Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
28 : Ada yang Tidak Suka?


__ADS_3

“Ternyata Asih hamil di luar nikah juga? Baru ijab kabul ... terus, ngapain dia ada di tempat abor*si kemarin, kalau pihak laki-lakinya saja mau tanggung jawab? Atau malah, pihaknya Asih yang enggak setuju? Padahal kalau aku lihat, keluarganya suaminya Asih bukan orang biasa. Aku saja yang hanya karena menolong Asih, sampai dikasih pengobatan cuma-cuma dan itu di ruang VIP! Gil*a sih, suami Asih seganteng itu. Pantes, orang tuanya saja memang sumber bibit unggul. Kelihatan masih pada muda. Apa memang keluarga ini sudah biasa nikah muda? Ya Allah, jiwa misquin aku meronta-ronta kalau lihat yang beginian,” batin Sukma yang memilih duduk di bangku tunggu dan keberadaannya tidak begitu jauh dari bibir pintu tadi ia melongok suasana ruang VIP Asih dirawat.


“Aku jadi kepikiran, itu kira-kira si Panji dan orang tuanya, apa kabat yah, di desa abor*si?” pikir Sukma yang menjadi memikirkan nasib pacar dan keluarganya, yang memang sempat memaksanya untuk abor*si. Terlebih, jasa abor*si di sana justru memberikan imbalan uang sejumlah dua puluh juta.


“Imbalan setiap yang abors*i itu dua puluh juta, tapi rumah dukunnya saja reot. Kalau dipikir-pikir, enggak masuk logika. Soalnya ngapain memperkaya orang lain, kalau dia saja masih misk*in,” pikir Sukma lagi yang memang menjadikan pengalaman di desa abor*si tersebut, sebagai pengalaman tak terlupakan.


“Salaman ....” Aqwa mengulurkan tangan kanannya, padahal jelas-jelas, jaraknya dari Asih yang masih duduk selonjor di ranjang rawat, ada tiga meter.


Ibu Ryuna langsung menatap tak habis pikir Aqwa. Lain dengan pak Kim maupun sang papah, yang langsung geleng-geleng.


Namun, tentu itu hanya bercanda. Karena Aqwa berangsur menghampiri Asih, memberikan tangan kanannya yang juga langsung menyalaminya dengan takzim.


“Aku yakin, mulai sekarang, kamu bakalan makin repot, sih,” ucap Aqwa yang kemudian duduk di sebelah Asih, setelah wanita yang kembali ia nikahi memintanya untuk fokus pada doa bersama yang masih berlangsung.


Pernikahan kedua mereka masih digelar dengan sangat sederhana dan memang hanya berupa ijab kabul. Namun, ibu Ryuna berdalih, setelah Asih pulih, mereka akan segera menggelar resepsi.


“Mau di Jakarta atau mau di sini, kalian yang tentukan,” ucap ibu Ryuna yang sebelumnya belum selesai. Namun, pecahnya salah satu kaca di sana, langsung membuatnya latah karena ketakutan. Ia refleks memeluk sang suami yang kebetulan duduk di sebelahnya.


“Tuh kan, kayak gini lagi ...,” rengek ibu Ryuna yang memang kembali merasa ngeri, meski sang suami memintanya untuk menyikapi dengan biasa. Ibu Ryuna diminta bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Mengingat keadaan Aqwa yang spesial, memang akan membuat mereka turut merasakan teror tak kasatmata.


Tak beda dengan ibu Ryuna, hal serupa juga dilakukan Asih. Asih refleks menggenggam sebelah tangan Aqwa menggunakan kedua tangannya. Bedanya, ia yang jadi mengawasi sekitar dengan intens, tak sampai bersuara layaknya ibu Ryuna.


Setelah rombongan penghulu pamit dari sana, pak Kim dan ibu Ryuna sengaja mengantar hingga pintu masuk utama rumah sakit. Namun, sebelum keduanya benar-benar pergi bersama rombongan penghulu, ibu Ryuna sudah lebih dulu meminta Sukma untuk masuk jika memang ingin bertemu Asih.

__ADS_1


Opa Helios lah yang akhirnya menghampiri Sukma, mengajaknya masuk kemudian duduk di sofa bekas rombongan penghulu.


“Kemarin aku belum ngucapin terima kasih,” ucap Asih sembari berusaha mengakhiri genggaman kedua tangannya kepada Aqwa, tapi Aqwa tidak mengizinkan. Malahan, Aqwa membuat tangannya yang bebas untuk balas menggenggam. Padahal maksud Asih, memang sengaja tak mau pamer kemesraan. Malu.


“Mas Aqwa memang sesulit ini buat ditebak. Atau memang aku yang masih susah peka apalagi kalau ke aku, Mas Aqwa memang jail kebangetan,” batin Asih.


“Enggak masalah, Sih.” Sukma sudah langsung menggeleng. Ia yang jauh lebih sehat ketimbang Asih memang sudah diizinkan pulang, dan ia sengaja mengabarkannya.


“Oh iya, nanti tunggu mamahnya Asih buat urus adminitrasi ya,” ucap opa Helios karena mereka memang sengaja membayarkan biaya rumah sakir Sukma sebagai wujud dari rasa terima kasihnya. Meski kenyataan Sukma yang tidak bisa menjawab ketika mereka tanya alamat atau setidaknya keadaan orang tuanya, langsung membuat mereka bertanya-tanya.


“Saya sudah memutuskan untuk hidup sendiri, menjadi orang tua tunggal Opa,” sedih Sukma sambil menunduk dalam.


“Namun andai kamu masih memiliki orang tua dan kamu tidak mengabarkannya, itu tidak dibenarkan. Mesk semua keputusan memang ada di tangan kamu, keputusan itu akan berdampak untuk waktu yang terbilang panjang bahkan seumur hidup. Karena ini menyangkut banyak masa depan. Dari masa depan kamu, orang tuamu, khususnya masa depan anakmu!” ucap opa Helios yang menatap saksama Sukma.


Tak mau masuk ke urusan Sukma lebih dalam, opa Helios sengaja menutup kisah mereka. Akan tetapi, mereka tak melupakan jasa Sukma begitu saja. Mereka memberikan sejumlah uang untuk Sukma memulai hidup baru.


“Jika kamu masih punya orang tua dan orang tua kamu baik, dalam artian, mereka masih peduli, mereka masih tanggung jawab, ... jangan lupa buat pulang yah, Mbak. Soalnya, ... aku saja yang enggak punya orang tua, rasanya selalu kangen mereka. Juga, Mbak sendiri sebagai calon orang tua, juga akan selalu berusaha melakukan yang terbaik kan, buat anak Mbak? Kurang lebih, semua orang tua juga begitu. Meski enggak semua orang tua akan bisa menyalurkan rasa sayangnya dengan lembut sekaligus penuh perhatian versi kita,” ucap Asih yang lagi-lagi mengucapkan terima kasih kepada Sukma.


Sukma ingin memeluk Asih untuk kebersamaan terakhir mereka sebelum mereka benar-benar berpisah, tapi tampaknya, Aqwa tak mengizinkan.


Barulah setelah opa Helios melirik Aqwa penuh arti sambil mengangguk, pemuda itu mengakhiri genggamannya kemudian membiarkan Asih memeluk Sukma. Asih juga yang meminta izin karena ingin memeluk Sukma yang Asih anggap sebagai penyelamatnya.


Urusan Sukma sudah Asih dan Aqwa serahkan kepada orang tua Aqwa yang masih didampingi pak Helios. Sebab meski hanya Aqwa dan pak Helios yang bisa melihat, pada kenyataannya ada sosok wewegombel yang masih mengikuti Sukma. Karenanya, Aqwa tak mengizinkan Sukma dekat-dekat dengan Asih.

__ADS_1


Kini, Asih menatap ngeri suaminya yang baginya makin bucin kepadanya. Karena setelah ia beres pelukan dengan Sukma, Aqwa sudah kembali buru-buru menggenggamnya erat. “Mas bucin banget ke aku?” tanyanya.


Namun, Aqwa yang tak mau membuat Asih makin setre*s karena hidup mereka dikelilingi arwah penasaran, memilih mengangguk-angguk.


Bukannya merasa baper atau setidaknya tersentuh, Asih hanya menghela napas dalam. Asih terlalu lelah sekaligus telanjur bosan dengan suasana di sana.


“Sih ...?” lirih Aqwa menyikapi Asih dengan serius.


Tanpa menjawab, Asih berangsur menatap Aqwa.


“Sembilan koma sembilan, atau sepuluh, buat kamu, nilaiku berapa?” tanya Aqwa.


“Hah ...? Itu terlalu tinggi, Mas!” protes Asih.


Aqwa yang kecewa refleks berkata, “Kalau sudah begini, aku mendadak lebih memilih kamu susah ngomong, ketimbang lancar ngomong tapi enggak mau memuji aku. Aku ini suami kamu loh, sih. Mau kamu kasih nilai enggak tinggi pun, aku tetap yang paling tinggi, soalnya kamu dapatnya aku!” ucapnya kali ini mengomel.


Asih yang sempat menatap heran Aqwa, menjadi sibuk menahan tawanya. “Ya ampun, Mas. Ini saja aku masih lemas. Kamu yah!”


“Braaaakkk!”


Retaknya kaca jendela yang ada persis di sebelah Aqwa, sudah langsung merengg*ut tawa bahkan kebahagiaan Asih.


“Kok kayak ada yang enggak suka kalau aku sama mas Aqwa bahagia, ya?” pikir Asih yang diam-diam kembali mengawasi sekitar dengan intens, di tengah kedua tangannya yang menggenggam sebelah tangan Aqwa.

__ADS_1


__ADS_2