TERPAKSA KU PULANG MALAM

TERPAKSA KU PULANG MALAM
PART 11


__ADS_3

Waktunya jam pulang kantor, terlihat Wawan berjalan keluar ruangan lebih dulu tanpa menyapa Reno. Melihat sahabatnya keluar begitu saja, membuat Reno buru-buru membereskan meja kerjanya dan langsung menyusul Wawan. Dia merasa bersalah, takut Wawan membencinya setelah kejadian yang baru saja terjadi.


"Wan, maaf soal tadi. Aku gak bermaksud bersikap seperti itu. Aku hanya.. " ucap Reno, namun belum selesai Reno bicara, Wawan sudah menyelanya.


"Ah.. sudahlah gak usah minta maaf. Aku bisa memakluminya, salahku juga, seharusnya aku gak terlalu ikut campur urusan rumah tanggamu. Maaf juga ya Ren," ucap Wawan sambil memeluk Reno.


"Terimakasih wan, kamu selalu perduli denganku, tapi untuk masalah keluargaku, biarkan aku menghadapinya sendiri dengan caraku,"


"Ya, memang harusnya begitu. Ya sudah, aku duluan ya. Lupain aja soal tadi. Oke?" ucap Wawan sambil menepuk bahu Reno.


"Oke, thanks," jawab Reno sambil tersenyum.


Sesampainya dirumah, Reno langsung duduk diruang tamu, sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia memikirkan kembali ucapan Wawan, ada sedikit kegelisahan yang terlihat di wajahnya. Seperti ingin mempercayai ucapan sahabatnya itu, namun hatinya masih ragu. Dia juga tidak yakin, kalau Melly akan melakukan itu padanya. Karena selama ini, meskipun Melly selalu bersikap kurang baik padanya, namun dia selalu setia.


Malamnya, Reno dan Melly tengah bersantai di ruang tamu. Reno yang penasaran pun mencoba mencari tau kebenaran ucapan Wawan.


"Mel, tadi siang kamu kemana? gak bosan apa dirumah terus," tanya Reno.


"Ya jelas bosan dong mas, pakai nanya lagi," jawab Melly, dengan nada sewot.


"Jadi kamu kemana hari ini?" tanya Reno lagi.


"Ya gak kemana-mana lah mas, emang mau kemana? jalan-jalan juga butuh duit mas, emang kamu kasih aku duit untuk jalan-jalan, enggak kan? boro-boro mau kasih buat shopping," gerutu Melly.


"Beneran kamu gak kemana-mana? tapi tadi Wawan bilang, dia lihat kamu keluar dari mall bersama laki-laki,"


Mendengar perkataan Reno tentangnya, jelas membuat Melly sangat terkejut dan gugup. Namun bukanlah Melly namanya, jika tidak bisa bersandiwara.


"O.. jadi ceritanya mas Reno nuduh Melly selingkuh nih. Keterlaluan kamu mas, Melly udah sengsara masih juga dituduh yang bukan-bukan. Bilangin Wawan tuh, gak usah ngurusin rumah tangga orang, urusin istrinya tuh yang kebanyakan gaya. Pake' ngarang liat aku di mall, ya gak mungkinlah, orang aku dirumah seharian. Sembarangan aja kalau ngomong," gerutu Melly, yang jelas sedang berbohong.

__ADS_1


"Ya udahlah, aku juga gak percaya kok dengan perkataan Wawan. Aku percaya dan yakin, kamu selalu setia, bagaimanapun keadaan kita. Iya kan Mel?" tanya Reno, sambil menatap Melly dengan penuh harap.


"Ya iyalah, kalau aku gak setia, udah aku tinggal mas Reno dari dulu," cetus Melly.


Melly memang pandai bersilat lidah, dia juga menganggap kebohongan suatu hal yang biasa. Sehingga dia tidak merasa sedikitpun rasa bersalah ketika dia berkata bohong. Sebenarnya dia ingin sekali secepatnya meninggalkan reno, tapi dia belum juga mendapat kepastian dari Alex, kapan pastinya Alex akan menikahinya.


*


Sementara itu di kafe Wulan, terlihat Wulan sedang duduk melamun. Sesekali pandangannya mengarah keluar, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Para karyawannya pun merasa cemas, melihat Wulan yang sering terlihat murung beberapa hari ini. Wendi, salah satu karyawan yang paling dekat dengan Wulan, memberanikan diri menghampiri Wulan dan mencari tau, apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiran Wulan.


"Mbak, mbak Wulan kenapa sih akhir-akhir ini Wendi perhatiin sering melamun. Ada apa sih mbak, cerita dong sama Wendi, siapa tau Wendi bisa bantu. Ya.. walaupun sekedar bantu do'a lumayan. Hihihi.. bercanda mbak, kalau bisa bantu ya beneran tak bantu lho mbak," ucap Wendi, yang duduk di dekat Wulan.


