
Malamnya, Reno duduk di ruang tamu. Sambil menikmati secangkir kopi, dia pandangi foto pernikahannya dengan Melly. Tanpa terasa, air matanya pun menetes. Begitu berat dia lalui, meskipun awalnya dia sudah siap dengan semua ini, namun tetap saja, itu semua meninggalkan luka dan kesedihan di hatinya.
"Maafkan aku Mel, aku belum bisa membahagiakanmu, hingga akhirnya kamu memilih pergi. Aku memang suami tidak berguna, aku benar-benar gagal menjadi suami yang bertanggung jawab, yang bisa membahagiakanmu, seperti yang kamu mau. Semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu yang ternyata bukan denganku," ucap Reno lirih.
Reno lalu membaringkan tubuhnya di sofa, menatap langit-langit di ruangan itu. pikirannya melayang tak tentu arah, memikirkan nasib pernikahannya yang berakhir begitu menyakitkan. Tidak lama kemudian, terdengar handphonenya berbunyi. Di lihatnya panggilan dari sahabatnya Wawan.
"Ya, ada apa Wan?" tanya Reno, dengan nada lemas.
"Hallo Ren, bagaimana keadaanmu? Kamu dimana? kamu baik-baik saja kan Ren?" tanya Wawan yang khawatir dengan keadaan Reno.
"Aku di rumah, kamu gak usah khawatir, aku baik-baik saja,"
"Maaf soal foto itu, aku hanya ingin kamu percaya dengan ucapan ku, kalau aku tidak bohong soal Melly. Tapi kalau kamu tetap ingin mempertahankan rumah tanggamu, it's oke itu hak kamu. Aku gak bisa melarang mu. Hanya saja saran ku, selesaikan ini secara laki-laki dong, jangan diam saja. Cobalah bersikap tegas, agar Melly tidak mengulanginya lagi," tegas Wawan.
"Tidak ada yang dipertahankan lagi Wan, semua sudah berakhir. Melly sudah pergi meninggalkanku dan ini semua salahku, aku tidak bisa membahagiakannya, aku gagal jadi suami Wan," ucap Reno, yang justru merasa bersalah.
"Apa? maksud kamu Melly pergi dari rumah gitu? benar-benar meninggalkanmu?" tanya Wawan yang belum yakin.
"Iya, dia pergi dan memilih pria itu,"
"Sudahlah Ren, gak usah dipikirkan lagi istri macam itu dan jangan pernah menyalahkan diri sendiri, karena ini sudah jelas salah Melly, dia tidak bisa menerimamu apa adanya dan malah mengkhianati mu. Ren, kamu beneran baik-baik saja? apa perlu aku ke sana?" tanya Wawan yang masih khawatir dengan keadaan Reno.
"Gak usah Wan, aku baik-baik saja. Aku sudah ikhlaskan semuanya, mungkin ini jalan terbaik. Ya sudah dulu ya, aku ingin menenangkan pikiranku dulu. Kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Terimakasih Wan, kamu sahabat terbaikku,"
"Oke, syukurlah kalau kamu sudah bisa mengikhlaskannya. Ya sudah, selamat malam Ren, semangat terus ya. Hubungi aku kalau butuh apa-apa,"
__ADS_1
"Ya, pasti itu," jawab Reno yang langsung menutup teleponnya.
Reno masih terus berbaring di sofa, merenungkan nasibnya, secangkir kopi menemaninya hingga tetes terakhir. Malam pun semakin larut, akhirnya Reno pun tertidur di sofa.
*
Keesokan paginya, Reno beraktifitas seperti biasa. Bangun pagi, mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor. Semua masalah dalam hidupnya, tidak membuatnya patah semangat dalam mencari rezeki.
Sesampainya di kantor, Wawan langsung menyambutnya.
"Hai bro, bagaimana keadaanmu? are you oke?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja Wan," jawab Reno dengan mantap.
"Sip lah, ini baru sahabatku. Semangat terus bro!" seru Wawan, memberi support sahabatnya.
Mereka pun mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tidak lama kemudian, pak Wiraguna memanggil Reno ke ruangannya melalui telepon. Reno pun langsung buru-buru menuju ke ruangan pak Wiraguna.
