TERPAKSA KU PULANG MALAM

TERPAKSA KU PULANG MALAM
PART 21


__ADS_3

Malamnya, terlihat Reno sedang sibuk di kamarnya. Dia sedang mempersiapkan diri untuk menemui Wulan. Tidak seperti biasanya, kali ini dia merasa agak grogi. Setelah beberapa kali ganti pakaian, akhirnya dia benar-benar merasa yakin dan percaya diri dengan kemeja berwarna abu-abu dan celana jeans berwarna hitam. Setelah benar-benar siap, dia lalu mengambil cincin yang tadi siang dia beli, lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya. Kemudian dia pun bergegas menuju ke kafe Wulan yang pastinya dengan membawa motor bututnya.


Setelah menempuh jarak kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya sampailah Reno di kafe Wulan. Suasana sangat ramai, terlihat juga Wulan sedang sibuk ikut melayani para tamu yang sebagian besar pelanggan di kafe itu.


Reno mencoba mencari-cari meja yang masih kosong, dan ternyata masih tersisa satu di posisi paling pojok. Reno pun langsung melangkah menuju meja itu. Wulan yang melihat kedatangan Reno hanya menyambutnya dengan senyuman, saat Reno menggodanya dengan memberikan ciuman jarak jauh.


Tadinya Reno ingin duduk menunggu Wulan, tapi melihat Wulan sibuk, Reno tidak sampai hati kalau hanya duduk santai sementara orang yang dia sayang sibuk bekerja. Akhirnya Reno pun beranjak dari tempat duduknya lalu membantu melayani pelanggan.


"Loh mas Reno, ngapain ikut bantuin. Gak usah mas, mas Reno kan capek abis pulang kerja. Udah, gak usah mas," ucap Wulan sambil berusaha mengambil minuman yang dibawa Reno yang akan diantarkan ke meja pelanggan. Namun Reno tidak memberikan minuman itu.


"Gak pa-pa sayang, liat kamu aku gak capek lagi kok," goda Reno, yang membuat Wulan tersipu malu.


"Udah mbak, biarin aja mas Reno bantuin, daripada mas Reno nganggur. Lagian Wendi udah paham, mas Reno bantuin biar cepet selesai, biar cepet-cepet bisa berduaan sama mbak Wulan. Iya kan mas?" ejek Wendi.


"Kyaknya kali ini Wendi bener deh," jawab Reno sambil menatap Wulan, dengan senyum menggoda.


Wulan tidak menjawab, dia hanya tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya, begitu juga dengan Reno dan Wendi.


Setelah melayani semua pelanggan, akhirnya mereka pun bisa bersantai. Akhirnya Wulan dan Reno bisa menikmati makan malam berdua.


"Makasih ya mas udah dibantuin, kasian.. mas Reno capek ya. Makanlah mas, ni aku siapin makanan kesukaanmu," ucap Wulan, sambil mengambilkan makanan ke piring Reno. Setelah resmi menjalin hubungan dengan Reno, Wulan semakin menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya, yang membuat Reno semakin cinta dan tidak berfikir sedikitpun untuk mencari wanita lain.


"Sayang?"


"Apa sayang..?" jawab Wulan.


"Kamu beneran sayang ya sama aku?" tanya Reno.

__ADS_1


"Sayang dong mas.. sayang banget malah. Emang kenapa mas, mas Reno masih ragu ya sama Wulan?"


"Enggak, aku gak pernah ragu sayang. Aku hanya ingin memastikan, apa kamu gak menyesal mencintaiku, dengan keadaanku yang seperti ini, apa kamu gak takut kalau nantinya aku gak bisa membahagiakanmu?"


"Aku gak perduli mas, bagaimanapun keadaanmu. Aku cinta sama kamu tulus mas, masalah kedepannya kita bisa berjuang sama-sama," ucap Wulan sambil tersenyum.


Reno menghela nafas panjang, dia merasa lega mendengar ucapan Wulan. Hatinya kini benar-benar mantap untuk menikahi Wulan, tidak ada lagi keraguan dalam hatinya. Dengan penuh keyakinan, dia pun mengambil cincin dari sakunya lalu membuka kotaknya.


