
Usai menelpon Wawan, Reno kembali ke kamar. Namun di lihatnya Melly sudah tertidur pulas. Dia pandangi wajah istrinya itu. Tanpa terasa, air matanya pun menetes. Pikiran Reno tidak menentu, marah, kesal, benci dan kecewa. Melihat kelakuan istrinya, dia merasa gagal menjadi seorang suami, yang tidak bisa mendidik istrinya menjadi istri yang baik dan menurut pada suami.
Paginya, Reno bangun kesiangan. Lantaran hampir semalaman dia terjaga. Pikirannya yang kacau membuatnya susah tidur. Selesai mandi, Reno langsung bersiap-siap berangkat ke kantor. Dia sengaja tidak membangunkan Melly, karena dia tidak mau bicara dengan Melly yang nantinya pasti akan membuatnya semakin terlambat berangkat ke kantor. Karena rasa kesalnya pada Melly, pasti akan menimbulkan keributan yang berkepanjangan kalau sampai dia bicara dengan Melly.
Setelah semua siap, Reno pun langsung berangkat ke kantor. Dia tidak perduli, meski pak Wiraguna sudah melarangnya masuk kantor hari ini, dia tetap saja berangkat. Karena Reno memang karyawan yang disiplin dan pekerja keras, yang jauh dari kata malas.
Setelah Reno berangkat, Melly yang pura-pura masih tertidur, langsung bangun dan pastinya langsung menelpon Alex.
"Hai sayang, gimana? udah dapat belum tempat tinggal buat aku. Aku udah gak tahan lagi tinggal disini sayang, aku ingin secepatnya meninggalkan mas Reno dan menikah denganmu," rengek Melly, dengan manja.
"Iya sayang, sabar ya. Ini aku juga lagi nyari tempat yang cocok buat kamu. Iya, secepatnya aku akan siapkan tempat tinggal buat kamu ya," jawab Alex, berusaha meyakinkan Melly.
"Kalau gak sementara aku tinggal dirumah kamu ya," pinta Melly, yang jelas langsung membuat Alex kaget.
"Apa? tinggal di tempatku? e.. ya gak bisa dong sayang, gak enak sama tetanggaku, sama orang tua ku juga, kan kita belum menikah sayang,"
"Iya, aku tau itu. Tapi gimana lagi? aku benar-benar udah gak tahan lagi tinggal di sini sayang,"
"iya-iya sabar ya, aku akan usahakan secepatnya mencari tempat tinggal untukmu,"
"Bener ya, awas kalau bo'ong," ucap Melly yang langsung menutup telponnya.
*
Sementara itu di kantor, Reno sudah standby di ruang kerjanya. Wawan yang baru saja tiba langsung menyapanya.
"Hai bro, kok udah kerja. Kan kamu baru sembuh, istirahat dulu Napa," sapa Wawan yang langsung duduk di meja Reno. Terkesan tidak sopan, namun ini sudah menjadi semacam hal yang biasa bagi kedua sahabat ini.
"Hmm.. udah sembuh ya kerja lagi dong, jenuh hanya berdiam diri di rumah, kangen juga sama kamu," ucap Reno.
"Eleh, kangen apaan. Bilang aja kamu gak betah di rumah, iya kan?" ejek Wawan, yang hanya dibalas senyuman oleh Reno.
"Udah, sana ke tempat kamu. Ganggu aja," gerutu Reno.
__ADS_1
"Tapi emang sepi Ren gak ada kamu, gak ada yang bisa diajak berantem," ucap Wawan.
"Loh Ren, kamu kok sudah masuk kantor. Kan saya sudah bilang, istirahat dulu di rumah," sapa pak Wiraguna yang baru saja sampai.
Melihat kedatangan pak Wiraguna, Wawan pun buru-buru berdiri, sambil sedikit menunduk dan langsung menyapa atasannya itu, begitu juga dengan Reno.
"Selamat pagi pak," sapa Reno dan Wawan berbarengan.
"Pagi," jawab pak Wiraguna.
"Iya pak, saya sudah sembuh kok pak. Kalau saya libur lagi, kerjaan saya akan semakin menumpuk. Makanya mending saya guyur kerjakan pelan-pelan," jawab Reno.
Sementara Wawan buru-buru menuju ke meja kerjanya.
"Alah.. itu gampang, kamu bisa suruh Wawan bantu mengerjakannya," tegas pak Wiraguna.
"Iya pak terimakasih, tapi saya beneran sudah sembuh kok pak dan sudah bisa bekerja seperti biasa, ya.. walau tidak secepat biasanya,"
"Ya sudahlah, terserah kamu. Kamu ini memang keras kepala kalau urusan pekerjaan. Tapi jujur, saya suka itu. Kamu memang karyawan terbaikku. Ya sudah, silahkan lanjutkan kerjanya. Saya ke ruangan saya dulu ya," ucap pak Wiraguna yang langsung melangkah meninggalkan Reno.
*
Sorenya, sebagian karyawan sudah keluar lebih dulu, hanya tinggal beberapa saja, salah satunya Reno. Dia masih menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.
"Belum selesai Ren? udahlah besok lagi, pulang yuk," ajak Wawan.
"Bentar lah nanggung dikit lagi," jawab Reno, yang tetap fokus di depan laptop nya.
Tidak lama kemudian, datang pak Wiraguna yang juga akan pulang. Melihat Reno yang masih bekerja, pak Wiraguna pun menghampiri Reno.
"Lho Ren, belum berkemas? yang lain sudah pada pulang lho. Sudahlah, selesaikan besok lagi, kan masih ada hari esok," ucap pak Wiraguna.
"Iya pak, sedikit lagi," jawab Reno.
__ADS_1
"Oh ya sudah. Oh ya Wan, q pernah lihat kamu memasuki tempat karaoke ya? bisa kamu antar saya ke sana nanti malam," pinta pak Wiraguna pada Wawan.
"Oh bisa pak, bapak mau berkaraoke?" tanya Wawan.
"Iya, sama teman saya juga. Sekalian kami membahas masalah pekerjaan. Kira-kira nyaman gak tempatnya?"
"Wah, nyaman sekali pak. Bapak bisa berkaraoke sepuasnya, ada pemandunya juga lho pak. Pandai goyang, bisa juga digoyang pak," ucap Wawan sambil memainkan alisnya.
"Sembarangan kamu Wan, saya bukan om-om nakal ya. Saya hanya ingin bersantai dengan teman-teman saya," tegas pak Wiraguna dengan mata sedikit melotot.
"Hihihi.. maaf pak bercanda. Jadi tepatnya jam berapa bapak mau ke sana?" tanya Wawan.
"Soal itu nanti saya kabari lagi. Ya sudah, saya duluan ya,"
"Iya pak," jawab Wawan dan Reno.
"Dasar otak mesum, kamu pikir semua laki-laki kayak kamu," ejek Reno. Wawan pun hanya bisa meringis menanggapinya.
*
Akhirnya pekerjaan Reno selesai juga, hanya tinggal dia sendiri di kantor itu dan pak satpam yang masih menunggu Reno keluar ruangan. Semua karyawan sudah meninggalkan kantor itu, termasuk Wawan, yang juga mendahului Reno.
Selesai membereskan ruangannya, Reno melangkah keluar kantor. Di depan kantor Reno menghentikan langkahnya, hatinya galau. Kakinya terasa berat sekali melangkah pulang ke rumah. Pikirannya kacau kala mengingat perkataan Melly. Dia terdiam sesaat, tiba-tiba saja dia teringat Wulan. Akhirnya dia memutuskan tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke kafe Wulan, untuk menemui Wulan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya sampailah Reno di kafe Wulan. Kedatangannya jelas disambut oleh Wendi, karyawan Wulan yang sudah mengenal Reno.
"Eh, mas Reno. Tumben ke sini, ayo silahkan masuk. Duduk mas," sambut Wendi dengan ramah.
"Iya terimakasih, sengaja kesini kangen sama kafe ini," jawab Reno yang melangkah mengikuti Wendi ke dalam.
"Hmm.. yakin kangen sama kafe nya, bukan sama pemiliknya," goda Wendi.
"Kangen sama kamu wen," gurau Reno.
__ADS_1
"Hahaha.. mas Reno, suka humor juga ya. Silahkan duduk mas. Bentar ya, aku panggil mbak Wulan dulu. Biar dia yang layani tamu spesialnya," ucap Wendi yang langsung menuju ke ruangan Wulan.
Reno pun hanya tersenyum mendengar ucapan Wendi, yang terdengar sedikit menyejukkan hatinya.