The Chosen One

The Chosen One
The Sacrifice


__ADS_3

Aku melangkahkan kakiku dan memasuki ke kota Semi-Human,Agrethe.


Seperti namanya,penduduk rata-rata kota ini adalah ras setengah manusia(Semi-Human).Manusia yang berada dikota ini tidaklah banyak,sekitar 20/100% dari jumlah total penduduknya.Kota ini sangatlah damai,tidak ada yang pertengkaran antara ras Human dengan ras Semi-Human.Pedagang berjualan dengan jujur,pembeli membeli dagangan tanpa memaksakan kehendak.Tidak ada yang memperlihatkan wajah murung disini.Kota ini hanya diselimuti oleh suara warga yang tertawa,tersenyum,dan bahagia.


Aku berjalan diantara pasar-pasar.Seluruh warga kota yang melihatku tercengang dan berbisik-bisik kepada warga lain yang ada.


"Hei,lihat!anak itu punya rambut hitam,mata hitam dan berpakaian dengan warna hitam,loh"


"Apakah mungkin raja kegelapan telah bangkit?."


"Yah,mana mungkin itu terjadi.Raja kegelapan sudah tewas,kan?."


Kurang lebih seperti itulah para warga kota berbisik tentangku sejak aku datang ke kota ini.


"Kembalikan itu kepadaku!".


Aku melewati sebuah lorong kecil yang tak jauh dari pasar kota.Seorang gadis kecil ras Semi-Human di rebut cincinnya oleh dua manusia berandalan yang fisiknya tinggi dan berotot.Sang gadis itu sudah hampir meneteskan air matanya karena 2 berandalan ini.Aku berdiri di tempat keluarnya lorong kecil tersebut sambil memperhatikan mereka.


"Ayo ayo menangislah,gadis kecil!kalau tidak kami akan menjual cincin ini loh.Yah,walaupun kau menangis tetap akan kujual.HAHAHAHAH!"


Salah satu berandalan berkata seperti itu,sedangkan berandalan yang lain ikut tertawa mendengar celotehan temannya.


Anak itu mulai menangis,sedangkan kedua manusia itu masih menertawakannya bahkan lebih besar suara ketawanya dari sebelumnya.Aku menganggap pemandangan seperti ini tidak pantas untuk berada di kota setenang Agrethe.


"Oi,apakah sebegitu rendahnya kah kalian sampai-sampai membuat anak kecil menangis?."


Aku bertanya dengan nada yang sedikit tinggi agar mereka bisa mendengarku.


"Hah!?Apa katamu,Sialan?!".


Mereka melihatku dan salah satu dari manusia itu berkata demikian dengan raut wajah yang tampak sedang marah.


"Gadis kecil,mau kutolong?".


Aku bertanya ke gadis kecil di ujung sana.Jika ia mau di tolong maka aku akan menolongnya,jika ia tidak mau maka aku akan tetap menolongnya.Sudah ku bilang,bukan?pemandangan seperti ini mengganggu suasana kota yang damai.


"To-tolong aku,kumohon.."


Terhadap pertanyaanku,ia menjawabnya seperti itu.Aku tersenyum dengan wajah yang sedikit ku arah kan ke bawah.Rambut hitamku menutupi bagian mataku.


"Kamu yang bilang sendiri ya,Gadis kecil".


Aku melangkahkan kaki kananku ke depan dan langsung berada di belakang mereka dengan kecepatan yang jauh lebih cepat ketimbang kecepatan cahaya sambil mencekik tengkuk mereka dengan kedua tanganku.Mereka berdua kuangkat sampai kaki mereka tidak bisa menyentuh tanah.Tentu,mereka tidak bisa bernafas karenanya dan mencoba melepaskan lehernya dari genggaman ku,dan hasilnya tidak bisa.


"Gadis kecil,mereka berdua boleh ku bunuh?".


Tanyaku kepada gadis kecil di belakangku tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.Sang gadis dari ras Semi-Human dan dua orang dewasa rendahan dari ras Human terkejut mendengar pertanyaanku.


"J-jangan!jangan dibunuh!"


Aku sedikit terkejut karena jawaban dari sang gadis.Kupikir ia akan senang hati menjawab "iya" karena telah di jahili oleh dua bersndslan ini.


"Baiklah kalau begitu,seperti ini saja mungkin sudah cukup".


"AAAARGH!!"


Aku menggunakan sedikit kekuatanku untuk mematahkan tulang kaki kanan dan tulang tangan kiri mereka.Mereka berteriak kesakitan,sang gadis terkejut dan menatap kami dengan mata yang membesar.


"Nah,enyahlah dari hadapanku".

__ADS_1


Aku menjatuhkan tubuh mereka berdua.Dua orang berandalan itu pun merangkak dengan susah payah ke luar dari lorong dengan wajah ketakutan.Aku mengembalikan cincin milik sang gadis dan bertanya namanya.


