TERPAKSA KU PULANG MALAM

TERPAKSA KU PULANG MALAM
PART 8


__ADS_3

Wulan membawa Reno ke kafenya, dia yang tadinya dalam perjalanan pulang terpaksa kembali lagi ke kafenya, karena hanya itu tempat paling dekat untuk membawa Reno, sangat tidak mungkin dia membiarkan teman lamanya, sekaligus orang yang dulu pernah mengisi hatinya semasa SMA itu tergeletak di jalan dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Lho mbak, kok balik lagi. Apa ada yang tertinggal ya?" tanya Wendi, salah satu karyawan Wulan.


"Gak ada, ini aku tadi ketemu teman lamaku tiba-tiba dia pingsan di jalan. Kayaknya dia lagi mabuk berat, tolong bantu bawa dia ke dalam ya," pinta Wulan.


Wendi kemudian mengajak teman yang lain mengangkat tubuh Reno lalu membawanya masuk ke dalam.


"Geletakin dimana ini mbak, berat banget lagi, pasti banyak dosa nih, kerjaannya aja mabuk," cetus Wendi.


"Hus, hati-hati kalau ngomong. Saya paham mas Reno, dia orang baik kok. Bawa aja ke ruangan saya," jawab Wulan sambil membukakan pintu ruangannya.


Wendi dan dua temannya lalu membaringkan tubuh Reno di sofa yang ada di ruangan Wulan.


"Jadi gimana ini mbak kalau masnya gak sadar-sadar? apa tidak sebaiknya kita menghubungi keluarganya?" tanya Wendi.


"Kamu benar, coba kamu periksa sakunya, siapa tau dia bawa handphon,"


Wendi pun langsung memeriksa semua saku Reno, namun tidak ada handphon di dalam saku Reno. Jadi terpaksa mereka menunggu sampai Reno siuman.


"Mbak Wulan kalau mau pulang, pulang aja mbak, biar kami yang jagain," ucap Wendi.


"Nantilah, aku tunggu sampai jam sembilan. Kalau mas Reno belum juga sadarkan diri, terpaksa kalian yang jagain, karena saya harus pulang,"


"Baik mbak, kalau begitu kami keluar dulu, masih banyak pengunjung soalnya,"


"Ya, silahkan,"


Wulan kemudian mengambil minyak kayu putih dari dalam tas nya, lalu mengoleskannya disekitar hidung dan kaki Reno. Wulan menatap wajah Reno, dia lalu tersenyum manis, sekilas dia teringat masa-masa indah bersama Reno saat masih SMA, saat dia menjalin kasih dengan Reno. Sungguh kenangan yang sangat indah bagi Wulan. Dulu mereka saling mencintai, namun hubungan mereka berakhir begitu saja, lantaran keduanya sama-sama menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ditambah keluarga Wulan yang pindah ke jakarta membuat mereka benar-benar dipisahkan oleh jarak dan waktu, yang membuat hilangnya komunikasi diantara keduanya dan pada akhirnya mereka memilih jalan masing-masing.


Wulan begitu asyik membayangkan masa lalunya, sampai-sampai dia tidak sadar kalau Reno sudah sadarkan diri dan memperhatikannya sedari tadi.


"Kenapa liatin terus, aku masih ganteng ya?" goda Reno, yang seketika membuat Wulan terkejut dan berusaha menyembunyikan rasa malunya.

__ADS_1


"Mas Reno su.. sudah sadar?" sapa Wulan dengan gugup.


"Sudah dari tadi, justru terbalik aku yang nungguin kamu sadar," ejek Reno.


"Ih mas Reno apaan sih, dari tadi juga Wulan sadar tau. Gimana keadaan mas Reno, masih pusing ya? apa perlu aku pijat kepalanya?" ucap Wulan yang masih begitu perduli dengan Reno.


"Gak usah, kamu gak pernah berubah ya, selalu perhatian," ucap Reno sambil menatap Wulan, terlihat jelas pancaran kebahagiaan dari mata Wulan.


Begitu juga dengan Reno, dia pun merasakan kebahagiaan yang sama seperti Wulan. Bagaimana tidak, setelah sekian lama, akhirnya mereka dipertemukan kembali. Tidak bisa dipungkiri, ada perasaan aneh dalam diri keduanya, namun karena keduanya sudah sama-sama dewasa, mereka menyimpan rasa itu dan berusaha mengendalikan diri. Karena mereka tau, keadaannya tidak lagi seperti dulu.


"E.. tunggu sebentar ya mas, aku ambil minum dulu ya," ucap Wulan.


"Iya," jawab Reno yang kemudian bangun lalu duduk bersandar di sofa sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


Tidak lama kemudian, Wulang kembali dengan membawa segelas air putih dan makanan. Wulan meletakkan semuanya diatas meja, lalu dengan lembut Wulan menyuruh Reno makan.


"Makan ya mas, biar mas Reno gak lemas," pinta Wulan sambil mengambil makanan di atas meja.


