
Melly terus saja menangis, dia duduk di kursi tamu, tubuhnya terasa lemas. Batinnya benar-benar terguncang, dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia harus keluar dari kontrakan itu hari ini juga, sementara dia tidak tau harus tinggal dimana lagi. Sedang menangis terisak-isak, Alex yang baru selesai mandi menghampirinya.
"lho Mel, kok kamu nangis? Bu Wati bilang apa dia?" tanya Alex yang berniat mendekati Melly.
Namun belum sempat Alex mendekat, Melly beranjak dari tempat duduknya sambil mengusap air matanya. Tanpa Alex duga, Melly langsung menyerangnya dengan pukulan-pukulan bertubi-tubi.
"Bre***ek kamu Lex, dasar penipu! puas kamu udah buat hidupku menderita. Aku benci kamu Lex, aku sangat membencimu!" umpat Melly, sambil terus memukuli Alex.
"Aduh Mel, aw.. aw.. sakit Mel, hentikan Mel. Kamu apa-apaan sih Mel, sakit tau. Aw.. Melly hentikan," pinta Alex sambil terus menghindari pukulan Melly.
Namun Melly tidak perduli, dia yang sangat kesal dengan Alex, meluapkan kekesalannya dengan cara memukuli Alex sekuat-kuatnya. Alex yang sudah tidak tahan dengan pukulan Melly, langsung meraih tubuh Melly, lalu memeluknya erat-erat dari belakang, hingga Melly tidak bisa bergerak lagi.
"Lepasin Lex, aku bilang lepasin!" bentak Melly sambil terus berusaha melepaskan pelukan Alex.
"Oke, aku lepasin. Tapi janji tidak akan memukulku lagi," pinta Alex.
"Kamu pantas dipukul, kamu laki-laki bre***ek. Aku benci kamu, puas kamu udah buat hidupku menderita, puas?!" teriak Melly dengan tangisnya yang terisak-isak.
"Tenanglah Melly, iya aku akui aku memang salah. Sudah tenanglah, kita bicarakan ini baik-baik ya. Duduklah dulu, aku ambilkan kamu minum dulu ya," ucap Alex, berusaha menenangkan Melly dan mengajak Melly duduk di kursi, lalu pergi ke dapur mengambil air minum.
Melly pun menurut, namun dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya.
"Ini, minumlah dulu," ucap Alex, sambil memberikan segelas air putih pada Melly, Melly pun lalu meminumnya.
Setelah merasa lebih tenang, akhirnya Melly pun mulai bicara, meski dengan terbata-bata karena dia belum juga bisa menghentikan tangisnya.
"Ki.. kita mau tinggal dimana, bu.. Bu Wati bilang kita harus meninggalkan kontrakan hari ini juga, dia kasih waktu sampai nanti sore. Hiks..hiks.." ucap Melly sambil terus menangis.
Alex hanya terdiam, sepertinya dia sendiri juga bingung akan tinggal dimana mereka setelah keluar dari kontrakan itu.
"Lex, kok kamu malah diam sih! gak bertanggung jawab banget sih jadi suami, mikir dong kita mau tinggal dimana, jangan cuma diam aja!" gerutu Melly.
"Gak sabaran banget sih kamu Mel, ya ini juga lagi mikir," jawab Alex, kesal.
__ADS_1
"Kelamaan, pokoknya aku gak mau tau, kamu harus bisa dapatin uang buat bayarin kontrakan ini, biar kita gak jadi diusir," tegas Melly.
"Enak banget ya kamu ngomong, hari gini dapat dari mana uang sebanyak itu. Minjam? siapa yang mau kasih pinjaman sama pengangguran kayak aku. Nipu di sosmed? gak mungkin juga itu, mereka sudah tau kedok ku, jadi gak mungkin mereka percaya lagi denganku. Masih untung aku gak dilaporin polisi," jelas Alex.
"Jadi gimana? aku gak mau ya, kalau kita jadi gelandangan, lontang-lantung di jalanan. Apa kata teman-teman ku kalau mereka tau, bisa habis aku jadi bahas gosip mereka.
Suasana pun hening sejenak, keduanya kini tengah berpikir keras, berusaha mencari jalan keluar untuk masalah yang tengah mereka hadapi. Tidak lama kemudian, Alex pun mulai angkat bicara.
"Oh ya Mel, kamu masih ingat gak kata-kata Reno waktu terakhir kita ketemu dia di persidangan. Waktu itu dia pernah bilang kan, kalau dia mengizinkan sewaktu-waktu kamu kembali ke rumah kalian dulu. Aku rasa kita bisa tinggal disana, sementara kita belum dapat tempat tinggal baru," usul Alex.
"Iya aku ingat, tapi kamu ingat juga kan gimana aku tanggapi Reno. Malu lah, itu sama aja aku menjilat ludahku sendiri. Ogah ah, Reno pasti bakalan ketawain aku habis-habisan," jawab Melly yang terlihat gengsi.
"Udahlah Mel, untuk saat ini buang dulu rasa gengsi mu itu. Karena cuma itu jalan satu-satunya agar kita tidak jadi gelandangan," bujuk Alex.