"Terimakasih sayang, sudah menerimaku apa adanya. Jadi maukah kamu menikah denganku?" tanya Reno sambil menunjukkan cincin yang dia bawa.


"Mas Reno? ini beneran kan mas? aku gak lagi mimpi kan mas?" ucap Wulan yang masih belum percaya kalau Reno melamarnya.


"Bener sayang.. kamu gak lagi mimpi. Jadi mau kan kamu menikah denganku?" tanya Reno sekali lagi.


"Mau mas, Wulan mau menikah dengan mas Reno," jawab Wulan, dengan penuh keyakinan.


"Terimakasih mas," ucap Wulan, namun tiba-tiba wajah Wulan berubah muram, membuat Reno seketika merasa bingung.


"Sayang, kamu kenapa? kamu gak suka ya sama cincinnya. Maaf ya sayang, aku gak tau selera kamu. Gak pa-pa, nanti kita tukar ke tokonya ya," ucap Reno, berusaha menenangkan Wulan.


"Aku suka mas, suka banget. Tapi ini cincin mahal mas, aku gak mau menyusahkan mas Reno. Mas Reno pasti butuh waktu lama banget ya mas, kumpulin uang untuk beli cincin ini, Kasian mas Reno," ucap Wulan, dengan penuh rasa iba.


"Sayang.. kamu gak usah pikirkan harga cincin ini, bagiku kamulah yang paling berharga dalam hidupku. Harga cincin itu tidak ada artinya sama sekali bila dibandingkan ketulusan cinta yang kamu berikan untukku," ucap Reno dengan penuh keyakinan.


"Terimakasih mas, i love you," ucap Wulan malu-malu.


"I love you too sayang, Minggu ini kita menikah. Apa kamu siap menjadi istriku?" ucap Reno sambil menggenggam tangan Wulan.

__ADS_1


"Siap mas, siap lahir batin," jawab Wulan dengan senyum bahagia di bibirnya.


*


Sementara itu di kontrakan Melly, terlihat Melly sedang gelisah menunggu kedatangan Alex. Melly sangat berharap Alex pulang dengan membawa hasil kerja yang memuaskan. Karena keuangannya benar-benar sudah menipis. Jangankan untuk membayar kontrakan, untuk makan saja susah.


Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Terlihat Alex baru saja pulang. Dia lalu menghempaskan tubuhnya di kursi tamu. Sementara Melly, dengan posisinya yang masih berdiri, langsung meminta uang dari hasil kerja Alex seharian.


"Mana hasil kerja kamu sehari ini?" tanya Melly sambil mengulurkan tangannya, meminta Alex menyerahkan uangnya.


"Iya-iya, sabar Napa. Gak sabaran banget sih," gerutu Alex sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan uang hasil kerjanya hari ini.


Melly buru-buru mengambil uang itu lalu menghitungnya.


"Cuma segini, gak salah, uang segini dapat apa?" gerutu Melly yang tidak puas dengan hasil kerja Alex.


"Ya sudah, kalau kamu gak mau sini buat aku aja," pinta Alex yang kesal dengan sikap melly.


"Enak aja, terus aku mau belanja pake' apa?"


"Makanya gak usah kebanyakan protes. Itu juga aku capek Mel carinya, kamu cuma enak-enakan dirumah, tinggal diam aja napa, gak usah banyak protes. Kalau gak kamu yang kerja, aku yang dirumah, mau?" gerutu Alex.


"Tau ah, capek ngomong sama kamu, bikin emosi," ucap Melly yang lalu melangkah menuju ke kamar.


"Eh.. eh.. mau kemana? buatin aku kopi dulu, capek nih habis kerja. Kalau gak mau, jangan salahkan kalau besok aku libur kerja," ancam Alex.


"Heh, iya-iya!" jawab Melly yang langsung menuju ke dapur.

__ADS_1


Sambil membuat kopi, tidak terasa air mata Melly menetes. Dia teringat saat hidup bersama Reno, Reno suami yang pekerja keras, lembut dan penuh kasih sayang, sungguh jauh berbeda dengan sikap Alex yang pemalas dan acuh.


__ADS_2