
"Terimakasih Wulan, kamu masih perduli denganku. Meski kamu tau, aku telah melakukan suatu kesalahan," ucap Reno saat akan turun dari mobil Wulan.
"Sama-sama mas, lain kali jangan lakukan itu lagi ya. Wulan gak suka mas Reno seperti itu, gak ada manfaatnya juga, justru itu malah merugikan mas Reno sendiri," Wulan berusaha menasehati Reno.
"Iya, lain kali gak gitu lagi. Maaf ya sudah ngrepotin,"
"Gak pa-pa mas, Wulan senang bisa membantu mas Reno,"
"Ya udah, aku turun ya. Terimakasih tumpangannya," ucap Reno yang lalu turun dari mobil Wulan dan langsung berjalan menuju ke tempat parkir, untuk mengambil motornya yang tertinggal.
"Tunggu mas!" seru Wulan, yang seketika menghentikan langkah Reno. Reno pun langsung membalikkan badannya.
"Ya, ada apa?" tanya Reno.
"Hati-hati," ucap Wulan sambil tersenyum manis.
"Iya, kamu juga hati-hati ya," jawab Reno yang juga tersenyum pada Wulan.
"Ya, bye mas Reno," ucap Wulan yang sepertinya begitu berat berpisah dengan Reno.
"Bye," jawab Reno sambil melambaikan tangan lalu berlari kecil menuju tempat parkir, barulah mereka benar-benar berpisah.
*
Sesampainya di rumah, Wulan langsung masuk ke kamarnya. Dilihatnya Azam sudah tertidur pulas begitu juga dengan Tina, baby suster Azam yang juga tertidur pulas di sebelah Azam.
Selesai ganti baju, Wulan kemudian ikut tidur bersama mereka, Wulan sengaja tidak membangunkan Tina dan membiarkan Tina tidur bersama dengannya, karena dia sudah menganggap Tina seperti adiknya sendiri.
Wulan tidak langsung tidur, dia mengingat kembali pertemuannya dengan Reno. Sungguh tidak pernah terpikir olehnya akan bertemu kembali dengan laki-laki yang dulu sangat dia cintai. Wulan tidak bisa menyembunyikan perasaannya, kalau dia begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan Reno. Namun ada pula kesedihan yang menyelimuti hatinya, lantaran dia kini hanya bisa sebatas memandang, namun tak bisa memiliki seperti dulu. Reno kini telah memiliki seorang istri dan mungkin Reno telah bahagia dengan istrinya. Memikirkan itu semua, membuat Wulan benar-benar merasa gelisah. Dia sadar, kalau mengharapkan Reno itu sesuatu yang salah, namun dia tidak bisa membohongi perasaannya, kalau sampai sekarang dia masih mencintai Reno dan masih sangat mengharapkannya.
__ADS_1
Malam semakin larut, rasa lelah sehabis bekerja seharian akhirnya membuat Wulan tertidur lelap.
*
Sementara itu, Reno yang juga sudah sampai di rumah, langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dilihatnya Melly sudah tertidur pulas, dia pandangi wajah istrinya itu tanpa menyentuhnya sedikitpun, karena sejujurnya dia masih merasa kesal dengan keputusan Melly yang menunda kehamilannya tanpa sepengetahuannya.
"Seandainya kamu seperti Wulan Mel, aku pasti akan menjadi seorang suami yang paling bahagia di dunia ini," ucap Reno lirih, lalu memejamkan matanya.
Paginya, tidak seperti biasa, selesai mandi Reno mendapati Melly sudah bangun. Namun bukannya menyiapkan sarapan, dia justru memarahi Reno.
"Dari mana saja kamu semalam mas? bisa-bisanya kamu pergi begitu aja dan gak tau pulang jam berapa. Awas aja ya kalau sampai kamu ketahuan pergi ke tempat-tempat hiburan, aku gak suka ya mas!" gerutu Melly yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Reno.
"Mas! kamu denger gak sih aku bicara!" bentak Melly.
Reno tetap tidak menjawab sepatah kata pun, dia tetap fokus mempersiapkan diri berangkat ke kantor. Setelah siap, dia langsung melangkah keluar kamar, namun dengan cepat Melly menghentikan langkahnya dengan menarik tangannya.
