Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
31 : Mendadak Ritua-l


__ADS_3

“Mas, kamar ini aman, kan?” tanya Asih ragu dan berangsur kembali tak jadi masuk ke kamar mandi. Kenyataan yang membuatnya lagi-lagi ditertawa*kan sekaligus diled*ek Aqwa.


“T-tolong ya, Mas. Aku beneran takut ....” Asih benar-benar memohon. Karena yang ia tahu, beberapa arwah penasaran atau itu hantu, bisa masuk ke kamar Aqwa dengan leluasa.


“Kalau niat mereka baik, mereka bisa masuk. Namun kalau memang enggak, mereka enggak bakalan bisa masuk. Makanya, orang tuaku menyarankan kita lebih baik di kamar selama dua minggu ke depan,” ucap Aqwa.


“Lah itu, Mas tahu ... ngapain masih gelisah padahal Mas tahu apa yang harus kita lakukan selama dua minggu ke depan?” balas Asih yang sudah langsung membuat sang suami bergidik sebal. “Sudah ayo temenin aku ke kamar mandi, aku mau gosok gigi.”


“Berani bayar berapa, minta aku temenin kamu ke kamar mandi?” balas Aqwa masih bertahan di atas sajadahnya.


“Seorang wanita yang sudah jadi istri, dia ibarat dewa bahkan sumber rezeki suami. Selain jadi makin serba bisa, istri juga jadi ladang ibadah sekaligus kebahagiaan suami. Lagian, temenin aku ke kamar mandi kan juga sudah jadi kewajiban Mas ih!” sebal Asih makin lama makin geregetan kepada Aqwa.


Aqwa yang jadi tersipu, menyuruh Asih untuk masuk ke kamar mandi lebih dulu. Namun, istrinya enggan melakukannya dan tampaknya memang telanjur takut, jika tidak bersamanya.


“Oke ...,” pasrah Aqwa yang sudah langsung melepas peci hitamnya, meletakkannya di sajadah, termasuk sarungnya yang turut ia lepas dan tinggal di sana.


“Oh iya, kamu belum tahu yah, kalau selama kamu menghilang, aku selalu beresin tugas-tugas kuliah kamu secara online?” ucap Aqwa yang jadi ikut gosok gigi juga di sebelah sang istri.


Asih yang awalnya hanya menatap pantulan bayangan sang suami pada cermin di hadapan mereka, berangsur menatap kedua mata Aqwa secara langsung. “Kok bisa, memangnya enggak ketahuan?”

__ADS_1


“Enggak usah tanya begitu. Kamu amnesia kalau suamimu seba bisa? Yang penting, nanti kamu wajib sungkem ke aku karena gara-gara aku, kuliahmu baik-baik saja!” balas Aqwa yang kali ini terdengar sombong bahkan di telinganya sendiri.


Asih yang awalnya melirik sebal suaminya, mendadak mendapatkan ide jail. Segera ia meraih tangan Aqwa, menyalaminya dengan takzim, termasuk membiarkan busa dari sikat gigi di sekitar bibirnya menghiasi punggung tangan kanan Aqwa, bahkan sebelah pipi suaminya itu yang ia kecu*p gemas.


“Innalilahi, Asih ...,” sebal Aqwa berusaha sabar. Ia berangsur memejamkan kedua matanya, kemudian menghela napas dalam beberapa kali.


Asih terkikik bahagia dan hanya sedikit terkejut ketika sebelah tangan Aqwa menab*ok boko*ngnya. “Tadi Mas yang minta sungkem loh ...,” ucapnya yang makin sibuk tertawa.


“Terserah kamu deh. Yang penting kamu bahagia!” balas Aqwa berangsur membereskan gosok giginya. Ia bahkan selesai lebih dulu kemudian sengaja menekan-nekan gemas hidung Asih menggunakan telunjuk tangan kanannya.


“Mas, meski mungkin baru sedikit, Mas sudah bisa menerima kenyataan, bahwa aku istri Mas dan sekarang, aku sedang hamil anak Mas,” ucap Asih mendadak melow hanya karena mengatakannya. Ia menatap sendu pantulan wajah Aqwa di cermin wastafel yang ada di hadapan mereka.


Tak beda dengan Asih, pertanyaan Asih tersebut juga langsung membuat hati Aqwa melow. Namun, Aqwa menegaskan, andai dirinya baru bisa menerima sedikit kenyataan yang Asih tanyakan, Aqwa tak mungkin mengizinkan Asih tinggal di dalam kamarnya. Karena jangankan tinggal di dalam kamarnya, sekadar masuk bahkan dekat-dekat dengan Aqwa saja, Asih tidak boleh jika Aqwa hanya sedikit sayang sekaligus menerima kenyataan.


