The Chosen One

The Chosen One
The Chosen Destiny


__ADS_3

("Apa itu ...? Apakah cuma mimpi ...?")


____________________________________________


Di pagi itu, dia terbangun. Seluruh pikirannya memaksanya untuk menganggap bahwa perjalanannya di dunia lain hanyalah mimpi semata.


...Realita tanpa bentuk, realita tanpa bidang ... dan realita tanpa ujung....


Apakah itu mimpi? Apakah anak-anak yang berusia 17 tahun pada umumnya akan bermimpi seperti itu? Apakah hal ini wajar dialami para siswa SMA?.


Tidak ...


Itu bukanlah mimpi.


Semua itu kenyataan.


Dia terikat oleh hukuman karena menggunakan kekuatan dari skill [ God Particle ]. Tidak lebih, dan tidak kurang. Dia akan mengalami pengulangan tak terhingga. Dia akan terus-menerus mengulangi hal yang sama. Dia akan terus-menerus mengulangi kejadian yang sama.


Sampai ia berhasil menemukan ujung dari pengulangan itu ...


____________________________________________


"Oh ... Yo, Kuro! Cepat juga kesekolahnya, mau nemuin siapa nih?".


Dia dibelakangnya, berjalan kearahnya, penuh dengan semangat muda. Namanya Otaka, Nabura Otaka. Sahabat masa kecil sang Raja Iblis. Kepribadiannya sangat berbanding terbalik dengan Kuro. Dia selalu saja mengganggu Kuro, menjahiliku, sampai paling parah ia membocorkan rahasia pribadi "laki-laki" milik Kuro. Ya, Rahasia pribadi laki-laki.


"Pagi, Otaka. Bisakah kau kurangi sedikit semangatmu untuk menjahiliku hari ini?".


Anak lelaki menyapa Otaka yang tiba-tiba merangkulnya.


"Ayolah, Kuro. Pagi-pagi udah lesu saja".


Anak laki-laki itu terdiam, tidak membalas perkataan dari sahabatnya.


Matahari tersenyum cerah. Daun Sakura yang tertiup angin pagi. Lantunan kicauan burung yang merdu. Kendaraan saling menyapa satu sama lain.


Akan tetapi, semua telah mengetahui akhirnya.


Ya, semua ... terkecuali ... sang tokoh utama.


Kuro tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Meskipun ia mengetahuinya, menganggap kejadian itu hanyalah kebetulan atau mimpi akan jauh lebih baik. Juga, layaknya mimpi pada umumnya, semua orang akan kehilangan 1, 2, atau bahkan lebih ingatan dari mimpi itu.


Tepat beberapa menit setelahnya, ia benar-benar mengalami hal yang sama.


Ia tertabrak oleh truk besar karena mencoba untuk menyelamatkan gadis kecil bernama Otosaka Rin dan boneka kesayangan dari gadis itu. Seluruh bagian tubuhnya mengeluarkan darah. Otaka sebagai sahabat dari sang tokoh utama pun meminjamkan pangkuannya untuk menidurkan kepala Kuro diatasnya, ia tidak memperdulikan darah yang keluar dan mengenai celananya. Luka yang teramat sangat menyakitkan terasa di sekujur tubuh anak itu.


...Kuro Isshiki ... kematian kedua ... dikonfirmasi....


_____________________________________________


[KRING!]


"Ah ... ".


Di hari yang sama, ia terbangun. Kini, ia sedang mencoba untuk menghentikan alarm yang berbunyi dengan malas.


Alarm itu digapai dengan tangan kirinya. Tanpa basa-basi langsung mematikannya.


Menaruh kembali alarm ke tempatnya, ia terduduk diatas kasurnya dengan kaki yang ia letakkan di lantai kamarnya. Kepala bagian kirinya ia pegang dengan tangan kiri.


("Lagi-lagi mimpi itu, ya ... Mimpi yang sangat aneh").


Ia bergumam dan diakhiri dengan menguap.


Keadaan ruangan kamarnya tidak berubah. Rak buku yang berisikan kumpulan komik dan novel, atap polos tanpa hiasan. Berbeda jauh dengan dinding yang di hiasi dengan poster-poster anime terbaru. Benar-benar kamar otaku sejati.


