The Class Evolution

The Class Evolution
Ditemukan


__ADS_3

Aku mulai kembali berpikir, orang berseragam memasuki gedung yang besar dan mewah pada pukul 3, dan mereka kemungkinan dari dua sekolah berbeda. dimana sebenarnya kakek mona berada?


"Jadi kita akan pergi kemana?" Tanya kim penasaran pada hasil analisis ku.


"Bukankah tadi kamu bilang untuk menyuruh kami segera masuk, kupikir kamu tidak tertarik untuk ikut" mike menyindir kim sambil tersenyum.


"A... aku mah hanya mengingatkan saja, Aku adalah teman yang sangat baik tau. harusnya kamu mentraktirku nonton sebagai ucapan terimakasih " ucap kim sambil tersenyum.


"Siapa juga yang mau mengajak wanita rata seperti kamu nonton" mike kembali meledek dan adu mulut di antara Merekapun berlanjut.


"Kalian berdua berhentilah berkelahi, kalian lebih mirip suporter yang sedang tawuran dari pada teman sekelas" Aku berusaha melerai mike dan kim.


Tunggu dulu, suporter. senyum mengembang di bibirku, sepeetinya jawaban teka-teki ini cukup mudah.


"Kalian sampai kapan akan ribut, kita akan segera menjemput kakek mona" ucapku seraya melangkah.


"Tu... tunggu dulu kamu sudah tau dimana kakek ku berada? " Tanya mona cemas.


"Tentu saja. Aku akan segera mengeluarkan motor, mike ayo ikut ambil motor denganku" jawabku yakin.


"Jadi dimana itu?" tanya kim


"Nanti kamu akan tau sendiri" Jawabku seraya beranjak pergi mengambil motor.


"Bruuum !!! "


"Ayo cepat naik!!" Ucapku seraya melempar sebuah helm pada kim


"Eh, tunggu kita mau ke mana?" Tanya kim


"Stadion sepak bola" Jawabku yakin.


Segera ku gas motor sesaat setelah kim naik.


"Kenapa stadion sepak bola, bukankah tadi mona bilang sekolah?" tanya kim penasaran.


"Coba aku tanya, jika kamu ingin menonton pertandingan tim favorit mu pakaian apa yang akan kamu gunakan" tanyaku memancing kim.


"Tentu saja aku akan menggunakan seragam club favorit ku" jawab kim yakin

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan suporter grup lainnya? " aku lanjut bertanya.


"Tentu saja..... memakai seragam club favorit mereka. jadi maksudmu yang di lihat oleh kakek mona bukanlah anak sekolah tetapi suporter dua club sepak bola yang memasuki stadion?" Tanya kim mulai mengerti.


"Tepat sekali, coba sekarang kamu pikir mana ada sekolah yang baru masuk pukul tiga sore, lagi pula kemarin itu hari minggu dan lagi ada dua seragam yang memasuki satu gedung yang megah. kurasa karena kakek mona sudah mengalami masalah penglihatan maka dia hanya dapat melihat dua warna pakaian dari dua suporter yang berbeda suporter makanya dia mengira para suporter itu adalah siswa dari dua sekolah yang berbeda. selain itu gedung stadion akan terlihat seperti gedung besar yang megah dari luar." ucapku.


"Oh... Tapi apakah kakek mona masih ada di sana? "


"Kita coba saja untuk mencari dulu" Jawabku seraya memarkirkan motor di salah satu sudut parkiran stadion.


"Apakah kakek ku benar ada di sini?" mona segera menghampiriku setelah turu dari motor mike.


"Bagaimana jika kita mulai berpencar untuk mencari? " usul mike.


"Tentu saja, aku dan kim akan ke arah kanan sedangkan mike dan mona ke sebelah kiri dan kita akan berkumpul kembali di sini"


Setelah aku membagi tim pencarian, kamipun segera berpencar dan bertanya pada para pedagang di sekitar sini. setelah sekitar setengah jam berkeliling mike tiba-tiba menelponnya bahwa dia dan mona menemukan petunjuk. mendengar ada petunjuk aku dan kim segera menuju ke lokasi mike.


"mike ada petunjuk apa? " Tanyaku tergesa-gesa.


