
Hari berganti hari, sudah seminggu berlalu sejak aku mengalahkan Asceur. Agrethe kembali damai, keluarga Kuvia sudah tidak diasingkan lagi, itu karena aku menyuruh para warga desa untuk tidak berbuat hal semacam itu di kota ini.
"Mustahil kalian akan menemukan kedamaian yang sejati apabila masih terus mengasingkan orang lain. Karena pada dasarnya kedamaian yang sejati adalah hal yang didapat jika bersama, bukan sendirian".
Kurang lebih seperti itulah perkataan ku didepan seluruh warga kota. Pada awalnya, mereka terlihat bingung, namun satu persatu dari mereka mulai akrab kepada Keena dan Kuvia.
Sejak saat itu, penginapan milik Kuvia kembali ramai. Aku bahkan tidak memiliki tempat untuk menginap.Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menciptakan dimensi kecilku sendiri untuk beristirahat disana.
Aku yang sekarang tengah berjalan-jalan mengelilingi kota, sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Mereka yang sebelumnya selalu berbisik-bisik tentangku, kini telah berubah dengan menyapaku. Ya, karena aku telah dianggap menjadi penyelamat kota.
Aku mampir sebentar ke penginapan Kuvia. Disana aku disambut dengan ramah dan Keena langsung menghampiriku serta memeluk kakiku. Aku tersenyum kearahnya dan mengusap rambutnya dengan tangan kananku yang penuh dengan cincin.
...Aku bukan Lolicon atau semacamnya, ya. Buktinya saja aku lebih tertarik dengan tubuh Lucifer....
"Kak Kuro,
hari ini mau ngapain?".
Tanya Keena dengan posisi yang masih memelukku.Aku menarik tanganku dari kepalanya sehabis mengusap-ngusap rambutnya yang berwarna krim.
"Tuan Kuro,ada perlu apa sampai jauh-jauh datang kesini?"
Belum sempat aku menjawab pertanyaan dari Keena,sang ibu,Kuvia juga bertanya tentang hal yang sama sambil membawakan semangkuk sup panas yang dihidangkan untukku..mungkin.
"Hmm..aku berniat untuk mendengar beberapa cerita tentang kerajaan ini dari kalian".
Aku menjawab pertanyaan Keena dan Kuvia sambil memegang dagu dengan tangan kananku.Habisnya,aku merasa ada ysng janggal tentang kerajaan ini.
"Wah,begitu ya?kalau begitu silahkan duduk..Saya juga membawa sup panas yang sangat terkenal di kota Agrethe ini".
Benar,kan?sup itu untukku.Kuvia tersenyum lebar dan menyuruhku duduk sembari meletakkan semangkuk sup dihapdapanku.Keena yang mendengar pun melepaskan pelukannya.
"Ibu..Aku mau bermain dengan teman,ya..Dadaah".
Keena berkata seperti itu setelah melepaskan pelukan nya dariku.Aku sedikit tertegun ketika hendak menyicipi sup buatan Kuvia.
("Oh,Keena sudah dapat teman,ya?Baguslah kalau begitu").
Aku bergumam seperti itu dan memasukkan suapan pertama kedalam mulutku.
"Lezat..sup ini lezat".
Aku terkejut dengan rasanya.Enaknya bukan main.Padahal hanyalah sup biasa tetapi bisa seenak ini.
"Baguslah!".
Kuvia yang mendengarnya pun tersenyum bahagia karena aku memuji makanannya.
Aku makan dengan lahap,Kuvia mengambilkan air minum untukku.Aku sangat kenyang.Makanan ini sungguh lezat.
Aku hampir melupakan tentang tujuan utamaku kemari.Aku hanya akan bertanya kepadanya tentang yang telah dan tengah terjadi di kerajaan ini.Kuvia telah duduk didepanku dan bersiap untuk memulai cerita.
"Kerajaan ini di pimpin oleh sang Raja Cahaya,Tuan Rivas.Dulunya ia adalah Pahlawan di Kerajaan ini dan mendapat berkah cahaya langsung dari Dewa Cahaya.,Artheus.Setelah mendapatkan berkah itu,ia di izinkan untuk menjalin kontrak dengan 7 Pengawal Surga.Kekejamannya pun dimulai sejak Raja pendahulunya mati akibat faktor usia dan takhta raja selanjutnya di berikan kepada Raja Rivas.Kepemimpinannya sangatlah kejam,ia adalah seorang diktator.Ia memeras uang rakyat dengan iming-iming keamanan.Padahal,disetiap kota sering terjadi perbudakan,pemerkosaan,dan banyak hal kejam lainnya".
__ADS_1
Kuvia memulai ceritanya dengan wajah yang murung.Aku berfikir bahwa perbuatan sang Raja sangat tidak bertanggungjawab.Aku sangat bingung dengan tipe pemimpin yang seperti ini.