Novel yang sering dibaca oleh Kuro pun memiliki alur yang sedikit ekstrim ketimbang novel lainnya. Ia sangat menyukai alur reinkarnasi. Seperti om-om yang tewas karena beberapa alasan lalu bereinkarnasi ke dunia lain dengan bentuk yang cair, atau raja iblis yang bereinkarnasi ke 4000 tahun di masa depan. Sesuatu yang bereinkarnasi seperti itu, ia menyukainya.


("Eh ...? Tunggu sebentar ...")


Kuro bergumam, akhirnya tersadar.


Ia mengambil kembali alarm tadi dengan tangan kanannya dengan segera.


Ia mendapatkannya, menatap ke arah alarm yang ia pegang ditangan kanannya.


[ ! ! ! ]


Terkejut. Satu kata yang cocok untuk menggambarkan ekspresi Kuro setelah melihat apa yang ada di alarm itu.


Waktu menunjukkan jam 07:00. Hari Rabu, tanggal 22 Maret 2022.


Benar, hari tidak maju dan tidak pula mundur. Kuro mengalami pengulangan di hari yang sama. Pengulangan yang dalam jumlah tidak terhingga.


"Apa-apaan ... ini? Apa yang sebenarnya ... terjadi?".


Matanya terbelalak menatap alarm itu, berbicara tentang kenyataan semua ini.


"AAAAAAAGH!"


Ia berteriak, suaranya memenuhi satu rumah.


Apa yang kau inginkan dari teriakanmu itu? Kau ingin ini semua berakhir?


Teriakan, penyesalan, keputusasaan, tidak akan mengubah apapun.


Kau akan tetap dihukum karena telah melanggar hukum alam semesta. Kau akan tetap dihukum karena telah melanggar hukum sebab-akibat. Kau akan tetap dihukum karena telah berani melanggar hukum realita.


ーBeberapa menit kemudian ...


Kuro kini telah berjalan menuju ke sekolahnya, dengan seragam yang rapi. Walau raut wajahnya, tidak se-rapi pakaiannya.


Ia masih tidak bisa menerima kenyataan akan ini semua. Ia mencoba untuk menjalani hari ini layaknya siswa SMA biasa, meskipun terasa sedikit sulit. Ia masih mencoba untuk menganggap bahwa apa yang terjadi pagi tadi hanyalah kebetulan semata.


"Oh ... Yo, Kuro! Cepet juga ke sekolahnya, mau nemuin siapa nih?".


Otaka tiba dan langsung merangkul Kuro dengan tangan kanannya. Meski begitu, Kuro tidak merespon apapun. Matanya yang kosong menatap lurus kearah depan sembari terus berjalan. Kehadiran Otaka tidak membuat kesadaran Kuro kembali. Ia seperti tengah dirasuki oleh sesuatu.


"Hm ..? Kuro ..? Oi, Kuro!"


Otaka mencoba untuk menyadarkan Kuro. Tangannya melambai-lambai di hadapan wajah Kuro. Mencoba dengan metode ini sebagai permulaan. Namun hasilnya, ini tidak bekerja sama sekali.


"Kuro! Oi! Kau ini kenapa?!"


Selagi terus-menerus memanggil nama Kuro, anak lelaki berambut pirang kuning dengan tubuh sedikit lebih tinggi itu menggoncang tubuh Kuro agar bisa tersadar. Hasilnya ... masih belum sadar. Mata Kuro masih kosong.


"Oi, Kuro! Hentikanlah ini semua!".


Otaka mengepalkan tangannya, mengambil posisi lantas meninju kepala Kuro. Hasilnya, Kuro pun tersadar.


"Aduh, duh, duh, duh ... Lah, Otaka?".


Kuro mencoba menahan sakit yang dirasakan setelah terkena tinjuan tangan kanan dari Otaka. Ia baru saja menyadari keberadaan dari Otaka.


""Lah, Otaka?" Matamu! Aku daritadi ada disebelah mu. Mencoba untuk mengganggumu, tapi kau tidak merespon sama sekali!".


