The Chosen One

The Chosen One
The Birth of a New God


__ADS_3

"Selamat tinggal, Rivas. Yang tadi itu ... sangatlah menyenangkan.."


Kuro mengayunkan pedangnya ke arah tubuh Rivas dengan niat untuk menusuknya ...


"TIDAAAAAK ...!"


Suara seorang perempuan berteriak menggema di suasana yang menegangkan ini.


Wanita yang dianggap tidak memiliki sihir. Wanita yang dianggap sebagai aib keluarga kerajaan. Wanita yang selalu diperlakukan bukuk.Ya, suara itu berasal dari Suthea. Ia berteriak kearah Kuro yang hendak menancapkan pedang itu di dada Rivas.


Sekitar 1 sentimeter lagi jarak antara pedang << Chaos La Ghuriazht >> dan dada Rivas. Kuro memberhentikan pedangnya. Menatap Suthea dengan pandangan yang penuh dengan kebingungan.


"Kamu ... bagaimana bisa ...?".


Kuro menanyakan tentang satu hal yang patut untuk di jadikan Suthea patokan mengapa ia bisa ada di tempat pertarungan seperti ini.


ーBeberapa saat sebelumnya..


Para warga kota Agrethe yang berada di dimensi pribadi milik Kuro itu merasa cemas. Mungkin, mereka berharap bahwa Kuro tidak akan membiarkan para pasukan itu untuk menghancurkan kota.


Mereka bukan tidak percaya akan kekuatan min Kuro. Hanya saja, setelah mendengar jumlah dari pasukan yang akan menyerang itu lebih dari 400.000 orang, mereka berfikir yang sebanyak itu akan sangat mustahil dikalahkan oleh satu orang. Tidak peduli seberapa kuat dia,untuk menahan kekuatan sebesar dan sebanyak itu jauh lebih dalam dari kata 'mustahil'.


"Nee~, akankah Tuan Kuro akan baik-baik saja?"


"Aku sungguh mengkhawatirkan nya"


"Aku juga"


"Aku tahu dia sangatlah kuat, namun untuk menghadapi 400.000 lebih manusia terlebih lagi pasukan yang terlatih itu.."


Para warga kota Agrethe yang berada di dalam dimensi Kuro itu tidak bisa tenang. Mereka terus mencemaskan sang penyelamat hidup mereka.


"Tetap tenang!"


"Tidak ada yang boleh memandang rendah tuan kami, jikalau ada..."


"Kami tidak akan pernah memberi ampun kepada kalian".


Asgerda, Acghulta, dan Ascerta yang mendengar itu pun meminta para warga untuk tenang dan tidak perlu mencemaskan Kuro, Tuan mereka.


Para Ancient Dragon ini di tugaskan oleh Kuro untuk menjaga para warga. Inilah yang menyebabkan Kuro hanya membawa 7 cincin di tangannya.


Para warga yang mendengar perintah dari 3 Ancient Dragon itu pun terdiam, tidak ada satupun yang berani membantah mereka.


Namun, tidak dengan Suthea ...


Suthea memiliki perasaan cemas lebih dari semua warga yang ada. Ini muncul karena rasa cintanya yang terlalu dalam kepada Kuro. Suthea berencana untuk melarikan diri.


Ia mengendap-endap dari balik kerumunan warga, mencoba untuk sebisa mungkin tidak membuat perhatian 3 Ancient Dragon itu tertuju kearahnya. Dalam hal melarikan diri, Suthea lumayan juga.


Sampailah ia di perbatasan dinding dimensi milik Kuro. Ia kebingungan terhadap dinding itu. Lagipula, apa yang bisa ia lakukan? Padahal ia tidak memiliki energi sihir.


Ia mencoba untuk menyentuh dinding dimensi itu dengan ujung jari kanannya. Secara perlahan-lahan jarak antara jari dan dinding itu semakin mengecil, membuat jantung Suthea berdegup kencang.


"Oi, kamu yang disana!"


"(! ! !)"