"Ia tidak pernah memikirkan tentang rakyatnya.Ia hanya memikirkan kekuasaan, dan kekuatan saja".
Lanjut Kuvia akan pembicaraan nya.mendengar tingkah dari sang Raja saja aku sudah muak,apalagi menatap wajahnya.Mungkin aku bisa saja muntah karena wajahnya.
"Suatu hari,salah satu dari 41 istri sang Raja melahirkan,berjenis kelamin perempuan.Ia diberi nama Suthea.Setelah melahirkan Putri Suthea,sang ibu tewas karena kehabisan tenaga.Suthea pun hidup dengan ibu dan saudara tiri lainnya.Putri Suthea memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi,berambut kuning,dan memiliki mata yang biru sebiru lautan.Ia tumbuh di lingkungan yang buruk,seluruh saudara dan ibu tirinya mengasingkan dirinya.Ia dianggap sebagai anak yang gagal karena tidak memiliki energi sihir setitik pun didalam tubuhnya.Itu bahkan lebih buruk daripada rakyat biasa."
Kuvia masih melanjutkan ceritanya.Aku mendengarnya dengan seksama.Tentang betapa kejamnya perlakuan keluarga kerajaan terhadap gadis yang bernama Suthia.
"Putri Suthea dilarang oleh ayahnya sendiri,Raja Rivas untuk pergi keluar dari istana kerajaan,karena hanya akan membuat malu keluarganya saja.Namun pada suatu hari,tanpa sepengetahuan Sang Raja,para selirnya dan seluruh penjaga istana,ia keluar dari sana dan pergi ke kota ini.Ia tahu bahwa kota ini adalah kota yang damai.Kami telah menganggap Putri Suthea adalah satu-satunya keluarga kerajaan yang sangat baik ke rakyat biasa seperti kami."
("Ooh..berarti si Suthea ini sudah aman sekarang").
Aku bergumam setelah mendengar sambungan cerita dari Kuvia.
"Lalu,sekarang dimana si Putri Suthea itu?".
Aku bertanya tentang keberadaan Suthia kepada Kuvia.Ia yang mendengar itu berhenti berbicara,wajahnya tampak jauh lebih murung dari sebelumnya.
"Setelah pergi dari istana,Raja Rivas pun mengetahuinya.Dengan amarah yang menggebu-gebu di hatinya,ia mengirim pasukannya ke kota ini untuk membawa Putri Suthea kembali ke istana.Putri Suthea yang saat itu berada di kota ini pun di bawa paksa oleh pasukan kerajaan.Kami tidak bisa melawan sama sekali,karena pasukan mengancam apabila ada warga yang melawan maka seluruh keluarganya beserta pelaku akan dihukum mati.Setelah Putri Suthea kembali ke istana,Raja Rivas pun mencambuknya dengan 100 kali cambukan di bagian punggung.Tentu saja pada saat di cambuk itu,Putri Suthea kesakitan dan menangis.Namun sang Raja tidak memperdulikan hal itu.Ia tetap mencambuknya."
Aku terdiam setelah mendengar cerita seperti itu.Betapa kejamnya sang Raja Rivas itu.Bahkan anaknya sendiri,darah dagingnya sendiri diperlakukan semacam itu.
"Beberapa hari setelahnya,Raja Rivas pun..Raja Rivas...Putri Suthea..."
Mata Kuvia berkaca-kaca,ia hendak menangis,nafasnya mulai terisak.Sekarang aku mengerti betapa berharganya Putri Suthea dikalangan rakyat Agrethe.Aku mencoba untuk diam saja sekarang ini,karena aku tahu menghiburnya saja pasti tidak akan membuat hatinya merasa lega.
"Raja Rivas memutuskan untuk menjual Putri Suthea ke penjual budak".
('Tuan Raja Iblis,tolong kendalikan perasaan anda").
Lucifer yang berada dalam wujud cincinnya menyuruhku untuk mengendalikan emosi ku melalui Connected Heart.Nanti saja aku jelaskan apa itu Connected Heart dan bagaimana aku bisa mendapatkannya.
Aku yang menyadari perkataan dari Lucifer pun mulai menenangkan diri kembali.Aku menatap kearah Kuvia,ia sudah menangis sejak tadi.
("YOSH!SUDAH KUPUTUSKAN!").
Aku berkata dalam hati.Ya,aku telah memutuskan suatu langkah dan mengambil resiko yang sangat besar.
Aku berdiri di hadapan Kuvia.Ia yang menangis daritadi pun mulai berhenti,menatap kearahku dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
"Kuvia,aku akan menjadikan kota ini sebagai kota yang berada di bawah naunganku.Aku akan melepaskan kalian semua dari belenggu si Rivas yang sialan itu".
Kuvia yang mendengarnya pun bertanya-tanya,ia melontarkan pertanyaan nya kepadaku.