Otaka mengeluarkan semua rasa kesalnya. Ia gagal mengganggu Kuro di pagi kali ini.


"Iya, maaf".


Kuro kembali ke posisinya begitu pula Otaka. Mereka kembali berjalan menuju ke sekolah bersama.


"Terus, ada apa dengan kau pagi ini, Kuro? Kenapa kau bisa melamun?".


"Tidak .. tidak ada apa-apa".


Otaka bertanya, Kuro menjawab. Siklus tanya jawab yang sudab sangat wajar apabila penasaran akan sesuatu.


"Jangan membohongiku! Kau sampai tidak menyadari keberadaan ku, itu artinya ada apa-apa, kan? Kan!?".


Otaka menarik kerah baju Kuro dengan kedua tangannya. Wajah Kuro dan Otaka tidak lebih dari 7 sentimeter.


"Lantas, jika ku beri tahu apakah kau akan membantuku!?".


Otaka terdiam sebentar akan pertanyaan Kuro yang terlontar dengan nada yang cukup tegas.


"I-iya .. tentu saja! Tentu, aku akan membantumu".


"Apa-apaan jawaban ragu itu?! Tch! Sudahlah, lepaskan bajuku".


Kuro membuat tangan Otaka melepaskan kerah bajunya dengan bantuan kedua tangan miliknya. Ia menepisnya dan kembali berjalan.


"Oi, Kuro! Tunggu!".


Otaka yang sedikit tertinggal dibelakang mengikuti Kuro.


Kini, Otaka telah berada di samping Kuro. Dari awal, rentan jarak antar Otaka yang tertinggal oleh Kuro tidaklah begitu jauh. Untuk Otaka yang memiliki tubuh dan stamina atletis, jarak sedekat itu bukanlah apa-apa.


Mereka berjalan, menikmati angin sepoi-sepoi di musim semi. Pagi yang indah dengan cuaca yang cerah. Meskipun Kuro telah merasakan hari ini tiga kali.


Suasana canggung berada diantara mereka. Otaka yang ragu dengan masalah yang terjadi pada Kuro dan Kuro yang masih ragu untuk menceritakan masalah "Infinite Repetition".


Mereka memang sahabat masa kecil. Namun, berbeda dengan sahabat masa kecil orang lain, mereka mempunyai masing-masing kekurangan.


Otaka yang tidak bisa memecahkan masalah karena otaknya hanya runcing di bagian olahraga dan Kuro yang selalu memendam semuanya sendiri. Meskipun begitu, terkadang Kuro tetap akan menceritakannya kepada Otaka. Namun, karena Otaka yang hanya bagus di olahraga, ia tidak bisa memberikan saran kepada Kuro. Pada akhirnya, masalah itu akan diakhiri oleh Kuro sendiri.


"Be ... gini, Otaka ..."


Kuro memulai pembicaraan, meskipun suasana canggung masih terasa disana. Otaka yang menyadari itupun berusaha untuk mendengarkan perkataan Kuro dengan baik.


"Apakah kau percaya tentang ... Deja Vu?".


"Deja Vu ...?".


Pertanyaan Kuro mungkin tidak bisa dimakan logika, namun Otaka masih tetap memikirkan dan mencoba menjawabnya.


"Deja Vu, ya ..."


Sembari terus berjalan, Otaka memikirkan hal yang ditanyakan oleh Kuro dengan menghadap ke langit pagi dengan tangan kanan yang memegang dagu.


"Sesuatu semacam "Oh, rasanya aku pernah ketempat ini!" atau "Eh? sepertinya peristiwa ini pernah terjadi sebelumnya" ... seperti itu?".

__ADS_1


"Iya, yang seperti itu".


"Hmm ... aku belum pernah merasakannya, sih. Mungkin, apabila aku merasakannya, pada saat itu aku akan bilang kalau aku percaya".


"Apa-apaan jawabanmu itu? Membuatku ingin tertawa".


Kuro dan Otaka berbincang satu sama lain dan diakhiri dengan tertawa bersama. Jarak sekolah dari posisi mereka saat ini tidaklah jauh, sedikit lagi mereka akan tiba di gerbang sekolah.


