
Hari demi hari berlalu dan hari ini tepat hari minggu, saatnya menjalankan rencananya dengan Rehan.
Yona sudah bangun dari tadi, ia sedang membereskan baju kotor untuk di bawa ke laundry, setelah semuanya beres Yona langsung pergi ke tempat laundry yang ada di depan komplek sekalian mau membeli sarapan untuk dirinya.
laundry sudah di taruh, ia pun membeli bubur ayam untuk sarapan. Setelah itu ia langsung pulang ke rumah kerena cacing-cacing di dalam perutnya dari tadi sudah meronta-ronta meminta makan.
Kini Yona sudah sampai di rumah dan ia langsung menuju ke meja makan. Ia membuka bubur ayam yang di belinya tadi, melihat bubur ayam yang ada di hadapannya sungguh rasanya tidak sabar ingin sekali menikmatinya.
Yona mengaduk bubur ayam nya lalu menyendoknya dan saat hendak memasukkan ke dalam mulutnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, Yona menghela nafas kasar karena merasa kesal.
"Siapa sih pagi-pagi seperti ini menelpon?" katanya yang diiringi dengusan kesal, sambil meraih ponselnya yang ada di atas meja, ia melihat siapa yang menelponnya. "Mami," batinnya dalam hati.
Buru-buru di angkat telpon dari sang Mami, rasa kesalnya juga langsung hilang dan menjadi takut, ada apa Mami menelpon?
"Yonaa...."
Seperti biasanya suara sang Mami begitu nyaring di gendang telinganya, sungguh telinga ini bisa pecah. Kebiasaan Mamiku ini selalu tidak bisa pelan saat bicara di telpon, padahal Mami tahu kalau anaknya yang cantik ini tidak budek tapi ya namanya emak-emak itu tidak pernah salah.
"Mami, pelankan suara Mami!" kata Yona pada Maminya.
"Baiklah, Yona ini sudah hari minggu kok kamu belum datang ke rumah, katanya mau membawa kekasihmu. Nanti malam Tante Sari dan Paman Sam juga datang, mereka katanya mau datang untuk melamar kamu buat anak satu-satunya mereka," ujar sang Mami pada Yona.
"Aduh Mami, tolak saja! Yona sudah punya kekasih, nanti malam Yona bawa kekasih Yona ke rumah," kata Yona dengan cepat. Jangan sampai aku di jodohkan!
"Iya makanya bawalah kekasihmu! Anaknya Tante Sari juga tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya, iya katanya memilih untuk hidup sendiri karena tidak tahan terus di jodohkan," cerita sang Mami pada Yona.
"Lagian Mam, orang tua jaman sekarang itu ada-ada saja masih saja jodoh-jodohan," protes Yona ikut kesal.
Baginya pemikiran orang tua yang seperti ini, itu adalah pemikiran yang sangat kuno. Lagian di jodohkan juga belum tentu bahagia.
__ADS_1
"Sudahlah, Mami tunggu kamu dan kekasihmu ya!" kata sang Mami dan mengakhiri telponnya dengan Yona.
Ambar menghela nafas lega, akhirnya Yona punya pacar dan mudah-mudahan dia segera menikah karena banyak sekali lamaran yang datang untuk Yona, kami sebagai orang tua juga tidak enak kalau harus menolak lamaran yang datang apalagi lamaran itu rata-rata dari pengusaha muda yang sudah sukses. Tapi aku sebagai Ibunya Yona tahu kalau Yona itu lebih suka laki-laki yang sederhana dan Yona juga tidak suka hidup mewah ya yang penting kecukupan dan tidak kekurangan.
***
Malam menunjukkan pukul 7 Rehan sudah ada di depan rumah Yona dengan mobilnya, ia memakai baju kemeja warna biru dongker yang di padukan dengan celana bahan berwarna hitam.
