TERPAKSA KU PULANG MALAM

TERPAKSA KU PULANG MALAM
PART 20


__ADS_3

Satu tahun kemudian, di suatu pagi. Di sebuah rumah kontrakan kecil yang sederhana, terdengar suara keributan yang berasal dari pasangan suami istri. Hampir setiap pagi suara itu terdengar dari dalam rumah kontrakan tersebut.


"Bangun Lex, bangun! kalau hari ini kamu belum juga dapat pekerjaan, mau makan apa kita. Kamu mau buat aku mati kelaparan iya?" gerutu Melly, yang ternyata kini tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama suaminya, Alex.


Pasca menikah dengan Alex, satu Minggu kemudian akhirnya Melly mengetahui siapa Alex sebenarnya. Penyesalan dan kekecewaan jelas Melly rasakan. Marah, sedih, terluka, karena merasa telah ditipu oleh Alex. Namun nasi telah menjadi bubur, dia sudah terlanjur menikah dengan Alex. Jadi mau tidak mau dia harus bisa menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.


Namun Melly tetaplah Melly, yang tidak pernah mau bersyukur dan materialistis. Suatu hari dia memaksa Alex menuruti semua keinginannya membeli barang-barang yang dia inginkan. Alex yang sudah tidak mempunyai uang, terpaksa mengambil jalan pintas, yakni berusaha mencuri di rumah majikannya. Namun sayangnya, aksinya diketahui majikannya dari CCTV dan juga saksi dari asisten rumah tangga yang juga mengetahui aksi tersebut. Nasib baik masih berpihak pada Alex, karena majikannya tidak melaporkannya kepada pihak yang berwajib, melainkan hanya memecatnya sebagai supir pribadi di rumah itu.


Peristiwa itu membuat hidup Melly justru semakin menderita, pasalnya sejak berhenti bekerja sebagai supir, sampai sekarang Alex belum juga mendapatkan pekerjaan. Dia hanya bekerja serabutan, sewaktu-waktu saja, saat dia sedang mau bekerja. Sikap malas Alex inilah, yang membuat Melly uring-uringan setiap hari.


"Alex, bangun!" bentak Melly sekali lagi sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Alex.


"Apa sih Mel, brisik banget sih loe Mel. Ganggu orang lagi enak-enak tidur aja, masih dingin nih," jawab Alex, sambil berusaha membetulkan selimutnya. Namun dengan cepat Melly mengambil selimut itu lalu membuangnya ke lantai. Sepertinya Melly benar-benar marah dengan sikap Alex yang begitu sangat menyebalkan.


"Aku bilang bangun, bangun Lex!" bentak Melly sambil menarik tubuh Alex, memaksanya bangun.


"Iya-iya aku bangun," jawab Alex, yang sepertinya sudah tidak tahan dengan ocehan Melly.


"Bangun dan buruan cari kerja! aku benar-benar menyesal Lex menikah sama kamu, aku benar-benar bodoh percaya begitu saja sama kamu. Jadi kalau sekarang kamu gak bisa kasih nafkah aku, mending kita pisah aja, aku gak mau ya hidupku semakin menderita," gerutu Melly.


"Pisah, pisah.. itu saja yang ada dipikiran mu. Kita jadi begini itu semua juga gara-gara kamu. Kalau saja kamu tidak menuntut banyak dariku, aku tidak akan senekat itu mencuri dirumah majikan ku. Yang justru membuat aku kehilangan pekerjaanku, untung saja aku gak di penjara," Alex pun balik menyalahkan Melly, atas semua yang terjadi dalam kehidupan mereka.

__ADS_1


"Loh, kok jadi nyalahin aku sih. Jelas-jelas kamu yang ceroboh. Udah ah, pusing bicara sama kamu. Sekarang kamu mandi, terus cari kerja. Awas saja kalau kamu gak dapat uang hari ini. Aku malu udah dua bulan kita nunggak bayar kontrakan, aku bingung mau kasih alasan apa lagi kalau bu Wati datang lagi minta uang kontrakan. Emang kamu mau kita diusir, terus tinggal di jalanan, ha?" gerutu Melly yang semakin membuat Alex pusing.


"Tau ah, aku mau mandi, pusing lama-lama denger kamu ngoceh. Jangan lupa buatkan aku kopi, kalau gak aku juga ogah cari kerja," ucap Alex yang lalu berjalan menuju ke kamar mandi.


"Huh! dasar pemalas!" umpat Melly yang kemudian melangkah ke dapur untuk membuatkan kopi Alex, yang pasti dengan sangat terpaksa dan mengomel tanpa henti.