Tertawa di pagi hari ketika pergi ke sekolah bersama sahabat memang paling baik. Mereka bercerita tentang banyak hal. Kuro bahkan telah melupakan seluruh tekanan yang ia dapat di pagi ini. Mencoba untuk menikmati pagi seperti siswa SMA. Ia tersenyum lega, begitu pula Otaka.


Ah ... andai saja nasib yang kau miliki seperti ini, Kuro, maka kau pasti akan mendapatkan hidup yang nyaman. Andai saja kenyataan yang kau miliki seperti ini, maka kau pasti telah bahagia. Andai saja kau memiliki nasib seperti ini, maka kau sudah pasti akan aman.


Namun ... pada akhirnya, itu semua hanyalah andai-andai semata.


Seorang gadis kecil di pinggir jalan berusaha untuk menyebrang ke tengah jalan untuk mengambil bonekanya. Ia terlihat ketakutan, cemas dan gelisah. Raut wajah seseorang tidak bisa berbohong apabila sedang terdesak. Lalu-lalang kendaraan membuat ia tidak bisa bergerak maju untuk meraih bonekanya.


Jalanan sudah mulai sepi, kendaraan sudah jarang terlihat. Ia memberanikan diri untuk berjalan ke tengah jalanan itu. Alhasil, boneka itu berhasil kembali ke dekapannya.


Namun, satu hal yang menjadi masalah telah tiba.


Satu truk besar berukuran sekitar 2 meter lebih mendekat kearahnya. Alih-alih berlari ke pinggiran jalan, ia terdiam karena saking takutnya.


Kuro yang melihat itu berlari dari sisi Otaka, menjatuhkan tas nya dan berusaha untuk menyelamatkan gadis itu.


"Oi, Kuro! Mau kemana kau?!".


Otaka berteriak, walaupun diabaikan oleh Kuro.


Setelahnya, Otaka mengerti apa yang akan Kuro lakukan. Perkiraannya, sahabatnya itu akan menyelamatkan gadis kecil yang tengah berada di jalanan sambil memeluk boneka. Truk besar akan segera menghantam gadis itu, itulah mengapa Kuro berlari tanpa memperdulikan tas yang ia jatuhkan.


Kuro menaikkan kecepatan berlarinya, ia ingin menyelamatkan nyawa seseorang. Namun, truk itu tidak kalah lajunya dari kecepatan lari Kuro.


Ketika telah berada di satu garis lurus dengan sang gadis, tanpa berpikir panjang, Kuro langsung menyebrang ke tengah jalan untuk mendorong gadis kecil itu.


Kuro melompat agar bisa tepat waktu sembari mendorong gadis itu ke pinggir lapangan. Namun, truk itu telah berada di samping Kuro dengan sangat cepat.


Dan benar saja, kecelakaan hebat terjadi.


"AAAARGH!".


Kuro berteriak kesakitan. Darah keluar di setiap sudut tubuhnya. Diafragma nya telah berpindah tempat, serta beberapa tulang yang patah. Keseluruhannya ia rasakan secara bersamaan.


Sakit yang benar-benar sakit. Sakit yang tidak pernah bisa dibayangkan. Sakit yang jauh lebih parah dari yang pernah ada diperadaban manusia.


Percakapan kecil antara Kuro, Otaka, dan gadis kecil yang bernama Otosaka Rin itupun terjadi. Kuro yang masih merasakan sakit itu menahannya dan mencoba untuk menghibur Rin yang menangis.


("Eh? Tunggu. Bukankah aku pernah mengalami ini sebelumnya?").


Ia bergumam dalam hati, kembali menyadari sesuatu.


("Apakah sebenarnya hal yang selama ini aku alami itu adalah ... kenyataan ...?").


Iya, semua tentang alam semesta The Margorieum itu adalah nyata, Kuro. Kau saja yang tetap bersikeras untuk menganggapnya sebagai mimpi atau ilusi.


("Ah ... apakah aku akan mati lagi ...?").


Penglihatannya perlahan memudar, menyebabkan ia mulai kehilangan kesadarannya. Sakit yang ada karena luka-luka ditubuhnya masih terasa dengan jelas.


