Terpaksa Menjadi Ibu Susu

Terpaksa Menjadi Ibu Susu
episode 20


__ADS_3

~Seminggu kemudian ~


Ziva sudah terbiasa dengan tugas barunya yang setiap hari harus melayani suaminya, melayani yang maksudnya menyiapkan semua keperluan suaminya.


Jheseen pun sudah terbiasa dilayani oleh istrinya sendiri, bahkan kerap kali Jheseen meninggalkan berkas-berkas nya di ruang kerjanya dan Ziva lah yang dipinta untuk menghantarkan ke kantornya.


Sekarang Ziva juga sudah pergi keluar untuk belanja sendiri, Jheseen memang menyuruhnya untuk tidak menyuruh bibik Meti lagi untuk belanja, dengan alasan agar Ziva terbiasa dan tidak manja.


Semua Ziva kerjakan sesuai dengan perintah suaminya tanpa ada kata mengeluh sedikitpun.


Sejak kepulangan Glen ke Amerika Ziva akui dia sangat kesepian tinggal di rumah itu, namun apa boleh buat, Ziva tetaplah Ziva yang harus menjalani hidupnya yang seperti itu.


Dikantor Jheseen


Saat ini Jheseen sangat pusing karena Minggu ini akan ada rekan kerja nya yang mengadakan pesta pernikahan, tentunya Jheseen sebagai CEO yang terkenal di daerahnya itu diundang untuk ikut menghadiri pesta itu.


Tapi yang membuat Jheseen pusing tujuh keliling saat ini adalah, bagaimana cara mengajak Ziva untuk ikut ke pesta itu.

__ADS_1


Sebenarnya bisa saja Jheseen pergi sendiri, akan tetapi pemilik pesta sudah mengundang Jheseen dan ikut serta dengan istrinya, ya memang sebahagian dari rekan kerja nya Jheseen ada yang mengetahui pernikahan nya waktu itu dengan Ziva.


Apalagi yang mengundangnya saat ini adalah rekan kerjanya yang sangat dekat, bisa dibilang sahabat dari papanya, jadi mau tak mau Jheseen harus pergi ke pesta itu bersama dengan istrinya.


"Besok kau carikan saja MUA yang terbaik di kota ini langsung bawa mereka ke rumahku", ucap Jheseen pada sekertarisnya Pey


"Lalu diapakan mereka tuan?", tanya Pey dengan polosnya


"Apa kau sudah belajar bodoh sekarang? Tentu saja untuk merubah penampilan wanita itu", ucap Jheseen dengan nada suara tinggi


"Baik tuan, besok saya akan carikan", jawab Pey lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


"Siap tuan", jawab Pey lagi dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"Satu lagi, jangan lupa juga membawakan beberapa sepatu yang bagus juga, pasti wanita itu juga tidak punya sepatu yang bagus", perintah Jheseen lagi.


"Tidak sekalian saja tuan suruh aku membawakan perlengkapan dalaman nona muda tuan", ucap Pey di dalam hatinya seraya menatap kearah Jheseen.

__ADS_1


"kenapa hanya menatapku? Apa kau dengar apa yang barusan kukatakan?", tanya Jheseen yang hampir dilanda emosional.


"Tentu saja saya dengar tuan, hanya saja saya sedang memikirkan sepatu nona muda ukuran berapa?", tanya Pey asal, untung otaknya cepat berjalan untuk memikirkan pertanyaan yang memang harus ditanyakan.


Sekarang giliran Jheseen kembali berpikir, benar juga ukuran baju sampai sepatu wanita itu tidak ada yang Jheseen tau.


"Nanti akan kutanyakan padanya", jawab Jheseen lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangannya.


"Tuan mau kemana?", tanya Pey seraya ikut berdiri


"Pulang", jawab Jheseen singkat


"Tapi kenapa tiba-tiba tuan?", tanya Pey masih bertanya-tanya


"Untuk menanyakan ukuran sepatu wanita itu", jawab Jheseen, yang mampu membuat Pey terdiam dengan jawaban tuannya itu.


"Kenapa sampai sebegitunya?", gumam Pey sangat pelan sampai Jheseen tak dapat mendengarnya.

__ADS_1


"


__ADS_2