Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
52 : Laptop Aqwa


__ADS_3

Asih duduk di sebelah Ara, adik sekaligus satu-satunya saudara kandung Aqwa. Karena sampai sekarang, orang tua Aqwa memang hanya memiliki dua orang anak.


Berbeda dengan Aqwa yang akan sangat jail kepada Asih, selain Aqwa yang tipikal aktif di depan umum, Ara terkenal sangat pendiam. Ketika diajak mengobrol pun, Ara lebih sering menjawab dengan senyum, mengangguk pelan, atau malah menggeleng yang masih gadis itu lakukan dengan pelan sekaligus sangat santun.


Kini saja, Ara hanya tersenyum lembut dalam membalas sapaan Asih. Gadis yang kiranya dua tahun lebih muda dari Asih itu begitu tenang menyimak ceramah di panggung. Lain dengan ibu Ryuna yang memang duduk di sebelah Ara, dan sudah langsung mengajak Asih berbicara. Terlebih kini, Aqwa sudah langsung ikut naik ke panggung bergabung bersama keluarga laki-lakinya yang lain.


Di panggung, selain para undangan, opa Helios dan pak Kim juga sudah ditemani Aqwa. Karena dari semua anak opa Helios, pak Kim memang yang mewarisi pondok pesantren. Karenanya dari semuanya juga, keluarga Aqwa lebih sering di kampung. Meski sesekali, keluarga opa Helios yang lain juga akan kompak pulang kampung dan itu akan membuat rumah di kampung sangat ramai, mengingat jumlah anak opa Helios dan oma Chole ada lima bersaudara dengan pak Kim.


Membahas yang di panggung, di sana juga pak Kim Oh Jan yang sudah sangat sepuh dan jalan saja harus dituntun. Pak Kim Oh Jan yang kebetulan sedang pulang kampung ditemani oleh kedua putranya yang kini duduk di sebelah barisan Asih. Di sebelah, kedua putra pak Ojan duduk bersama rombongan keluarga mereka yang laki-laki dan memang asli tinggal di kampung.


“Kaki kananku sepanas ini, terus pundakku juga kayak manggul sesuatu,” batin Asih. Sambil memandangi pergelangan kakinya, ia yang agak bungkuk juga sesekali memijat asal pundaknya. Di sana seolah ada yang duduk layaknya dipanggul.


Namun dari semua keluarga mereka, memang hanya opa Helios yang bisa melihat sosok tak kasatmata yang duduk di tengkuk maupun pundak Asih.


Sosok tersebut merupakan wewegombel, tapi yang berbeda dari yang ada di kolong tempat tidur.


“Mas, tadi kalian dari mana?” sergah opa Helios setelah selesai bicara di depan umum. Ia bahkan sengaja duduk di sebelah Aqwa.


Aqwa menatap bingung sang opa. “Dari mana, bagaimana, maksudnya, Opa?”

__ADS_1


“Itu ada yang usil ke Asih!” segah opa Helios.


Detik itu juga Aqwa langsung ingat sosok di kolong tempat tidurnya, juga kemungkinan para wewegombel yang keluar dari laptopnya, dan semuanya kompak menganggu Asih. Yang mana kini karena alasan tersebut juga, ia refleks menatap sang istri.


Di sebelah Ara, Asih tampak kerap membungkuk sambil mengawasi pergelangan kaki kanannya dan Aqwa ketahui dihiasi bekas luka yang orang setempat akibat dijila*t maupun disentuh seta*n.


“Kok makin lama makin berat, ya. Pengin noleh, lihat dan memastikan, takut tatapan kami bertemu dan otomatis mereka juga bakalan makin sibuk usil ke aku!” batin Asih.


Opa Helios yang kasihan kepada Asih sengaja menghampiri. Ia mengikat sosok wewegombel yang duduk di tengkuk Asih, dengan tasbih.


“Padahal mereka tahu Opa juga bisa, tapi karena memang urusan sama perlunya sama kamu, yang dikejar memang terus kamu,” ucap opa Helios setelah membanti*ng sosok wewegombelnya di hadapan Asih.


Sosok wewegombel yang opa Helios bant*ing langsung hilang menjadi kabut hitam dan perlahan tergerai.


“Pah, ada apa lagi?” tanya ibu Ryuna yang sudah lebih dulu peka karena paham dengan keadaan putrinya. Terlebih jika melihat tampang sang papah mertua yang terlihat emosional.


“Bawa Asih istirahat di rumah. Biar Asih istirahat di rumah bareng oma. Atau, kalian bantu jaga juga biar lebih rame,” sergah opa Helios tak mau membuangnya-buang waktu.


Efek oma Chole sedang kurang enak badan memang membuat wanita itu absen dari kebersamaan kini.

__ADS_1


Di lain sisi, di panggung, Aqwa baru saja diminta membacakan beberapa ayat alquran, hingga pemuda itu belum sempat mengabarkan mengenai kecurigaannya, bahwa beberapa wewegombel telah keluar dari laptopnya. Perantara yang dipakai para weaegombel untuk hidup sekaligus menjadi bagian dari Asih secara nyata.


Alasan Asih mau-mau saja diboyong pulang oleh ibu Ryuna dan Ara lantaran Asih yakin, sang suami sudah paham mengenai apa yang terjadi. Terbukti, opa Helios sampai menjadikan tasbihnya sebagai gelang di tangan kiri Asih.


“Jangan dilepas kalau memang enggak mendesak ya,” pesan opa Helios.


Asih yang sudah digandeng ibu Ryuna berangsur mengangguk. Sementara di belakangnya, Ara yang menyimak jadi menerka-nerka.


“Ada yang gawat, kah?” pikir Ara menatap khawatir Asih. Ia jadi mengawasi iparnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun karena mereka sama-sama jalan, ia tidak bisa melihat bekas hitam di pergelangan kaki kanan Asih. Yang ia tangkap hanyalah mengenai Asih yang jalannya membungkuk sekaligus terseok-seok, dan ia yakini efek kelelahan.


Ibu Ryuna tak membawa Asih ke kamar Aqwa, dan sengaja membawanya ke kamar oma Chole, agar mereka bisa istirahat bersama-sama. Selain itu, ibu Ryuna juga sengaja menyiapkan sup khusus untuk keduanya di dapur.


Di dalam kamar oma Chole, Asih membiarkan kakinya yang bekas cengkeram wewegombel, diurut oleh oma Chole.


“Tangannya juga sekalian Oma urut, ya. Itu tasbihnya dilepas dulu,” ucap oma Chole yang meski kurang enak badan, tetap mewajibkan diri untuk mengurus cucu menantunya.


Mendengar itu, Asih jadi ragu. Terlebih opa Helios berpesan agar Asih hanya melepas tasbihnya untuk urusan mendesak. Di lain sisi, Ara yang kamarnya ada di sebelah kamar Aqwa, tengah dibuat sebal pada kenyataan laptopnya yang bermasalah. Layar laptopnya justru berwarna pelangi sebelum akhirnya menjadi buram dan gelap.


“LCD-nya rus*ak. Harus di ganti ini. Gimana dong, ada kelas online satu jam lagi, selain aku yang memang punya tugas dan masih belum beres. Ah, ... pinjam laptop mas Aqwa. Harusnya ada di kamar,” lirih Ara yang sudah langsung meninggalkan laptopnya di meja belajar. Seperti niatnya, ia segera mengambil laptop sang kakak dan kebetulan ada di meja belajar juga.

__ADS_1


__ADS_2