Anak itu, untuk ketiga kalinya menutup mata.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-3 ... dikonfirmasi.


_____________________________________________


Kuro Isshiki ... kematian ke-4 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... kematian ke-5 ... dikonfirmasi


Kuro Isshiki ... kematian ke-10 ...


dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... kematian ke-13 ...


dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... kematian ke-17 ...


dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... kematian ke-26 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... kematian ke-39 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-70 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-112 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-150 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-278 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-10.000 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-100.000 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-1.000.000 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-10.000.000 ... dikonfirmasi.


Kuro Isshiki ... Kematian ke-100.000.000 ... dikonfirmasi.


KURO ISSHIKI ... KEMATIAN KE-∞ ... DIKONFIRMASI.


_____________________________________________


Sebuah rangkaian kematian tanpa henti dialami oleh anak lelaki berumur 18 tahun. Rangkaian kejadian tanpa ujung dialami oleh anak lelaki berambut hitam. Rangkaian kenyataan dialami oleh anak lelaki yang tidak salah apa-apa.


Anak itu, kini telah mengidap perubahan mental yang sangat drastis. Ia berusaha untuk tetap tersenyum dan tertawa. Ia menyembunyikan segalanya. Jika ia ceritakan ke siapapun mereka akan segera lupa. Yang masih memiliki kepingan ingatan itu hanyalah Kuro. Hanya Kuro yang masih sadar akan rangkaian kejadian sebelum kematiannya.


Kuro terbangun dihari yang sama, jam yang sama, posisi tidur yang sama, namun dengan keadaan mental yang jauh berbeda.


Ia bangun bersamaan dengan bunyinya alarm itu. Mungkin, jika alarm itu memiliki perasaan, ia akan sakit hati.


"Aha ... ahaha ... ahahaha ...".


Ia tertawa pelan, raut wajahnya dipenuhi oleh rasa takut, trauma, dan gelisah.


"Aha ... ahaha ... ahahaha ...".


Ia abnormal.


Ia tidak waras.


Ia sudah gila.


"Ahaha ... ahahahaha ... AHAHAHAHA!".


Tertawanya semakin keras, semakin keras, dan pada akhirnya suara itu berhasil memuat 1 rumah. Tetangga di sebelah kanan dan kiri mencoba melihat apa yang terjadi pada Kuro melalui jendela rumah mereka yang langsung menghadap ke rumah Kuro. Mereka tidak menemukan jawaban satupun dari sana. Pada akhirnya, mereka menutup jendela kembali, mengunci, dan melapisinya dengan tirai.


Kuro telah menjadi gila, matanya melotot sembari tertawa. Ia menghancurkan kamar tidurnya, satu ruangan menjadi berantakan. Rak yang berisi komik telah hancur dengan komik-komik yang berserakan, poster-poster anime yang telah disobek olehnya.


Kuro, kewarasannya telah menjadi seperti monster.


ーThe Marchedist ...


"Menarik sekali kau, Kuro ...".


Gabriel duduk di singgasana nya, melihat Kuro dari dimensi pribadi miliknya. Pandangannya tembus sampai kepada Jepang dan Margorieum.


"Sudah kuduga, aku tidak salah memilihmu untuk menjadi bidak ceritaku. Kau akan membantu menghilangkan kebosanan ku dengan perjalananmu. Kau yang terbaik, Kuro! AHAHAHAHA! ... AHAHAHAHA!".


Gabriel tersenyum jahat melihat Kuro yang menderita. Ia mengeluarkan tawa yang mengerikan dengan kedua tangan yang berada sejajar dengan perut dan menghadap ke atas.


"Kalau begitu, aku tidak bisa membiarkanmu, Gabriel".


Suara seseorang menggema di dimensi itu. Membuat Gabriel berhenti tertawa dan mencari-cari siapa yang mengeluarkan suara itu.


"Siapa?!".


Gabriel menoleh kesana dan kemari, namun tidak menemukan siapapun. Di Marchedist itu hanya ada ia seorang.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku ..".


"Hah, kau pengecut ya?".