Melly terdiam sesaat, dia mempertimbangkan kembali ucapan Alex. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Melly menyetujui ide Alex untuk tinggal dirumahnya dulu.
"Iya deh aku setuju, gak ada jalan lain. Tapi aku coba hubungi Reno dulu, tapi bagaimana kalau dia masih tinggal disana, gak mungkin kan kita satu rumah sama dia," Ucap Melly sedikit ragu.
"Udah, coba aja telpon dulu. Siapa tau dia sudah pindah. Kalau pun belum, ya dia harus keluar dari rumah itu sekarang juga, kan dia sendiri dulu yang tawarin kamu balik ke sana," ucap Alex tanpa perduli dengan keadaan Reno.
Setelah beberapa kali menelpon, tidak ada jawaban dari Reno, Melly pun semakin gelisah. Dia coba lagi dan lagi, namun tetap saja tidak ada jawaban.
"Gimana nih, Reno gak angkat telponnya," ucap Melly gelisah.
"Ya udah, nanti dicoba lagi. Sekarang mending kita mengemas barang-barang kita," ucap Alex, memberi saran.
Selesai sarapan, mereka pun mulai mengemas barang-barang mereka. Sambil Melly terus mencoba menghubungi Reno.
*
Sementara itu di rumah Reno, terlihat Reno sedang menikmati sarapan. Sedang bi Mumun tengah sibuk membersihkan perabot yang ada di ruang makan, yang tentunya sambil mengobrol dengan Reno.
"Loh den, kok belum siap-siap ke kantor. Den Reno gak ke kantor?" tanya bi Mumun yang heran melihat Reno masih memakai baju biasa.
__ADS_1
"Enggak bi, aku sudah minta izin dengan pak Wiraguna ambil cuti beberapa hari. Bibi tau gak kenapa?"
"Emang kenapa den, den Reno mau bepergian?" bi Mumun balik bertanya.
"Hmm... Bibi sini dulu deh. Bukan bepergian bi, tapi Reno mau menikah," jawab Reno dengan wajah ceria.
"Yang bener den, syukurlah.. akhirnya den Reno menikah juga. Sama mbak Wulan kan den?" tanya bi Mumun yang kemudian duduk di dekat Reno.
"Iya dong bi, karena cuma Wulan yang Reno cinta dan yang mencintai Reno setulus hati," jawab Reno mantap.
"Iya deh, mudah-mudahan kalian bisa langgeng selamanya dan semoga pernikahan ini yang terakhir ya den,"
"Amin, iya bi semoga ini pernikahan yang terakhir," jawab Reno penuh harap.
Selesai makan Reno kembali ke kamar untuk mengambil handphonenya. Ketika dia mengecek handphone, dilihatnya begitu banyak panggilan tak terjawab dari Melly. Reno pun sedikit terkejut, setelah sekian lama, Melly kembali menghubunginya. Karena penasaran, Reno pun berniat menelpon balik. Namun baru saja dia akan menelpon, Melly sudah menelponnya lebih dulu. Reno pun langsung mengangkatnya, takut terjadi sesuatu dengan Melly. Meskipun sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi, namun Reno tetap bersikap baik kepada mantan istrinya itu.
"Halo Mel, ada apa? tumben kamu nelpon. Kamu baik-baik saja kan Mel?" tanya Reno.
"Hai mas, aku baik-baik saja. Mas Reno sendiri apa kabar?" tanya Melly sekedar basa-basi.
"Alhamdulillah aku juga baik-baik saja. Jadi ada apa, kok tumben nelpon?"
"E.. begini mas, Sebenarnya Melly mau kembali ke rumah kita yang dulu. Mas Reno masih mengizinkan Melly tinggal disana kan?"
"Oh.. soal itu, masih lah.. itu juga rumah kamu, kalau kamu mau tinggal disana, maka sepenuhnya rumah itu aku serahin sama kamu. Aku justru sangat senang kalau kamu mau kembali ke rumah itu,"
"E.. memang mas Reno gak tinggal lagi disana ya?"
"Enggak, aku sudah punya rumah sendiri. Jadi aku benar-benar sangat senang kalau kamu mau tinggal lagi disana. Oh ya, kunci rumahnya sengaja aku titipin sama Bu Salma, supaya kalau sewaktu-waktu kamu kembali, kamu bisa langsung masuk tanpa harus menemui ku terlebih dulu,"
"Oh.. gitu, ya sudah selesai berkemas aku langsung ke sana. Terimakasih banyak mas, masih mengizinkan saya kembali ke rumah itu. Maaf soal ucapan ku yang dulu, aku khilaf mas,"
"Sudahlah, gak usah dibahas lagi yang sudah-sudah. Ya udah, aku tutup telponnya ya. Bye,"
__ADS_1
"Bye mas,"
Selesai menelpon, Melly pun meloncat kegirangan. Dia sangat senang, kerena akhirnya dia tidak jadi gelandangan. Sementara Reno hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar ucapan Melly yang jauh dari sebelumnya. Namun Reno tidak pernah mempermasalahkan itu, karena dia sudah tidak perduli lagi dengan masa lalunya, yang dia pikirkan saat ini hanya masa depannya dengan Wulan, wanita yang sangat dia cintai.