"Mengapa?mengapa Tuan Kuro mah menyelamatkan rendahan seperti kami"?.
"Bukan,aku bukan menyelamatkan kalian.Aku akan melepaskan kalian.Hanya itu saja".
Kuvia yang mendengarnya pun menangis.Tetapi,tangisan yang kali ini berbeda,ia menangis bahagia.Akhirnya kota Agrethe menemui kedamaian yang sejati.
"Baiklah kalau begitu,Kuvia.Aku akan mencari Si Putri Suthea dan membawanya kembali kesini.Sampai pada saat itu,kau tidak diizinkan untuk memberitahu ke warga yang lain termasuk Keena,mengerti?".
__ADS_1
Aku menjelaskan tujuan ku.Ya,aku akan membawa Suthea kembali.Aku juga memerintahkan ke Kuvia untuk tidak memberitahukan warga kota.Karena apabila mereka mengetahuinya,ada 1 hal yang aku tak ingin itu terjadi.Aku tidak ingin ada yang membeberkan berita ini ke warga di luar kota.Karena nantinya,pasti itu akan sampai ke telinga Sang Raja Pahlawan,Rivas.
"Baik,Tuan Kuro.Saya akan menjaga amanah Tuan dengan baik."
Ia berdiri dari tempat duduknya dan berkata demikian dengan tubuh yang setengah membungkuk ke arahku.
"Kalau begitu,aku pergi dulu".
Ucapku sembari keluar dari penginapan.Kuvia yang melihatku tersenyum sambil menahan isak tangis serta melambai kearahku.
Tetapi..tanpa Kuro sadari,ia telah di intip sedari awal oleh mata-mata kerajaan.Mata-mata itu mendengar semua percakapan Kuro dan Kuvia.
ーDisisi lain,di istana kerajaan..
"Saya telah kembali,Yang Mulia Tuan Raja Rivas".
Ucap seseorang dengan jubah hitam yang tudung dari jubah itu menutupi kepalanya.
"Ooh,kau memang hebat ya..Samael".
Rivas menjawab perkataan dari orang yang ada di balik jubah tersebut.Ya,itu adalah Samael.Dia belum tewas akibat hukuman mati yang di jatuhi olehnya.
"Lalu,ada informasi apa yang kau dapat dari seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Raja Iblis(Kegelapan) itu?".
Tanya Rivas kepada Samael dengan senyuman.Samael membuka tudung jubahnya dan terlihatlah ciri fisik milik samael.Ia memiliki rambut berwarna kuning jingga,wajah yang tampan(tidak lebih tampan dari protagonis kita),dan mata yang berwarna coklat.Samael pun membalas senyuman itu dengan memberitahukan segala hal yang telah ia dengarkan dari Kuvia dan Kuro.
"HUAHAHAHA!!".
Rivas yang mendengar informasi dari Samael tertawa dengan suara yang keras.Samael membalas suara tertawa milik sang raja dengan senyuman kejahatan.
"Kalau begitu,mari kita jalankan rencana kita,Samael."
Sang Raja berkata demikian dan kembali tertawa terbahak-bahak.
Seorang anak laki-laki berambut hitam tengah berjalan keluar dari kota dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku jubahnya yang berwarna hitam.Ya,Ini adalah protagonis kita.Ia berjalan menuju kebukit yang mengarah langsung ke kota Agrethe.
Selang beberapa belas menit,ia akhirnya sampai ke bukit itu.Ia membalikkan badannya dari arah kota Agrethe.Angin sepoi-sepoi menyapa lembut tubuhnya.
"Leviathan,Datanglah kehadapan ku!".
Aku berkata demikian dan The Queen of Envy,Leviathan berwujud cincin ini lepas dari tanganku dan kembali ke wujud manusia nya.Ia tiba di hadapanku dan memberikan rasa hormatnya kepadaku.
"Saya disini,Tuan Raja Iblis".
Ia mengatakan hal demikian tepat setelah hadir di depanku sambil menutup kedua matanya.
"Leviathan,kamu tahu apa yang harus dilakukan apabila ada sampah yang mengganggu?".
Aku bertanya seperti itu kepada Leviathan tanpa basa-basi sedikitpun.Leviathan pun tertegun mendengarnya dan tidak menjawab pertanyaanku dengan tubuh yang masih membungkuk.
"Jawabannya adalah,kau harus melenyapkannya.Karena jika tidak,sampah itu akan membusuk dan bahkan lebih parah dari sebelumnya".
Aku menjawab pertanyaan ku sendiri.Leviathan yang mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa.Ia tetap dalam posisi sebelumnya,tidak berubah sama sekali.
__ADS_1
("Aku bukanlah orang bodoh yang akan dengan senang hati masuk kedalam permainan jebakanmu,Rivas").