Suara itu dan suara Gabriel saling membalas, menggema di dimensi yang luas itu.


"Pengecut atau apapun itu aku tidak masalah. Aku hanya akan memberimu peringatan".


"Peringatan ...?".


Gabriel kebingungan, apa yang sebenarnya akan terjadi.


("Tch, berlagak sekali, andai aku dapat menemukan wujudmu ... maka kau akan ku cincang").


Gabriel mengepalkan tangannya dan memukulkannya kearah singgasananya itu, meskipun tidak terlalu keras.


""Andai aku dapat menemukan wujudmu ... maka kau akan ku cincang", hmm.. begitu, ya".


[ ! ! ! ]


Gabriel terkejut, suara itu mengetahui apa yang ia gumamkan. Ia merasa terdesak saat ini.


"Yah, apapun itu. Mari kita mulai saja".


Suara itu seperti tidak memperdulikan gumam dari Gabriel. Ia terlihat seperti akan memulai pembicaraan.


"Gabriel, ku peringatkan kau untuk tidak ikut campur terhadap apa yang terjadi pada Kuro Isshiki. Jika kau mencoba untuk turun tangan, maka aku juga tidak akan segan-segan turut serta untuk membantu Kuro".


"AHAHAHAHA! Kau pikir kau itu siapa berani memerintahku?".

__ADS_1


Gabriel tidak mendengar perintah itu, sikapnya tidak acuh terhadap peringatan itu. Dan pada akhirnya, ia kembali tertawa lepas serta bertanya dengan nada yang bertujuan untuk merendahkan.


"Kurasa itu saja cukup. Kalau begitu, sampai jumpa".


Suara itu perlahan menghilang, tidak menjawab pertanyaan dari Gabriel sama sekali.


"Oi! Jawab pertanyaanku!".


Gabriel kembali menggerutu. Ia merasa telah direndahkan serendah-rendahnya oleh suara tadi.


"Tch, apa-apaan suara itu!".


Gabriel mencoba menenangkan dirinya, ia harus tetap terlihat anggun sebagai seorang dewi.


"Yah, apapun itu aku tidak peduli. Habisnya, aku akan bermain-main bersama dengan anak kucingku".


Ia kembali tersenyum. Senyuman mengerikan menjadi ciri khas Gabriel ketika sedang memikirkan suatu hal yang buruk atau jahat.


ーKamar yang telah berantakan milik Kuro ...


Kuro telah selesai dari amukannya. Ia menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Ia bersandar di dinding kamarnya, mendekatkan kedua kakinya dan memeluk kaki itu dengan tangannya.


Hari ini, Kuro tidak akan pergi ke sekolah. Ia pemicu dari pengulangan ini mungkin adalah saat itu. Saat dimana Kuro memutuskan untuk pergi ke sekolah, di hari Rabu, tanggal 22 Maret 2022 ini. Kuro tidak berfikir bahwa penyebab pengulangan ini adalah ketika ia menyelamatkan Rin, sang gadis kecil. Karena ia, telah berulang kali mencobanya.


Dalam kematian yang berjumlah tidak terbatas itu, Kuro telah mencoba berbagai hal, termasuk tidak menolong Rin.


Ketika truk itu sedikit lagi menabrak Rin, Kuro mencoba berpura-pura tidak melihat apapun. Walaupun, ia mengetahuinya.


Hasil yang didapat adalah gadis yang bernama Otosaka Rin itu tewas tertabrak oleh truk. Luka yang dialami sama persis dengan luka-luka milik Kuro. Hari itu, berita gadis yang tertabrak truk menjadi berita yang masih hangat dan disiarkan di stasiun televisi lokal.


Masyarakat kota mengetahui akan hal itu, membuat mereka sedikit berhati-hati.


Mengingat akan semuanya, ketidakwarasan Kuro dimulai kembali.


Pada saat itu, Kuro hanya melihat jasad gadis kecil yang tergeletak di jalan dengan darah disekitarnya. Matanya terbelalak, tidak bisa menahan rasa sakit ketika melihat itu semua. Ia berlarian kemana-mana sembari berteriak. Dan tanpa disadari, ia telah berada di tengah jalan. Mobil ambulans yang akan mengangkut jasad Rin baru akan tiba, dan ketika itu Kuro ada menghalangi jalannya.


