
Sorenya, keadaan Reno semakin membaik. Usai mandi dia bersantai di ruang tengah sambil menonton acara televisi. Secangkir teh hangat menemani waktu santainya, dengan beberapa potong kue pemberian Wulan, salah satu menu favorit di kafe Wulan, yang rasanya benar-benar nikmat di lidah.
"Enak juga kue ini, kamu memang jago Lan, kalau urusan memasak," ucap Reno sambil mengambil lagi sepotong dan melahapnya.
Tidak lama kemudian, Melly pulang dengan wajah yang sangat ceria. Bagaimana tidak, Alex baru saja memberikan kejutan, dengan membelikannya sebuah kalung berlian yang sangat mahal. Kalung yang selama ini dia inginkan, namun tidak juga mampu membelinya. Hati Melly semakin yakin, kalau Alex jauh lebih baik segala-galanya dari Reno.
Tanpa menyapa Reno, Melly berjalan menuju ke dapur sambil membawa makanan yang dia beli untuk makan malam mereka.
"Mel, tunggu! begitukah cara kamu sebagai seorang istri, pulang-pulang nylonong, gak ada basa-basi nya. Dari mana saja kamu jam segini baru pulang!"tegas Reno.
"Apa masih perlu mas, Melly jelaskan lagi. Kan Melly sudah bilang, mengikuti acara arisan. Heran deh, gak ngerti-ngerti juga," gerutu Melly, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Acara arisan apa Mel, jam segini baru pulang. Melly-melly.. aku benar-benar gak ngerti ya, apa yang ada di pikiranmu. Aku lagi sakit Mel, sedikitpun kamu gak ada rasa simpati padaku, kamu masih anggap aku suami mu kan Mel?" tanya Reno dengan penuh emosi.
"Kamu ini kenapa sih mas, orang masih capek juga diajak ribut," ucap Melly dengan menunjukkan rasa kesalnya.
"Kamu yang kenapa Mel, sikap kamu ke aku benar-benar sudah berubah. Kamu tidak lagi menghargai aku sedikitpun, kamu cuek, kamu bertingkah sesukamu, tanpa menghormati aku sebagai suamimu. Kamu kenapa sih Mel, kamu gak cinta lagi sama aku, iya? jawab Mel? benar kamu sudah gak cinta lagi sama aku? jawab Mel?!" bentak Reno.
"Iya, aku memang sudah gak cinta lagi sama kamu mas. Aku muak, aku capek dengan kamu mas, sedikitpun kamu gak pernah mengerti aku, aku muak dengan keadaan kita. Aku capek mas, aku benar-benar capek!" ucap Melly tanpa ragu-ragu lagi.
__ADS_1
Mendengar ucapan Melly, Reno langsung berdiri dan mendekati Melly dengan raut wajah penuh dengan kekecewaan.
"Kamu tidak lagi membicarakan materi kan Mel? kenapa sih Mel, materi dan materi saja yang ada di kepalamu. Kebahagiaan bukan hanya tentang materi Mel, banyak orang-orang kaya tapi hidupnya gak bahagia. Kamu lihat juga, banyak orang-orang yang lebih susah dari kita, tapi mereka hidup bahagia dengan keluarga mereka. Cobalah kamu pahami itu Mel, jangan hanya menuruti ego mu. Aku mencintaimu Mel, sebisaku akan ku coba untuk membahagiakanmu," Reno berusaha meyakinkan Melly.
"Melly gak perduli mas, makan tu cinta. Melly gak butuh," ketus Melly yang langsung pergi ke dapur.
Reno sudah menyerah, dia kembali terduduk lemas di sofa, sambil menyandarkan kepalanya. Kepalanya yang masih sedikit pusing, membuatnya memilih diam.
"Ya Allah, berilah kekuatan hamba mu ini mempertahankan rumah tangga hamba," ucap Reno lirih, sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sementara itu di dapur, Melly duduk di meja makan. Dia pun terdiam, sambil menahan air matanya yang akan menetes.
"Maafkan Melly mas Reno, Melly tau begitu besar rasa cintamu padaku. Tapi Melly gak bisa mas, Melly gak bisa hidup hanya dengan cinta. Melly gak bahagia mas, Melly ingin hidup yang lebih sempurna dan itu gak bisa Melly dapatkan dari kamu. Maafkan Melly mas Reno, maafkan Melly," ucap Melly, sambil mengusap air matanya yang tetap saja menetes.
"Ini benar-benar kalung berlian, yang harganya lumayan mahal. Dari mana kamu mendapatkan kalung ini Mel, dari mana? jawab!" bentak Reno, yang pasti curiga kalau kalung itu pemberian orang. Karena Melly tidak akan sanggup membelinya sendiri, Karena uang belanja yang diberikannya, tidak akan cukup untuk membeli kalung itu, sekalipun Melly akan bilang kalau itu uang simpanannya, Reno jelas tidak akan percaya.
"Gak penting mas ini dari mana, yang pasti ini bukan dari mas Reno. Karena mas Reno gak akan sanggup membelikan aku kalung sebagus dan semahal ini," jawab Melly, yang terdengar seakan menusuk telinga Reno.
"Jadi benar, ini dari seseorang. Siapa Mel? siapa orang itu? jangan-jangan yang dikatakan Wawan waktu itu benar, kalau kamu ada hubungan dengan laki-laki lain. Jawab aku Mel, siapa laki-laki itu, jawab Mel!" bentak Reno, sambil menggoncang-goncang tubuh Melly.
__ADS_1
"Apa sih mas, lepasin. Sakit tau," pinta Melly sambil berusaha melepaskan diri. Namun karena Reno memegang pundaknya dengan kuat, Melly tidak juga bisa melepaskan diri.
Saat situasi masih tegang, terdengar handphone Reno berbunyi. Reno pun terpaksa melepaskan Melly dan langsung mengecek handphonenya. Karena Reno takut itu telpon penting dari kantor dan benar saja, itu telpon dari atasannya, pak Wiraguna. Reno pun langsung mengangkat telpon dan langsung keluar kamar.
"Hedeh.. untung ada telpon, kamu benar-benar sudah gila mas," gerutu Melly sambil memegangi pundaknya yang masih terasa sakit.
Sementara itu diluar kamar, Reno tengah berbincang dengan atasannya itu.
"Selamat malam pak, ada apa ya pak?" tanya Reno yang sedikit tegang, takut kalau ada masalah di kantor yang tidak dia ketahui, karena hari ini dia cuti kerja.
"Malam Ren, gak ada apa-apa. Saya hanya ingin tau kabar kamu. Bagaimana? apa kamu sudah baikan?," tanya pak Wiraguna.
"Alhamdulillah pak, saya sudah baikan. Insyaallah besok sudah bisa masuk kantor," jawab Reno mantap.
"Syukurlah kalau sudah baikan, tapi sebaiknya kamu besok jangan masuk dulu, istirahat saja dulu di rumah, sampai keadaan kamu benar-benar membaik. Ya sudah, sampai ketemu di kantor ya," ucap pak Wiraguna, menutup telponnya.
"Baik pak, terimakasih banyak," jawab Reno.
Reno langsung menutup telponnya dan bergegas melangkah menuju ke kamar. Namun belum sempat dia membuka pintu kamarnya, lagi-lagi handphonenya berbunyi. Kali ini telpon dari sahabatnya, Wawan. Mau tidak mau dia harus mengangkat telpon sahabatnya itu dan menunda lagi membahas masalah kalung yang dipakai Melly. Karena, walaupun kelakuan Wawan sedikit menyimpang, namun dia sahabat terbaik Reno, yang selalu ada disaat susah maupun senang.
__ADS_1
"Ya, ada apa wan?" tanya Reno yang lalu kembali duduk di ruang tengah.
Mereka pun ngobrol sampai larut, padahal baru sehari mereka tidak bertemu, tapi seperti sudah seminggu. Banyak yang mereka bahas, mulai dari masalah kantor sampai masalah pribadi.