
"Ini... Foto lama keluargaku, bagaimana bisa??? "
Semua masih terlihat bahagia kala itu, ayah dan ibu masih bisa tersenyum serta aku yang masih berusia 8 tahun, masih begitu polos dan belum paham arti dari kejamnya dunia. Tapi yang menjadi perhatianku kali ini adalah bagaimana foto ini bisa ada di tangannya.
"Bagaimana bisa foto keluargaku ada padamu?" Tanyaku seraya menatap tajam pak philip.
"Aku akan memberitahu mu sesuatu hal yang menarik. Apakah kamu tidak penasaran. Tentang bagaimana bisa anak miskin sepertimu bisa masuk dengan mudah ke sekolah khusus dan mendapatkan beasiswa? Kuharap kamu tidak berpikir bahwa kamu istimewa, karena masih begitu banyak murid istimewa di sekolah ini"
"Lantas kenapa kamu membawaku ke sekolah ini dan bagaimana bisa kamu mengenal keluargaku? " semakin banyak pertanyaan yang bertebaran di kepalaku.
"Untuk saat ini aku hanya bisa memberikanmu dua informasi. Pertama, ayahmu itu bukanlah seorang nelayan, pekerjaan dia yang sebetulnya adalah anggota Badan Intelejen Negara (BIN). yang kedua, ayahmu tidak mati karena kapalnya karam di terpa ombak tapi dia dinyatakan hilang ketika mendapat tugas menyelidiki sebuah kasus besar"
Mataku terbelalak kaget mendengar pernyataan dari pak philip. selama ini ayah hanya berkata pada ibu dan aku bahwa dia nelayan yang bekerja di sebuah daerah pesisir maka kami percaya saja ketika ayah jarang pulang dengan alasan melaut.
Hingga tiga tahun yang lalu kami mendapat kabar dari orang asing yang mengaku teman melaut ayah bahwa ayah meninggal karena kapal yang dia tumpangi karam di tengah laut karena di terjang badai. Aku tak pernah menyangka bahwa ayahku adalah anggota BIN dan dinyatakan hilang saat melaksanakan misi.
"Bagaimana kamu tau tentang semua ini?" Aku terus bertanya.
"Maaf, hanya dua informasi. tidak bisa lebih, karena makin banyak kamu tau maka makin dekat kamu dengan kematian"
"Apa maksudmu? Apakah kau mau bilang bahwa informasi ini berbahaya? "
__ADS_1
"Tepat, maka jika kau ingin informasi lebih buktikanlah padaku bahwa kau layak dan mampu mengemban informasi ini"
"Apakah ini juga salah satu alasan kau membiarkan aku berada dalam bahaya ketika tragedi karyawisata tempo hari? untuk melihat kelayakanku? "
pak philip tertawa kecil mendengar kesimpulanku.
"sepertinya kamu mulai paham, mulai sekarang tempatkanlah dirimu lebih banyak dalam bahaya, semakin sering nyawamu dekat dengan kematian semakin banyak informasi yang bisa kau dapatkan" ucap pak philip sembari menyeringai.
"Apakah kau mau mencoba membunuhku secara perlahan? "
"Tentu tidak, Aku malah ingin memastikan kau tetap hidup dan menyelesaikan misi yang tertunda. Tapi sebelum itu aku harus yakin bahwa kau benar-benar layak"
"Baiklah, aku akan ikuti permainan mu. semoga kau terhibur dan tidak kecewa dengan akhir cerita ini" kini giliranku yang melemparkan seringai pada pak philip.
pak philip, masih ada ribuan rahasia yang harus ku bongkar darinya. mulai dari tujuan dia yang sebenarnya hingga hubungannya dengan ayahku. Apakah, mungkin masih ada kesempatan menemukan ayahku dalam keadaan hidup.
gigiku bergetar, ku genggam erat foto keluarga yang ada di tanganku. Ayah, aku bersumpah akan menyelesaikan semua misteri ini dan menemukanmu.
*****
Di kamar asrama, mike terlihat sedang membersihkan beberapa pistol kesayangannya.
__ADS_1
"Aku masih tidak percaya kami bisa membawa senjata mematikan seperti itu ke sekolah" Ucapku seraya duduk di tempat tidurku.
"Ini bukan sekedar senjata, tapi mereka adalah kesayanganku. Ini adalah Colt 1911 maha karya yang sangat indah dari John Browning, walaupun hanya memiliki kapasitas tujuh peluru tapi pistol ini memiliki daya rusak dan akurasi yang menakjubkan" mike memamerkan sebuah pistol yang ada di tangannya.
"Oh.. selera mu lumayan bagus, Aku tau pistol ini bahkan sudah di gunakan oleh tentara amerika selama 70 tahun" Aku ikut menambahkan, walaupun tidak banyak tapi aku cukup tau beberapa jenis pistol.
"Ternyata kamu tau juga" mike tersenyum simpul ke arahku
"Tak banyak, tapi seorang detektif sangat perlu mengetahui berbagai macam hal"
"Dan yang ini adalah cinta pertamaku, AK 47" kali ini mike terlihat mengeluarkan sebuah senjata laras panjang yang sepertinya lumayan berat.
"Memang pantas sebagai penerus keluarga mafia, bahkan cinta pertamamu adalah sebuah senjata laras panjang" mike tersenyum simpul mendengar kata-kataku.
"Setidaknya aku punya cinta pertama, kamu bagaimana? " mike berbalik bertanya padaku.
"Aku masih terlalu sibuk dengan banyak hal, belum punya waktu untuk hal seperti itu. Lagi pula aku mungkin akan lebih membawanya kearah bahaya dari pada bahagia" Aku menunduk dalam, kembali teringat kata-kata pak philip tentang bahaya yang cepat atau lambat akan ku alami.
"Ada apa dengan nada bicaramu itu, apakah kamu tidak yakin bisa membahagiakan seorang wanita atau tidak yakin bisa menjaganya dengan baik?" mike bertanya dengan nada penasaran
Aku hanya diam, aku tidak bisa melibatkan teman-temanku dalam bahaya. Ini adalah masalah pribadi keluargaku, bahkan mike yang seorang mafia pun tak bisa ku libatkan karena aku bahkan masih belum memiliki bayangan tentang seberapa berbahayanya musuh yang nantinya ku hadapi.
__ADS_1
"Kenapa kau melamun, apakah kau memikirkan seorang wanita? Atau jangan-jangan kau baru saja di tolak oleh kim? " mike tertawa renyah
"Sudah ku bilang aku tidak naksir perempuan Manapun, apalagi kim yang galak itu"