Ya, kecelakaan terjadi lagi.


Luka ditubuhnya sama persis dengan luka-luka sebelumnya, termasuk luka dari Rin.


Kuro mengingat itu semua. Kuro mengingatnya. Pikirannya menjadi kusut. Ia kembali mengamuk.


"Sudah cukup, Kuro".


Suara dari seseorang menyadarkannya.


"Kamu telah berhasil melewati pengulangan tak terbatas".


Suara itu sangat lembut.


Suara itu berasal dari alam bawah sadarnya.


Suara itu terasa seakan sangat bersih.


"Saatnya kamu kembali kepada yang lain".


Suara itu menggema.


"Maaf, jika ini semua membuatmu menjadi seperti ini".


Kuro terdiam, seakan telah mendapatkan jawaban dari ini semua.


"Sadarlah, Kuro".


Suara terakhir, semakin lama semakin memudar. Membuat Kuro mengejar-ngejar suara itu.


• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •


Perlahan membuka matanya, atap tetap menjadi objek pertama yang terlihat.


Atap yang berwarna coklat. Atap yang berbeda dari sebelumnya.


Ia menoleh ke arah kiri, menemukan Suthea tertidur dengan posisi duduk di kursi kayu.


Ketika dirasa kesadarannya telah cukup untuk berganti posisi, ia mencoba untuk mengambil posisi duduk.


Suara dari gerakan itu membuat Suthea terbangun dari tidurnya.


"Oh, Kuro!".


Suthea langsung meraih kepala Kuro yang kini sedang dalam posisi duduk itu. Kepala itu ia peluk di bagian dadanya. Yang dirasakan oleh Kuro hanyalah kekenyalan dan kelembutan.


Suthea menangis. Tangisan haru pecah karena tidak bisa dibendung lagi.


"Syukurlah ... syukurlah kamu telah kembali".


Kuro tidak ingin berpindah dari posisi ini, namun dia memiliki banyak pertanyaan kepada Suthea.


"Anu ... Suthea-san, bolehkah ini dilepas dulu?".


"Gak!".


Suthea terus-terusan memeluk Kuro, merasakan kehangatan dari tubuh yang telah lama tertidur itu.


("Kalau begini, kapan aku bisa tenang? ... Yah, terserah lah. Begini pun boleh, empuk soalnya").


ーBeberapa menit kemudian ...


Cukup lama Kuro merasakan kekenyalan itu dari Suthea. Pada akhirnya, Suthea melepaskan pelukannya dan mulai mendengar cerita dari Kuro.


"Dan begitulah yang terjadi sampai kepada aku yang kembali ke sini".


"Hmm, jadi kamu itu adalah anak lelaki biasa berumur 18 tahun dan tinggal di tempat yang bernama "Jepang". Lalu tewas dan kemudian ada berakhir disini".


Suthea memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Kuro.


"Ya, begitulah. Itulah yang terjadi sampai dengan aku yang berada di hadapanmu saat ini".


Kuro membenarkan apa yang Suthea ucapkan.


"Tunggu sebentar, ya. Aku akan segera kembali".


Suthea beranjak dari tempat duduknya. Berdiri dan keluar dari kamar Kuro. Kuro yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Keadaan mentalnya telah kembali seperti semula. Namun, sakit yang ia alami saat kecelakaan itu benar-benar telah terukir di hatinya dan pikirannya. Ia tidak bisa melupakan betapa sakitnya tulang-tulang yang patah, darah yang keluar, dan semacamnya.


Semua yang terjadi bukanlah mimpi, semua yang terjadi bukanlah ilusi, semua yang terjadi bukanlah hal yang tabu. Itu adalah realita.


Ia mencoba untuk bangkit dari ranjangnya, berjalan ke arah jendela yang langsung menghadap ke kota Agrethe, kota terindah yang pernah ia temui.