"Gak bisa dong mas, kamu harus makan, biar mas Reno gak lemas. Ini menu paling enak loh mas di kafe Wulan," bujuk Wulan.


"Oh ya?"


"Iya," jawab Wulan mengangguk sambil tersenyum.


Keduanya sama-sama terdiam, sesungguhnya mereka tengah memikirkan satu hal yang sama, yaitu mengingat kala dulu mereka makan berdua di kantin sekolah, mereka selalu saling menyuapi. Sekarang pun rasanya mereka ingin mengulang kisah itu, namun mereka sama-sama membuang keinginan itu jauh-jauh dari pikiran mereka, lantaran mereka yakin, mereka sudah saling ada yang memiliki.


"Biar aku makan sendiri aja," ucap Reno yang lalu mengambil piring makanan yang dipegang Wulan.


"Iya, makanlah mas. Enak kok, mas Reno pasti suka," jawab Wulan.


Reno memasukan sesuap makanan itu ke dalam mulutnya dan benar saja, lidah Reno merasakan kenikmatan yang tiada Tara. Baru kali ini dia makan makanan yang dirasanya sangat-sangat lezat.


"Hmmm.. enak banget Lan. Beneran, ini benar-benar enak banget. Kamu yang buat resep ini?" tanya Reno sambil terus memakan makanan itu.

__ADS_1


"Iya dong mas, hmm.. katanya gak lapar, tapi kok dihabisin," ejek Wulan sambil menahan tawa.


"Abisnya enak banget sih, sayang banget kalau gak dihabisin,"


Wulan hanya tersenyum melihat Reno yang makan dengan lahapnya. Sampai akhirnya makanan itu benar-benar habis tak tersisa. Selesai makan Reno kembali menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia terus saja memperhatikan Wulan yang duduk disampingnya.


"Kamu sudah menikah kan Wulan?" tanya Reno.


"Sudah mas, aku juga udah punya anak satu, cowok. Namanya Azam. Mas Reno sendiri?" Wulan balik bertanya.


"Udah juga, tapi aku belum punya anak. Suami kamu orang sini? dia laki-laki yang sangat beruntung bisa mendapatkan istri sebaik dan secantik kamu,"


"Iya dia orang sini. Dia baik, lembut, penuh perhatian, penyayang dan bertanggung jawab, tapi sayangnya dia tidak seberuntung yang mas Reno bilang. Dia sudah meninggal dua tahun lalu, karena sakit kanker yang dia derita. Semua usaha sudah kami tempuh untuk kesembuhannya, bahkan beberapa kali menjalani pengobatan keluar negri, tapi takdir berkata lain, dia meninggalkan kami saat Azam masih berusia satu tahun," ucap Wulan sambil meneteskan air mata.


"Aku ikut berduka Wulan, yang sabar ya. Terus bagaimana dengan anakmu? sementara kamu kerja sampai larut begini,"


"Ada baby suster yang menjaganya di rumah, kadang-kadang aku juga membawanya ikut serta denganku. Mas Reno sendiri kenapa bisa sampai mabuk sih mas, mas Reno lagi ada masalah? tapi ya jangan terus mabuk-mabukan gitu dong mas, gak kasian apa sama badan mas Reno, dirusak gitu. Lagian ini bukan sikap mas Reno yang aku kenal, mas Reno bukan seperti itu orangnya. Kalau ada apa-apa cerita sama istrinya dong mas, diselesaikan sama-sama, dicari jalan keluarnya sama-sama, beruntung mas Reno masih punya istri, masih ada tempat berkeluh kesah. Kalau sudah sendiri kayak aku, gak ada lagi tempat mengadu mas," ucap Wulan berusaha menasehati Reno.


"Iya, perhatian kamu gak pernah berubah Wulan. Hanya saja sekarang kamu gak pendiam dan pemalu kayak dulu, sekarang aku perhatiin kamu lebih terbuka dan banyak bicara kayak ibu-ibu ya," ejek Reno.


"Mas Reno apaan sih, emang sekarang Wulan ibu-ibu mas. Oh ya, emang mas Reno menikah sama siapa sih?" tanya Wulan penasaran.


"Melly, masih ingat kan?"


"Iya masih, kalau gak salah dia kakak kelas kita kan mas? dia juga siswi populer disekolah kita, karena selain cantik, dia juga sangat aktif dalam kegiatan sekolah, dia juga sempat jadi ketua OSIS juga kan dulu?" ucap Wulan yang terlihat sedikit minder, karena merasa Reno mendapatkan istri yang lebih segala-galanya darinya.


"Iya kamu benar, ternyata kamu masih ingat semuanya ya,"


"Iya mas, aku selalu ingat dan gak akan pernah bisa aku lupakan,"


"Iya sama, aku juga," jawab Reno sambil menatap wajah Wulan, begitu juga dengan Wulan, menatap Reno dengan penuh rasa kerinduan yang mendalam.


Keduanya pun saling menatap dan terdiam, pikiran keduanya kembali ke masa lalu, saat posisi mereka dekat seperti ini dan hati mereka saling memiliki.

__ADS_1


__ADS_2