
Malam cukup gelap, rasa lelah juga menyelimuti tubuh mungilnya. Saatnya rebahan di atas kasur, setelah seharian bekerja dan pulang malam karena ada acara makan malam bersama, sungguh lelah malam ini tapi aku selalu berharap rasa lelah ini akan menjadi keberkahan dalam hidupku.
"Hari ini sangat lelah, tapi aku merasa hidupku jauh lebih berguna daripada aku hanya duduk dan makan enak saja," katanya pada diri sendiri.
Saat rasa kantuk menggelayuti kedua mata lentiknya, Yona pun memejamkan kedua matanya tanpa mandi terlebih dahulu.
Terlelaplah sang gadis cantik ini dalam tidurnya yang cantik.
***
Pagi telah datang ya seperti biasanya Yona mandi, Siap-siap untuk berangkat kerja, lalu sarapan lebih dulu.
Yona melangkahkan kakinya ke depan rumahnya, saat ia sudah keluar dari rumah dan sudah kembali mengunci pintu rumahnya, Yona melihat ke arah rumahnya Elis dan helaan nafasnya langsung kasar saat melihat pemandangan yang tidak di inginkan ini.
"El, aku numpang mobil kamu ya," kata Rehan pada Elis buru-buru.
"Memangnya mobilnya kamu kenapa?" tanya Elis sambil mengunci pintu rumahnya.
"Mobilku ban nya bocor. Jika aku naik kendaraan umum, aku bisa terlambat karena harus menunggu dan itu pasti akan lama," ujar Rehan mulai panik saat jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi dan masuk kantor harus jam setengah 8 sudah di kantor.
"El, ayo berangkat!" ajak Yona tiba-tiba.
Elis menatap Yona, lalu mengarahkan kembali pandangannya ke Rehan.
"Sudah ayolah kita berangkat bersama!" ajak Elis pada kedua manusia yang selalu bertengkar tidak ada habisnya itu.
Yona dan Rehan saling melempar tatapan seolah-olah mengajak perang, tatapan Yona sangat sengit pada Rehan.
Yona membuka pintu depan, Rehan juga melakukan hal yang sama. Kini tangan keduanya sama-sama berada di gagang pintu.
"Aku yang duduk di depan!" seru Yona dengan tatapan tajam.
"Aku yang di depan! Kamu di belakang sana!" titah Rehan tidak mau mengalah.
Elis sungguh pusing di buat oleh kedua manusia yang selalu bertengkar ini. Entah kapan mereka akan akur?
"Sudah-sudah! Rehan, kamu yang menyetir saja! Yona, ayo kamu duduk di belakang denganku," ujar Elin pada Rehan dan Yona, pusing daripada ribut mulu tak ada habisnya.
__ADS_1
Pada akhirnya Yona dan Elin duduk di jok belakang sedangkan Rehan yang menyetir mobilnya, tapi ada benar juga sih Rehan kan laki-laki jadi ya wajar kalau dia yang menyetir.
Dengan raut wajah yang tidak bahagia Rehan pun menuruti Elin, ia menyetir mobil. Yona dan Elis juga sudah duduk di dalam mobil.
Lagi-lagi dengan perasaan kesal Rehan menyalakan mesin mobil, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi membuat Yona dan Elis sangat kesal.
"Ehh cecunguk, kamu mau buat kita umur pendek. Jangan kencang-kencang bawa mobilnya bodoh!" oceh Elis, geram sekali pada Reha, kesalnya kan sama Yona tapi aku jadi kena.
"Tahu dasar dedemit satu ini, kalau kamu mau mati sendirian saja! Jangan ngajak-ngajak," ujar Yona dengan nada agak tinggi.
Rehan terus menyetir dengan fokus tanpa mendengarkan ocehan Elis dan Yona karena Rehan sendiri takut terlambat sampai di kantor dan takut di potong gaji.
***
Setelah menempuh perjalanan beberapa lama akhirnya sampailah di kantor Rehan. Setelah Rehan turun, Elis mengantikan Rehan menyetir mobilnya.
Kini Elis dan Yona juga sudah sampai di kantor mereka setelah menempuh perjalanan beberapa lama.
Mereka langsung di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
***
Ambar dan Shinmin cukup terkejut saat melihat taman lamanya ini tiba-tiba datang ke rumahnya. Entah, sudah berapa tahun kami tidak bertemu dan tentunya sangat kasian
Dan kedatangan tamu ini ke rumahnya, mereka ingin menjodohkan putra mereka dengan Yona yang tidak lain adalah putri dari Ambar dan Shinmin.
"Ambar, Shin, langsung saja aku bicara pada intinya ya, maksud kedatangan kami sekeluarga datang ke rumahmu karena ini melamar Yona untuk Rayan yang tidak lain adalah putra dari kami," ujar Erik yang tidak lain adalah Papanya Rayan.