"Siapa namamu,gadis kecil?".


Aku bertanya kepada nya walaupun aku sudah mengetahui namanya tanpa mengalihkan pandangan dari arah dua berandalan tadi pergi.


"Ke-..Ke-..".


Dia mengambil cincin itu dan mulai mengatakan namanya.Ia ingin mengatakannya,hanya saja terhalang oleh gugup dan rasa takutnya setelah melihat pemandangan barusan.Aku merendahkan tubuhku dan mengusap kepalanya agar ia bisa merasa lebih tenang.


"Oh,begitu ya.Namamu Keena,ya?nama yang bagus.Maaf karena telah memperlihatkan pemandangan yang mengerikan ya,Keena".


Aku berkata demikian,Keena yang mendengarnya sedikit terlihat lega dengan wajah yang terkagum.


"Iya.Terimakasih telah membantuku di saat genting ya,Kakak tampan."


Aku teringat bahwa aku belum menyebut namaku.Oleh sebab itu kenapa ia memanggilku "Kakak tampan".Aku sedikit terkejut dan tersenyum mendengarnya.


"Namaku Kuro.Panggil Kuro saja,ya"


Aku menberitahukan namaku kepada Keena.Ia terlihat bahagia karena mendengarnya.


"Kalau begitu,kupanggil Kak Kuro".


Sungguh gadis kecil yang baik.Ada-ada saja dua berandalan itu,mengganggu dan membuat nangis gadis yang manis dan baik ini.


"Oh iya,Keena.Apakah kamu tau tempat makan dikota ini?".


Aku bertanya kepada Keena.Tujuan ku hanya untuk memastikan sesuatu.


"Oh,kalau begitu kita pergi ke penginapan orang tuaku saja.Tempatnya tidaklah jauh dari sini".


Aku kebingungan.Ternyata orang tua Keena memiliki penginapan.Karena Keena adalah ras Semi-Human,maka orangtuanya pasti ras Semi-Human juga.


Aku menyetujui ajakan Keena.Ia pun membalas dengan menganggukkan kepalanya.Kami berjalan keluar dari lorong dan menyusuri kota menuju ke tempat penginapan orang tuanya Keena.


Tidak selang beberapa lama,aku dan Keena telah tiba di depan pintu penginapan milik orangtuanya.Tidak besar,juga tidak kecil.Normal untuk segi ukuran,tetapi tidak dengan segi keindahan.Di halaman depan penginapan di tanami banyak bunga-bunga yang harum baunya.Kebersihannya juga tidak dapat dipandang sebelah mata.Ah,sungguh penginapan yang damai.


"Aku pulang".


Keena membuka pintu dan berkata seperti itu dengan semangatnya.


"Selamat datang..Wah,Ke-".


Sang ibu berhenti menyapa anaknya ketika melihat kearahku.


"Pe-pergi kamu,dasar Raja Iblis Tirani!pergi sekarang dari penginapan ini!"


Sang Ibu menarik Keena kearahnya dan memeluknya.Ia mengambil sesuatu dari saku kanannya.Ya,itu adalah pisau.Pisau itu ia todongkan kearahku dengan tubuh yang bercucuran keringat dan tangan yang gemetar.Hal ini sudah wajar,sih.Tidak ada yang harus terlalu dipikirkan.


"Keena,kamu tidak apa-apa?apakah kamu terluka?apa ada bagian yang sakit?".


Ucap si ibu ke Keena dengan nada khawatir.Tentu saja,mana ada orang tua yang mau membiarkan anaknya bermain dengan seseorang yang telah ditakdirkan menjadi Raja Kegelapan.


"JANGAN!Jangan bunuh kak Kuro.Dia tidak salah,dia telah menyelamatkan Keena,bu!".


Keena melepaskan pelukan dari ibunya dan mendekap tangan sang ibu yang sedan menodongkan pisau nya kearahku.


"Menyingkir dari situ,Keena!Ibu akan mengusir atau membunuh lelaki durjana ini!Jangan menghalangi ibu,Keena!".

__ADS_1


Si ibu menjelaskan bahwa ia akan membunuhku jika aku tidak pergi dari penginapan ini.


"Eh...membunuh?Aku?coba saja kalau bisa".


Aku yang sedari tadi berdiam diri pun mulai mendekat ke arah sang ibu.Ia pun terkejut karena mendengar suaraku.Aku mengangkat tangan kananku dan menusukkan ke pisaunya.


Keena yang melihat itu melotot dengan pandangan ketakutan.Begitu pula dengan sang ibu.Aku mendekat kearah samping sang ibu dan mulai berbisik.


"Apakah dengan ini..kau puas?".


