TERPIKAT DOSEN KU

TERPIKAT DOSEN KU
KELUAR


__ADS_3

Kini setelah pintu kamar ditutup, sekarang Rio dan Tina benar-benar hanya berdua di kamar yang tidak ada satu pun terdapat halangan yang akan mengganggu aktivitas mereka.


Rio dan Tina sedang berdiri berhadapan sekarang, Rio hanya memandangi Tina yang begitu seksi dan terbuka pakaiannya yang ia kenakan sekarang namun bertolak belakang sekali dengan pakainnya yang berbuka, sikap Tina malah terlihat begitu tertutup yang hanya bisa membisu tanpa suara sambil menundukan kepalanya tidak berani melihat ke arah Rio.


“kenapa kamu haya diam saja”, tanya Rio.


“Ti... Tina tidak tau harus bicara apa Pak sekarang Pak”, jawab Tina dengan suara yang kecil.


“jadi kalau kamu tidak tau mau bicara apa, kenapa kamu mengajak bapak kesini?”, ucap Rio.


“bu... bukan begitu Pak, Tina benar-benar gugup sekarang jadi Tina tidak tau harus bersikap seperti apa karena ini baru pertama kali Tina berada dikamar berdua dengan laki-laki”, balas Tina dengan masih menunduk.


Mendengar perkataan dari Tina itu membuat Rio tersenyum, “Tina.. kamu angkat kepala mu sebentar lihat bapak sebentar”


Tina pun dengan malu-malu dan grogi mengangkat kepalanya membalas tatapan Rio. Kini mereka saling bertatapan dan Rio kembali berkata, “Tina... sekarang kamu dengarkan bapak”


“hmmm iya”, jawab Tina pendek.


“Tina... kamu itu perempuan yang baik dan bapak tidak mungkin menyakiti orang yang baik”, ujar Rio.


“ma.... maksud bapak? Tina tidak paham”, balas Tina yang mempertanyakan maksud dari perkataan Rio barusan.


“ya maksud bapak kamu itu perempuan baik-baik dan bapak tidak mungkin menyakiti kamu dengan cara menyentuh kamu. Kamu mengerti kan maksud bapak?”, Rio menjelaskan.


“tidak pak... Tina tau bapak adalah orang baik, Tina tidak mungkin menyukai bapak kalau Tina tau bapak bukan orang baik..Tina tidak pernah merasa kalau bapak akan meyakiti Tina”, ungkap Tina.


Mendengar jawaban Tina itu membuat Rio tertawa kecil yang membuat Tina heran, “kenapa bapak tertawa”, tanya Tina.


Kemudian dengan tawa kecil dan tersenyum Rio tidak membalas pertanyaan Rio malah tangan Rio memegang kepala bagian atas Tina sambil mengacak-acak rambut Tina dan berkata, “Tina... Tina... kamu itu masih belum dewasa, kamu tidak boleh berkata seperti itu... kamu tidak boleh percaya dengan semua laki-laki kecuali orang tua mu. Laki-laki itu semua tidak baik termasuk bapak”


“ha?”, Tina terkejut mendengar ucapan Rio.


“iya... yang bapak katakan itu benar kalau semua laki-laki itu tidak baik. Jadi kamu jangan mudah percaya termasuk dengan bapak”, ujar Rio dengan sambil tersenyum.


“kenapa bapak mengatakan ini semua dengan Tina?”, ucap Tina.

__ADS_1


“bapak mengatakan ini semua agar Tina tau kalau bapak ini tidak seperti apa yang Tina pikirkan”, jawab Rio.


Tina pun terdiam sejenak mendengar perkataan dari Rio lalu Tina pun kembali bertanya, “hmmmm, kalau begitu boleh kah Tina bertanya”


“silahkan... apa yang ingin kamu tanyakan”, ucap Rio mengizinkan.


“Apa bapak sudah punya seseorang yang bapak sukai?”, tanya Tina.


Mendengar pertanyaan dari Tina itu pun Rio hanya tersenyum.


“kenapa bapak hanya tersenyum?”, telisik Tina yang tidak puas karena belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


“bapak pernah memiliki orang yang bapak sukai”, jawab Rio.


“pernah?” balas Rio.


“sekarang ini yang bapak inginkan kalau bisa untuk waktu dimundurkan”, ujar dengan Rio dengan penuh misteri.


“maksudnya pak?”, kejar Tina menanyai.


“ma... maaf pak”, ucap Tina dengan sambil menunduk.


“haaaaaa begini saja, bapak tidak terima ucapan maaf. Bagaimana setelah ini semua kita makan dulu”, ucap Rio.


“makan?”, ujar Tina sambil terheran-heran.


“iya makan... memang kenapa? Bapak lagi sangat lapar sekarang”, jawab Rio sambil tertawa kecil.


Tina pun hanya kebingungan tidak mengerti dengan jalan pikiran dosen nya itu sampai-sampai ia lupa dengan apa tujuan nya datang ke hotel itu.


Rio pun hanya tersenyum melihat kebingguan Tina, karena semua itu memang Rio sengaja untuk mengalihkan pembicaraan mereka di kamar hotel itu, agar mereka bisa keluar dari hotel itu sebelum terjadi fitnah lebih jauh karena Rio tak menginginkan hal itu terjadi.


“ayo... kenapa berdiri saja”, ujar Rio sambil keluar kamar meninggalkan Tina.


Tina pun bak sapi di colok hidungnya langsung mengikuti Rio dibelakangnya, “aku kenapa sih? Kok jadi gini malah” Tina pun tertawa geli baru tersadar bahwa kini mereka malah mau makan bukan bergulat di ranjang hotel.

__ADS_1


Rio yang melihat Tina tertawa kecil dibelakangnya itu pun bertanya, “ada yang lucu?”, tanya Rio.


“heehe nggak apa-apa Pak, Tina Cuma lucu aja dengan hari ini”, balas Tina dengan senyum-senyum.


“oh jadi menurut kamu lucu ya kalau bapak kelaparan? Iya? Kalau asam lambung bapak naik kamu pikir lucu ya?”, ujar Rio dengan raut yang sagak serius.


“ma... maaf pak bukan begitu maksud Tina”, jawab Tina..


“hahaha bapak Cuma bercanda kamu kok seperti ketakutan sekali”, balas Rio dengan diikuti tawa.


“heheh ia pak... pak ini kita mau kemana?”, tanya Tina.


“kita ke.....”, belum sempat Rio melengkapi kalimatnya ia teringat bahwa ia tidak membawa mobil sekarang.


“kenapa pak?”, tanya Tina.


“bapak lupa kalau bapak kesini tadi di antar jadi sekarang bapak tidak bawa mobil”, balas Rio.


“hmmm yaudah naik mobil ku aja. Tapi..”, ujar Tina..


“tapi apa?”, cecar Rio.


“tapi aku yang pilih tempatnya”, ucap Tina.


“hmmm oke juga”, setuju Rio tanpa curiga.


.


.


.


BERSAMBUNG....


#terimakasih telah setia menunggu & membaca 🤗

__ADS_1


#untuk kelanjutan ceritanya sampai berjumpa lagi di bab berikut nya ya 😍


__ADS_2