Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
53 : Mengerikan, Tapi Penasaran


__ADS_3

Dua mangkuk sup ayam kampung menggunakan rempah chinese khusus, ibu Ryuna bawa dengan hati-hati menggunakan nampan. Ia memang mengurus segala sesuatunya sendiri lantaran ART di rumah sedang turut menghadiri acara maulid nabi di pondok pesantren. Alasan tersebut pula yang membuat rumah jadi sepi dan hanya dihiasi suara dari pesantren. Terdengar sang putra yang sampai detik ini masih mengaji dan baginya menjadi kebanggaan tersendiri.


“Astaghfirullah, Mah. Inalillahi wainnailaihi rojiun ... Mamah di ... M-mah di sini? Sejak kapan? Terus yang di dalam kamar dan tadi pijat-pijat Asih, ... siapa?” refleks ibu Ryuna langsung cerewet dengan suara lantang tak lama setelah ia mendapati sang mamah mertua justru baru akan masuk dan itu lewat pintu dapur.


Padahal jelas-jelas, tadi oma Chole tengah meringkuk lemah di tempat tidur. Namun setelah melihat Asih, oma Chole beranjak bangun kemudian memijat Asih yang memang tampak tak kalah sakit dari oma Chole.


Oma Chole yang memang baru akan masuk sambil membawa baskom berukuran sedang, menatap aneh sang menantu. “Mamah habis berjemur di dekat kolam ikan sekalian kasih makan ikan, Mbak. Sengaja biar toksin pada keluar, biar badannya enakan!” jelasnya sangat lembut meski memang suaranya terdengar lemas bahkan di telinganya sendiri. Alasan yang terjadi efek sakitnya, meski jika dilihat dari tubuhnya, ia masih segar bugar.


Yang membuat oma Chole bingung, bukannya menjelaskan, melanjutkan obrolan mereka, ibu Ryuna malah pergi dengan sangat buru-buru, tanpa pamit bahkan sekadar basa-basi. Tak biasanya ibu Ryuna begitu, tapi setelah oma Chole mencermati pertanyaan ibu Ryuna, wanita bercadar merah salem itu baru menyadarinya. Bahwa memang ada yang tidak beres dan itu menyangkut sosok lain mirip dirinya. Sosok lain yang sedang memijat Asih di kamarnya dan itu berwujud oma Chole! Pikir oma Chole.


Bukan hanya ibu Ryuna yang buru-buru menuju kamar mertuanya selaku tempat Asih berada. Namun juga oma Chole yang baru saja mengetahuinya. Di tengah degup jantung mereka yang jadi cepat sekaligus kacau, keduanya seolah tengah berpacu dengan waktu dan sebisa mungkin berusaha memenangkannya.


“Di rumahku ada demit jahat? Apa-apaan!” kesal oma Chole. Ia yang awalnya agak terseok dalam melangkahnya, seketika menjadi lincah. Ia bahkan sengaja berlari dan berhasil mendahului ibu Ryuna dan awalnya ada di hadapannya.


Ibu Ryuna yang membawa nampan berisi dua mangkuk sup, membiarkan sebagian isi mangkuknya tumpah lantaran ia bawa lari.

__ADS_1


Ketika akhirnya oma Chole sampai kamarnya yang pintunya tak sepenuhnya tertutup, di sana, Asih terus menunduk dan terlihat tidak berani sekadar melirik lawan bicaranya. Sementara sosok yang mirip oma Chole, sudah langsung berubah wujud menjadi sosok wewegombel. Sosok wewegombel yang tengah berusaha melepas tasbih dari pergelangan tangan kiri Asih.


Blaaaaaak! Lemparan baskom oma Chole tepat mengenai dahi si wewegombel yang detik itu juga langsung terkejut.


Bergegas ibu Chole menghampiri meski kini, badannya masih meriang tak berdaya. Namun demi cucu menantunya, ia berusaha kuat. Kemudian, ia sengaja membuka lemari, mengambil satu ikat lidi lanang dari sana yang seketika ia hant*am-hantamkan pada si wewegombel.


Bukannya takut apalagi menghilang dan setidaknya pergi, wewegombel itu malah tertawa. Tawa mengerikan di tengah tatapan menyepel*ekannya kepada ketiga pasang mata di sana. Tawa yang juga membuat setiap bulu roma wanita di sana kompak berdiri.


“Hahahahahaha ... hahahahaha!”


“Bismillah ... bismillahirrahmanirrahim!” lirih ibu Ryuna. Dihadapkan pada situasi genting layaknya sekarang, ibu Ryuna sampai bingung harus melafalkan doa apa. Ia terlalu panik, terlalu takut, dan otaknya sulit diajak untuk berpikir jernih. “Bismillah ... bismillah ....” Anehnya, ibu Ryuna baru lancar berdoa, melafalkan ayat kursi setelah wewegombelnya hilang. Akan tetapi, menghilangnya sang wewegombel juga dibarengi dengan tasbih yang turut serta.


“Ini sih bukan misi. Ini namanya kamu diincar. Kenapa sampai diincar, padahal biasanya wewegombel mengincarnya yang hamil atau setidaknya masih menyusui?” heboh oma Chole. Ia masih kalut terlebih untuk pertama kalinya, dirinya mengalami hal mistis dan itu sungguh mengincar Asih.


Awalnya, oma Chole berpikir hal semacam itu hanya akan dialami oleh orang yang memiliki indra keenam layaknya suaminya. Namun kini, dan itu baru saja, ia merasakan bagaimana tegangnya diledek oleh makhluk tak kasatmata.

__ADS_1


“Ara ...!” sergah ibu Ryuna yang akhirnya ingat putrinya, tak lama setelah oma Chole memeluk Asih.


“Coba dicek!” sergah oma Chole mengangguk-angguk, memberi sang menantu titah sekaligus restu di tengah napasnya yang masih tak beraturan.


“Oma ... sebenarnya, di kolong kamar mas Aqwa pun ada yang sampai bawa bayi. Entah bayi entah apa, tapi posisinya mirip dibedong, terus dipangku. Namun aku jadi berpikir, alasan ini terjadi dan itu teror sekaligus serang*an dari mereka, karena aku justru sibuk menghindar. Bagaimana, Oma? Menurut Oma, apakah juga begitu?” sergah Asih tak lama setelah ibu Ryuna pergi.


Di dalam kamar Aqwa, Ara yang masuk dan baru mengambil laptop milik sang kakak, refleks memelankan langkahnya lantaran gadis itu mendengar ada yang berkidung atau itu bernyanyi. Nyanyian khas Jawa, suara seorang wanita yang terdengar lirih dan sudah langsung membuat bulu roma gadis itu kompak berdiri.


“Tak lelo, lelo ledung ....”


“Wes menengo anakku Si Kuncung.”


“Embokmu lagi lungo menyang kali.”


“Heh! Kok makin ngeri! Suaranya dari kolong tempat tidur. Radio, mp3, ... atau malah asli? Namun kalau asli, ... berarti ...?” batin Ara.

__ADS_1


Sebagai manusia biasa, rasa penasaran Ara membuat gadis itu ingin memastikan. Mengendap-endap Ara mendekati tempat tidur yang hanya berjarak sekitar dua meter dari tempatnya berpijak. Ia berangsur jongkok lantaran kidung dari san masih saja terdengar mengerikan, tapi justru makin membuatnya penasaran.


__ADS_2