Berjalan pelan, tidak terburu-buru untuk bisa sampai ke jendela kamar. Jarak yang ada pun tidak terlalu jauh. Dan akhirnya, Kuro berhasil mencapai jendela itu.


Sinar matahari sore menyambutnya, matahari yang berwarna jingga seperti akan tenggelam itu menyapanya lebih dulu.


Terlihat olehnya. Aktivitas masyarakat kota Agrethe yang seperti biasa, sangat memanjakan mata. Aman, damai, nyaman, tentram. Sungguh hebat. Mereka yang ada berada di pasar melakukan transaksi jual-beli secara adil dan bersih. Beberapa dari mereka baru tiba mengangkut barang dagangannya dengan sesuatu semacam gerobak. Beberapa lagi mengangkut semacam daging untuk dijadikan berbagai makanan seperti sup daging, daging panggang, dan sebagainya. Aroma yang diciptakan juga tidak kalah menarik. Mungkin, siapapun yang mencium aroma itu akan tergiur olehnya.


Kuro kembali tersenyum melihatnya. Kedamaian milik mereka telah kembali. Baginya, kota Agrethe adalah segalanya. Yah, walaupun kepentingan Agrethe masih menjadi nomor 2 setelah Suthea.


"Kuro, ini aku, Suthea".


Suthea mengetuk pintu kamar Kuro dan memberitahukan keberadaan nya disana. Namun, rasanya bukan hanya Suthea yang berada disana.


"Iya, silahkan".


Kuro merespon dengan nada yang lembut.


Ketika pintu dibuka, yang berada di sana bukan hanya Suthea. Namun juga Kuvia, Keena, 7 Ratu Neraka, dan 3 Ancient Dragon.


"Kuro-sama!!".


"Maou-sama!!".


"Kuro Onii-chan!".


"Kuro-sama!!".


Suara itu keluar dari mereka. Mereka berlarian dari pintu menuju ke Kuro dan segera memeluknya. Akibatnya, Suthea terjatuh karena dilindas oleh mereka.


"Oi, Aku yang duluan!".


Suthea berteriak, namun tidak ada yang mendengar mereka.


Asgerda yang hanya terkagum itupun masih berada di depan pintu. Ia menawarkan tangannya untuk membantu Suthea berdiri.


"Ini, Nona".


"Waa~, Asgerda-san orang baik ternyata ...".


Mata Suthea berkilauan memandang kebaikan dari Asgerda. Ia menerima tawaran dari Asgerda untuk membantu Suthea berdiri.


"Kuro-sama! Kuro-sama!".


"Tunggu, Aku yang pertama sampai disini, biarkan aku untuk memeluk Kuro-sama juga!".


"Maou-sama!".


"Itu curang namanya! Aku juga mau!".


Suara itu kembali dilontarkan oleh para wanita yang ada disana. Mereka berebut untuk memeluk Kuro. Kuro ditarik ke kiri dan ke kanan. Pada akhirnya, keseluruhan dari mereka memeluk Kuro secara bersamaan.


Kuro dihimpit oleh dada wanita di berbagai arah, membuatnya tidak bisa bernafas. Yah, Kuro juga tidak memerlukan oksigen. Dia masih bisa hidup meskipun oksigen dihilangkan.


"Tunggu, kalian semua! Aku dihimpit oleh ini! Sadarlah sedikit bahwa punya kalian itu besar! Kecuali Keena ... hehehe".


Kuro membuat jarak antara dirinya dan seluruh wanita disana dengan tangan yang ia rentangkan. Ia berbicara dengan nada yang semakin lama semakin pelan, ia tidak mau Keena mendengarnya.


Mereka sedikit sedih dan kecewa karena tidak bisa memeluk Kuro.


"Yosh! Kalau begitu, untuk menyambut sadarnya Kuro-sama, hari ini kita akan adakan pesta besar-besaran!".


Asgerda memeriahkan suasana dengan itu. Tentu, semua yang ada menjadi semangat kembali dan mengiyakan ajakan dari Asgerda. Tanpa sadari, mereka telah berada di belakang Kuro sambil memeluknya.


Keadaan yang benar-benar rumit dan canggung ini sulit untuk terhindarkan.

__ADS_1


__ADS_2