The Chosen One

The Chosen One
Infinite Repetition


__ADS_3

"Kau percaya?".


Kuro bertanya kepada Marthania.


Marthania terbelalak. Memikirkan apakah hal yang semacam ini dapat dilakukan. Bahkan seorang dewa, takdirnya diatur oleh manusia biasa. Hal yang tidak biasa. Hal yang sudah diluar akal logika.


"Kau sudah tidak punya kesempatan untuk menang. Sekarang ini, disini, akan ku ukir kematian terberat yang pernah ada jauh didalam hati, pikiran, bahkan Julukanmu".


Kuro mengangkat tangan yang memegang pedang hitam << Chaos La Ghuriazht >>, bersiap untuk mengayunkannya kepada Marthania.


Marthania yang melihat hal itu hanya bisa berputus asa. Ia tidak bisa berharap lagi bahkan sekecil apapun harapan itu. Harga dirinya sebagai dewi benar-benar telah lenyap dihadapan Kuro. Ia memutuskan untuk mati dengan rasa putus asa ditangan Kuro.


Namun...


[ ! ! ! ]


Suatu hal berdetak, jauh di dalam pikiran Kuro.


Ia yang memegang pedang hitam nan kosong itu mulai kehilangan kestabilan.


("Apa ini!? Apa yang terjadi padaku!?")


Kuro bergumam dalam hati, mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


Tubuhnya semakin tidak bisa dikendalikan, ia tidak bisa menahan itu. Seakan tubuhnya dipaksa untuk melemah.


Marthania, Tujuh Ratu Neraka, serta Suthea yang melihat itu keheranan. Tinggal sedikit lagi kemenangan berada di tangan Kuro.


Marthania melihat harapan kecil, mencoba untuk membuka semacam portal secara perlahan, demi membuat Kuro dan yang lain tidak menyadarinya.


"Kuro!!"


Suthea berteriak, berlari mendekat kearah Kuro.


Tubuh Kuro hampir saja terjatuh dibuatnya, namun Suthea dengan sigap menangkap sebelum tubuh itu membentur.


"Kuro! Ada apa?! Apa yang terjadi padamu!?"


Pedang gelap ditangan terjatuh karena tubuh yang melemah. Bunyi dari pedang yang memantul itu menggema di alam semesta yang telah menjadi kekosongan ini.


Tubuh Kuro dibaringkan di atas paha mulus milik Suthea, bertujuan agar Kuro dapat beristirahat atas pertarungan ini.


"Aku.. juga tidak tahu. Ini.. apa sebenarnya?"


Kuro berbicara kepada Suthea dengan terbata-bata, tidak tahu dan tidak bisa mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


("Ini.. apa? Apa aku akan mati lagi? Tidak, aku tidak akan pernah mati.. Juga, aku tidak mau mati").


Kuro bergumam, pandangannya mulai memudar. Telinganya sudah hampir kehilangan fungsi. Seluruh Ratu Neraka yang ikut cemas berlari, mengelilingi Kuro dan Suthea.


"HAH! DASAR MAKHLUK RENDAHAN!-"


Marthania berbicara dengan nada yang tinggi kepada mereka semua. Meskipun begitu, suaranya tertahan karena darah yang keluar dari mulutnya dan terbatuk-batuk.


"Kali ini kubiarkan kau hidup. Namun, di pertemuan kita selanjutnya, jangan harap kau bisa menikmati indahnya matahari pagi!".


Marthania mengoceh panjang lebar, mulai membuka semacam portal dengan tangan kirinya.


"Satu lagi, aku sudah tidak membutuhkan manusia ini".


Sebelum kaki kanannya memasuki portal itu, ia mengarahkan tangan kanannya. Energi magis berwarna hitam keluar dari tangannya dengan keadaan yang menutup, seakan sedang menutupi sesuatu.


[ ! ! ! ]


Benar saja, ketika energi magis itu terbuka, terdapat Rivas yang telah tewas dengan tubuh yang dipenuhi oleh luka dalam.


Suthea benar-benar dibuat terkejut atas apa yang ada dihadapannya saat ini. Lelaki yang ia cintai mulai tidak sadarkan diri, dan ayahanda nya tewas dengan keadaan yang benar-benar mengerikan. Suthea melotot, tidak mempercayai semuanya.


