
Di kediaman kedua orang tuanya Yona. Ambar dan suaminya sedang duduk berdua sambil menonton televisi, mereka menonton film drama kesukaan mereka.
Sambil menikmati teh dan cemilan yang ada di atas meja, sungguh masa tua yang sangat bahagia hanya saja kurang menantu dan tangisan seorang cucu yang selama ini Ambar dan Shimin inginkan.
"Rumah terasa sepi ya Pi," keluh Ambar saat sadar hanya ada dia dan suaminya saja di rumah.
Yona sudah tinggal di rumah sendiri, setelah menikah dia juga pasti akan tinggal bersama dengan suaminya. Andai saja Yona dan suaminya kelak memilih tinggal di rumah ini, pasti aku akan sangat bahagia sekali. Rumah ini pasti akan rame dan tangisan cucu-cucuku nanti akan terdengar setiap hari, jadi ingat saat Yona masih bayi dulu, aku sangat senang sekali saat mendapatkan anak secantik Yona.
Mungkin jika Tuhan memberikan aku anak yang banyak di masa lalu, aku pasti akan jauh lebih bahagia. Tapi takdir berkata lain karena rahimku dulu harus di angkat setelah melahirkan Yona. Tapi aku bersyukur biarpun hanya punya satu anak, itulah alasannya mengapa aku sangat memanjakan Yona, karena Yona adalah anak satu-satunya dan aku tidak akan bisa lagi hamil karena rahimku telah di angkat.
Mungkin bagi Yona aku sebagai Maminya ini sangat berlebihan ketika memanjakannya, tapi aku tidak apa-apa. Sampai kapanpun Yona akan selalu ku anggap sebagai bayi yang lucu bagiku, namun jika suatu saat Yona melahirkan seorang cucu, maka aku akan selalu memanjakan cucuku dan menyayangi cucuku semasa hidupku.
"Iya Mi, tapi tidak apa-apa Mi. Kan saat kita tua memang hanya tinggal kita berdua, karena anak kita pasti akan menikah dan mempunyai kehidupan sendiri Mi," ujar Shinmin, ia memeluk Ambar lalu mencium keningnya dengan lembut.
Ambar tiba-tiba menangis entah karena sedih atau bahagia, tapi Shinmin tahu istrinya menangis karena mengingat masa lalu.
__ADS_1
"Mi, Yona akan segera menikah. Kita juga akan segera punya cucu," hibur Shinmin sambil melepaskan pelukannya.
Shinmin menghapus air mata yang sudah membasahi kedua pipi istrinya itu, membuat Ambar tersenyum kecil karena bahagia punya suami seperti Shinmin yang sangat menyayangi dirinya.
***
Di saat kedua orang tuanya sedang mengenang masa lalu mereka. Di sisi lain Yona masih ada di rumahnya calon mertuanya.
Di tengah-tengah keluarga Rehan, Yona di perlakukan sangat baik dan penuh kehangatan, bahkan Rehan masih tetap di perlakuan bag anak tiri, dasar Ayah dan Ibuku ini.
"Beli saja gaun pengantin biasa Bu, untuk apa yang mewah-mewah kan hanya di pakai satu hari saja," timpal Rehan dan langsung membuat Sari melotot tajam.
"Rehan, jaga bicaramu! Yona itu kelak akan menjadi Ibu dari anak-anakmu, kamu harus menghormatinya, kamu harus membuat dia bahagia, jangan asal bicara!" Sari mengomeli Rehan di depan Yona.
Astaga, aku hanya mengatakan untuk beli gaun pengantin yang biasa saja tapi Ibu memarahiku, sangat berlebihan sekali. Belum jadi menantu saja, aku sudah di anak tirikan dan jika sudah menjadi menantu pasti aku tidak bakal di anggap lagi sama Ibuku, malang sekali nasibku.
__ADS_1
"Iya Ibu, aku akan selalu patuh pada Ibu," kata Rehan yang diiringi senyum paksa.
"Bagus anak Ibu, sekarang kalian pergilah fitting baju baju pengantin!" kata Sari, membuat Yona dan Rehan saling menatap satu sama lain.
"Tapi...."
Yona bengong, haruskah ada acara fitting gaun pengantin juga? Rasanya aku ingin lari dari ini semua.
"Rehan, tidak ada tapi-tapian, cepatlah ajak calon menantu Ibu pergi ke Butik XX!" titah Sari yang tidak mau di bantah.
Akhirnya mau tidak mau, Rehan langsung mengajak Yona ke Butik XX yang di maksud oleh Ibunya.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1