TERPAKSA KU PULANG MALAM

TERPAKSA KU PULANG MALAM
PART 26


__ADS_3

Hari ketiga Reno masuk kantor, dengan statusnya yang sudah tidak lagi menduda. Suasana baru, setiap pagi keluarga kecil itu berkumpul di ruang makan, menikmati sarapan pagi bersama. Wulan yang kini tidak lagi bekerja di kafe, karena Reno melarangnya dan mencarikan dua karyawan baru untuk bekerja di kafe, membuat waktu Wulan kini benar-benar hanya untuk keluarga. Jelas ini membuat Wulan sangat senang, karena dia bisa punya banyak waktu untuk menjaga dan merawat putra semata wayangnya Azam, serta bisa mengurus suami dan rumah sebaik mungkin.


Wulan juga merasa tenang, karena ada Wendi yang dia percayai untuk mengurus kafenya, yang sudah tidak diragukan lagi kejujuran, kinerja dan kesetiaannya.


"Mama sekarang gak kerja lagi ya?" tanya Azam sambil menikmati sarapannya.


"Enggak sayang, sekarang mama tiap hari temani Azam. Gimana? Azam seneng gak?"


"Hore..! seneng banget mama. Papa, terimakasih ya, karena papa udah bekerja gantiin mama, cariin duit buat mama dan Azam, kasih rumah bagus, sayang sama mama, sama Azam juga. Terimakasih ya papa," ucap Azam dengan polosnya.


"Iya sayang.. sama-sama. Papa juga terimakasih ya, Azam sudah jadi anak yang baik, penurut, sopan, sayang sama orang tua, rajin belajar. Papa sayang.. banget sama Azam, sama mama juga,"


"Terimakasih papa.. udah, sekarang Azam abisin makannya ya, udah tu kita berangkat sekolah," ucap Wulan.


Rutinitas Wulan kini ialah mengantar jemput Azam ke sekolah, Azam yang kini sudah masuk di bangku taman kanak-kanak, sangat senang karena sekarang mamanya yang langsung menemaninya berangkat ke sekolah.


"Ma, papa duluan ya. Buru-buru nih, soalnya hari ini ada meeting penting. Sebenarnya siang nanti meeting nya, tapi pak Wiraguna berpesan semua harus disiapkan sedari pagi. Agar jangan sampai ada kesalahan sedikitpun, karena tamunya kali ini orang yang sangat berpengaruh penting pada perusahaan," jelas Reno.


"Iya pa, hati-hati ya,"


"Iya ma, papa duluan ya sayang, jangan nakal di sekolah ya," ucap Reno sambil mencium putranya.


"Iya pa," jawab Azam.


"Sayang, mama antar papa ke depan dulu ya," ucap Wulan yang lalu membuntuti Reno.


Sampai di depan pintu, Wulan mencium tangan Reno.


"Hati-hati mas, semangat ya,"

__ADS_1


"Iya sayang," jawab Reno sambil mencium kedua pipi Wulan, keningnya dan yang terakhir bibir Wulan. Yang membuat Wulan tersenyum bahagia.


Wulan kemudian kembali kedalam dan bersiap-siap mengantarkan Azam ke sekolah.


"Sayang, udah selesai kan makannya. Kita berangkat ya,"


"Iya ma,"


"Sebentar, mama ambil tas dulu di kamar ya," ucap Wulan yang lalu pergi ke kamar.


Wulan lalu buru-buru mengambil tas nya, namun tiba-tiba matanya tertuju pada handphone Reno yang ada diatas meja rias.


"Mas Reno.. mas Reno.. pasti karena buru-buru nih, handphonenya sampai tertinggal. Nantilah setelah mengantar Azam aku anterin ke kantornya, handphone juga kan penting untuk mas Reno, sekalian mau liat juga ruang kerja mas Reno," ucap Wulan yang lalu keluar kamar.


Sesampainya di sekolah Azam, Wulan bertemu dengan teman-temannya, yang juga sedang mengantar anak mereka ke sekolah. Tidak bisa dihindari lagi, ketika mereka memanggil Wulan dan mengajaknya mengobrol. Wulan pun akhirnya terlibat obrolan seru dengan ibu-ibu yang lainnya di tempat khusus menunggu anak yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah. Saking asyiknya ngobrol, Wulan sampai terlupa dengan handphone Reno yang tertinggal.


"Duh, kok bisa sampai lupa sih aku," ucap Wulan, yang langsung mengencangkan laju mobilnya.


*


Sementara itu di kantor Reno, terlihat Melly sudah berada di depan pintu ruangan Reno. Setelah memaksa salah satu karyawan untuk memberi tahu ruangan Reno, dengan alasan ada keperluan yang sangat penting, akhirnya Melly pun bisa menemui Reno.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Melly langsung memasuki ruangan Reno, yang jelas membuat Reno sangat terkejut.


"Melly? kok kamu bisa ada di sini, ada perlu apa ya?" tanya Reno, yang hampir terperangah.


"Bisa dong mas, kenapa gak. Wah, jadi ini ruangan baru mas Reno setelah menjadi seorang manager. Hebat kamu mas, benar-benar hebat. Melly salut sama mas Reno, akhirnya mas Reno bisa punya jabatan lumayan tinggi di perusahaan ini. Selamat ya mas," ucap Melly dengan manisnya.


"Terimakasih, jadi ada perlu apa kamu ke sini Mel? aku sangat sibuk hari ini," tanya Reno.

__ADS_1


"Jadi begini mas.." Melly mulai berbicara sambil menangis, yang membuat Reno menjadi panik, lalu buru-buru mengambil tissue dan melangkah mendekati Melly.


"Loh Mel, kamu kenapa? tenanglah dulu, bicara pelan-pelan," ucap Reno sambil memberikan tissue pada Melly.


"Melly sangat menderita mas, Alex telah menipu Melly. Ternyata dia bukan orang kaya seperti yang Melly kira. Dia ternyata hanya seorang supir dan kini dia telah kehilangan pekerjaannya, sampai sekarang dia masih pengangguran. Hiks.. hiks.. Melly benar-benar menderita mas Reno, Melly menyesal telah meninggalkan mas Reno," ucap Melly, berusaha mendapatkan simpati dari Reno.


"Ya sudahlah, semua sudah terjadi. Jadikan ini pelajaran, agar kedepannya kamu tidak gegabah memutuskan segala sesuatu. Begini saja, bagaimana kalau sementara Alex belum mendapatkan pekerjaan, dia bekerja saja di sini sebagai OB. Karena hanya itu lowongan pekerjaan yang tersedia disini," ucap Reno, berusaha membantu kesusahan Melly.


"Terimakasih mas, nanti coba saya bicarakan sama Alex. Tapi jujur, Melly tidak yakin Alex mau bekerja seperti itu, dia pemalas, tidak seperti mas Reno seorang suami yang pekerja keras. Jujur, Melly sudah tidak tahan hidup bersama Alex, Melly benar-benar sangat menderita mas Reno. Hu..hu..hu.." tangis Melly semakin menjadi.


Reno pun semakin bingung, dia lalu mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Melly. Dia berharap, uang itu bisa meringankan sedikit beban hidup Melly.


"Gak usah mas, Melly tidak pantas menerimanya. Ini terlalu banyak," ucap Melly sekedar basa-basi.


"Tidak banyak Mel, terima ya. Bisa buat belanja kamu, saya hanya bisa bantu segini, tapi walau sedikit insyaallah berkah kalau kita bisa mensyukurinya,"


"Terimakasih banyak mas Reno, mas Reno masih perduli sama Melly, meski Melly sudah menyakiti dan mengecewakan mas Reno. Sekali lagi terimakasih banyak mas Reno," ucap Melly yang kemudian menerima uang pemberian Reno.


Tanpa Reno duga, Melly langsung memeluknya dengan erat. Reno yang merasa itu sesuatu yang tidak pantas dilakukan, langsung berusaha melepaskan pelukan Melly. Namun karena Melly sengaja memeluknya dengan erat, Reno sedikit kesulitan melepaskannya.


"Mel, apa-apaan ini. Lepaskan Mel, kita sudah bukan suami istri lagi, apa kamu lupa itu. Kita sudah sama-sama menikah, hargai pasangan kita masing-masing. Melly, lepaskan Mel," ucap Reno sambil terus berusaha melepaskan pelukan Melly.


"Aku tidak perduli mas dengan status kita, aku kangen sama kamu mas," ucap Melly yang semakin memeluk Reno dengan erat.


Tiba-tiba pintu ruangan Reno terbuka, datanglah Wulan yang akan memberikan handphone Reno yang tertinggal.


"Mas Reno.. Melly.." Wulan langsung terperangah melihat Reno berpelukan mesra dengan Melly, sampai dia tidak bisa lagi berkata-kata.


Reno yang terkejut dengan kedatangan Wulan, langsung mendorong tubuh Melly dengan kuat hingga pelukan Melly terlepas. Reno pun langsung berlari ke arah Wulan yang masih terdiam di dekat pintu.

__ADS_1


__ADS_2