
"Terimakasih banyak Ren, berkat kamu akhirnya kita bisa memenangkan proyek ini. Saya benar-benar bangga sama kamu Ren, inilah alasannya kenapa saya memilih mengajak kamu ikut serta dalam meeting ini, karena sebelumnya saya sudah yakin dengan kemampuanmu dalam berbisnis, dan sekarang terbukti, kamu benar-benar bisa diandalkan," ucap pak Wiraguna sambil menepuk bahu Reno, serta menunjukkan sikap bangganya pada Reno.
"Ah.. bapak berlebihan, justru ini semua berkat kerja keras bapak dan ketekunan bapak menjalankan perusahaan, disini saya hanya berusaha membantu semampu saya, dan kebetulan nasib baik sedang berpihak pada perusahaan kita. Saya turut senang, semoga kedepannya perusahaan kita bisa lebih maju lagi dan berkembang seperti yang bapak harapkan,"
"Ya.. ya.. semoga saja. Sekali lagi terimakasih banyak ya Ren, apa sekalian kamu saya antar pulang?"
"Terimakasih banyak pak, kebetulan tadi saya kesini bawa motor,"
"Oh.. ya sudah, kalau begitu saya duluan ya. Kamu hati-hati di jalan,"
"Iya pak terimakasih, bapak juga hati-hati,"
"Ya," jawab pak Wiraguna yang langsung bergegas menuju ke mobilnya.
Tepat jam sepuluh malam Reno tiba di rumah. Suasana sepi, Melly dan mama Lusi sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Reno melangkah memasuki kamarnya, dilihatnya Melly masih asyik dengan handphonenya, tanpa memperdulikan Reno yang baru saja pulang.
"Belum tidur kamu Mel?" sapa Reno.
"Bentar lagi, baru pulang mas. Gimana, lancar?" tanya Melly tanpa melihat ke arah Reno, seolah begitu berat mengalihkan pandangannya dari handphonenya.
"Lancar, kami bisa memenangkan proyek itu," jawab Reno yang langsung menuju ke kamar mandi.
Selesai mencuci muka dan kaki, Reno pun langsung mengganti pakaiannya. Lalu dia berbaring didekat Melly, memeluk Melly dan menciuminya. Melly tetap fokus pada handphonenya, tanpa membalas sedikitpun ciuman Reno. Reno yang sepertinya sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk bersenggama, lantaran sudah lama dia tidak melakukannya, semua itu karena Melly yang terus saja menolaknya, kali ini sepertinya dia benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Tanpa perduli lagi dengan keseruan Melly dan karena tidak ada cara lain supaya Melly berhenti memainkan handphonenya, dengan terpaksa Reno mengambil handphon ditangan Melly lalu menjauhkannya dari Melly. Yang jelas itu langsung membuat Melly marah.
"Apaan sih mas, balikin gak handphonenya. Melly lagi ngobrol sama temen Melly,"gerutu Melly.
"Terserah, aku gak perduli Mel. Aku mohon, malam ini saja kau abaikan handphonemu sebentar, dan tolong jangan menolak ku lagi. Aku benar-benar sangat menginginkannya Mel," Reno sampai memohon kepada Melly agar Melly mau melayaninya.
"Apa sih mas, besok aja lah. Aku ngantuk nih," jawab Melly.
"Ayo dong Mel, dosa jika menolak keinginan suamimu, kamu tau itu kan?"
__ADS_1
"Iya-iya oke, udah gak usah ceramah," jawab Melly, yang akhirnya bersedia melayani Reno.
Reno pun akhirnya bisa melewati malam bersama Melly, saat-saat yang selalu dia rindukan dan dia inginkan setiap waktu. Sungguh suatu kepuasan dan kebahagiaan tersendiri bagi seorang laki-laki, saat hasrat birahinya tersalurkan. Namun di lubuk hati Reno yang paling dalam tersimpan rasa kecewa, dengan sikap Melly yang masih belum bisa ikhlas dan setulus hati melayaninya. Reno masih berharap, suatu saat nanti Melly bisa merubah sikapnya itu, sehingga dia tidak perlu mencari kepuasan diluar rumah seperti yang dilakukan temannya Wawan.
Paginya, seperti biasa selesai ganti pakaian, Reno keluar kamar dan langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan makanannya sendiri. Namun selama ada mama mertuanya, sarapan sudah selalu siap di pagi hari.
"Pagi ma, jadi pulang hari ini ma?" sapa Reno pada mama mertuanya.
"Pagi nak Reno, iya mama pulang hari ini. Sarapan dulu nak Reno, mama sudah siapin,"
"Iya ma, terimakasih banyak ma. Mama juga sarapan ya ma, temani Reno,"
"Iya, apa mama bangunin Melly dulu ya, biar kita sarapan sama-sama. Melly belum bangun kan. Benar-benar keterlaluan anak itu," gerutu mama Lusi.
"Udah ma biarin aja, percuma juga dibangunin, kalau dia belum pengen bangun, gak akan bangun dia ma,"
"Coba kamu tegas sedikit dong nak Reno, biar Melly gak ngelunjak gitu. Terus terang mama sebagai ibunya malu sama nak Reno,"
"Entahlah ma, Melly gak mau nurut sama Reno. Reno capek kalau harus berantem terus sama Melly. Makanya do'ain kami ya ma, semoga kami bisa cepat punya anak. Karena Reno berfikir, mungkin dengan kita memiliki seorang anak, bisa merubah sikap Melly selama ini, bisa lebih baik dan bisa lebih dewasa," ucap Reno sambil menatap wajah mama Lusi penuh harap, yang membuat mama Lusi terlihat gugup, lantaran dia tau kalau sebenarnya Melly sengaja menunda kehamilannya.