Rehan tidak tahu seperti apa latar belakang keluarga Yona yang sesungguhnya? Yang ia tahu ya Yona gadis biasa, Mami juga kalau datang naik taksi dan tidak pernah membawa mobil. Yona juga di lihatnya hanya gadis biasa yang hidupnya sederhana, tak sedikitpun Rehan berpikir macam-macam tentang Yona, apalagi berpikiran kalau Yona anaknya orang kaya sungguh tak pernah terbesit di benak pikirannya.
"Wihh, sudah ganteng," cibir Elis yang baru saja keluar dari dalam rumahnya. Cukup kaget saat melihat Rehan berada di depan rumahnya Yona, apa benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di anatara tikus dan kucing ini?
"Eh Elis, biasa saja Lis," sahut Rehan.
"Ada perkembangan atau bagaimana?" tanya Elis dengan jail, membuat Rehan menggeleng kecil pertanda tidak ada, lagian perkembangan apa? Kan aku dengan Yona juga tidak ada apa-apa? Ini hanya akting saja.
Yona yang baru saja keluar dari dalam rumahnya, ia langsung mengunci pintu rumahnya dan saat melihat Rehan ia terdiam sejenak.
"Apaan sih Lis?" cebik Yona agak kesal.
Elis tertawa jail, lagian jika Yona dan Rehan saling bersatu tidak masalah baginya kan dua sejoli itu sama-sama jomblo ini.
"Semangat deh buat kalian!" katanya sambil mengacungkan jempol.
Rehan menghela nafas kesal karena Elis cukup menyebalkan sedangkan Yona geleng-geleng kepala, tapi ia buru-buru jalan ke Rehan yang sudah menunggu di mobilnya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Wanita itu selalu lama dalam hal apapun, sungguh menyebalkan," sindirnya dengan tatapan cukup kesal pada Yona.
Ada setengah jam lebih Rehan menunggu di depan rumah Yona, tapi Yona berdandan lama sekali, ya menang hasilnya cantik tapikan Yona memang sudah cantik mungkin gadis ini sudah cantik sejak dari lahir.
__ADS_1
Kirain Yona, Rehan bakalan membukakan pintu mobilnya ternyata dugaannya salah.
Kini Yona dan Rehan sudah masuk ke dalam mobil, Rehan menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju ke arah rumah Yona dengan arahan yang di arahkan oleh Yona.
Sesampainya di depan rumah yang sangat mewah, Rehan merasa kaget, apa benar ini rumahnya Yona?
"Yon, ini rumah kamu?" tanya Rehan memastikan.
"Bukan, ini rumah kedua orang tuaku," jawab Yona dengan santai, kan memang benar ini rumahnya Mami dan Papi.
Rehan mengangguk ternyata Yona bukan gadis sembarangan, ia terlahir dari keluarga yang kaya raya. Pantesan saja hidupnya selalu penuh dengan drama perjodohan sama sepertiku, memang tidak enak menjadi anak orang kaya aku saja lebih memilih berkelana hidup di luar.
Kini mobil Rehan sudah terparkir rapi, saat melihat garasi rumah Yona banyak sekali mobil mewah, mungkin ini koleksi keluarganya Yona.
"Ayo masuk!"
Rehan mengangguk, ia mengikuti langkah kaki Yona dan sesampainya di dalam rumahnya kedua sejoli ini langsung di sambut hangat oleh kedua orang tuanya Yona.
Rehan juga begitu sopan kepada kedua orang tuanya Yona, tapi ada yang aneh tamu yang ada di meja makan tak henti-hentinya menatap Rehan.
"Rehan..." panggil wanita yang usianya kira-kira 45 tahun.
Rehan menoleh, betapa kagetnya saat melihat siapa yang memanggil dirinya? Sungguh Rehan ternganga tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Loh, kamu kok disini Reh?" sambung laki-laki yang sudah tidak muda lagi juga, laki-laki itu duduk di sebelah wanita yang tadi menyapa Rehan.
"Mmm...."
Kira-kira siapa ya yang manggil Rehan?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia