
***dikamar jhessen***
"permisi tuan", ucap ziva seraya mengetuk pintu kamar jhessen
"kau masuk saja!", jawab jhessen dari dalam sana
ziva mulai memasuki kamar suaminya dan mungkin itu akan menjadi kamar mereka nantinya.
"apa kau senang dengan pernikahan ini?", tanya jhessen tanpa melihat kearah ziva
"tuan,,, saya,,,"
"jawab saja sesuai yang kau rasakan", ucap jhessen lagi
"tuan, saya tau pernikahan ini tidak dilandasi oleh cinta diantara kita dan saya tau kita berdua tidak pantas untuk bersama",
"lalu?", saut jhessen lagi
"saya tidak tau pasti tuan, tapi saya akan mengikuti apa pun yang tuan inginkan", jawab ziva lagi sudah pasrah dengan apapun keputusan jhessen nantinya
"apa sebenarnya yang kau rencanakan? dan siapa kau?", tanya jhessen dan mulai menatap kearah ziva
__ADS_1
"tuan, maafkan saya yang sangat lancang masuk kedalam kehidupan tuan. Tapi saya benar-benar tidak untuk berniat jahat tuan, sungguh",
"aku masih tidak mengerti dengan dirimu ini, entah kau ingin berniat jahat aku tidak tau. Tapi ingatlah satu hal, tidak akan kubiarkan kau berbuat macam-macam dirumahku ini!", ujar jhessen menekan perkataannya
lalu jhessen berjalan kearah meja nakas dan mengambil sebuah kertas dari dalam laci lalu dia melemparkan kearah dimana ziva berdiri
"kau baca lalu cepat kau tanda tangan!",
"apa ini tuan?", tanya ziva dengan polosnya
"kau bisa membuka sendiri bukan!?", ucap jhessen dengan menatap ziva sangat tajam
***surat perjanjian pernikahan***
"tuan, tanpa surat perjanjian ini pun aku bisa menerima apapun perintah tuan dan untuk poin yang terakhir, aku juga mengerti pernikahan ini tidak akan mungkin bertahan lama dan aku terima semua itu",
"aku tidak menyuruhmu untuk berkomentar! sekarang cepat tanda tangan surat itu!", jawab jhessen lagi-lagi tidak melihat kearah ziva
tanpa berpikir panjang akhirnya ziva menanda tangani surat itu dan kembali memberikan kepada jhessen
"dan ingat lah! aku tidak ingin kau ikut campur atas apapun yang kulakukan! tidak perlu kau bersikap seperti istri pada umumnya, karena aku tidak butuh itu",
__ADS_1
"baiklah tuan", jawab ziva singkat lalu segera pergi keluar dari kamar suaminya itu
akan tetapi belum juga ziva membuka hendel pintu itu, jhessen kembali memanggilnya dan menghentikan langkah ziva saat itu juga.
"ada satu lagi yang perlu kau ketahui", ucap jhessen sambil berjalan kearah ziva
"kau tidak kuizinkan sembarangan keluar masuk ke kamar ini!",
"apa kau mengerti?", tanya jhessen saat tidak mendapat sautan dari istrinya
"saya mengerti tuan, kalau begitu saya permisi", ucap ziva dan kembali ingin membuka pintu kamar itu lagi. Namun lagi-lagi jhessen kembali menghentikannya
"aku ingin bertanya satu hal padamu, dan kuharap kau menjawab ini dengan jujur!", ucap jhessen seraya mendekatkan wajahnya pada wajah ziva
"me-memangnya apa yang ingin tuan tanyakan?", tanya ziva dengan gugup
"kenapa kau ingin menjadi ibu susu sedangkan kau tidak punya asi disini?", ucap jhessen sambil menunjuk kearah buah dada istri kecilnya itu
"tuan",
"jawab dengan jujur! aku ingin dengar dari bibirmu ini", ucap jhessen dan lagi-lagi menyentuh bibir mungil istrinya
belum sempat ziva menjawab pertanyaan suaminya, tiba-tiba suara meti memanggilnya dari luar agar dia segera melihat carson yang sekarang sudah menjadi putranya juga.
__ADS_1
"*huh,,,untung saja buk meti datang*", batin ziva mengelus dadanya