"Tok.. tok.. tok.." Reno mengetuk pintu ruangan pak Wiraguna.
"Masuk Ren!" seru pak Wiraguna dari dalam.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Reno.
"Sudah.. duduklah dulu," perintah pak Wiraguna.
__ADS_1
Reno pun duduk berhadapan dengan pak Wiraguna. Dengan perasaan canggung, karena merasa tidak pantas.
"Ada apa ya pak? apa saya melakukan kesalahan?" tanya Reno lagi.
"Tidak ada Ren, selama kamu bekerja disini kamu tidak pernah melakukan kesalahan. Kamu justru bekerja sangat baik, saya benar-benar bangga sama kamu. Karena itu, saya memutuskan mengangkat kamu menjadi manajer di perusahaan ini. Menurut saya, kamu sangat pantas menerima jabatan itu, karena kamu sudah bekerja keras untuk memajukan perusahaan ini dan kenyataanya, kamu sudah membawa banyak perubahan di perusahaan ini. Selain kinerja kamu yang bagus, kamu juga menjadi contoh yang baik untuk teman-teman kamu, mereka jadi giat bekerja dan disiplin itu karena mereka semua mencontoh kamu. Jadi keputusan saya sudah bulat, mengangkat kamu menjadi manajer di perusahaan ini," ucap pak Wiraguna dengan mantap.
"Tapi pak, saya tidak pantas pak. Banyak yang lebih pantas dari pada saya, coba bapak pertimbangkan lagi," jawab Reno yang merasa jabatan ini terlalu tinggi dan tidak pantas untuknya.
"Tidak ada yang perlu saya pertimbangkan lagi Ren, sudah lama saya memikirkan ini. Sampai saya benar-benar yakin, kalau kamu memang pantas mendapatkan jabatan ini. Pokoknya kamu tidak boleh menolak, keputusan saya sudah bulat dan tidak ada yang bisa merubahnya. Selamat ya Ren, semoga kamu tidak mengecewakan saya," ucap pak Wiraguna sambil menjabat tangan Reno.
"Baik pak, kalau itu sudah menjadi keputusan bapak. Terimakasih banyak pak, saya akan berusaha bekerja lebih baik lagi dan tidak akan mengecewakan bapak," ucap Reno dengan mantap.
Reno pun keluar ruangan pak Wiraguna dengan perasaan bahagia bercampur bingung. Dia masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Dia masih merahasiakan ini dari Wawan, biarlah nanti pak Wiraguna yang akan memberitahukan ini dalam rapat nanti siang. Karena dia sendiri masih belum yakin.
*
Setelah selesai rapat, semua orang memberikan selamat kepada Reno, terutama Wawan. Dia sangat senang sahabatnya bisa mendapatkan jabatan itu, yang tidak mudah diperoleh seorang karyawan biasa.
"Selamat Ren, semoga ini menjadi awal kebahagiaanmu. Semoga kamu bisa sukses kedepannya. Saya bangga sama kamu Ren, saya benar-benar bangga. Tidak salah pak Wiraguna memilih kamu, kamu memang pantas mendapatkan jabatan ini. Sekali lagi, selamat ya Ren," ucap Wawan sambil memeluk Reno.
"Terimakasih Wan, semua ini juga berkat kamu. Kamu yang dulu mengajak aku bekerja disini dan selalu memberikan support, saat aku terpuruk dan berada di titik paling rendah. Sekali lagi terimakasih Wan," ucap Reno, yang tidak pernah lupa kebaikan sahabatnya itu.
"Sama-sama Ren, itulah sahabat, selalu ada saat susah maupun senang. Nanti kalau kamu senang, jangan lupakan aku lho," ejek Wawan.
"Gak lah wan, gak mungkin aku melupakan sahabat terbaikku ini. Yang selalu ada saat aku butuhkan dan saat tidak aku butuhkan. Sebenarnya bosan, tapi ya mau gimana lagi. Gak ada sahabat lagi yang aku punya selain kamu," gurau Reno.
__ADS_1
"Sialan kamu Ren," gerutu Wawan.
Keduanya pun tertawa bersama, penuh dengan kebahagiaan.