan bapaknya yang memb*unuh orang tuaku karena kepadaku dan mas Aqwa saja, mereka tega. Walau mungkin akan sulit untuk membuktikan ini, nanti jika aku diberi kesempatan, aku beneran ingin memberi mereka pelajaran. Meski jujur, aku saja enggak paham. Karena setelah aku tak lagi menjadi bagian dari bangsa ikan, kira-kira, apa yang membuatku bisa membalas mereka?” pikir Asih langsung buru-buru berdiri lantaran Aqwa menuang tuntas satu kantong berisi aneka camilan maupun minuman yang mereka beli, ke lantai.


“Ada yang gampang pecah, Mas. Tadi ada sup buah dan salad buah. Itu ada rujak juga,” tegur Asih sudah jongkok di hadapan Aqwa.


Asih jadi heran, apakah suaminya begitu pusing bahkan stre*s hingga Aqwa jadi sibuk melakukan kesalahan bahkan meminta diperhatikan.


“Mas duduk ... Mas duduk. Sudah, mending Mas ngaji saja!” tegur Asih kali ini agak cerewet.


Yang membuat Aqwa tidak bisa tenang karena hantu kepala pak Sanusi menerornya melalui bayangan kejadian di masa depan. Bahwa andai hantu kepala itu tidak bisa mendapatkan tubuh Aqwa, pak Sanusi akan menggantinya dengan tubuh anak Aqwa yang diprediksi juga akan lahir sebagai laki-laki. Kini, melihat Asih, Aqwa juga menghubungkannya dengan apa yang bergulir di benaknya. Yaitu kenyataan Asih yang menangis pilu ketika menyaksikan kepala anak mereka terpisah dari tubuh, sementara hantu kepala pak Sanusi malah memakai tubuh anak mereka.


“M—Mas ... jangan bikin aku takut ih!” lirih Asih lebih memilih menenangkan Aqwa ketimbang merapikan camilan, minuman, dan makanan lain yang suaminya itu berantakan. Baru Asih sadari, menjadi istri Aqwa juga mewajibkannya makin sabar sekaligus tegar. Tak semata karena jika kepadanya, Aqwa selalu jail dan memang sangat rese. Melainkan keistimewaan Aqwa yang bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk tak kasatmata.


Aqwa yang sadar memeluknya membuat Asih susah payah berjinjit, sengaja mengangkat tubuh Asih.


“Kalau sudah begini aku makin yakin kalau mas Aqwa lagi ada masalah,” batin Asih lagi.


“Aku bisa dengar setiap suara hati kamu, jadi kamu jangan berisik. Lihat, telingaku sampai merah, gerak-gerak gini gara-gara kamu batinin melulu!” keluh Aqwa.


Asih yang sempat menatap Aqwa langsung merengut sebal. Kemudian, ia menyuruh suaminya itu untuk wudu, ngaji, bahkan lebih.

__ADS_1


“Kalau aku ngaji, wirid, kamu mau ngapain?” tanya Aqwa.


Setelah sempat merenung sejenak, Asih yang juga sampai menepis tatapan Aqwa, berangsur kembali menatapnya. “Makan. Orang tua Mas minta aku buat banyak makan.Tuh segitu banyan, nah rujaknya bumbunya tumpah ke mana-mana kan, itu semua suruh dimakan!” yakin Asih yang juga sengaja mengingatkan. Takut Aqwa lupa atau malah sengaja bikin gara-gara.


Aqwa yang sempat menahan tawa sambil terus memandangi istrinya, sengaja membawa Asih ikut serta ke kamar mandi.


“Ini mau ngapain, sih?” berisik Asih. Keadaan yang akan membuat Aqwa makin bahagia jika Asih makin berisik.


“Kan enggak jelas banget. Wudu saja minta dimandorin.” Tak mau membuang waktunya dengan sia-sia, Asih sengaja membasuh wajahnya di wastafel. Hanya saja, Aqwa yang sudah lebih dulu beres, dengan sengaja buru-buru meninggalkannya, hingga ia yang memang takut sendirian, tak segan mengomel.


“Ya ampun Sih ... Sih. Sebahagia ini kalau aku tahu kamu ngomel ke aku!” ucap Aqwa sambil menggandeng sebelah tangan Asih. Asih masih mengeringkan wajahnya menggunakan tisu, tapi ia sengaja membasahinya menggunakan air wudu di tangan maupun kedua tangannya.


Sadar Asih akan kembali mengomel, Aqwa sengaja berkata, “Jangan dihapus. Nanti, saat di akhirat, sisa air wudu itu bakalan jadi cahaya yang menerangi tubuh kita. Kita bakalan glowing tanpa pakai skincare!”


Karena Asih hanya merengut sebal, Aqwa kembali cerewet. “Diaminin ...,” ucapnya sambil menyikap tubuh kurus Asih yang bisa ia angkat meski hanya menggunakan satu tangan.


“Mas, aku lagi hamil. Tolong lebih hati-hati,” ucap Asih.


“Iya ... bentar lagi saja aku bakalan gelarin karpet merah biar kamu serasa artis papan atas meski kita hanya boleh di kamar,” yakin Aqwa yang kemudian menci*um gemas sebelah pipi Asih. Ia sampai mengigi*t pipi Asih saking gemasnya hingga istrinya itu menjerit dan berakhir meringkuk di pangkuannya, menemaninya ngaji.


“Dari dulu aku sudah menyayanginya. Namun aku juga tidak menyangka, bahwa aku akan berakhir menikahinya, dan dia menjadi sumber utama dari ketakutanku. Karena aku sadar, mereka yang berusaha menyer*angku, akan menjadikannya sebagai perantara,” batin Aqwa sambil melirik Asih. Ia sengaja meledeknya, untuk kesekian kalinya, tapi Asih dengan cuek sibuk makan.

__ADS_1


“Orang sakit enggak ada yang doyan makan kemaruk kayak kamu loh Sih. Mana nempel terus begini!” lede*k Aqwa. Sebab meski cuek kepadanya, Asih tetap meringkuk di pangkuannya.


__ADS_2