The Class Evolution

The Class Evolution
Dimana Racunnya


__ADS_3

Aku perlahan memasuki kamar ayah Tio, berusaha berjalan sangat hati-hati agar tak ada bukti yang rusak. kemudian mendekati ayah tio yang tergeletak di lantai, aku cek nafas dan denyut nadinya.


"Meninggal " gumamku


Seketika tangis Tio dan ibunya tumpah mengetahui bahwa ayah tio sudah meninggal. Tak lama setelah itu polisi tiba dan langsung mengadakan olah TKP serta memeriksa para saksi.


"Korban diketahui meninggal karena menelan racun, dan yang terakhir di konsumsi oleh korban adalah secangkir teh yang masih tersisa separuh di kamarnya. Jadi, kemungkinan ada yang sengaja menaruh racun di dalam teh tersebut. Siapa yang membuat teh ini? " papar salah seorang polisi sambil bertanya.


"Saya yang membuatnya, tapi nyonya yang mengantarkan ke kamar tuan" pelayan yang membuat teh angkat bicara.


"Jadi bisa saja kau yang sengaja meletakan racun di dalam teh tersebut" tuduh pak polisi


"Itu tidak mungkin, karena sebelum pelayan mengantarkan teh tersebut dia sengaja meletakan seluruh nampan teh di depan kami. Setelah kami mengambil masing-masing segelas teh barulah pelayan mengantarkan secangkir teh yang tersisa pada korban, jika memang racunnya sudah diletakan sejak awal tidak mungkin sengaja menawarkan kami dulu, pelaku pasti lebih memilih memisahkan teh beracun agar tidak diminum oleh orang lain" Tuturku.


"Jadi kemungkinan istri korban yang meletakan racun di dalam teh ketika akan mengantarkannya pada korban"


"Mana mungkin aku sengaja meracuni suamiku, jika kalian tidak percaya silahkan geledah saja. jika memang aku yang menaruh racun, setidaknya racun itu pasti masih ada padaku karena setelah mengantar minuman aku langsung kembali ke ruang tengah" Bela ibu tio


"kalau begitu kita catat dulu para saksi. Jadi, total ada sembilan orang di rumah ini termasuk korban, yang pertama ada istri korban bernama Dian, kemudian seorang pelayan bernama nina, anak korban Tio dan empat orang siswa dari sekolah khusus yang di undang makan malam oleh anak korban yaitu Brian, Kimberlly, mike dan Anna" tutur salah seorang polisi


"Coba ceritakan bagaimana kronologi penemuan mayat korban? " polisi lanjut bertanya.

__ADS_1


"Saat itu kami semua sedang menikmati cemilan Di ruang tengah, saat tamu kami ingin pulang maka aku memanggil suamiku untuk mengantarkan mereka sampai depan tetapi beberapa kali pintu di ketuk suamiku tak kunjung keluar akhirnya salah satu teman Tio mendobrak pintunya dan sudah menemukan suami saya dengan kondisi meninggal" Tutur ibu tio.


"Lapor pak, kami sudah mengecek kamar dan juga minuman yang terakhir diminum korban tapi tidak menemukan racun dalam minuman tersebut. Tapi, kami menemukan sisa racun di jari tangan korban. kondisi kamar korban juga seluruhnya tertutup, tak ada celah bagi orang luar untuk masuk" Salah satu polisi melapor pada komandan mereka.


Semua orang terbelalak kaget, jika tidak ada racun di dalam minuman korban lantas bagaimana korban bisa meninggal karena keracunan.


"Maaf jika boleh saya ingin membantu penyelidikan ini" aku berucap tegas.


"Maaf kamu siapa? " Tanya komandan polisi.


"Saya adalah salah satu siswa di sekolah khusus, nama saya Brian" lanjutku.


"Maaf nak, kasus ini bukan untuk permainan anak-anak jadi serahkan saja pada pihak berwajib"


Sepertinya aku harus memecahkan misteri ini dengan caraku sendiri.


"Apakah ini bunuh diri? " gumam salah seorang polisi.


"Tidak mungkin, jika memang korban dari awal berniat bunuh diri pasti akan memilih waktu dimana tidak ada tamu atau kondisi rumah sepi untuk memastikan rencana bunuh dirinya lancar tanpa diketahui banyak orang" ucapku.


"Anak ini lagi, sudah dibilang jangan ikut campur" salah satu polisi berusaha menghentikan aku.

__ADS_1


"Tunggu dulu, Aku sepertinya mengenal bocah ini. dia adalah salah satu siswa sekolah khusus yang membantu memecahkan kasus pembunuhan anak konglomerat di villa sekitar sebulan lalu" komandan polisi angkat bicara seraya memperhatikanku secara menyeluruh.


"Benar sekali, jadi aku harap bisa kembali membantu pak polisi pada kasus kali ini" Ucapku yakin.


"Baiklah bocah, ikut denganku memeriksa kamar korban. Tunjukkan hasil dari sekolah khususmu itu. polisi yang lain tolong bantu memeriksa alibi para saksi" komandan polisi sepertinya mulai mempercayaimu dan mengajakku memeriksa kamar korban saat polisi lainnya mencatat alibi para saksi.


Aku mulai berkeliling, mencari di setiap sudut kamar barang kali ada bukti penting yang tertinggal. Hingga aku mulai memperhatikan secara seksama cangkir teh korban.


"Pak polisi anda bilang tidak ada racun di dalam minum korban, tapi jelas-jelas korban meninggal karena keracunan dan ternyata racun malah ditemukan pada bagian jari korban? " Tanyaku.


"iyah betul, tepatnya hanya pada enam jari yaitu jari jempol, telunjuk dan jari tengah tangan kanan dan kiri juga ada sedikt racun yang menempel pada pegangan cangkir. sepertinya itu juga berasal dari jari korban" tutur pak polisi


Sangat aneh, dari mana asalnya racun tersebut sehingga hanya terdapat pada tiga bagian jari kiri dan kanan. Padahal yang terakhir di konsumsi oleh korban hanya teh tersebut lalu bagaimana caranya racun itu masuk ke tubuh korban.


"Apakah mungkin dari makanan atau cemilan korban sebelumnya" komandan polisi mulai ikut berspekulasi.


"Kurasa tidak mungkin, karena kamu makan bersama. Terlalu beresiko jika menaruh racun pada makanan apalagi jika pelaku tau sedang ada acara perjamuan seperti ini, sedangkan cemilan juga tidak mungkin karena setauku korban langsung masuk kamar setelah makan malam tanpa mencicipi cemilan" Aku berusaha mematahkan spekulasi tersebut.


"Kenapa tidak ikut makan-makanan pencuci mulut pada acara perjamuan? " Tanya pak komandan polisi.


"Itu karena korban merupakan pengidap penyakit diabetes tapi sangat menyukai manis makanya setiap ada makanan pencuci mulut yang manis korban cenderung menghindar dan memilih meminum teh di dalam kamar" Jelasku

__ADS_1


"Komandan kami sudah selesai memeriksa alibi para saksi. Selain pelayan, semua orang sedang menikmati cemilan di ruang tengah" lapor salah satu polisi


"Jadi hanya ada satu orang yang tidak memiliki alibi yaitu pelayan bernama nina"


__ADS_2