Selesai sarapan, Reno pun bersiap-siap pergi ke kantor. Namun sebelum berangkat, dia membuka tas nya lalu mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu dia berikan pada mama mertuanya itu.
"Ini ada sedikit uang, untuk ongkos mama pulang. Hati-hati dijalan ya ma, kasih kabar kalau sudah sampai,"
"Terimakasih banyak nak Reno, mama jadi gak enak nih, ngrepotin kamu terus," jawab mama Lusi malu-malu.
"Gak pa-pa ma, Reno senang kalau bisa membantu orang tua Reno, yah walaupun itu gak seberapa. Ya sudah, Reno berangkat dulu ya ma," ucap Reno sambil mencium tangan mama mertuanya.
"Iya nak Reno, hati-hati. Sekali lagi terimakasih nak,"
"Iya ma, sama-sama," jawab Reno yang langsung bergegas berangkat ke kantor.
Mama Lusi memperhatikan kepergian Reno, dalam hatinya yang paling dalam, sebenarnya dia kasian pada Reno. Harusnya orang baik seperti Reno, tidak pantas mendapatkan perlakuan buruk.
__ADS_1
Setelah Reno berangkat, mama Lusi mendatangi Melly di kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, mama Lusi langsung masuk ke kamar Melly dan dilihatnya Melly tengah asyik ngobrol dengan seseorang di telpon. Mama Lusi sudah menduga, mendengar dari pembicaraan mereka, pastilah itu Alex.
"Udah dulu ya, nanti sambung lagi ya. Bye Lex," ucap Melly menutup telponnya, dan benar saja itu memang telpon dari Alex.
Melihat kelakuan anaknya, mama Lusi sedikit kesal.
"Kamu tu ya, suami berangkat kerja gak diurusin, mamanya masak gak dibantuin. Malah asyik telponan. Benar-benar keterlaluan kamu Mel," gerutu mama Lusi.
"Alah.. gak tiap hari juga kan mama masakin Melly, pas mama kesini aja kan. Emang kenapa ma kalau suami mau berangkat kerja? apa perlu Melly pake'in baju, celana, terus disuapin gitu, gak kan ma?" cetus Melly yang semakin membuat mama Lusi kesal.
"Kamu tu ya Mel, benar-benar gak bisa dibilangin orang tua. Terserahlah, mama mau siap-siap, mau pulang. Pusing mama lama-lama disini, bisa-bisa mama stres liat kelakuanmu," gerutu mama Lusi yang langsung keluar dari kamar Melly.
"Pusing dari mana, udah dibeliin perhiasan, baju banyak, dikasih duit lagi. Bilang aja udah gak sabar mau pamer sama temen-temennya," gerutu Melly.
*
Sorenya, Reno masih membereskan meja kerjanya, saat Wawan menghampirinya.
"Hai bro, gimana? mau ikut perawatan gak?" tanya Wawan dengan gaya bahasa mereka.
"Gak ah, mau perawatan dirumah aja," jawab Reno dengan penuh percaya diri.
"Alah.. itu kan pengen mu aja, nyatanya gak ada tuh yang merawat kamu dirumah. Gak usah terlalu berharap, nanti kecewa baru tau rasa," ejek Wawan, yang langsung pergi meninggalkan Reno. Reno pun hanya membalas ucapan Wawan dengan senyuman.
Sesampainya di rumah, Reno yang merasa lapar langsung menyantap sisa masakan mertuanya tadi pagi. Karena hanya itu yang ada di meja makan.
Selesai makan, Reno langsung mandi sambil menunggu istrinya pulang. Selesai mandi, terlihat Reno sedang mencari-cari pakaiannya di dalam lemari.
"Melly.. Melly.. sebenarnya apa kerjamu dirumah, baju berantakan gini gak di rapiin. Mana sih kaos warna merah ku, apa tercampur sama baju Melly ya?" pikir Reno yang kemudian membuka lemari baju Melly.
Saat tengah mencari, tiba-tiba Reno menemukan satu tablet obat di selah-selah baju Melly. Reno mengambil obat itu, dan setelah memeriksanya betapa terkejutnya Reno, rupanya itu pil KB yang selama ini dikonsumsi oleh Melly.
Tubuh Reno seketika terasa lemas, dia duduk dilantai, menyandarkan tubuhnya di lemari baju. Mata Reno mulai berkaca-kaca, tidak terasa air matanya pun mulai menetes.
__ADS_1
"Kenapa kamu lakukan ini Mel, kenapa? apa sebenarnya arti pernikahan ini, kenapa kamu tega Mel melakukan ini padaku, kenapa Mel? Seandainya kamu tidak mencintaiku dan tidak menginginkan keturunan dariku, kenapa kamu bersedia menikah denganku," ucap Reno lirih, dengan air matanya yang terus menetes.
Reno beranjak dari tempat duduknya, dia mengusap air matanya, lalu berjalan menuju ke ruang tamu. Dia tidak sabar menunggu kedatangan Melly, untuk meminta penjelasan Melly.