
Hari pun sudah malam lagi Airra masih menunggu Rangga pulang tapi Rangga belom juga ada kamar dan pulang Airra sangat khawatir dengan Rangga dan di saat ini juga Airra menyadari berapa besar perasaannya kepada Rangga.
Begitu pun Rangga dia masih berada di apartemen dg lampu yg mati di hanya duduk di sudut kamarnya, sambil memikirkan kata kata devid yg menyuruhnya pulang dan menyelesaikan masalah
Rangga "oke aku akan pulang sekarng"
Rangga pun keluar dari apartemen dan langsung melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah dan sampai nya di rumah di bertemu dg nenek dan nenek mengajak Rangga ke kamar nenek sebentar untuk mengobrol
Nenek "sayang kamu kemana aja nenek dan Airra khawatir"
Rangga "Rangga cuman pergi buat nenangin diri nek"
Nenek "baik lah, sekarng kamu harus bicar dg istri mu selesai kan masalah kalian berdua nenek tau mungkin Airra membuat kesalahan yg besar sampai kmu bisa semarah ini tapi alangkah baiknya jika kalian mengobrol kan masalah ini agar bisa cepat selesai"
Rangga "iya nek mangknya Rangga pulang sekarng Rangga mau mendengar alasan Airra kenapa di melakukan itu dan Rangga akan berusaha menyelesaikan masalah ini dg pikiran tenang dan tidak terbawa emosi"
Nenek "baik lah sayang sekarng kamu temuin istri kmu ya dia menangis semalaman menunggu kamu" ucap nenek sambil tersenyum
Kemudian Rangga pun kekamarnya saat dia membuka pintu dia melihat Airra yg menangis dg menutupi nya dg selimut, sedangkan Airra saat mendengar pintu terbuka dia langsung membuka selimutnya
Airra "mas mas kamu udah pulang, mas aku mintak maaf mas"
Rangga pun cuman diam saja lalu di aduduk di kursi yg tidak jauh dari kasurnya
Airra "mas aku benar benar mintak maaf, aku punya alasan mas"
Rangga "silahkan kamu jelaskan" ucap Rangga dg ketus
Airra pun juga duduk di pinggir kasur
Airra "mas aku tidak punya maksut apa apa, tapi dulu waktu kita menikah sikap mu sangat dingin kepada ku membuat aku takut jika aku hamil dan kamu gak Nerima anak ini dan di saat itu juga kmu masih mencintai Nadia maka dari itu aku memutuskan untuk ke bidan untuk memintak obat kontrasepsi itu, aku tau mas aku salah untuk itu apa lagi aku tidak memberitau mu" jelas Airra sambil menangis
Rangga "ya aku ngerti jika itu alasan mu tapi aku merasa 2 bulanan ini kita dekat dan baik baik saja tapi kenapa kamu masih meminum obat itu dan kamu bahkan tidak bilang kepada ku"
Airra "iya mas aku tau aku salah tapi aku sudah berhenti meminum obat kontrasepsi itu selama seminggu dan berniat untuk memberitau mu tapi aku sedikit takut sampai akhirnya kamu tau dari orang lain"
Rangga pun mendekat ke Airra yg sedang menangis lalu dia memeluk Airra
__ADS_1
Rangga "baik lah kali ini aku akan memaafkan mu tapi kamu tetap harus di hukum untuk kesalahan itu"
Airra "iya mas aku siap menerima hukumannya asal kmu tidak perlu lagi"
Airra pun memeluk Rangga juga dia sangat lega karna suaminya itu sudah ada dirumh dan mau memaafkan nya
Airra "mas aku janji aku akan selalu bilang apa pun terjadi kepadaku"
Rangga "ya harus ya sudah aku mandi bentar untuk itu kita makan malam oke karna aku laper"
Airra pun mengangguk dan dia berinisiatif untuk memasak untuk suaminya sebagai tanpa permohonan maaf kepada suaminya itu, jadi saat Rangga mandi Airra turun kebawa untuk masuk.