Asgerda berteriak memanggil seseorang. Suthea yang tengah mencoba untuk menyentuh dinding itu terkejut, menoleh kearah Asgerda.


"Kamu jangan berisik! Suaramu terlalu keras!"


Asgerda memerintahkan seorang wanita yang mengoceh terlalu keras untuk mengecilkan suaranya. Suthea yang tahu bahwa Asgerda masih belum menyadari dirinya itupun menghela nafas lega.


("Fyuuh..Hampir saja..")


Gumam Suthea didalam hatinya. Ia kembali menghadap ke arah dinding dimensi dan mendekatkan ke 5 jarinya. Perlahan tapi pasti, jantungnya kembali berdegup kencang.


~ ~ ~


Jari-jari tangannya menyentuh dinding dimensi itu. Untuk sementara, tidak ada reaksi apapun yang ditimbulkan dari apa yang disentuh, Suthea menjadi kebingungan.


Tapi, setelah beberapa saat...


"(! ! !)"


Dinding dimensi milik Kuro itu retak. Suara retakannya terdengar sampai kepada Asgerda yang tengah mengawas. Suthea yang melihat itu mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Oi, kamu yang disana!".


Asgerda berteriak kepada Suthea, tentu ini membuat Suthea menjadi terkejut. Suthea menghadap ke Asgerda dan ternyata benar, yang dimaksud oleh Asgerda adalah Suthea.


"Apa yang telah kamu lakukan terhadap dimensi ini!"


Asgerda berteriak kepada Suthea. Seketika para warga yang lainnya menatap kearah Suthea dengan pandangan yang tidak diinginkan. Suthea yang melihat hal yang ada dihadapannya itu ketakutan seketika dengan tangan yang masih menyentuh dinding dimensi.


Tubuh Suthea menggigil ketakutan. Tanpa disadari, tubuhnya semakin mendekati dinding dimensi itu yang membuat dindingnya semakin retak, walau retaknya hanya di bagian yang terkena sentuhan oleh Suthea tidak menjalar.


Retakan itu semakin menjadi, membuat dinding dimensi yang disentuh ini menjadi semakin rapuh. Suthea masih saja bergerak mendekati dinding dimensi itu dengan mata yang tidak mempercayai apa yang ia lihat dari para warga.

__ADS_1


Walau, itu hanya pandangannya saja.


Yang sebenarnya terjadi adalah para warga menatap kearah Suthea dengan pandangan yang penuh harap. Ini menandakan bahwa mereka juga ingin bertarung bersama Tuan Raja Iblis Kuro Isshiki. Mereka ingin menunjukkan kesetiaan mereka kepada kota Agrethe yang mereka cintai dan bersedia mati asalkan berperang di sisi Kuro.


Lantas apa yang membuat Suthea memiliki pandangan yang berbeda dengan kenyataannya? Ini adalah kekuatan asli milik Suthea. Kekuatan ini baru saja dibentuk. Ini membuat kekuatannya menjadi diluar kendali dan bahkan mengenai diri sendiri.


Suthea sudah terdesak, punggungnya telah bersandar dengan dinding dimensi milik Kuro ini.


Dan secara tiba-tiba ...


~ ~ ~


Dinding dimensi itu rusak, retak, bahkan hancur. Suthea kini telah berada di tengah kota Agrethe dengan kondisi yang tersungkur. Sedangkan para warga yang masih berada di dimensi itu.


Suthea dapat melihat dimensi itu bahkan seisinya dari Agrethe, namun para warga tidak dapat melihat apa yang terjadi di Agrethe dan Suthea dari dalam dimensi.


Suthea yang telah berhasil keluar itu kembali mengingat tujuan aslinya, Memastikan keselamatan Kuro.


Ia bangkit dari tersungkur nya itu, mencoba untuk berlari. Namun,salah satu kakinya terkilir. Ini membuat ia merasakan sakit. Walaupun dikatakan bahwa ia kesakitan, itu tidak membuat ia menyerah.


Ia mencoba berlari walau langkahnya sama saja seperti berjalan. Ia mencoba berlari walau sakit dari terkilir itu tidak bisa di abaikan. Ia mencoba demi memastikan keselamatan pria yang ia cintai.