"Terserahlah Mel, aku capek dengan semua ini. Biarkan aku menenangkan diri dulu dan berusaha menerima semuanya. Aku hanya minta satu hal, jangan ada kebohongan dalam pernikahan kita, aku ingin kamu selalu jujur padaku, apapun itu aku tidak ingin ada kebohongan diantara kita. Aku sudah cukup sabar dan menerima sikapmu selama ini, tapi aku tidak bisa menerima kebohongan mu. Jadi aku minta mulai sekarang jangan ada lagi kebohongan diantara kita, kamu bisa kan?" tegas Reno.
Sebenarnya Reno masih kesal dengan Melly, namun dia juga tidak mau ada pertengkaran dalam rumah tangganya, sebisa mungkin dia ingin menjaga keutuhan rumah tangganya meski dengan sikap Melly yang selalu mengecewakannya.
"Iya, aku janji mas. Tapi mas Reno jangan marah lagi ya," pinta Melly, sambil memeluk Reno dengan manja.
"Ya. Ya sudah, aku berangkat dulu ya," ucap Reno sambil mencium kening Melly dan langsung berangkat ke kantor.
Sejatinya Reno memang seorang suami yang penyabar dan penyayang, sehingga rumah tangganya tetap utuh meski Melly sering bersikap di luar batas.
Setelah Reno berangkat, Melly kembali lagi ke kamarnya. Dia langsung mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Alex.
"Pagi sayang..." sapa Melly pada Alex.
__ADS_1
Rupanya mereka berdua telah menjalin hubungan asmara tanpa sepengetahuan Reno.
"Pagi juga sayang, gimana? jadi gak kita jalan hari ini. Aku kangen banget sama kamu sayang," jawab Alex.
"Jadi dong, jemput aku jam sepuluh ya,"
"Oke, dandan yang cantik ya sayang. Kita jalan-jalan ke mall,"
"Oke, bye sayang," jawab Melly dengan wajah yang ceria.
Setelah menutup telpon, Melly pun melonjak kegirangan. Bagaimana tidak, wanita seperti Melly pastilah sangat senang dan jelas lebih memilih pergi ke mall, ketimbang pergi ke tempat-tempat romantis lainnya.
"Lihat saja mas Reno, kalau aku sudah benar-benar bisa membuat Alex benar-benar mencintaiku dan mau menikahi ku, secepatnya aku akan segera meninggalkanmu. Karena aku benar-benar sudah bosan hidup pas-pasan begini. Aku yakin, hidupku pasti akan jauh lebih bahagia dengan Alex yang memiliki segala-galanya dan bisa memberikan apapun yang aku mau," ucap Melly dengan senyum kepuasan.
Melly benar-benar telah melakukan sebuah kesalahan besar, dengan memakai kekayaan sebagai tolak ukur suatu kebahagiaan. Sementara kasih sayang dan pengorbanan Reno tidak ada artinya sama sekali di matanya. Melly benar-benar telah menyia-nyiakan kepercayaan dan kasih sayang Reno. Dia telah membawa duri tajam masuk ke dalam rumah tangganya, yang nantinya duri itu pasti akan melukai Reno.
*
Sementara itu, disebuah rumah mewah tempat dimana Alex tinggal, terlihat seorang laki-laki berjas keluar dari dalam rumah mewah itu. Laki-laki itu langsung menghampiri Alex yang tengah mengelap mobil mewah yang sering dibawa Alex pergi jalan-jalan.
"Belum siap juga kamu Lex, jadi apa kerja kamu dari tadi, ngelap mobil gitu aja lama benar. Saya perhatikan makin hari kerja kamu makin gak benar, disuruh bawa uang sebentar saja langsung kerampokan, untung saya masih berbaik hati sama kamu, kalau saya suruh kamu ganti, gaji kamu setahun juga belum bisa balikin uang saya yang hilang. La ini lagi, ngelap mobil dari tadi pagi gak selesai-selesai, Alex.. Alex.. apa kamu sudah bosan ya kerja disini?" gerutu pak Herman yang kesal dengan Alex, supir pribadinya.
"I.. iya pak, ini sudah siap, mari pak," jawab Alex yang langsung membukakan pintu mobil untuk majikannya itu.
Setelah pak Herman masuk, Alex menutup kembali pintu mobilnya.
"Untung aja si botak gak tau kalau uangnya sebenarnya aku yang ambil, kalau sampai ketahuan, bisa tamat aku," ucap Alex lirih, lalu buru-buru masuk mobil dan mengantarkan majikannya itu ke kantor.
Pantas saja Alex bisa membelikan barang-barang untuk Melly, karena jumlah uang milik pak Herman yang dia ambil jumlahnya tidaklah sedikit, melainkan puluhan juta.
__ADS_1