
Pagi hari kemudian.
Yona baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya dan ia langsung bergegas turun dari tempat tidur. Di langkahkan lah kakinya menuju ke dekat jendela, ia membuka gorden jendela agar pantulan cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya.
Saat membuka jendela kamarnya, ia merasakan hembusan angin pagi yang begitu segar karena udara yang masih bersih dan tidak ada kendaraan yang berseliweran, rasanya seperti tinggal di daerah pegunungan saja padahal ini hanya sebuah komplek sederhana tapi sungguh nyaman.
"Yon, apa kamu sengaja membuka jendela di pagi hari agar bisa melihat tubuh Endi yang bag roti sobek?" suara yang tidak asing itu mengangetkan Yona, ya Elis sedang olahraga di depan rumahnya.
Tidak biasanya kan Yona membuka jendela kamarnya di pagi, dan hari ini tumben sekali pasti ada tujuan tertentu ya apalagi kalau tujuannya bukan melihat tubuh Endi yang seperti roti sobek dan sangat di idamkan para kaum hawa.
Yona mengarahkan pandangan ke arah Elis yang sedang berolahraga, lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah rumah Endi dan benar Endi ada di depan rumahnya, saat ini Endi sedang olahraga dan hanya memakai celana pendek saja tanpa memakai baju.
Yona ternganga dan air liurnya hampir saja jatuh saat melihat dada kotak-kotak milik Endi.
"Laki-laki yang sempurna, aku yakin pasti keturunannya sangat tampan dan sangat cantik, andai saja aku bisa menjadi istrinya," ujar Yona dengan suara lirih, sambil senyam-senyum memikirkan hal tentang ehem-ehem.
Aduh otak Yona sungguh terlalu, ia bahkan memikirkan saat dirinya dan Endi ada di atas ranjang tempat tidur, lalu terjadi sesuatu dan berkeringat bersama-sama, sungguh perkasa sekali.
Lama-lama otak Yona menjadi mesum untung saja yang di bayangkan Endi, coba kalau yang di bayangkan Rehan bisa kacau semuanya yang ada Yona pasti akan marah-marah tidak jelas.
Senyum Yona yang semakin lebar karena pikirannya itu, membuat Elis geleng-geleng kepala.
"Berhentilah memikirkan yang tidak-tidak! Kelihatan sekali dari raut wajahmu kalau kamu sedang memikirkan hal mesum," cibir Elis dengan jail.
"Sialan kamu Lis," sahut Yona kesal.
Dan Elis malah mengeluarkan tawanya, Rehan dan Win yang ternyata sudah berdiri cukup lama di depan rumahnya Elis, mereka juga sama-sama tertawa.
"Ternyata sahabatnya Elis ini otaknya mesum," cibir Rehan dengan semangat.
Kesempatan bagus untuk menyicibir Yona, jarang sekali kan bisa mencibir gadis cantik ini.
__ADS_1
"Apa kamu ikut-ikutan? Dasar dedemit," tatapan Yona begitu marah pada Rehan.
"Mana ada dedemit setampan aku?" gumam Rehan dengan suara lirih. Sambil mengarahkan pandangan ke arah Yona.
"Gadis otak mesum," dengan jail Rehan terus meledek Yona membuat Yona bersungut-sungut penuh amarah di kedua sudut matanya.
Dari jendela rumahnya Yona melemparkan sesuatu ke arah Rehan tapi tidak kena karena Rehan berdiri agak jauh, sedangkan Yona melemparkan sesuatu dengan kekuatan yang biasa-biasa saja.
"Tidak kena wlek... wlek...!!"
Rehan semakin jail meledek Yona sambil menjulurkan lidahnya, sungguh bag anak SD yang sedang bertengkar tidak ada yang mau mengalah.
"Elis, katakan pada tetangga sebelahmu itu untuk diam!" titah Yona marah, tapi malah di sambut tawa oleh Elis.
"Yon, Rehan kan tetanggamu juga," sahut Elis yang memang benar adanya.
"Kalian menyebalkan," pekik Yona lalu ia memilih untuk menutup jendela kamarnya.
Elis tertawa, Rehan geleng-geleng kepala melihat Yona yang bag kucing imut yang sedang merajuk, sungguh menggemaskan tapi sayangnya sangat menyebalkan bagi Rehan.
"Apa kamu sudah mulai mengaguminya?" cibir Elis dengan jail, senyumnya yang manis membuat Win tidak berkedip sama sekali.
"Aku rasa, aku lebih mengagumimu El," canda Rehan yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Win.
Berani sekali Rehan berkata seperti itu di hadapanku, apa dia ingin mati?! Hati kecil Win langsung meronta-ronta tidak terima, karena Elis adalah gadis incarannya selama ini dan dengan cara apapun harus aku dapatkan!
"Tutup mulutmu! Ayo kita lari lagi! Jangan ganggu wanitaku!" kata Win penuh penekanan dengan tatapan yang cukup membunuh, membuat Rehan nyengir kecil.
Rehan tahu saat ini Win sedang cemburu, tapi ia tahu Win itu tidak bakal mengatakan kalau dirinya sedang cemburu di depan Elis, bisa di hajar nanti sama Elis.
Rehan dan Win kembali berlari, mereka meninggalkan Elis yang masih berdiri sendirian.
__ADS_1
"Dia bilang aku ini wanitanya, lagian siapa juga yang mau dengannya?" oceh Elis saat Win dan Rehan sudah berlalu pergi.
***
Saat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi Yona dan Elis berangkat kerja. Rehan dan Win juga berangkat kerja, untung saja mobil Rehan sudah jadi bersyukur sekali jadi tidak satu mobil dengan Yona menyebalkan lagi.
Sesampainya di tempat kerja Elis langsung di sibukkan dengan pekerjaannya, Yona juga sama.
Penjualan yang semakin meningkat membuat Yona dan rekan kerja yang lainnya sangat sibuk, dan Elis sebagai pemilik perusahaan online ini sangat bahagia. Tidak lupa bonus untuk para pekerjanya juga selalu di berikan agar kerjanya semakin semangatnya.
"Yon, ada pesanan masuk lagi 200 pcs, kerjakan hari ini sampai selesai. Setelah selesai nanti kita pergi makan malam bersama lagi," ujar Elis pada Yona.
"Siap Bos!" jawab Yona dengan semangat.
"Semuanya ada pesanan masuk lagi 200 pcs dan hari ini harus selesai, ayo kita selesaikan. Setelah selesai Bos Elis akan mengajak kita makan malam bersama," kata Yona pada seluruh rekan kerjanya.
"Siappp.....!!"
Semuanya menjawab dengan kompak dan bersemangat.
Kini semuanya fokus dengan pekerjaan Masing-masing agar cepat selesai, betapa bahagianya Elis saat semua karyawannya begitu semangat dalam bekerja.
***
Jam demi jam berlalu dan kini jam sudah menunjukkan pukul malam akhirnya semua pesanan hari ini selesai dan sudah di kirim.
Elis juga langsung menepati janjinya dan langsung mengajak semuanya ke restoran untuk makan bersama. Selain makan bersama, setelah selesai makan Elis juga langsung membagikan bonus untuk semuanya.
Makan malam bersama malam ini begitu bahagia, setelah selesai akhirnya semuanya pulang.
Yona dan Elis juga pulang bersama ya seperti biasanya.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia