
Udara pagi yang segar,diiringi dengan kicauan burung yang merdu. Bunga sakura yang berjatuhan sebagai pelengkapnya, dibumbui dengan suara kendaraan yang lalu lalang. Ah, betapa indahnya pagi ini.
Aku, Kuro Isshiki. Seorang lelaki berumur 17 tahun dengan mata dan rambut yang berwarna hitam, lengkap dengan baju seragam yang berwarna merah maroon dan tas sekolah sedang berjalan sendirian menuju ke sekolah SMA ku yang cukup jauh dari rumah.
Aku tidak benar-benar pendek atau lusuh atau apapun itu. Hanya saja,ketika berhadapan dengan lawan jenis, aku sedikit kikuk dan terkadang ketika aku berbicara dengan mereka aku kehabisan kata-kata dikepalaku. Kehidupan SMA ku berjalan dengan normal, aku mendapat nilai bagus di akademik dan olahraga, setelah pulang aku main game, baca manga, mandi, tidur, dan diulangi terus-menerus.
...Aku tidak membuat alasan, ya? Ini kenyataan yang terjadi di kehidupan ku....
"Oh..Yo, Kuro! Cepat juga kesekolahnya, mau nemuin siapa nih?".
Dia dibelakang ku, berjalan kearahku, penuh dengan semangat mudanya. Namanya Otaka, Nabura Otaka. Sahabat masa kecilku. Kepribadiannya sangat berbanding terbalik denganku. Dia selalu saja menggangguku, menjahiliku, sampai paling parah ia membocorkan rahasia pribadi "laki-laki" ku. Ya, Rahasia pribadi laki-laki. Sungguh, manusia ini sangatlah menyebalkan.
"Pagi, Otaka. Bisakah kau kurangi sedikit semangatmu untuk menjahiliku hari ini?".
Aku menyapa Otaka yang tiba-tiba merangkulku dan membalas perkataan ku
"Ayolah, Kuro. Pagi-pagi udah lesu saja".
Menyebalkan. Sungguh menyebalkan. Lihat saja kau, Otaka. Suatu saat akan kubalas semua perlakuanmu selama ini kepadaku. Aku akan membalasnya.. pasti, tapi untuk sekarang aku akan fokus belajar karena sebentar lagi akan ada ujian yang diadakan sekolah.
Begitulah pagiku. Setiap hari harus mendapati Otaka yang mendatangiku dan mulai mengusik ku sampai jam waktu pulang sekolah. Aku bukannya tak ingin membalasnya sekarang, hanya saja semua itu ada waktunya dan semua waktu ada tempatnya.
Kami berjalan berdua menuju ke sekolah. SMA ku dan SMA Otaka berbeda namun tidaklah jauh. Dan sembari berjalan, aku selalu diusik olehnya. Betapa menyebalkan nya orang ini. Andai aku bisa terlahir kembali dengan kekuatan yang kuat, maka kau sudah ku hukum di ruang bawah dunia, Otaka.
"Eh? Lihat itu, Kuro!".
Otaka menunjuk ke arah ujung jalan dan aku pun melihat ke arah yang dimaksud oleh manusia satu ini dengan terpaksa, karena jika tidak ia pasti akan menjadi lebih menyebalkan dari sebelumnya.
Seorang gadis kecil mencoba untuk mengambil boneka beruang yang terjatuh di tengah jalan. Takut dan gelisah terlihat sangat jelas dari wajahnya. Entah itu takut dengan kendaraan yang lalu-lalang, atau gelisah karena bonekanya dilindas oleh kendaraan, aku juga tidak tahu.
"(Gadis itu.. *Ja*ngan bilang kalau dia akan mencoba untuk menerobos jalan demi mengambil kembali bonekanya!?)"
Aku bergumam seperti itu setelah melihat ia melangkahkan kaki kanannya kearah depan dibarengi dengan tubuh yang gemetar. Bukankah ini terlalu nekat? Aku akui keberanian nya namun tetap saja ini bisa membahayakan nyawanya sendiri. Mengapa ia tidak membeli saja boneka yang baru di toko mainan?Mengapa sampai segitunya? Apa mungkin itu pemberian? Pusaka? Barang ajaib? Cih, aku terlalu banyak berfikir. Untuk sekarang aku harus menyelamatkannya dan mengambil kembali bonekanya.