Nenek yg lagi menonton tv pun tersenyum bahagia melihat Airra yg sudah tersenyum
Nenek "syukurlah sepertinya mereka sudah baikan" ucap nenek dalam hati
Airra "nek Airra mau masak nenek mau gak"
Nenek "enggak sayang nenek sudah makan".
Setelah Rangga selesai mandi dia pun mencari keberadaan istrinya
Rangga pun langsung memakai baju dan langsung turun kebawa untuk mencari istrinya dan saat dia lagi di anak tangga Rangga melihat ada nenek yg sedang menonton dan ada Airra yg sedang masak di dapur
Rangga "nek"
Nenek "iya sayang pasti kamu mencari istri mu kan itu dia lagi masak"
Rangga pun tersenyum setelah menyapa nenek Rangga pun berjalan ke arah dapur tanpa di sadari oleh Airra karna dia sedang pokus memasuk
Rangga " kamu lagi ngapin" ucap Rangga sambil memeluk Airra dari belakang
Airra "astaga, mas kamu bikin aku kaget aja ini aku lagi masuk untuk kamu mas disana ada nenek" ucap Airra kepad Rangga yg sedang memeluknya
Rangga "memang kenapa jika ada nenek apa kamu mau"
Airra pun mengangguk
__ADS_1
Rangga "nenek akan mengerti kita kok, apa perlu kita melakukan nya disini biar sekalian nenek lihat"
Airra "mas ah kamu sana kamu duduk sama temani nenek aku akan masak untuk kamu"
Rangga pun tersenyum melihat tingkah laku istrinya itu dan bahkan pipi Airra sampai memerah karna malu
Rangga "baik lah jika begitu sayang" ucap Rangga lalu mencium Airra
Airra "dasar dia apa dia gak malu ada nenek disana" ucap Airra dalam hati
Rangga pun duduk di ruang tv dia duduk di sebelah nenek terus tiba tiba Rangga memeluk nenek
Rangga "nenek Rangga kangen banget sama nenek yg bawel ini"
Nenek "tumben sekali, pasti ada maunya"
Rangga "enggak ada nek rangga cuman mau warisan saja"
Nenek "kamu ini ya dasar cucu kurang ajar, tidak perlu kamu mintak juga nenek akan memberikannya untuk mu, asal kamu memberiku cicit yang banyak"
Rangga "tenang aja nek Rangga akan pastikan nenek dapat cicit yg banyak oke, iya kan sayang" teriak Rangga kepada Airra
Airra "iya apa maksudnya" ucap Airra karna dia tidak tau apa yg di maksud suaminya itu
Nenek "Rangga bilang kalian akan membuat kan ku cicit yg banyak"
Airra pun tersenyum karena malu
Rangga "dia pasti malu nek"
Nenek "kamu ini iseng bangt, gimana perusahan kamu apa semuanya baik baik saja"
Rangga "ya tentu saja nek semuanya baik baik saja"
Nenek "kamu harus menjaga Airra dg baik ya"
Rangga "tentu nek, sudah lah nek jangan banyak ngomel nanti nenek kecapekan"
__ADS_1
Rangga memang seperti anak kecil jika sedang bersama neneknya itu karna dari dia kecil dia neneknya selalu memanjakan nya dan berbeda dg kakeknya kalok kakeknya tidak pernah memanjakan nya karna kakek adalah orang yg tegas dan disiplin.
Nenek juga sangat bahagia melihat cucu nya itu bahagia dan memiliki istri nya bisa mengimbangi nya, nenek juga menjodohkan mereka berdua selain karna Airra perempuan yg baik tapi juga nenek gak mau jika cucunya itu kesepian karna usianya sudah semakin tua dan dia sangat khawatir jika cucu satu satunya itu tidak bahagia.