Asih berangsur berusaha memeluk Aqwa, tapu Aqwa yang kapok dilumuri busa bekas gosok gigi, langsung menolak.


“Beresin dulu gosok giginya. Kamu ya, gosok gigi dari zaman masih masehi, sampai zaman Roro Jonggrang sudah reinkarnasi, belum beres juga!” sebal Aqwa yang membantu Asih kumur.


Asih hanya menahan tawanya seiring hatinya yang jadi berbunga-bunga. Ia bahagia, sangat. Karena setelah ia pahami, cara Aqwa menyayangi bahkan mencintainya, dengan cara yang berbeda dari manusia kebanyakan.

__ADS_1


“Mulai sekarang, Mas cukup sibuk mikirin aku saja, jangan mikirin yang tak kasatmata dan malah bikin Mas susah tidur atau setidaknya hidup dengan tenang,” ucap Asih yang kali ini melakukannya dengan lembut karena Aqwa masih membantunya mengeringkan wajah hingga ke sebagian leher.


“Tetap saja, mereka datang tanpa diminta dan pergi pun tetap enggak mau meski aku sudah mengusirnya. Kecuali kalau keinginan mereka sudah dituruti,” balas Aqwa.


Asih jadi berpikir keras karena itu, tapi sang suami mendadak mengajaknya melakukan rit*ual setelah gosok gigi.


“Hah? Rit*ual gimana, Mas? Jangan aneh-aneh lah. Mas kan pembas*mi duk*un, bukan pencetus ritua*l yang bisa ditiru duk*un!” keluh Asih, tapi Aqwa yang masih di hadapannya dan perlahan membingkai kedua sisi wajahnya menggunakan kedua tangan, malah menahan tawa.


Setelah agak serius, Aqwa berangsur berdeham, kemudian mengusap bibir Asih menggunakan telunjuk tangan kanannya.


Detik itu juga Asih merinding, membeku, seiring ketegangan yang menguasai kehidupannya. Asih hanya sesekali mengedipkan kedua matanya meski Aqwa makin membuat wajah mereka tak berjarak. Akan tetapi, ketika Aqwa akhirnya menempelkan bibir ke bibirnya, tubuh Asih serasa disengat aliran listrik. Asih yang juga mendadak sesak napas layaknya terkena serangan jantung dadakan, membiarkan kedua tangannya berpegangan ke lengan Aqwa.


Terbiasa cekcok bahkan gelud dan memang jarang akur layaknya Tom dan Jerry di serial kartun kucing dan tikus terkenal, tapi kini mendadak bermesraan layaknya pasangan pada kebanyakan, dirasa Asih menjadi hal aneh jika mereka yang melakukannya.


“Terasa aneh, kan?” tanya Asih buru-buru menunduk malu ketika akhirnya, Aqwa menyudahi ci*uman bibir mereka.


Mendengar itu, Aqwa langsung menatap aneh sang istri. Meski ketika ia tak sengaja menoleh ke cermin wastafel di hadapan mereka, ia langsung terkejut. Aqwa buru-buru merengkuh kepala sekaligus punggung Asih. Selain ia yang juga sengaja membenamkan wajah Asih ke dadanya, agar sang istri tak melihat penampakan penuh darah di cermin wastafel. Yang dengan kata lain, sosok pria paruh baya itu ada di antara mereka. Benar saja, sosok tersebut berdiri di antara Asih dan Aqwa. Jaraknya tak kurang dari satu jengkal.


“Tolong aku. Hantu kepala di jembatan sungai Merah membuatku begini. Tubuh dan mobilku masuk ke sungai Merah,” ucap pria berpakaian kasual dan wajahnya sudah sangat pucat tersebut.

__ADS_1


Asih yang bisa mendengarnya refleks merinding. Lebih merinding lagi setelah ia yang nekat menoleh sekaligus memastikan, mendapati sosok pria berkepala penuh darah. Sosok yang mengabarkan penyebab kecelakaannya, dan itu hantu kepala yang berulah di jembatan sungai Merah.


“Dia hantu, dan sengaja ke sini buat minta bantuan mas Aqwa? Enggak ... enggak, suamiku enggak boleh ke sungai Merah!” batin Asih akan melakukan apa pun untuk menahan suaminya agar tidak pergi ke sungai Merah, layaknya wanti-wanti orang tua Aqwa, khususnya opa Helios.


__ADS_2