"Iya Jeng Ambar, Rayan sangat tampan dan Yona juga sangat cantik terlebih kita dari keluarga yang sepadan, bukankah akan sangat bagus jika kita besanan nanti," timpal Nita dengan semangat.
Sudah dari lama Erik dan Nita menginginkan perjodohan ini, terlebih lagi perusahaan keluarga Li yang sangat besar dan menjadi no 1 di kota ini. Para pebisnis lain juga banyak yang menawarkan putra-putra mereka untuk di jodohkan dengan Yona tapi Shinmin dan Ambar belum ada yang cocok dan saat itu Yona juga masih terlalu muda untuk menerima sebuah perjodohan, tapi kalau sekarang sudah cukup umur dan sudah bisa untuk menikah.
"Kami sebagai orang tuanya Yona sangat senang dengan maksud dan tujuan kedatangan kalian sekeluarga, tapi kembali lagi hanya Yona yang bisa menjawab semua ini. Kami tidak berani untuk memutuskan hal sepenting ini," jawab Shimin sebagai Papanya Yona.
"Oh iya, Yona nya ada tidak?" tanya Erik pada Shinmin.
"Yona tidak di rumah, dia sudah pindah dari rumah ini karena kami mengusirnya, dia juga sudah kami keluarkan dari KK," jawab Shimin dengan ekpresi serius, membuat Ambar menatapnya berapi-api. "Apa yang Papa katakan ini?" batin Ambar dalam hati, sangat marah sekali dalam hatinya.
__ADS_1
"Papa, apa...?"
"Yona itu terlalu bandel jadi anak, dia tidak pantas untuk mendapatkan harta warisan dari keluarga Li, " lanjut Shinmin langsung memotong kata-katanya sang istri.
Ambar semakin kesal di buatnya, Papa ini ngomong apa sih? Yona! Sejak kapan Yona menjadi anak bandel, perasaan Yona tidak pernah macam-macam. Anak di lamar sama laki-laki kok malah Papa seperti ini, Apa Papa tidak mau kalau Yona itu cepat-cepat menikah? Apa Papa berharap Yona menjadi prawan tua.
"Oh seperti itu," sahut Erik yang tadinya begitu semangat kini semangatnya itu hilang begitu saja.
"Iya Rik, apa kamu masih mau menjodohkan Rayan dengan Yona?" tanya Shimin tanpa basa-basi.
"Emm, akan aku pikirkan dulu. Oh iya kami pamit ya, soalnya masih ada urusan," kata Erik pada Shimin dan Ambar.
Nita juga menganggukkan kata-kata suaminya, lalu satu keluarga itu pun langsung berlalu pergi dari rumahnya Ambar dan Shimin.
Setelah tamunya pergi, Ambar menajamkan tatapannya pada suaminya, terlihat jelas Ambar itu sangat marah padanya.
"Papa, kenapa Papa bicara seperti itu? Lihat mereka jadi pergi kan, keluarga Nita itu sangat baik Pa, Yona akan sangat beruntung jika bisa menjadi menantu mereka," ujar Ambar marah-marah pada suaminya.
"Mama, mereka itu hanya mengincar harta saja. Buktinya saat Papa bilang Yona sudah di keluarkan dari KK, mereka langsung pergi. Itu tandanya mereka hanya menginginkan harta," pungkas Shimin dengan santainya.
Aku tahu niat mereka dari awal, makanya aku coba mengetesnya dan pada akhirnya keluarga Erik pergi begitu saja, coba kalau mereka tahu Yona sebenarnya tidak di keluarkan dari KK pasti mati-matian meminta perjodohan ini agar segera di langsungkan.
***
Sesampainya di rumah, keluarga Erik tampak kesal dan mereka langsung duduk di sofa dengan kasar.
"Rayan, Papa tidak mau kalau kamu dengan Yona. Apalagi dengan status Yona yang sudah di keluar kan dari KK keluarga Li, yakinlah kamu tidak akan dapat apa-apa," ujar Erik pada Rayan.
Rayan mengangguk ia setuju dengan Papanya lagian tujuan dirinya menikahi Yona kan untuk harta, agar perusahaannya menjadi lebih besar.
"Iya Pak, Mama juga tidak mau," kata Nita dengan mantap.
Dasar keluarga mata duitan semuanya, beruntung Shinmin Papanya Yona itu orangnya pintar dan tidak terburu-buru menerima lamaran dari keluarga Erik, coba kalau tadi langsung di iyakan pasti Yona tidak akan bahagia.
Erik dan Rayan otaknya sama saja hanya ada uang dan uang saja.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih Para Pembaca Setia