ーBeberapa saat kemudian..


Suthea hampir sampai di gerbang kota Agrethe. Ia menahan sakit dari kaki yang terkilir.


[DOOM!]


Terjadi sesuatu semacam ledakan yang membuat area disekitarnya menjadi bergetar. Suthea merasakan getaran itu,ia semakin khawatir terhadap Kuro. Mencoba untuk kembali mendekati gerbang kota.


~ ~ ~


Suthea kini telah berada didepan gerbang kota Agrethe. Tepat dihadapannya terjadi pertarungan dahsyat nan mengerikan. Dahsyatnya adalah para ratu neraka bertarung dengan para malaikat, sedangkan yang mengerikannya adalah ... Kuro.


Ya, kini apa yang Suthea lihat adalah Kuro, berdiri dihadapan Rivas yang terbaring tak berdaya. Sejujurnya, dari awal ia sudah salah mengkhawatirkan Kuro. Malahan, daripada memikirkan Kuro, ia lebih baik memikirkan tentang ayahnya sendiri.


Kuro mengangkat pedangnya lebih tinggi dari kepala dengan ujung tajam yang mengarah ke tubuh Rivas, berniat untuk menusuknya dan mengakhiri semua ini.


Terlihat oleh Suthea bahwa Kuro berbicara sepatah kata kepada Rivas sebelum pada akhirnya ia mengayunkan pedang hitamnya itu.


Suthea yang melihat kejadian itu tidak bisa melihat ayahnya mati dihadapannya. Mencoba untuk memberhentikan Kuro.


"TIDAAAAAK!".


Suthea berteriak, membuat Kuro memberhentikan ayunan pedangnya tepat satu sentimeter dari dada Rivas. Begitulah yang terjadi sampai kondisinya menjadi seperti ini.


"Kamu ... bagaimana bisa ...?"


Suthea berteriak kearah Kuro untuk menghentikan perbuatannya itu.


"Kuro, kamu tak perlu sampai mengotori tanganmu sendiri demi melindungi kami semua".


Suthea berbicara kepada Kuro.Membuat Kuro menarik kembali pedangnya kesamping pinggul kanannya.


Rivas yang menyadari akan hal ini mencoba mengambil kesempatan, ia memusatkan energi jiwa nya di pedang << Averthine >> nya, dengan harapan dapat memberikan satu atau dua perlawanan kepada Kuro.


"Mengotori tangan? Bukankah sebelumnya aku telah membunuh pak tua yang ada di rumah itu?".


Kuro menjawab pertanyaan Suthea dengan melontarkan pertanyaan nya kembali. Membuat Suthea sedikit tertegun dan mengepalkan tangannya.


"Aku tahu ..."


Suthea menjawab pertanyaan Kuro dengan jawaban yang ia potong.


"Kalau begitu bukankah hal ini sam-"


"Aku tahu kamu tidak membunuh pak tua itu".


Belum selesai Kuro membalas perkataan perempuan itu, pernyataannya di tepis oleh Suthea.


"Kamu tidaklah membunuh pak tua itu. Kamu hanya memindahkannya kepada dimensi kekosongan tak berujung, yang dimana itu sendiri adalah hal yang tidak pernah ada."


Suthea melanjutkan perkataannya, membuat Kuro tersadar akan kekuatan asli milik Suthea.


Suthea bukanlah tidak memiliki energi sihir. Hanya saja, dia memiliki sumber energi sihir yang berbeda dari seluruh entitas yang ada. Jika sihir milik orang lain bermula dari energi jiwa yang tercipta dari julukan, maka energi sihir milik Suthea tercipta dari perasaan yang dapat mempengaruhi julukan.


Perasaan akan membentuk sesuatu yang tidak memiliki permulaan di alam bawah sadar. Perasaan itu menyatu dengan julukan "The Failed Princess" miliknya dan berubah menjadi kekuatan yang sangat besar serta julukan baru milik Suthea terbentuk, meskipun tidak ada satu orangpun yang mengetahui nya. Jadi, pertanyaan tentang mengapa Suthea dapat menghancurkan dimensi pribadi milik Kuro dan dapat mengetahui apa yang terjadi di dimensi lain terjawab sudah. Semenjak ia memiliki rasa cinta kepada Kuro, ia sudah tidak terikat hukum dunia.