*


Sementara itu, disebuah rumah mewah. Terlihat seorang laki-laki tampan yang sudah berpakaian rapi dan siap berangkat ke kantor. Laki-laki itu tidak lain adalah Reno. Jabatannya di kantor sebagai seorang manager telah mengubah hidupnya. Dia tidak lagi tinggal di rumah sederhananya dulu, melainkan tinggal di rumah mewah dengan segala fasilitas mewah yang dia miliki saat ini. Mobil mewah, rumah mewah, halaman luas, kolam renang serta barang-barang mewah yang menghiasi ruangan di dalam rumahnya.


Semua itu dia capai dari hasil kerja kerasnya selama ini dan gaya hidupnya yang tidak pernah berfoya-foya, membuatnya bisa berhasil dan sukses seperti sekarang ini.


"Reno berangkat dulu ya bi," ucap Reno pada bi Mumun, asisten rumah tangganya.


"Iya bi," sahut Reno lagi yang lalu menjalankan laju mobilnya.


"Kasihan den Reno, sudah lama hidup menduda. Mudah-mudahan non Wulan masih setia sama den Reno dan bersedia menjadi istrinya," ucap bi Mumun lirih. Bi Mumun sudah mengetahui semua tentang Wulan, karena Reno sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Wulan dan selalu meminta pendapat bi Mumun tentang hubungan mereka.


*


Waktunya jam makan siang di kantor. Reno buru-buru menghampiri Wawan dan mengajaknya makan siang bersama. Karena sepertinya ada yang ingin dia bicarakan dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ayo wan, buruan," ucap Reno yang sudah tidak sabar menunggu Wawan.


"Iya-iya yuk, tumben sih loe gak sabaran. Loe dah kelaperan ya?" tanya Alex dengan nada mengejek.


"Gak juga, ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Aku lagi butuh pendapatmu," ucap Reno. Lalu keduanya pun menuju restoran favorit mereka, yang tidak jauh dari kantor mereka.


Sesampainya di restoran yang di tuju, keduanya langsung memesan makanan dan mulai mengobrol.


"Loe mau ngomongin apa sih Ren, pasti soal Wulan kan?" tanya Wawan yang sudah bisa menebaknya.


"Iya, memang soal Wulan. Aku kan dulu pernah bilang sama kamu, kalau aku akan menikahi Wulan kalau aku sudah punya rumah sendiri dan bisa membahagiakannya, karena aku gak mau Wulan menderita seperti Melly dulu. Jadi menurutmu, kira-kira sekarang ini aku sudah pantas belum ya menikahi Wulan?" tanya Reno yang masih ragu dengan apa yang sudah dia capai dan perasaannya yang masih dihantui rasa takut tidak bisa membahagiakan Wulan, seperti saat dia mengarungi rumah tangga bersama Melly.


Mendengar perkataan Reno, Wawan justru menertawakannya. Dia tidak menyangka, kalau sahabatnya bisa galau dan trauma seperti sekarang ini, hanya karena gagal dalam pernikahannya yang terdahulu.


"Kok kamu malah ketawa sih Wan, ditanya betul-betul juga," gerutu Reno.


"Habisnya kamu lucu, kamu sudah sesukses ini masih saja gak percaya diri. Apa kamu mau jadi raja dulu baru menikahi Wulan. Menurutku kamu sudah sangat pantas menikahi Wulan saat ini, selain kamu sudah sukses, kamu juga semakin tua Ren, jadi mau kapan lagi kamu menikah. Gak takut apa, nanti keburu loyo," ejek Wawan.


"Sialan kamu Wan,"


"Ha.. ha.. ha.. tapi beneran Ren, menurutku ini waktu yang tepat kamu menikahi Wulan, jangan ditunda-tunda lagi, takutnya dengan posisi kamu seperti sekarang ini akan banyak godaan yang datang, yang akan mengganggu hubungan kalian. Ya pahamlah maksudku, hari gini banyak cewek-cewek mengincar laki-laki sukses seperti kamu, ditambah kamu duda lagi. Pasti bentar lagi banyak cewek ngantri jadi istri kamu. Lagian menurutku Wulan bukan wanita matre seperti Melly, buktinya kamu pura-pura miskin juga dia tetap mencintaimu," jelas Wawan.

__ADS_1


Memang Reno merahasiakan kesuksesannya dari Wulan, untuk mengetahui apakah Wulan bisa menerimanya apa adanya. Dengan mengaku sebagai karyawan biasa dan selalu datang menemui Wulan dengan mengendarai motor bututnya. Namun meski demikian, Wulan tetap mencintainya setulus hati dan menerima keadaan Reno apa adanya.


Akhirnya, setelah mendapat dukungan dari sahabatnya Wawan, pulang kerja Reno langsung mampir ke toko perhiasan untuk membeli cincin terindah dan berencana melamar Wulan nanti malam.


__ADS_2