
'Aku adalah senja, saat semua orang menatap jingga aku hanya akan termenung menunggu rembulan.
saat mentari bernyanyi sebuah Serenada, aku akan memaksa bintang-bintang membuka mata.
Aku bukanlah apa-apa, hanya senja. tentang mentari yang menunggu datangnya bulan'
"Wah.... tidak kusangka kamu jago bersajak loh"
Tak ku sangka Serry yang pendiam jago bersajak, Serry yang terkaget mendengar pujianku langsung menghentikan sajaknya.
"Te-Terimakasih"
"kursi ini kosongkan?"
Serry mengangguk, aku dan mike segera duduk berhadapan dengan serry.
sambil menunggu makanan tiba kami berbincang, karena memang sangat jarang ada kesempatan untuk mengobrol dengan Serry, sedangkan mike sepertinya masih asyik dengan dunianya sendiri
"Hei... serry kenapa kamu tidak pernah melawan ketika di bully sarah? "
"Aku hanya tidak suka ada keributan, selama itu hanya kata-kata aku tidak pernah ambil pusing"
"kamu santai sekali yah, sangat berbeda dengan perempuan lain di kelas. yang satu galak dan satu lagi agak aneh"
Serry tertawa mendengar kata-kataku, mungkin dia tau yang kumaksud adalah kim dan sarah.
Tidak lama pesanan kami tiba, sepiring nasi goreng dan mie goreng. Mike tidak langsung memakan nasi goreng pesanannya, tapi dia hanya memandang cukup lama sampai berucap.
"Kalian suka bingung ngga sih kenapa nasi udah mateng masih di goreng dan kenapa namanya mie goreng tapi masaknya tetap di rebus? "
mulai aneh lagi anak satu ini.
__ADS_1
"kamu tinggal makan saja kenapa pusing banget sih"
"Aku kan cuma penasaran, kenapa kamu ngegas begitu brian"
"Memang kamu pikir aku motor bisa ngegas"
Serry yang melihat kami bercanda hanya bisa tersenyum.
"Eh... Itukan bu guru emi, wali kelas kita"
aku menunjuk seorang perempuan berumur 30 tahunan yang terlihat sedang kesulitan membawa cukup banyak buku dan lembaran kertas.
"Bantu gih" celetuk mike sambil menyuap nasi goreng.
aku setengah berlari mendekat ke arah bu Emi, dan menawarkan bantuan.
"ibu kelihatannya kesulitan, biar saya bantu bawa bukunya"
"Siap!!!!" balasku sambil mengambil buku-buku di tangan bu Emi.
"kalo boleh tau ini buku apa ya bu? "
"Oh, ini berkas siswa kaka kelas kalian yang akan lulus"
"oh"
Aku ber 'Oh'ria mendengar penjelasan bu emi. kuperhatikan tumpukan buku paling atas terdapat sebuah foto seorang perempuan berambut coklat. Entah kenapa dia seperti familiar di mataku.
"Oke sudah sampai, terimakasih sudah membantu ibu. letakan saja buku-buku itu di meja biar aku yang akan membereskannya"
setelah selesai aku kembali ke kantin untuk melanjutkan makan siang. ku lihat hanya ada mike di sana, mungkin serry sudah pergi karena merasa tidak nyaman aku tinggal berdua dengan mike.
__ADS_1
belum sempat duduk kulihat piring berisi mei goreng yang telah kupesan sudah kosong padahal sebelumnya masih tersisa setengah. segera ku tatap mike tajam.
"tidak usah marah, aku yang makan soalnya tadi sudah di hinggapi lalat. aku hanya takut kamu sakit perut jika memakannya jadi aku habiskan"
Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan memesan kembali. Aku masih penasaran dengan foto siswa yang ada di buku tadi seperti pernah kulihat.
aku masih mencoba mengingat-ngingat sampai aku tau kejadian beberapa bulan yang lalu ketika ada seorang siswa yang tewas bunuh diri. ya, gadis itu adalah siswa yang tewas bunuh diri. walaupun aku tidak tau pasti penyebab kematiannya tapi yang jelas beredar kabar bahwa dia di lecehkan hingga hamil, dan akhirnya kerana menanggung malu lebih memilih untuk mati bunuh diri.
"Brian!!!! makanan mu sampai. jika kamu terus melamun biar aku lagi yang habiskan"
segera kutarik piring berisi mie goreng tersebut menjauh dari mike sambil melotot.
selesai makan kami kembali keasrama, dan bersiap untuk istirahat. sesampainya di lorong asrama aku bertemu lagi dengan kim.
"Wah dua sejoli sedang berkencan"
mulai lagi pikirku. aku berusaha tak menghiraukan kim dan berlalu begitu saja. lagi pula untuk apa di datang ke asrama laki-laki.
sesampainya di kamar segera ku rebahkan badan di kasur, lelah pikirku.
sedangkan mike yang sekamar denganku langsung menuju kamar mandi. walaupun asrama jangan pikirkan tentang kamar sempit dengan ranjang tingkat. kamar asrama disini sangat luas, berukuran 6 x 6 meter dengan kamar mandi di dalam ruangan dan masing-masing tempat tidur berukuran sedang.
sekolahku memang bisa di katakan mewah, untuk dapat jadi siswa di sini saja di perlukan keistimewaan khusus seperti bakat atau kecerdasan di atas rata-rata belum lagi biaya yang lumayan mahal, tak heran sekolah ini hanya menerima tak lebih dari 50 siswa tiap tahunnya.
mike terlihat sudah keluar dari kamar mandi dan langsung terduduk di kursi belajar di sisi tempat tidur.
"Brian... aku tadi sempat ngobrol dengan serry" raut wajah mike nampak cukup serius seperti akan membicarakan hidup dan mati.
"Kenapa? " jawabku singkat seraya bangkit dari tempat tidur.
"Tentang siswa yang tewas bunuh diri beberapa bulan yang lalu, Serry bilang ada pihak atas dari sekolah kita yang mungkin terlibat"
__ADS_1