Perasaan yang kuat yang ditujukan ke Kuro membuat tali energi jiwa miliknya dan Kuro bersatu. Jadi, jika Kuro adalah ketidakcocokan hukum dunia, maka Suthea adalah keterbalikan hukum sebab-akibat. Jika Kuro adalah Kegelapan dari dunia, maka Suthea adalah Kehancuran yang tak terelakkan dari dunia. Selagi Kuro tidak mati, ia tidak benar-benar mati.


Selagi Kuro dan Suthea berbincang-bincang tentang itu, Rivas telah selesai mengalirkan energi penuh ke pedangnya, secara tenang mencari tempat mendarat yang cocok untuk menusukkan pedangnya ke tubuh Kuro.


Ia mendapatkannya. Ia menemukan tempat yang pas. Ia akan menusukkan pedangnya tepat ke bagian jantung Kuro.


"Lagipula hal yang seperti ini kan-".


[! ! !]


Sekali lagi, perkataan Kuro harus terpotong. Bedanya, kini bukan Suthea yang memotongnya, namun Rivas lah yang melakukannya. Ia menusuk Kuro tepat jantungnya dengan harapan dapat membunuhnya.

__ADS_1


"KUROO!"


Suthea yang melihat itu sedikit terkejut. Ia berteriak kepada Kuro dengan air mata yang hampir keluar.


Akan tetapi ...


"Ah, Tidak apa-apa, Suthea. Aku oke"


Ia berkata kepada Suthea seperti tidak terjadi apa-apa, padahal terlihat jelas darah mengalir dari mulut dan dadanya.


"Kau!? Bagaimana bisa!?".


"Kau sendiri pasti sudah tahu kan, Rivas?Jika kau tidak menghancurkan Julukanku, maka aku tidak akan pernah mati".


"Apa..katamu?! Kalau begitu bagaimana dengan ini!?".


Terjadi percakapan sedikit antara Kuro dan Rivas sebelum Rivas mengalirkan energi cahaya yang ada pada << Averthine >> ke jantung Kuro.


"AAAARGH!


Kuro berteriak kesakitan, sakit yang teramat sangat itu kini tengah ia rasakan di tubuhnya.


Energi cahaya itu menjalar di tubuh Kuro, mulai memasuki alam bawah sadarnya.


Rantai absolut yang melindungi julukan milik Kuro hancur karenanya, dan kini energi itu mulai menyelimuti julukan "Demon Lord, Lord of Darkness" milik Kuro.


Secara perlahan-lahan, seluruh tubuh Kuro mengeluarkan cahaya emas. Sangat berbanding terbalik dengan ia yang pada dasarnya selalu diselimuti kegelapan.


Semuanya yang berada di sana dan melihat kejadian itu terkejut dan kenyataan tentang perasaan ketakutan mereka tak bisa ditepis.


"AAAAARGH!".


"HIAAAAA!".


Kuro berteriak kesakitan, sedangkan Rivas berteriak untuk menguatkan energi yang disalurkan.


ーBeberapa menit kemudian..


Cahaya dari pedang << Averthine >> memerlukan waktu sekitar 2 menit untuk menyalurkan energi itu secara merata ke tubuh Kuro,tanpa terkecuali julukannya.


Tubuh Kuro meledak sembari mengeluarkan cahaya dari mulut dan mata. Semua orang yang ada disana terkejut bukan main melihatnya, termasuk para ratu neraka.


"Bagaimana, hah!? Ini adalah akhir dari riwayatmu! Hahahaha!".


Rivas berbicara dengan nada tinggi kepada Kuro dan di akhiri oleh tawanya yang mengerikan.


Namun ... Kuro tidaklah mati.


"Iya, iya. Terimakasih atas hidangannya".


[! ! !]


Suasana menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Suara dari entitas yang seharusnya sudah mati dilahap oleh energi cahaya, muncul kembali. Ya, Kuro tidaklah mati.


"Kau ...!?"


Rivas bertanya-tanya, matanya terbelalak melihat Kuro yang baik-baik saja seperti sebelumnya.


"Aaah~, rasanya buruk sekali ... Oi, Rivas! Energi cahaya mu tidak enak".


Rivas semakin terbelalak dengan perkataan Kuro. Keringat dingin bercucuran di setiap tubuhnya.


"BAGAIMANA BISA KAU TAHAN DENGAN SERANGAN MEMATIKAN SEPERTI ITU!?BAGAIMANA BISA KAU MASIH HIDUP!?BAGAIMANA CARAKU MEMBUNUHMU!? APA YANG SEBENARNYA TERJADI!?".


Rivas berteriak kepada Kuro dengan posisi tersungkur tak berdaya. Ini menandakan bahwa ia sudah kehilangan harapan untuk melawan Kuro.


"Kau tahu, seranganmu tadi malah memberi keberuntungan kepadaku. Jika kau bertanya bagaimana aku bisa ... hmm, aku melahap energi cahayamu dan bersatu dengannya. Aku juga telah mendapatkan sesuatu yang baru, God Particle (Partikel Tuhan)".


God Particle adalah kekuatan sebenarnya dari Sense of The World. Kekuatan ini tercipta apabila sesuatu yang tidak memiliki akhir, sesuatu yang tidak memiliki awal, dan sesuatu yang bertolakbelakang digabungkan. Energi Cahaya dari surga, dengan pemilik yang mempunyai sifat neraka, dan Energi Kegelapan dari neraka, dengan pengguna yang memiliki sifat surga berhasil digabung, dapat menghancurkan lapisan dimensi yang tak terbatas yang dimana lapisan dimensi diatasnya menganggap lapisan dibawahnya hanyalah sehelai kertas biasa yang dapat dirobek dengan mudah kapanpun. Dari God Particle juga Kuro dapat mengetahui bahwa alam semesta ini tidak hanya ada satu, namun berlapis-lapis dan di setiap lapisan itu memiliki lapisan pula didalamnya.Begitu seterusnya.


Kuro mendapatkan berbagai informasi didalamnya, ia mengotak-atik setiap informasi itu di Infinity Memory miliknya dan mengetahui akan luas alam semesta ini.


"Dengan God Particle, Aku tahu bahwa alam semesta ini berada di atas lapisan dimensi yang tak terbatas. Dan nama dari alam semesta ini adalah, The Morgerouem".


Kuro benar-benar telah mengetahui semuanya layaknya tuhan. Inilah yang membuat kekuatan tersebut dipanggil God Particle.


"Aku juga tahu, bahwa setiap lapisan dari dimensi itu memiliki alam semesta yang tak terbatas juga di dalamnya. Hmm..Kuharap kau paham, wahai yang diciptakan (hamba)".


"Yang diciptakan, ya ... yang diciptakan ... yang diciptakan ...."


Rivas mengoceh tentang itu secara terus menerus. Membuat keadaan menjadi semakin tegang.


Ia berdiri dengan bertumpu pada pedang << Averthine >> nya itu yang ujung tajamnya menancap ke tanah.


Secara mengejutkan, ia mengeluarkan aura yang sangat berbahaya dan mematikan. 480.001 pasukan yang melihatnya tewas seketika.


Aura itu membungkus dirinya yang membuat Rivas menjadi kesakitan. I berteriak dengan sangat keras, seakan rasa sakit yang sejauh ini pernah dirasakan olehnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang sekarang.


Aura yang membungkus tubuh Rivas itu terbuka. Terlihat jelas bahwa yang berada di hadapan Kuro sekarang bukanlah Rivas lagi, melainkan seorang perempuan dengan baju yang sangat putih serta lebar.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin sudah saatnya aku untuk melawanmu".


"Ya, mari kita mulai pertarungan antar dewa ... Goddess X".


__ADS_2