"Brian, syukurlah kamu cepat. Bibi ini bilang dia melihat kakek mona tadi pagi dan saat bibi ini bertanya kakek mona bilang ingin menolong cucunya tapi mona bilang itu tidak mungkin" jelas mike sambil menunjuk seorang bibi pemilik warung


"mona ada berapa cucu kakek dan seperti apa ciri-cirinya? "


"bagaimana ciri-ciri khusus adikmu yang masih SMA, dan mungkin sangat di ingat kakek" aku lanjut bertanya.


"Uhm... adikku sering di bully oleh teman-temannya waktu SMP dan kakek yang sering menolong adiku. jadi... " mona terlihat sedang berpikir.


"Jangan-jangan kakek mu berusaha menolong seorang anak yang sedang di bully, Bibi kemana kakek tersebut pergi? " Tanyaku pada bibi pemilik warung.


"Ke arah sana" jawab bibi sambil menunjuk sebuah jalan.


Aku segera berlari menuju jalan yang di tunjuk oleh bibi tersebut dan diikuti oleh mike, kim dan mona. hingga kami sampai di sebuah perempatan.


"Mana di antara jalan ini yang menuju sekolah? "


"Ke arah sana, jika tidak salah ada sebuah sekolah 100 meter ke arah sana" tunjuk kim ke arah kanan jalan.


tak lama setelah kami menyusuri jalan ku dengar sebuah teriakan dari sebuah gang sepi, suara yang sudah agak kurang jelas seperti suara orang tua. jangan-jangan itu kakek mona. kami segera menuju jalan tersebut dan benar itu kakek mona yang sedang berusaha membela seorang anak yang sedang di bully oleh sekitar lima orang pria berbadan besar.

__ADS_1


"Kakek lebih baik kamu minggir sebelum kami ikut melukaimu!!! " teriak salah seorang siswa berbadan besar.


"Aku akan menolong cucuku"


kakek mona terlihat berusaha melindungi seorang anak yang sedang di bully di belakang tubuhnya. Tanpa ragu mike maju dan melindungi mereka.


"Wah... jika ingin mencari lawan lebih baik carilah yang sepadan denganmu!! " ucap mike tegas


mereka menjemput nyawa jika berani melawan mike. ucapku dalam hati. Tanpa banyak kata mike memukul wajah pria berbadan besar yang tadi berteriak pada kakek mona, pria itu tumbang seketika, darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya.


"Mudah sekali, selanjutnya kalian bertempat boleh maju bersama" Ucap mike dengan tatapan serius.


Benar saja tidak memakan banyak waktu mike mampu membereskan lima orang sekaligus tanpa mengalami banyak kesulitan. Terlihat beberapa cipratan darah mengotori tangan dan baju putihnya.


"Sial... padahal aku baru ganti baju. lebih baik di buang saja karena noda darah sulit hilang" mike melepas pakaiannya dan menggunakannya untuk mengelap darah tangannya. lalu melemparkan baju tersebut ke sembarang arah.


"kakek!!! " mona segera berlari menuju kakaknya dan memeluknya.


"cucuku, bagaimana kamu bisa menemukan kakek? "


"Aku di bantu oleh mereka" ucap mona seraya menunjuk ke arah kami.


"Kamu baik-baik saja?" Tanyaku pada anak yang menjadi korban bully.


"Te... terimakasih banyak sudah menolongku. namaku Tio."


"Tidak usah sungkan kami hanya kebetulan lewat" ucapku seraya tersenyum.


"Dari seragam itu.... Aku ingat, kalian sepertinya siswa dari sekolah khusus!! " Ucap tio agak kaget


"Sepertinya kami cukup terkenal juga" mike ikut bicara. ku lihat dia bertelanjang dada membuat wajah kim memerah


"ke... kenapa kamu tidak pakai baju? " Tanya kim gugup.


"Bajuku kotor. kenapa wajahmu memerah, jangan-jangan kamu suka melihat tubuhku ya!!??" goda mike sambil mendekat ke arah kim.


"Dasar bodoh!!!! Si.. siap yang suka, sana pergi jauh-jauh dariku" Kim segera berlari menjauhi mike.


"Ini pakailah jaketku, Anggap saja sebagai ucapan terimakasih" Tio melepaskan Jaketnya seraya memberikan pada mike.

__ADS_1


"Oh... terimakasih."


Akhirnya semua selesai, setelah mengantar mona dan kakeknya pulang kamipun segera kembali menuju sekolah.


__ADS_2