"Su..thea".


Kuro mencoba untuk memanggil nama Suthea dengan nada yang biasa dimiliki manusia setengah sadar sembari membawa tangan kanannya menuju ke wajah Suthea.


"Iya, aku disini. Aku disini, kok, Kuro".


Suthea yang mendengar suara Kuro itu menjawab panggilannya. Tangan itu segera dicapainya. Memeluk tangan Kuro dan menyandarkannya di wajah.


"Wajahmu terlihat.. sedang tertekan..".


Kuro tersenyum sembari mengatakan hal itu. Ia merasakan kehangatan wajah dan tangan milik Suthea.


"Tidak apa-apa. Aku akan.. melindungimu. Aku akan.. menanggung semua bebanmu..".


Lagi dan lagi, Kuro membukakan harapan untuk masa depan Suthea. Ia berjanji dihadapan Para Ratu Neraka dan Suthea.


Tentu saja, Suthea yang melihat itu mulai mengeluarkan air mata. Ia tahu, Kuro benar-benar telah melindunginya-, tidak, Kuro melindungi semua orang. Kuro melindungi warga Agrethe. Kuro melindungi Keadilan. Kuro melindungi Suthea.


"Bodoh. Kuro yang bodoh. Padahal kamu adalah Raja Iblis, Raja Kegelapan... kenapa kamu mau berbuat sejauh ini untuk kami?".


Suthea menangis sambil berkata dan terus-menerus mendekap tangan Kuro.


"Iya, aku bodoh. Sebodoh inilah aku tercipta... Aku bodoh.. Karena tidak mampu mengalahkan hal buruk.. Maaf, ya".


[ ! ! ! ]

__ADS_1


Setelah Kuro berbicara dengan terbata-bata, sesuatu kembali berdetak jauh di bawah pikirannya. Seakan mencoba untuk membawa kesadaran Kuro.


"Mataku.. memudar. Aku.. tidak bisa melihat. Dimana kamu, Suthea?...".


Suthea kembali terkejut akan kalimat yang dilontarkan oleh Kuro.


"Eh? Aku disini, kok. Aku disini, Kuro".


Kuro kehilangan kesadarannya. Seluruh indra nya mulai tidak berfungsi. Ia tidak bisa melihat, ia tidak bisa mendengar, dan ia tidak bisa merasakan apapun.


Apapun yang dikatakan oleh Suthea kepadanya, menjadi tidak berarti sama sekali.


("Ah... apakah aku akan mati untuk kedua kalinya? Apakah ini akhir untukku? Jika begitu, setidaknya biarkan aku melihat senyum Suthea untuk terakhir kalinya..")


Kuro bergumam.. dan pada akhirnya..


Ia menutup matanya, kesadarannya telah hilang.


"Yo, Kuro".


Sesosok bayangan yang sempat mendatangi alam bawah sadar Kuro kembali menemuinya, menyapa Kuro yang telah terbangun.


Kuro tersadar, ia membuka matanya perlahan, mencoba untuk bangun dari posisi baringnya saat ini.


"Kamu.. adalah kamu yang saat itu?".


"Benar. Aku adalah aku yang saat itu".


Kuro mengambil posisi berdiri, mencoba untuk bertanya kepada bayangan itu.


"Dimana ini?".


"Ini adalah alam bawah sadarmu. Maaf, karena telah masuk seenaknya".


Kuro menanyakan tentang tempat itu. Tempat yang gelap, hanya ada Kuro dan bayangan itu.


"Alam bawah sadar? Milikku? Kamu tahu tidak bahwa beberapa orang tidak mempercayai sesuatu sebelum adanya bukti?".


"Hmm, begitu, ya. Jika kamu menginginkan bukti, aku akan bertanya satu hal kepadamu. Boleh, kan?".


Kuro bukannya tidak mempercayai perkataan bayangan itu. Namun, Kuro adalah pemuda yang realistis. Ia akan mempercayai sesuatu apabila itu memiliki bukti.


"Boleh, silahkan saja bertanya. Akan kujawab sejauh yang ku tahu".


Kuro mengatakan itu, sang bayangan pun tersenyum mendengarnya.


""Dunia ini didasari oleh Julukan (Nickname). Nickname dari masing-masing entitas berada di alam bawah sadar entitas itu sendiri" Kamu tahu betul tentang itu, bukan?".


Bayangan itu menanyakan hal itu kepada Kuro. Kuro benar-benar tahu apa yang dimaksud oleh sang bayangan itu.


Kuro melontarkan pertanyaan tentang hubungan Nickname dengan tempat ini.


"Kamu belum sadar? Ah~, harusnya kamu sudah tahu..".


Sang bayangan mengeluarkan perkataan dengan nada yang sedikit kecewa. Kuro tertegun melihat bayangan itu.


"Lihatlah kebelakang mu, Kuro".


Sang bayangan menyuruh Kuro untuk menoleh kebelakang. Tentu, Kuro menuruti perkataan dari sang bayangan itu, walau Kuro sendiri tidak mengetahui mengapa ia menuruti sang bayangan.


[ ! ! ! ]


Alangkah terkejutnya Kuro, yang berada di belakangnya adalah Nickname miliknya. Nickname yang terpampang jelas dengan tulisan berwarna hitam dan kelam. [ The Daemon Lord, Lord of Darkness ], benar-benar ada dibelakang Kuro.


"Apakah bukti ini cukup untuk meyakinkan mu?"


Sang bayangan bertanya kepada Kuro yang sedang menatap Nickname nya itu.


"Ya, mungkin dengan ini aku bisa sedikit mempercayai mu. Lalu, ada apa? Mengapa aku berada disini?".


Kuro melontarkan pertanyaannya, mulai mencari informasi tentang segala hal.


"Ayolah, jangan bersikap dingin begitu kepadaku. Aku kemari hanya untuk membantumu".


"Membantu?".


"Ya, membantu. Dan juga.. Memberimu peringatan".


Dua entitas ini saling bertanya dan menjawab.


"Kamu mendapatkan [ God Particle ], bukan?".


"Iya, aku mendapatkannya. Lalu?".


Kuro bertanya kembali tentang [ Good Particle ] kepada bayangan itu. Sang bayangan terbang dan sedikit menjauh dari Kuro, mencoba untuk menjelaskan sesuatu.


"Alam semesta ini, berada di tingkatan tengah dari segala tumpukan dimensi alam semesta dibawahnya".


"Aku tahu".


Kuro mendekapkan kedua tangannya didepan dada sembari menjawab dan mendengarkan apa yang dijelaskan oleh bayangan.


"Tiap-tiap dimensi memiliki jumlah alam semesta yang kalau bisa ku perkirakan, itu adalah tak terbatas. Jika 1 lapisan dihancurkan, maka lapisan lain akan lahir sebagai ganti dari lapisan tadi. Itu bekerja secara terus-menerus, tanpa henti, tanpa akhir, dan tanpa batas. Juga, masing-masing dari mereka saling melampaui satu sama lain yang membuat lapisan diatas menganggap lapisan yang ada di bawahnya hanyalah sebuah mitos dan lelucon. ".

__ADS_1


Bayangan itu memulai pembicaraan yang sulit dipahami.


"Itu keren".


Kuro merespon dengan perkataan yang sangat singkat.


"Si-sifatmu dingin sekali, meskipun aku berwujud seperti ini, aku juga memiliki hati".


Bayangan itu merespon jawaban dari Kuro dengan nada yang sedikit sedih.


"Cepatlah lanjutkan penjelasannya!".


Kuro membalas pernyataan sedih dari bayangan itu.


"Iyaaa.."


Sang bayangan berkata dengan nada terpaksa.


"Lalu, [ God Particle ] sendiri adalah salah satu Skill yang hanya dimiliki para dewa. Hukum membawa pernyataan seperti itu. Namun, tampaknya kamu berhasil mematahkan hukum itu. Dengan [ God Particle ], kamu bisa menentukan nasib seseorang, dapat membaca masa depan, masih bisa menggunakan sihir walau ditempat yang benar-benar kosong, dan masih banyak lagi".


Penjelasan panjang pun masih berlanjut, Kuro memegang dagunya dengan tangan kanan sambil berfikir tentang sesuatu.


"Kalau begitu, seluruh hal yang terjadi pada Marthania, karena adanya [ God Particle ]?".


Kuro bertanya, sang bayangan bersiap untuk menjawab.