"Gak ada apa-apa Wen, emang mbak keliatan kayak orang melamun ya?"


"Bukan kayak lagi mbak, emang mbak Wulan lagi melamun. Kalau Wendi perhatiin, mbak Wulan kayak gini semenjak mbak nolongin teman mbak si.. siapa itu.. si..mas Rano ya," ucap Wendi yang membuat Wulan tertawa.


"Reno maksud kamu?" tanya Wulan sambil menahan sisa tawanya.


"Wendi.. kamu ngomong apa sih, ngelantur ya. Sembarangan kalau ngomong,"


"Lho, ya gak sembarangan to mbak. Itu fakta, akurat dan terkini,"


"Ngomong opo to wen.. wen..udah ah, mbak mau pulang. Jangan lupa, tutup kafenya jangan malam-malam ya" ucap Wulan yang langsung masuk ke ruangannya untuk mengambil tasnya.


Di dalam ruangannya, Wulan diam sejenak. Dia mengingat perkataan Wendi, Wulan tidak bisa membohongi perasaannya, kalau dia memang sangat merindukan Reno. Dia selalu gelisah, menunggu kedatangan Reno, berharap Reno kembali menemuinya. Dia pun sering mengecek ponselnya, berharap Reno akan menghubunginya sesekali lewat ponsel, namun semua harapannya sia-sia. Sudah beberapa hari tidak ada kabar lagi tentang Reno. Dia sadar, kalau dia mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dia dapatkan, itulah yang membuatnya merasa sangat sedih dan kecewa. Namun dia juga begitu sulit menghilangkan Reno dari pikirannya, semakin dia berusaha melupakan Reno, justru dia semakin mengingatnya dan merindukannya.


*


Keesokan paginya, Reno bangun dan merasakan badannya terasa pegal, kepalanya pusing dan badannya juga panas. Sepertinya Reno terkena demam. Dia pun langsung membangunkan Melly, meminta Melly membuatkan segelas teh hangat.

__ADS_1


"Mel, bangun Mel. Tolong buatin aku teh hangat ya, dingin banget mel, kayaknya aku demam nih," pinta Reno pada Melly.


"Apa sih mas, masih ngantuk nih," jawab Melly yang masih tetap berbaring di kasur.


"Ayo dong Mel, kepalaku pusing banget nih" pinta Reno lagi.


"Iya-iya, huh brisik banget sih!" gerutu Melly lirih, lalu menuruti permintaan Reno, namun dengan sangat terpaksa.


Tidak lama kemudian, Melly kembali dengan membawa segelas teh hangat dan roti untuk sarapan Reno. Setelah meletakkannya di atas meja, tanpa perduli dengan keadaan Reno, Melly langsung pergi ke kamar mandi.


Reno pun meminum teh hangat dan roti yang diberikan Melly, Kemudian mengambil obat sakit kepala dari dalam laci, lalu meminumnya. Tidak lama kemudian, Melly keluar dari dalam kamar mandi. Rupanya Melly baru saja selesai mandi. Reno pun merasa heran, karena dia tidak pernah melihat Melly mandi sepagi ini.


"Tumben Mel, jam segini sudah mandi,"


"Iya, aku mau ada acara arisan pagi ini dengan teman-teman," jawab Melly sambil sibuk mempersiapkan diri.


"Sepagi ini, emang kamu gak kasian, tinggalin aku sendiri dalam keadaan seperti ini," ucap Reno, sedikit mengiba.


"Alah.. gak usah lebay deh mas, cuma demam doang. Abis minum obat nanti juga sembuh," jawab Melly cetus tanpa rasa iba sedikitpun pada suaminya.


"Terus kamu pulang jam berapa?"


"Ya mungkin sore mas, soalnya acaranya bukan cuma arisan. Acaranya banyak, tau sendiri lah kalau udah ngumpul bareng," jawab Melly dengan santainya.


"Tapi kamu bisa kan pulang lebih awal dan gak usah ikut acara-acara yang lain,"


"Ya gak bisa dong mas, gak mungkin aku melewatkan keseruan bersama teman-teman gitu aja. Udah lah, gak usah manja. Penting mas Reno minum obat dan istirahat nanti juga sembuh kok. Udah ya, Melly berangkat dulu ya. Bye mas, jangan lupa minum obatnya," ucap Melly yang langsung keluar kamar.


"Tapi Mel, Mel.. Melly.. tunggu Mel.. " seru Reno yang tak dihiraukan oleh Melly.

__ADS_1


"Keterlaluan kamu Mel, aku tidak tau lagi, apakah kamu masih pantas aku pertahankan atau tidak," ucap Reno lirih, sambil berusaha menahan rasa kesalnya.


__ADS_2