Aku menjatuhkan tasku di bawah tempat aku berdiri dan berlari kearahnya. Akan kucoba semampuku dan akan ku pastikan boneka dan gadis kecil itu selamat apapun yang terjadi.
"Eh, Kuro? KURO! MAU KEMANA KAU?"
Otaka kaget dan teriak memanggilku karena tiba-tiba saja aku berlari dari rangkulannya dengan secepat yang aku bisa. Apakah mungkin dia memikirkan semenjengkelkan itu ia pagi ini, atau mungkin dia berfikir kalau aku tidak akan mau lagi menjadi temannya. Yah, Aku juga tak peduli, yang kupedulikan adalah menyelamatkan gadis kecil itu dan boneka kesayangannya.
Aku yang sekarang berada tepat di seberang gadis itu, sedangkan gadis itu sendiri hampir mencapai bonekanya. Tetapi, tidak terlalu jauh dari gadis itu, ada truk yang mendekat kearahnya dengan kecepatan yang ku perkirakan 100 km/jam.
"(Bahaya! Gawat! Aku harus menyelamatkannya!!)"
Tanpa basa-basi aku melompat ke arah gadis itu dan mendorong nya ke tepi jalan sambil berteriak...
"AWAS!!"
__ADS_1
Tepat setelah gadis itu terlempar ke tepi jalan, truk yang tadi melaju kencang itu menabrakku. Otaka yang tak jauh dari tempat kejadian, gadis yang kuselamatkan, dan sang pengemudi truk itu kaget. Mereka menuju ke arah ku. Sang pengemudi yang tampak gelisah dan kebingungan itu langsung menelpon polisi dan ambulan, sedangkan Otaka dan gadis kecil berusaha membuatku tetap sadar.
"Oi, Kuro.. Bertahanlah! Kau tak boleh mati, kita belum lulus SMA. Sebentar lagi polisi dan ambulan akan segera tiba! Bertahanlah!"
...Percuma, Otaka. Kesadaranku hampir di ujung tanduk. Mungkin inilah akhir yang sebenarnya ditakdirkan untuk seseorang yang menyimpan dendam kepada sahabat masa kecilnya....
Otaka mengangkat kepalaku ke arah paha kirinya. Tentu, seragam sekolahnya jadi berlumuran darah.
Kepalaku bocor, tulang lengan kananku tergeser dari tempatnya, diafragma ku retak,kedua kakiku patah Sungguh, rasa sakit yang belum pernah kurasakan sejauh ini, tapi aku tidak boleh menunjukkannya kepada mereka. Aku juga ingin dilihat sebagai lelaki sejati dan kakak-kakak yang keren dimata mereka berdua.
"Otaka, kau ingat saat kita masih kecil? Saat aku sendirian di taman bermain kau datang menemuiku dan mengajakku bermain bersama anak-anak yang lain. Berkat itu, aku bisa menikmati dunia yang indah ini. Terimakasih telah mau menjadi temanku, walau kau sedikit menyebalkan".
Suara ku menjadi sangat terbata-bata karena menahan rasa sakit yang teramat sangat. Kau sangat aktif dalam urusan pertemanan, Otaka. Bikin iri saja.
"Maaf ya, Gadis kecil. Boneka kesayanganmu jadi sedikit sobek dan penuh darah karenaku. Tapi, hanya ini yang dapat aku lakukan ".
Pengutaraan maaf itu ku tujukan kepada gadis kecil karena telah merusak bonekanya dan membuatnya penuh dengan darahku yang terkena tabrakan langsung dari truk.
Otaka dan gadis kecil menahan air matanya agar tak membuatku ikut sedih. Polisi telah tiba ke tempat ku berada dan langsung menanyakan penjelasan kejadian sebenarnya kepada pengemudi truk tersebut.
"Gadis kecil, tolong beritahu aku namamu dan tersenyumlah!"
Permohonan terakhir ku kepada sang gadis, setidaknya aku ingin tahu namanya walau hanya sebentar.
Terhadap permohonan ku, sang gadis menahan isak tangisnya dengan ketawa sambil mengatakan namanya.
Rin.. ah, sungguh nama yang sangat indah,tak kalah dengan senyumannya yang manis dan wajahnya yang basah akibat air mata yang mengalir deras di pipinya. Dengan sisa tenagaku, aku menggerakkan tangan kiri ku menuju pipinya. Rin yang menyadari itu langsung menggenggam tanganku dan mengarahkannya ke arah pipinya.
"Andai saja aku punya..adik manis sepertimu, Rin. Aku pasti akan sangat bahagia dan akan kupastikan kau juga bahagia selama hidupmu".
Rin yang mendengar itu menangis sejadi-jadinya, raut wajahnya seakan berkata bahwa ia juga ingin dilindungi oleh kakak laki-laki yang pemberani.
Mungkin inilah yang terbaik. Mungkin untuk inilah aku terlahir. Mungkin untuk inilah aku ditakdirkan hidup. Untuk berjuang melindungi nyawa seseorang..tidak, untuk melindungi nyawa semua orang.Preman, polisi, presiden, bahkan dewa sekalipun jika ingin merebut orang yang berharga disisiku, aku takkan pernah ragu untuk melindunginya. Bahkan jika nyawaku sendiri taruhannya.
...Semuanya perlahan memudar, wajah mereka berdua tampak kebingungan dan cemas. Tubuhku mulai kehilangan rasa.Tangan kiri ku mulai melemah. Mungkin sudah.. waktunya.. aku..
"KURO!!"
... Ah.. aku mati.
"[TERHADAP ENGKAU YANG TELAH DIRAMALKAN,KAU TIDAK AKAN KUBIARKAN MATI SECARA SIA-SIA!]"
Suara seorang wanita bergumam di kepalaku, seolah sedang memanggilku .Tapi kenapa? Aku sudah mati, mengapa ada yang memanggilku? Apa yang..
"Perasaan bingungmu itu, aku mengerti. Selamat datang di Dimensi ku, The Marchedist".
Setelah suara seperti itu, aku seakan dipindahkan ke istana yang sangat megah, yang belum pernah ku lihat di manga maupun game. Aku melihat dengan jelas, tepat didepanku ada wanita cantik yang tengah duduk di singgasana yang tak kalah megah dengan istananya.
__ADS_1
"Perkenalkan, Aku adalah Dewi dari segala dewa-dewi yang ada, Sang Dewi Mutlak, Gabriel".
Wanita cantik itu memperkenalkan dirinya sebagai Dewi Mutlak. Tentu, aku yang mendengar itu kaget dan tidak percaya dengan perkataannya, namun dengan semua yang kulihat disini, semua itu terbantahkan. Tidak kusangka aku akan di jemput ke surga oleh Sang Dewi cantik nan seksi ini.
"Maaf atas kelancangan saya, Nona Gabriel. Saya Kuro Isshiki."
Aku menundukkan kepalaku, meletakkan tangan kananku tepat di perutku, menyilangkan kaki kiriku dibelakang kaki kananku dan memperkenalkan diri sebagai rasa hormatku terhadap Sang Dewi.
"Oh... kau cukup sopan untuk seukuran manusia".
Gabriel memujiku karena kesopananku. Aku yang telah memperkenalkan diri kembali tegak setelah ia memujiku. Aku sebenarnya ingin cepat menuju ke surga, namun jika aku meminta nona Gabriel untuk bergegas, itu sama saja dengan aku menunjukkan kelancanganku terhadapnya.
"Kau mungkin mempunyai banyak pertanyaan, tapi sebelum itu aku ingin kau melihat isi pikiranku".
Ia berkata demikian dengan senyuman yang terlihat sangat mengerikan di wajahnya, seakan gambaran bahwa ia adalah Dewi mutlak hilang seketika di benakku.
"(Hah? Isi pikiran? Milik Sang Dewi?yang benar saja itu tidak mung-)".
Belum selesai aku bergumam, Aku seperti merasa terbawa oleh sesuatu.Ya, ini adalah isi pikiran milik Gabriel. Aku melihat semuanya. Terlihat jelas, ada seorang lelaki yang di takdirkan untuk menjadi Raja dari para dewa, Penguasa Dari Yang Tak Terhingga, ia bisa disebut sebagai.. [ The Chosen One ]. Ia memiliki rambut hitam, mata hitam, memakai pakaian yang seakan-akan mirip jubah yang berwarna hitam. Diperlihatkan dengan jelas bahwa ia adalah anak manusia yang di ramal jauh sebelum dunia ini diciptakan, mematahkan nasib buruk yang dilaluinya, pemilik kendali penuh atas kekosongan, ruang waktu dan seluruh partikel yang ada di dunia.
"(Hah? Apa ini? The Chosen One... sepertinya aku pernah melihatnya.. orang itu adalah... AKU?!)"
Tepat setelah gumamku, aku di kembalikan ke hadapan Gabriel. Aku tidak bergerak sama sekali, namun kini aku bernafas seakan aku telah berlari sejauh mungkin, dadaku terasa sesak seakan-akan ada pedang besar yang menusuk tepat di jantungku. Aku meletakkan tangan kananku di atas dada bagian kiri sambil meremasnya dengan harapan jantungku bisa kembali normal.
"Apa yang.. sebenarnya.. terjadi?"
Aku bertanya dengan nafas yang masih tidak bisa kuatur. Aku melihat kearah Gabriel, ia senyum seperti tuan yang akan menghukum budaknya karena suatu kesalahan.
"Seperti yang kau lihat di pikiranku, Kuro. Kau adalah orang yang akan menjadi The Chosen One. Kau akan melalui banyak hal setelah pergi dari dimensiku ini. Ya, Kau akan bereinkarnasi menjadi Raja Iblis di dunia lain. Oh iya, ngomong-ngomong Raja Iblis disana lebih di kenal dengan Raja Kegelapan. Sesuai dengan namamu kan, K-U-R-O?"
Ia menjelaskan inti dari apa yang kulihat tadi, aku akan di reinkarnasi kan ke dunia lain sebagai raja iblis dan memulai semua ramalan yang kulihat tadi dari awal.
"(HAH?! RAJA IBLIS KATAMU?! AKU?! Ah, sudahlah.. terkejut pun tidak ada gunanya untuk saat ini.)"
Nafasku mulai bisa kuatur. Dadaku yang tadinya terasa sangat sesak kembali normal. Aku kembali mengangkat kepalaku dan menghadap ke Gabriel.
"Tapi sebelum itu..."
Gabriel berhenti berbicara dan menengadahkan tangan kanannya keatas. Tiba-tiba saja keluar pisau tajam dari atas telapak tangan kanannya itu sambil terbang tanpa menyentuh satu pun jari dari Gabriel. Lantas pisau yang terbang diatas tangan Gabriel tadi menghampiri ku. Aku pun meenyatukan kedua tanganku di depan dada untuk menerima pisau yang di berikan oleh Gabriel.
"Lukailah telapak tanganmu, Kuro. Kau akan menjalin kontrak dengan para Ratu Neraka. Tenang saja, itu tidak akan sakit sama sekali. Aku mengalirkan seperkian kecil dari energi sihirku ke pisau itu untuk menghilangkan rasa sakit yang di terima olehmu".
Terhadap perkataan Gabriel,aku terdiam dan terkejut. Tak selang beberapa detik setelah ia mengucapkan perkataan nya, Gabriel mengangkat tangan kanannya jauh menghadap langit-langit istana, seperti sedang ingin mencapai sesuatu.
"Datanglah, Tujuh Ratu Neraka ku yang manis!".
Gabriel berteriak dan berkata seperti itu. Jauh Dari langit-langit istana, aku melihat ada tujuh cahaya berwarna merah cerah turun menuju kearah Gabriel. Ya, itu adalah ketujuh ratu neraka yang di panggil oleh Gabriel dan yang akan menjalin kontrak dengan ku. Mereka tiba tepat di hadapan ku, menghadap ke Gabriel sambil berlutut. Aku yang melihat kejadian itu lantas terkejut karena tidak bisa mempercayai ini.
__ADS_1
"Kami sudah tiba, Wahai Dewi Mutlak, Nona Gabriel".