Tetangga Sebelah

Tetangga Sebelah
Aku Mau Menikah


__ADS_3

Rehan terdiam, benar juga di rumahnya ada Win. Jadi mau tidak mau aku harus pindah ke rumah Yona, hanya ini yang bisa aku lakukan.


Entahlah pada akhirnya mereka akan tinggal dimana?


"Baiklah mari kita tinggal di rumahmu, aku tidak mau ada laki-laki lain yang bisa menikmati tubuh dan kecantikan istriku setiap hari, karena hanya aku yang boleh melihat semua itu," ujar Rehan dengan tatapan yang cukup tenang tapi tegas.


"Jangan harap kamu bisa menikmati tubuh mulusku, karena kita akan tidur dengan kamar yang terpisah," kata Yona dengan mantap. Lagian siapa juga yang mau tidur dengan laki-laki menyebalkan ini, di sentuh saja aku tidak akan mau.


"Itu awalnya saja, lihat saja pada akhirnya siapa yang akan meminta tidur bersama lebih dulu," ujar Rehan dengan ke tengilannya.


Rehan begitu yakin kalau dirinya ini tidak akan tergoda dengan Yona terlebih dahulu, tapi ya lihat nanti saja yang namanya kucing di kasih ikan apalagi masih seger, masa sih nolak? Ya jika tidak menolak pasti kucing itu juga akan berusaha untuk mendapatkannya, lihat saja!


"Jangan bermimpi!" cibir Yona dengan mantap.


"Kamu sering menonton film drama kan, kejadian seperti itu sering kali terjadi," dengan jail Rehan balik mencibir Yona.


Dalam hati Yona, apa hubungannya dengan film drama? Bukankah dunia nyata dan film drama itu sangat jauh berbeda, ada-ada saja dasar laki-laki konyol.


***


Setelah melewati hari yang melelahkan ini Yona akhirnya bisa istirahat dengan tenang, Rehan juga sudah pulang ke rumahnya. Yona merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil membayangkan pernikahannya yang tinggal sebentar lagi, sungguh tidak di sangka.

__ADS_1


"Tetangga sebelah!"


"Haruskah laki-laki menyebalkan itu menjadi suamiku?"


"Entahlah ini takdir atau nasib sialku, aku pun tidak tahu, sungguh aku sendiri saja bingung."


Sambil menatap lampu yang ada di atap kamarnya Yona bicara sendiri bag orang tidak waras, iya Yona gila karena Rehan.


***


"Yonaaa!!!"


Suara yang tidak asing itu terdengar nyaring di telinga Yona. "Aduh Elin, suaranya cempreng sekali tidak ada merdu-merdunya," gumam Yona seraya beranjak dari tempat tidur.


Dasar Yona suaranya sendiri saja cempreng tapi ngatain sahabatnya yang baik hati ini.


"Ada apa?" tanya Elin, dengan raut wajah kesal pada Yona.


"Aku mau menikah!" cetus Yona, kali ini wajahnya terlihat tidak bahagia.


Elin yang tadinya enggan untuk mendengarkan Yona bicara, kini ia langsung fokus dan langsung duduk di sebelah Yona.

__ADS_1


"Kamu, mau menikah! Apa aku tidak salah dengar? Yona, kamu jangan..."


"Elin semuanya itu benar, aku akan menikah dan yang tidak habis aku pikir aku akan menikah dengan laki-laki yang aku benci, aku tidak punya perasaan padanya," keluhnya terlihat sangat sedih.


"Yona, kan ada istilah kata benci itu bisa jadi cinta," sahut Elin asal jeplak seraya di iringi tawa kecil.


Yona langsung cemberut, siapa juga yang bakal jatuh cinta padanya? Tidak akan! Ingat, itu tidak akan terjadi dalam hidupku! Jatuh cinta kepada laki-laki menyebalkan itu sangat mustahil bagiku.


"Elin, kamu pulang saja sana! Kamu menyebalkan sekali, sahabat macam apa kamu ini?" Yona tambah manyun.


Elin menggelengkan kepalanya pelan, dasar Yona tukang manyun.


"Memangnya kamu mau menikah dengan siapa?" tanya Elin penasaran.


"Aku akan menikah dengan tetangga sebelah," sahutnya malas.


"Siapa Yon?" Elin semakin penasaran.


"Nanti kamu akan tahu," kata Yona.


Elin mengangguk, lalu ia pun memilih untuk pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Bersambung


Terimkasih Para Pembaca Setia


__ADS_2