
Yona dan Rehan telah sampai di depan rumahnya Yona, Rehan tidak langsung pulang ia duduk di saung depan rumahnya Yona. Yona juga duduk di sebelahnya Rehan, sejenak suasana terasa hening karena kedua sejoli ini sama-sama diam dan hanya ada hembusan angin saja yang tidak begitu kencang.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Sedikitpun aku tidak pernah memikirkan untuk menikah denganmu, aku menjadikan kamu pacar bohongan aku hanya untuk menyelesaikan masalah tapi takdir berkata lain," kata Yona tidak semangat sama sekali.
"Memang aku juga mau kalau semuanya jadi seperti ini, aku harus menikah dengan gadis yang sama sekali tidak aku suka," sahut Rehan yang tampak kesal.
"Aku juga tidak menyukaimu sama sekali," ketus Yona dengan sinis.
"Baguslah, memang sebaik kita itu tidak saling menyukai. Aku rasa kita tidak akan cocok, cari cara untuk membatalkan pernikahan ini!" ujar Rehan pada Yona.
Hati Rehan masih belum menerima kenyataan ini, ia bahkan berpikir untuk kabur. Tapi jika ia kabur ia takut Ibunya akan jatuh sakit karena penyakit jantungnya, sungguh hidup tak sesuai keinginanku sama sekali.
"Aku tidak mau, biarkan saja pernikahan ini berlangsung. Kalaupun kita tidak saling mencintai ya yang penting kedua orang tua kita bahagia," kata Yona, aku tidak mau kalau kedua orang tuaku kecewa kalau aku membatalkan pernikahan ini.
Melihat wajah kedua orang tuanya yang begitu bahagia saat membahas masalah pernikahannya dengan Rehan tadi, membuat Yona tidak sanggup untuk berusaha membatalkan pernikahan ini.
"Baiklah, mari kita buat kesepakatan!" kata Yona dengan mantap, membuat Rehan mengarahkan pandangan ke Yona.
"Kesepakatan apa?" tatapan Rehan semakin garang.
"Jangan pernah menyentuhku biarpun kita sudah menikah, lalu biarpun kita sudah menikah kita bisa menjalin hubungan dengan lawan jenis masing-masing, ingat pernikahan ini bukan pernikahan yang kita inginkan!" jawab Yona, membuat kedua mata Rehan membulat sempurna.
"Kesepakatan macam apa ini? Terus jika suatu saat aku melihat istriku jalan dengan laki-laki lain, aku harus diam saja gitu?" kata Rehan terlihat tidak terima di benak matanya, suami mana yang rela istrinya jalan dengan laki-laki lain.
__ADS_1
"Hey kita ini tidak saling..."
"Tidak saling mencintai, tapi aku tidak setuju dengan kesepakatan konyol yang kamu buat!" dengan mantap Rehan memotong kata-kata Yona.
"Tapi....!"
"Sudahlah, kalaupun kita menikah yang kita harus bersikap layaknya suami-istri, mungkin untuk sentuhan fisik butuh waktu tapi untuk melihat kamu di sentuh oleh laki-laki lain, aku tidak akan biarkan itu terjadi! Ingat, aku ini suamimu kelak dan jika aku melihat istriku bersama dengan laki-laki lain, lalu aku membiarkannya saja, itu sama saja aku menjadi laki-laki bodoh yang tidak bisa menjaga kehormatan istriku," ujar Rehan panjang kali lebar.
Bagi Rehan, wanita itu makhluk yang harus di sayangi, di hormati dan selalu di jaga dengan baik. Dan pernikahan untuknya bukanlah mainan, jadi jika suatu saat ia menikah dengan Yona maka Rehan akan tetap memperlakukan Yona sebagai istrinya. Ya biarpun Yona pasti akan bersikap menyebalkan.
"Cie berduaan," ledek Endi yang baru saja turun dari dalam mobil. Rumahnya yang tepat berada di depan rumahnya Yona, membuat Endi mampir dulu karena melihat Yona dan Rehan berduaan saja tidak biasanya kan dua sejoli ini aku, ini adalah pemandangan langkah bagi Endi.
"Endi, kamu baru pulang?" tanya Yona dengan nada lembut, Endi sudah duduk di sebelah Yona.
"Buku apa yang kamu cari?" tanya Yona, ia mengabaikan Rehan dan kini pandangannya terus ke wajah tampan Endi.
"Biasa cerita romantis, aku suka membaca cerita-cerita romantis," jawab Endi dan dia juga menatap Yona cukup dalam.
Rehan tampak kesal karena Yona langsung mengabaikannya saat Endi datang, dasar wanita matanya tidak bisa di jaga.
"Aku juga suka, ternyata kita punya selera bacaan yang sama," ujar Yona dengan senyuman manis.
"Mungkin kita jodoh," cetus Endi.
__ADS_1
Yona semakin melebar senyumannya, ia lupa kalau di sebelahnya ini sudah ada laki-laki yang statusnya sekarang sudah berganti menjadi calon suaminya.
"Sampai kapanpun kalian tidak akan berjodoh, Yona sudahlah kamu jangan terlalu berharap pada Endi!" timpal Rehan dengan entengnya.
"Reh, aku dan Yona kan sama-sama jomblo, kemungkinan kita untuk berjodoh itu pasti ada, iyakan Yona," kata Endi menatap sinis Rehan, tapi saat menatap Yona ia tersenyum begitu manis.
"Kata siapa? Yona sudah menjadi calon istri laki-laki lain. Sudah sana kamu masuk!" sahut Rehan, ia menyuruh Yona untuk masuk.
"Lah kenapa kamu jadi mengatur Yona?" Endi menatap Rehan semakin tidak, memangnya Rehan siapanya Yona?
"Tentu saja aku berhak," sahut Rehan. "Cepat kamu masuk sana! Aku mau pulang," titah Rehan pada Yona.
Akhirnya mau tidak mau Rehan masuk ke dalam rumahnya ia meninggalkan Endi yang masih duduk, padahal masih ingin berbincang dengan Endi tapi Rehan itu sungguh menyebalkan.
"Kamu juga pulanglah! Tidak baik kalau menganggu calon istri dari laki-laki lain," titah Rehan pada Endi, membuat Endi semakin menatapnya dengan sengit.
"Dasar bedebah!" celetuk Endi, lalu berlalu pergi meninggalkan Rehan yang masih berdiri.
Kini kedua laki-laki tampan itu sudah pulang ke rumahnya masing-masing, sedangkan Yona juga langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Dalam hatinya, kenapa Rehan begitu menyebalkan? Aku masih ingin bersama dengan Endi, aku yakin pasti Endi juga punya rasa padaku. Tapi kenapa harus Rehan yang menikah denganku? Entah takdir macam apa ini? Sungguh bukan takdir yang aku inginkan, hanya bisa ngedumel dalam hati saja sih Yona.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia