Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
25 : Guna-Guna yang Mental


__ADS_3

Pakaian Aqwa, rambut, dan juga potongan kuku, menghiasi meja di tempat pemujaan atau itu ibadah bangsa ikan. Di sana masih ada panglima yang kini sudah memakai mahkota emas layaknya pemimpin besar—Raja. Mahkota yang bentuknya hanya sedikit berbeda dari mahkota yang pernah menghiasi kepala Asih, ketika wanita cantik itu menjelma menjadi ratu ikan di sana.


Panglima yang kini memang sudah menjadi raja bangsa ikan, duduk di sebuah kursi terbilang megah dan masih berornamen ikan. Sementara di hadapan pria itu dan duduk di lantai, Lumut sang putri masih melangsungkan pemujaan.


“Aqwa ... Aqwa ... Aqwa ... kau harus mencintaiku ....” Lumut terus melantunkan lembut kalimat tersebut. Namun tiba-tiba saja seolah ada yang meledak di atas pakaian dan semua yang berkaitan dengan Aqwa.


Ledakan tersebut tak hanya mengagetkan sang Raja apalagi Lumut. Sebab suara ledakan tersebut juga sampai meninggalkan asap pekat. Tak kalah mencolok, keadaan di sana yang seolah terkena gempa. Sebagian bebatuan kecil sampai berjatuhan dan baik Lumut maupun sang papah, menatap takut kenyataan tersebut.


Pakaian Aqwa dan semua yang berkaitan dengan Tuan Muda rupawan itu memang ada di meja. Semuanya sungguh tampak baik-baik saja, kecuali dupa dan beberapa wadah yang awalnya mengepulkan asap. Karena semua asap di sana perlahan tak sedikit pun tersisa. Seolah ada yang dengan sengaja memadamkannya dan itu artinya berbahaya. Karena dengan kata lain, guna-guna yang mereka lakukan dan itu memang ditujukan kepada Aqwa, sudah tak lagi bisa terhubung.


“Raja ini, bagaimana, Raja?” sergah Lumut lantaran setiap usahanya menyalakan semua dupa sekaligus bahan-bahan yang dibakar, selalu gagal.


“Kita pasti langsung disoraki pembaca! Mereka pasti bersuka cita di kegagalan kita!” sergah sang Raja.


“Raja, ... tolong serius Raja! Kita bukan Paojan dan Jam-Jam yang dijatah buat lucu-lucu. Pemujaan kita mati, dan dengan kata lain ...?” Lumut makin tidak baik-baik saja. Lebih tidak baik-baik saja lagi karena usahanya membakar pakaian Aqwa malah membuatnya kejatuhan kepala kambing tolak bala.


“Arrrghhh! Apa ini?” Lumut histeris ketakutan dan refleks lari berlindung ke sang papah. Lumut berdiri di belakang kursi sang raja duduk. Wanita berkulit hitam manis itu berpegangan pada temat duduk di sana.


“Pembaca pasti makin menertawakan kita. Harga diri kita pasti makin diinjak-injak kalau begini caranya!” tegas sang Rasa yang justru membuat Lumut makin putus asa.


“Seseorang bahkan lebih, telah memberikan tolak bala. Dengan kata lain, kita sudah tidak bisa lagi mengguna-guna Aqwa. Kecuali ....” Kali ini, sang Raja benar-benar serius.


“Kecuali apa, Raja?” sergah Lumut tidak sabar. Ia sengaja berdiri di hadapan sang Raja.

__ADS_1


“Kita mulai dari awal!” sergah Raja.


“Masalahnya, Aqwa tidak mungkin ke sini lagi, Raja! Apalagi kita sama-sama tahu, Gendis sudah pergi dengan tenang setelah membalaskan dendamnya kepada pak Sanusi!” yakin Lumut.


“Jika bukan Aqwa yang ke sini, berarti kamu yang harus ke daratan! Namun ingat, kamu jangan lama-lama di sana. Jangan sampai lebih dari satu minggu!” yakin sang Raja.


Lumut menatap tak paham sang papah. “Bukankah jika itu terjadi, aku justru bisa jadi manusia seutuhnya?”


Mendengar itu, sang Raja menggeleng tegas.


“Loh, kenapa?” sergah Lumut merasa tak masuk akal padahal jelas-jelas, mereka sudah berhasil membuat Asih menjadi manusia seutuhnya, hingga Asih tak bisa mengusik tahta yang telah mereka miliki.


“Karena pada kenyataannya, kita hanya bangsa ikan biasa. Alasan kita di sini pun karena kita berhasil menghabi*i orang tua Asih dengan siasat!” tegas sang Raja.


