
Berselang tiga hari setelah Dayuni sempat pingsan hingga menghebohkan tetangganya, dan selama itu pula telah terlarang ladang untuk ia datangi. Tentunya larangan keras itu diberikan Nenek Nuri. Tanpa bisa di negosiasi, tanpa bisa dibantah sama sekali.
Bersungut-sungut kesal setengah mati, akhirnya Dayuni pasrah saja kalau dirinya harus tinggal di rumah, sambil membantu Bu Rapidah membuat kue. Setidaknya tidak ada sengatan matahari kalau kata Nenek Nuri.
Menurut Dayuni, Neneknya terlalu berlebihan. Padahal, sekarang pun ia masih mampu menggarap sawah menggunakan tenaga supernya, bukan malah membayar orang lain untuk memanen padi mereka. Maka, dengan begitu berkuranglah jatah.
"Berbagi rezeki dengan sesama. Kamu, jangan sombong!" kata Nenek Nuri waktu itu, ketika Dayuni bersikeras ikut membantu kembali.
Dengan bala bantuan Inu dan Bu Rapidah, akhirnya Dayuni mengalah.
Seharusnya yang khawatir pada sang Nenek yang sudah tua, bukan malah sebaliknya. Sepemalas apapun Dayuni, ia tetap saja merasa bersalah kalau membiarkan Nenek Nuri di tengah sawah seorang diri.
**
150 biji putu ayu dan 150 biji lumpia rebung sudah selesai dibungkus. Dayuni kemudian memasukkan semua kue itu ke dalam dua wadah besar.
"Yu, es kopyor sudah ada yang jemput di depan."
"Oh iya, Bu. Ini sebentar dulu."
Hari ini, Pak Camat beserta rombongan telah tiba di kampung mereka. Tepatnya sekarang sedang berada di kantor kelurahan. Kue dan es yang dipesan Pak Lurah kemarin, sudah disiapkan Bu Rapidah dan Dayuni.
Sebenarnya Pak Lurah juga memesan katering, tapi Bu Rapidah tidak menyanggupi, karena keterbatasan tenaga. Jadi urusan makan, di serahkan pada salah satu tetangga mereka.
"Ini, hati-hati bawanya." Dayuni menyerahkan 2 keranjang es kopyor yang telah di tempatkan dalam cup supaya tidak tumpah lagi. Menyerahkan pada dua orang utusan dari keluarahan untuk mengambilnya.
Setelah selesai memberikan es kopyor, Dayuni mengambil kue dalam wadah besar yang tadi ia taruh, untuk diantar sendiri olehnya ke kantor Lurah. Bu Rapidah turut serta, sekaligus ikut menghadiri acara kunjungan Pak Camat mereka.
Sesampainya di tempat, Bu Rapidah langsung masuk ke ruang pertemuan yang khusus dibuat untuk berbagai macam acara di kampung mereka. Sedangkan Dayuni sibuk menyusul dua orang tadi di meja prasmanan. Membantu membereskan makanan kecil. Semua terlihat repot dengan masing-masing tugas.
Setelah selesai menyusun, Dayuni mulai celingukan mencari keberadaan seseorang yang sedari tadi pagi belum ia temui.
Pasti lelaki itu sibuk sekali, pikirnya.
__ADS_1
Karena menjadi seorang Sekretaris Lurah, tanggung jawab yang dipegang Inu cukup besar, dan tugas yang di emban pun bukan main-main.
Satu persatu petugas kelurahan berdatangan menuju stand makanan, juga tamu-tamu yang memiliki jabatan cukup penting di kampung mereka.
Sepertinya pembicaraan telah usai, atau bisa jadi sedang istirahat makan siang. Karena sosok Pak Camat beserta rombongan, juga dengan Pak Lurah telah keluar dari ruang pertemuan.
Barulah Dayuni bisa melihat lelaki pujaannya berjalan berdampingan dengan Pak Lurah dan ...
Seketika Dayuni menggerung kesal. Wanita disebelah Inu terlihat tertawa luwes. Beberapa kali berbicara pada Ayahnya, kemudian pada Inu lagi. Keduanya tertawa, seakan ada hal paling menakjubkan yang tengah mereka bicarakan.
Dayuni yakin ia tidak sedang cemburu. Bagian yang berdenyut di ulu hatinya mungkin hanya efek belum makan siang saja.
Benar. Pasti karena belum makan.
"Eh, ada Dayu juga. Sudah lama, Yu?" Leni menghampiri stand tempat makanan kecil tersedia setelah melihat keberadaan Dayuni. Inu pun masih berjalan berdampingan dengan Leni yang hari ini terlihat cantik mengenakan pakaian dinas-nya yang dipadukan dengan jilbab berwarna maroon. Wajah putih bersih Leni terlihat bercahaya dengan sentuhan sedikit blush on di pipinya, ditambah lagi polesan lipstick berwarna pink nude.
Ah, sempurna sekali.
"Iya. Silakan, Kakak mau kue apa?" Sebisa mungkin Dayuni menggerakkan bibirnya untuk memberikan senyuman. Walau sedikit kaku, karena ia berusaha mengendalikan diri mati-matian.
Meraih satu piring kecil yang telah di sediakan, Leni mengambil tiga biji lumpia dan satu biji putu ayu.
"Ini, kita bagi saja, Mas." Leni menunjukkan piring kecil itu di hadapan Inu, lantas sedikit menggamit tangan lelaki itu. "Ayo, Mas, duduk di sana saja!"
Dayuni tidak cemburu, kok. Dayuni juga tidak sakit hati. Dayuni wanita tegar dan kebal.
Ini, kenapa mata sialannya ber-air, sih?!
**
"Yu, makan dulu. Dari tadi siang kamu belum makan. Nanti sakit." Suara Bu Rapidah sudah terdengar kesekian kalinya. Tapi Dayuni tetap bungkam. Hanya gelengan kepala sebagai jawaban, tanda bahwa ia belum berubah pikiran sejak tadi.
Dayuni lelah. Jujur saja, membuat kue sedari pagi bukanlah hal yang mudah. Benar-benar jiwa raganya merasakan letih tiada terhingga, sampai denyut di jantungnya juga sedikit menyesakkan dada.
__ADS_1
Dan Dayuni tetap meyakini, bahwa itu semua penyebabnya maagh yang terlanjur kambuh karena lambungnya hanya diisi makanan tadi pagi saja. Sedangkan ini ...
Dayuni melirik jam dinding di ruang tengah itu, jarum pendek yang hampir menyentuh angka 4.
"Makan ya, Yu. Ibu mau ke warung Bu Ijah sebentar."
Sepeninggal Bu Rapidah, Dayuni merebahkan diri, menelungkup. Membenamkan wajahnya pada bantal sofa yang tadi ia peluk.
Ada apa dengan dirinya? Benarkah alasan maagh itu cukup untuk membohongi diri sendiri, atau bagaimana? Dayuni tidak paham. Ia terlalu sulit berpikir. Moodnya benar-benar diambang batas kehancuran.
Saking terlena dalam renungan panjangnya, tanpa Dayuni sadari kalau Inu sudah kembali. Langsung berjongkok di dekatnya, memperhatikan dengan saksama.
"Ay ... kamu tidur? Capek lagi?"
Tanpa jawaban, membuat Inu menyentuh rambut Dayuni, yang segera ditepas kasar.
Gadis itu menukas duduk, menatap Inu dengan sorot terhunus siap menghabisi.
"Ay? Kamu nangis?
Benarkah?
Dayuni refleks menyentuh matanya. Kemudian terkejut. Segera ia berdiri, tak lupa meraih ponsel yang tergeletak dekat ia berbaring tadi.
"Tolong bilang ke Ibu, aku pulang!"
Dayuni bergegas, meninggalkan sumber dari segala penyebab anjlok moodnya hari ini.
Dasar pembohong!
Dasar tukang tebar pesona!
Dasar lelaki pemberi harapan hampa!
__ADS_1
Dayuni mempercepat langkahnya. Namun, diambang pintu, tangannya dicekal. Tubuhnya dibalik dengan sentakan kuat. Sehingga kepalanya membentur dada bidang Inu tanpa sengaja.
"Bicara, Ay! Jangan melarikan diri terus!"