"Iya, benar sekali. Semuanya berkat [ God Particle]. [ God Particle ]-lah yang telah membawa nasib kepadamu".


Sang bayangan itu turun dari terbangnya, berjalan ke arah Kuro.


"Tapi, aku tidak mem-".


"Aku tahu. Aku tahu semuanya. Kamu ingin bilang bahwa kamu tidak terikat takdir, bukan?".


Kuro mencoba membalas pernyataan itu, walau pada akhirnya ia tidak bisa.


"Memang benar, kamu bukanlah makhluk yang memiliki takdir. Benang takdirmu telah menjadi kekosongan sehingga kamu dapat memilih jalan hidupmu sendiri. Tapi, ..."


"Tapi? ..."


"Tapi, hal itu menyebabkan pengulangan tanpa batas. Kamu yang mengabaikan hukum dengan menggunakan [ God Particle ] juga akan dihukum. Kamu akan kehilangan segala kekuatanmu, energi magismu, bahkan kamu yang tadinya sangat kuat, akan menjadi lebih lemah daripada anak remaja pada umumnya. Hukuman yang diberikan kepadamu bukanlah kehendak siapapun. Itu adalah kehendak alam.".


Sang bayangan memberikan pernyataan dan hukuman yang sulit dipahami oleh Kuro. Lelaki muda berjubah hitam itu mencoba untuk memikirkan maksud dari "Pengulangan tanpa batas".


Kuro menundukkan kepalanya, mencoba memikirkan satu hal.


("Pengulangan ... tanpa batas? Apa itu? Untuk hukuman, ku kesampingkan terlebih dahulu. Pengulangan tanpa batas ini apa? Jangan membuatku-").


[ ! ! ! ]


Bergumam dalam hati tidaklah mengakhiri segalanya. Alih-alih mendapatkan jawaban, tubuhnya kembali terhuyung-huyung, tidak dapat dikendalikan. Kesadarannya kembali memudar seperti yang ia rasakan sebelumnya.


"Oh ... sepertinya sudah saatnya".


Sang bayangan mengetahui apa yang akan terjadi pada Kuro.


Selagi mencoba untuk mengendalikan tubuhnya, Kuro memegang kepala bagian kiri dengan tangan kirinya pula.


"Ini ... apa? Mengapa aku merasakan sakit ini? ..."


"Kamu akan mengulang segala hal, dari awal. Kamu akan mengalami segalanya lagi, dari awal. Namun, kali ini ... segala kekuatanmu akan ku segel".


"...."


Kuro tidak bisa memfokuskan dirinya untuk menjawab apa yang dikatakan oleh bayangan itu. Kesadarannya hampir mencapai batas.


"Oi, bayangan ... setidak ... nya ... beritahu ... aku namamu".


Dengan terbata-bata, ia mencoba untuk bertanya pasal identitas. Dengan kesadaran yang sedikit, ia berusaha untuk bertanya tentang nama.


Sang bayangan itu tersenyum, meskipun senyumnya tidak jelas (karena pada dasarnya, bentuknya adalah bayangan).


"Namaku adalah *****".


Suara itu tidak sampai sepenuhnya ke Kuro. Kesadarannya lebih dulu hilang daripada perkataan itu selesai diucapkan.


Semua menjadi gelap.


ー****Rabu, 22 Maret 2022, Prefektur Kanagawa, Kota Hiratsuka, Jepang.


[KRING!]


Suara itu mencoba membangunkannya. Berbunyi dengar keras dan terus-menerus. Pagi hari yang sangat nyaman untuk terus baring di kasur dan tidur.


Kamarnya dipenuhi oleh suara Alarm. Ia mencoba untuk membuka matanya, berniat untuk bangun dari tidurnya.


Perlahan-lahan, mencoba mengumpulkan semua kesadarannya.


Objek yang pertama kali terlihat adalah atap, atap kamarnya. Atap berwarna putih yang polos, tidak dihiasi apapun.


Mematikan alarmnya, dan membangunkan tubuhnya sendiri untuk duduk diatas kasur itu.


("Itu ... apa? Apakah cuma mimpi..?")

__ADS_1


Ya, anak itu adalah Kuro. Dia kembali mengulang segalanya.


__ADS_2