Terhadap bisikan ku,sang ibu merinding mendengarnya.Keringat dingin yang keluar dari tubuhnya lebih banyak dari sebelumnya.Aku menarik kembali tangan kananku.Aku mendekatkan tangan kiriku ke arah kepala Keena dengan tujuan mengelusnya.


"J-jangan sentuh anakku!".


Sang ibu menepis tanganku dan melarangku untuk menyentuh Keena.


"Begitu,ya.Sayang sekali,padahal aku hanya ingin mengelus kepala Keena."


Aku menjelaskan bahwa aku hanya ingin mengelus kepala Keena saja.


"Keena,sepertinya pertemuan kita hanya sampai disini saja.Setelah ini,pasti ibu mu akan melarangmu lagi untuk bertemu denganku."


Aku mengatakan demikian kepada Keena dengan sedikit menundukkan tubuhku.Keena yang mendengar itu terdiam,tidak bisa berkata apapun.


"Kalau begitu,sampai suatu hari nanti ya,Keena."


Aku kembali tegak dan berjalan ke arah pintu dengan mengatakan seperti itu tanpa berpaling sedikitpun kearahnya.


Aku berjalan menyusuri kota kembali.Tangan kananku sudah pulih dari tadi semenjak aku masih berada di penginapan.Sudah jauh aku berjalan dari penginapan itu.Seperti biasa,dengan dikelilingi oleh warga yang berbisik-bisik tentangku.Aku mengetahuinya,aku mendengarnya.Namun,aku hanya akan membiarkannya.


"Kak Kuro!".


Terdengar suara seorang gadis yang tak jauh dari arah punggungku.Suara yang kukenal.Pemilik suara yang baru saja aku mengucapkan salam perpisahan kepadanya.Ya,itu suara Keena.Aku menolehkan badan ku ke arah nya.Ia terlihat kelelahan dengan nafas yang sulit diatur karena berlari.Keringat tercucur terlihat jelas dari mukanya.Ia berhenti tepat setelah aku membalikkan badan ku.Ia mencoba mengatur nafasnya agar bisa mulai berbicara seperti biasa.


"Eh,Keena?kenapa kau ada disini?".


Aku bertanya untuk memastikan tujuannya ada di sini sambil berlari.Terlebih lagi,untuk mengetahui mengapa ia masih mau bertemu denganku.


"Aku sudah menceritakan semuanya kepada ibuku.Walaupun kami tahu bahwa kak Kuro mungkin adalah Raja Iblis(Kegelapan),tetapi tetap saja kak Kuro telah menyelamatkan aku dan cincin ini dari orang jahat."


Ia menjawab pertanyaanku dengan jawaban seperti itu.


"Lalu,lalu,Ibu menyuruhku untuk membawa kembali kak Kuro.Ibu masak banyak,loh.Dan semuanya gratis untuk kak Kuro."


Ia melanjutkan penjelasannya,sambil mengekspresikan semuanya dalam bentuk gerakan tubuhnya.Ditengah penjelasannya tadi,ia menunjukkan cincin yang telah aku selamatkan tadi.


"Kalau itu,Terimakasih.Baiklah,ayo kita kembali lagi penginapan mu,Keena".


Aku kembali ke pintu depan penginapan ini.Tidak seperti tadi,ibu dari Keena berdiri diidepan pintu seolah-olah sedang menunggu kembalinya kami berdua.


"Mohon maaf atas kelancangan saya tadi.Tolong Maafkanlah saya,Yang Mulia Raja Iblis".


Ibu Keena menundukkan kepalanya sampai setara dengan pinggulnya dan meminta maaf kepadaku atas perbuatannya tadi Aku terdiam sejenak setelah ibu Keena bertindak seperti itu.


"Ya-yaah..Aku tidak benar-benar marah.Hanya saja memberikan sedikit lelucon kecil".


Aku sedikit tersipu malu karena perbuatan ibu-ibu satu ini.Dikehidupanku sebelumnya,aku tidak pernah ditakuti sejauh ini.


"Ayo masuk,kak Kuro.Ibu telah membuat banyak makanan untukmu,lho!".

__ADS_1


Keena mengajak ku masuk sembari menarik-narik tanganku untuk mendekati pintu rumah."


Waktu pun berlalu.Malam menampakkan wujudnya dan siang kembali kepada tidurnya.Aku kini berada di salah satu kamar penginapan milik ibunya Keena,Kuvia.Aku juga sudah mengetahui banyak hal.Mulai dari betapa berharganya cincin itu,senyuman bahagia palsu yang diukir dalam wajah para warga di kota Agrethe,dan juga alasan mengapa penginapan ini kosong padahal ini adalah penginapan yang terbaik yang dimiliki oleh kota ini.Ya,semuanya hanya ada satu alasan,Tumbal untuk Asceur.


__ADS_2