
Hari demi hari berlalu, malam yang begitu terang hembusan angin malam yang begitu menyentuh kulit bisa di rasakan malam ini cukup dingin.
Yona dan Elis duduk di saung di depan rumah, mereka menikmati malam yang indah ini sambil melihat bulan dan bintang yang bertebaran di langit yang gelap itu.
"Sudah satu bulan aku tinggal di sini," ujar Yona yang diiringi helaan nafas pelan.
"Tidak terasa ya Yon," sahut Elis sambil menatap bintang-bintang di langit.
"Penjualan online kita semakin meningkat, aku rasa aku bisa menjadi Sultan dengan cepat," ujar Elis yang di iringi tawa kecil.
Endi keluar dari rumahnya saat melihat Yona dan Elis sedang duduk di saung di depan rumahnya Yona, Endi berjalan menghampiri dua gadis cantik itu.
"Kalian tidak pergi malam mingguan?" tanya Endi tiba-tiba, ia duduk di sebelahnya Yona.
"Malam mingguan! Kekasih saja tidak punya," keluh Yona dengan raut wajah lesu.
Endi malah tertawa, padahal sendirinya juga sama-sama jomblo tapi menertawai para jomblo juga, sungguh miris nasib para jomblo ini.
"Kita sama Yon," kata Endi tampak tidak semangat.
__ADS_1
Yona senyam-senyum, dalam hatinya berharap kalau Endi itu akan menjadi kekasihnya suatu saat nanti.
"Lapar aku Yon," kata Elis tiba-tiba.
Rehan dan Win baru saja sampai di rumah mereka, entah mereka itu darimana? Saat melihat Yona, Elis dan Endi sedang berkumpul di saung depan rumahnya Yona kedua laki-laki tampan itu berjalan menghampiri mereka bertiga.
"Lagi ngumpul, aku bawa makanan, bagaimana kalau nikmati makanan ini semua bersama?" ujar Rehan begitu ramah tidak sejutek biasanya.
"Tumben manusia menyebalkan ini baik, aku yakin pasti ada sesuatu," timpal Yona curiga.
Rehan langsung mengarahkan tatapan ke Yona, seperti biasanya tatapan itu tatapan menyalakan api perang yang membara.
"Eh gadis menyebalkan dari dulu aku baik dengan siapa saja ya kecuali padamu. Sampai kapanpun aku tidak akan baik padamu, aku akan selalu menindasmu dimana pun kamu berada, ingat itu kata-kataku!" ujar Rehan Bersungut-sungut.
"Bisa jadi El, kan cinta itu berawal jadi saling benci, ya seperti kita contohnya," sahut Win penuh kemenangan.
Elis langsung menggelidik jijik, sejak kapan adanya cinta di antara kita? Aku rasa hanya kamu saja yang mencintaiku, aku sendiri tidak pernah ada rasa padamu Win, ingat itu baik-baik!
"Hati-hati El, benci itu awal dari cinta," hati Elis berbicara.
__ADS_1
Buru-buru Elis membuang kata-kata sejauh mungkin. "Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada Win, ingat itu!" sahut otak Elis tidak terima.
Saat otak dan hati saling berperang, Elis malah mengarahkan tatapannya begitu sinis pada Win.
"Kenapa sudah mulai jatuh cinta padaku ya?" Win cengar-cengir sambil melihat wajah Elis yang terlihat sangat kesal padanya.
"Amit-amit, aku tidak bakal jatuh cinta padamu!" tegas Elis dengan begitu yakin.
Rehan tertawa, Yona juga ikut tertawa, Endi juga ikut tertawa membuat Win merenggut tapi tetap saja tidak akan berhenti mendapatkan hatinya Elis yang cantik.
"Reh, aku lapar, aku makan makanan yang kamu bawa ya. Sudah jangan membicarakan tentang cinta dan cinta lagi!" ujar Endi, yang paling anti dengan kisah percintaan.
Bagi Endi, cinta itu menyakitkan dan entah mengapa Endi menganggapnya begitu? Hanya Endi yang tahu.
Akhirnya mereka semua menikmati makanan yang di bawa oleh Rehan dengan lahap, kini mereka makan sambil bercanda, hingga terjadi tawa di antara mereka. Sungguh, tetanggaan yang begitu menyenangkan.
Dalam hati Yona, di tempat tinggal aku yang baru ini, aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Sungguh, jauh sekali dengan kehidupanku di rumah yang selalu bergelar anak Sultan. Embel-embel itu membuat aku selalu di anggap anak mami, padahal aku lebih suka menjadi pribadi yang biasa seperti ini dan bisa hidup tanpa di kawal oleh para pengawal yang kemana saja selalu mengikuti ku, mungkin hanya saat masuk dalam kamar saja mereka tidak ikut denganku.
Tuhan terimakasih sudah memberikan kehidupan yang begitu nyaman untukku.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia