TERPAKSA KU PULANG MALAM

TERPAKSA KU PULANG MALAM
PART 22


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Reno sudah bangun, sebelum beranjak dari tempat tidurnya, dia menyempatkan waktunya sebentar untuk menelpon pujaan hatinya, Wulan.


"Hai sayangku.. udah bangun kan? Azam gemoy udah bangun belum sayang?" sapa Reno ditelpon, yang tidak lupa juga menanyakan Azam. Karena ada istilah kalau ingin merayu janda harus timang anaknya.


"Udah dong mas.. kalau Azam belum bangun mas, nantilah bentar lagi aku bangunin. Kasian kalau dibangunin sekarang, soalnya masih terlalu pagi, kecuali kalau dia bangun sendiri. Kok malah nelpon sih mas, bukannya shalat dulu," ucap Wulan, yang selalu mengingatkan Reno agar tidak meninggalkan shalat.


"Iya sayang.. bentar lagi ya. Aku kangen sayang, pengen denger suara kamu," ucap Reno manja.


"Loh.. kan baru semalam kita ketemu, kok udah kangen lagi. Hmm.. pasti bo'ong nih," ejek Wulan, namun sesungguhnya dengan hati yang berbunga-bunga mendengar ucapan Reno.


"Beneran sayang, aku udah kangen banget sama kamu. Hari ini aku akan mulai mempersiapkan pernikahan kita, biar kita bisa menikah secepatnya. Aku sudah gak bisa menunggu lama lagi sayang, karena sudah terlalu lama aku menunggu," ucap Reno dengan kesungguhan hatinya.


Wulan tidak langsung menjawab, dia menjauhkan handphonenya dari wajahnya sebentar, kemudian dia melonjak kegirangan.


"Mas Reno.. aku pun udah gak sabar mas, pengen peluk-peluk kamu tiap mau tidur dan bangun tidur kyak gini," ucap Wulan lirih, agar tidak sampai terdengar Reno.


"Halo.. halo.. sayang.. kamu dimana?" tanya Reno yang mengira Wulan meninggalkannya.


"E.. iya mas, ini aku ada. Aku baru saja membetulkan selimut Azam. Oh ya, apa gak terlalu buru-buru tuh mas kalau udah siap-siap mulai hari ini. Terus Wulan harus apa mas, apa Wulan perlu bantuin?" tanya Wulan yang berpura-pura menilai pernikahannya terlalu cepat.


"Kamu gak perlu bantuin sayang, pokoknya kamu terima beres. Gak buru-buru dong sayang, karena aku ingin acara pernikahan kita dibuat seindah dan semewah mungkin. Walaupun ini bukan yang pertama, namun aku berharap ini yang terakhir dalam hidupku dan aku gak mau ada kesalahan sekecil apapun yang akan merusak acara pernikahan kita. Aku ingin semua berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan apapun," jelas Reno.


"Amin.." ucap Wulan sambil tertawa kecil. Ternyata Wulan fokus dengan ucapan Reno yang akan membuat acara semewah mungkin. Wulan berfikir Reno hanya melawak, karena pikirnya itu hanya khayalan Reno.

__ADS_1


"Sayang, kok malah ketawa. Emang ada yang lucu?" tanya Reno heran.


"Iya, mas Reno lucu. Pagi-pagi udah mengkhayal buat pesta mewah, emang uangnya dari mana mas. Astaghfirullahhal'aziim.. jangan-jangan mas Reno berencana cari pinjaman ya buat bikin acara yang mewah. Wulan mohon mas, jangan lakukan itu. Wulan gak mau mas, benar-benar gak mau. Gak pa-pa acaranya sederhana yang penting lancar dan yang pasti gak nyusahin mas Reno. Beneran mas, Wulan gak mau kalau acara pernikahan kita menjadi beban buat mas Reno, Wulan gak mau mas," ucap Wulan dengan setulus hati, kalau dia menerima Reno apa adanya dan tidak mau menyusahkan calon suaminya itu.


"Enggak sayang, aku gak cari pinjaman kok. Itu uangku sendiri, hasil kerjaku. Alhamdulillah aku sudah punya tabungan yang cukup buat acara pernikahan kita. Kamu gak usah khawatir ya, aku benar-benar gak terbebani sama sekali dengan pernikahan kita. Aku sudah siapkan ini jauh-jauh hari sayang, karena aku ingin menjadikanmu ratu dalam hidupku, jadi apapun akan aku lakukan untuk membuatmu bahagia," jawab Reno dengan penuh keyakinan.


"Mas.. kamu sayang sama Wulan dan Azam itu udah cukup buat aku bahagia mas, Wulan gak pernah meminta lebih mas. Wulan gak mau menyusahkan mas Reno, karena Wulan sayang sama mas Reno,"


"Iya sayang.. aku tau itu, anggap aja ini hadiah untuk pernikahan, oke?"


"oke, terserah mas Reno, Wulan nurut aja. Selama itu gak nyusahin mas Reno. Hmm.. udah dulu ya mas, shalat dulu sana, Wulan juga mau masak nih,"


"Iya sayang, bye sayangku.. mmmuach.." ucap Reno genit.


*


Melly baru saja selesai membuat sarapan, sekaligus kopi untuk suaminya, Alex. Melly dengan sangat terpaksa melakukannya, karena kalau dia tidak mau melayani suaminya, maka resikonya dia tidak akan makan, sebab Alex selalu mengancamnya tidak akan mau bekerja kalau Melly tidak mau melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Saat ini Melly tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Alex, karena saat ini dia tidak punya pekerjaan dan hanya bergantung pada Alex. Pulang kampung pun itu tidak mungkin, dia lebih memilih hidup susah dengan Alex, ketimbang menanggung malu di kampungnya. Sebab berita perceraiannya dengan Reno, sudah menyebar di kampungnya, dengan berbagai macam opini dari orang-orang yang memojokkannya.


"Heh! benar-benar keterlaluan kamu Lex, aku udah selesai masak pun kamu belum juga bangun. Awas aja kamu!" gerutu Melly yang lalu menuju ke kamar dengan emosinya yang meluap-luap.


Sampai di kamar, Melly langsung membuka selimut yang menutupi Alex, lalu dengan kuat menggoncang-goncang tubuh Alex sambil terus berteriak membangunkan Alex, yang membuat Alex merasa bagai mendengar suara gemuruh kentongan yang di pukul tepat di telinganya.


"Bangun Lex! bangun.. aku bilang bangun! heh. Aku capek Lex, tiap pagi harus bangunin kamu. Bisa gak sih kamu bangun sendiri dan buru-buru cari kerja. Suami macam apa kamu ini, dah nganggur, pemalas lagi," gerutu Melly yang tak henti-henti.

__ADS_1


"Hah! bisa gak sih Mel kamu berhenti ngoceh, pusing aku dengernya. Kamu pikir mudah cari kerja ha?"


"Alah banyak alasan, kamu aja yang carinya gak betul-betul," jawab Melly, yang tetap tidak mau mengalah.


Di tengah-tengah keributan mereka, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu rumah sambil berteriak memanggil-manggil nama mereka.


"Melly.. Alex.. keluar kalian!" teriak orang itu.


"Tuh kamu dengar, itu pasti Bu Wati mau minta uang kontrakan. Gimana nih, aku harus jawab apa lagi. Kamu aja yang keluar sana!" perintah Melly.


"Aduh, perutku sakit banget Mel. Aku ke toilet dulu ya, udah kamu aja yang temui. Ya bilang aja belum bisa bayar, ribet banget sih," ucap Alex yang langsung berlari ke toilet.


Jelas saja itu membuat Melly semakin kesal, karena dia tau sakit perut hanya alasan Alex untuk menghindari Bu Wati.


"Heh! sialan kamu Lex!" umpat Melly, yang kemudian dengan sangat terpaksa keluar menemui Bu Wati.


"Eh Bu Wati, pagi-pagi kok udah kesini?" sapa Melly dengan ramah


"Gak perlu basa-basi ya, saya kesini mau minta uang kontrakan. Ada gak?" tanya Bu Wati ketus.


"Duh gimana ya Bu, kayaknya belum ada kalau sekarang. Bagaimana kalau lusa," Melly mencoba meminta waktu lagi.


"Lusa.. lusa.. itu terus jawaban kamu, bosan saya dengernya. Kesabaran saya sudah habis, saya tidak mau tau, sore ini kalian sudah harus mengosongkan kontrakan ini, permisi," ucap Bu Wati yang langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


"Tapi bu.. Bu Wati.. saya mohon.. beri waktu sekali lagi.. ! teriak Melly yang tidak dihiraukan oleh Bu Wati. Akhirnya Melly pun hanya bisa menangis, meratapi nasibnya dan bingung mau tinggal dimana lagi.


__ADS_2