“Jadi, hal fatal apa yang akan terjadi andai aku sampai tidak bisa kembali dalam waktu satu minggu, sementara kita sama-sama tahu, Aqwa bahkan kakeknya, punya indra ke enam?” Lumut benar-benar serius. Ia sungguh ingin menguasai Aqwa kemudian memiliki keturunan dari Aqwa yang nantinya bisa membuat derajatnya bahkan silsilah keluarganya terangkat. Namun, untuk mewujudkan keinginannya itu, syaratnya sangat berat.


“Pelan-pelan, Mas. Pelan-pelan. Kalau kamu sudah begitu, Mamah langsung takut,” ucap ibu Ryuna yang buru-buru meninggalkan mukenanya.


Ibu Ryuna menutup setiap gorden dari tiga jendela yang ada di sana. Sementara Aqwa sengaja membangunkan Asih.


Kekurangan gizi memang membuat Asih jadi gampang tidur, selain bawaan janin yang juga kerap membuat seorang wanita merasakan perubahan emosi dengan sangat drastis.


Asih terbangun lantaran jemari tangan Aqwa yang terasa hangat, menepuk-nepuk pipinya dengan lembut. Aqwa menatapnya saksama dengan jarak yang sangat dekat. Karena hidung bangir pemuda itu nyaris menyentuh hidungnya.

__ADS_1


“Jangan tidur dulu. Mau maghrib. Dengerin aku ngaji dulu. Habis itu salat bareng, baru setelah isya, boleh tidur lagi!” lirih Aqwa wanti-wanti.


“Kuat bersandar ke sandaran, enggak?” sergah ibu Ryuna sambil menghampiri, tapi karena tidak yakin Asih bisa bertahan lama bersandar tanpa dipegangi, ia sengaja meminta Aqwa untuk merangkul Asih.


“Bersandar ke Mas Aqwa saja. Sambil dengerin Mas Aqwa ngaji,” ucap ibu Ryuna yang kemudian buru-buru mandi lantaran kebelet pipis.


Meski sempat canggung dan jadi sama-sama menepis tatapan satu sama lain, Aqwa berangsur melakukan saran sang mamah.


“Dengerin aku ngaji, jangan tidur dulu!” sergah Aqwa yang langsung melanjutkan ngajinya.


Namun karena Aqwa mendapati Asih yang kembali terkantuk-kantuk dalam dekapannya, Aqwa sengaja memencet-mencet ujung jemari Asih. Alhasil, wanita itu jadi sibuk meringis menahan sakit.


“Baca surat Yusuf ini meski hanya dalam hati,” pintu Aqwa yang kemudian mendekatkan al'quran di tangan kanannya yang tidak mendekap pinggang Asih. Tangan kiri yang juga masih kerap memencet ujung jemari tangan kiri Asih.


Meski tidak bersuara karena memang belum kuat, Asih berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia menatap saksama setiap ayat di hadapannya.


“Sih, ... kamu tahu? Selega ini rasanya bisa kembali bersamamu. Bahkan meski keadaanmu bikin aku merasa sangat bersalah. Keadaan kamu yang sekurus ini, bikin aku sangat sedih, tapi ini jauh lebih baik ketimbang aku sama sekali enggak tahu kabar kamu, dan parahnya, kamu juga enggak baik-baik saja,” batin Aqwa.


Aqwa terlalu terbawa suasana. Ia yang awalnya hanya menatap saksama setiap inci wajah, tangan, juga kepa Asih yang tertutup kerudung instan, tanpa sadat justru membenamkan bibirnya di ubun-ubun Asih.


“Kok Mas c*ium–c*ium kepala aku?” protes Asih sembari berusaha menjauh meski yang ada, ia tak bisa melakukannya lebih dari satu jengkal.


“Ada apa?” sergah ibu Ryuna yang baru keluar dari kamar mandi sebelah ranjang kebersamaan Aqwa dan Asih.

__ADS_1


“Ya ini, Mah. Asih protes katanya aku c*ium-c*ium dia. Kalau c*ium kan gini, yah, Mah. Nah!” sergah Aqwa sengaja mempraktekannya di pipi Asih.


Asih yang tidak mau disentuh berlebihan apalagi dic*ium Aqwa, jadi makin kesal kepada Aqwa. Kedua sejoli itu malah berakhir berdebat dengan suara Aqwa yang mendominan. Lain dengan ibu Ryuna yang jadi tertawa geli karena ulah keduanya.


__ADS_2