
"Ini pertama kalinya aku bolos sekolah" Ucapku setelah kembali ke sekolah.
Setelah selesai menolong kakek mona akhirnya kami kembali ke sekolah sekitar pukul sepuluh siang.
"Tidak ada salahnya sekali-kali kamu menemani kami bolos sekolah, lagipula kita membolos karena menolong orang" ucap mike datar.
"Tenang lah Brian, aku yang sering bolos saja tidak pernah di hukum kok. Entah kenapa sekolah kita ini walaupun di bilang sekolah khusus tapi siswanya seperti tidak berminat untuk sekolah" kim ikut membalas ucapan mike.
Kami terus mengobrol sambil menyusuri lorong menuju kelas.
"Tapi ngomong-ngomong kalian serius kita akan masuk ke kelas?" Tanyaku agak ragu.
ku lihat kembali penampilan kami satu persatu, mike hanya memakai jaket karena seragamnya yang sudah kotor dia buang sembarangan, kim dan aku dengan penampilan yang agak kusut karena naik motor sambil ngebut. di tambah kami datang terlambat. kurasa siapapun bisa salah paham dengan kami bertiga.
Aku hanya bisa menarik nafas panjang. kembali berpikir awalnya ketika masuk sekolah kukira semua orang merupakan siswa teladan dengan semangat belajar yang tinggi. ternyata ekspetasi sangat jauh dari kenyataan.
sesampainya di kelas, hanya ada kana yang sedang tertidur.
"Nah... sudah kubilang kan kamu terlalu khawatir"
"sepertinya aku lebih memilih kembali ke asrama saja" ucap kim enteng sambil berlalu pergi.
"Haaaah.... Aku masih tak habis pikir sekolah khusus anak-anak berbakat sepertinya hanya berisi siswa yang sudah malas sekolah" aku terduduk santai di kursi.
"Kamu tidak bisa hanya menilai seseorang dari satu sisi"
"Tapi ngomong-ngomong, ku pikir kamu tidak akan mudah tertarik dengan urusan orang. bagaimana bisa kamu terlibat untuk menolong mona? " Tanyaku penasaran
__ADS_1
"Kamu sangat tau sifat ku, sebetulnya tadi pagi saat aku akan ke kelas seorang pria berambut pirang dengan bola mata biru terang menghampiriku. dia memintaku memberitahu kamu tentang masalah mona"
Aku tersentak kaget. seorang pria dengan rambut pirang dan bola mata biru terang.
"Pak phillip, Kepala sekolah" gumamku pelan.
"apa yang kamu katakan? Apakah kamu mengenal pria itu? " mike mulai bertanya penasaran.
"Tidak... bukan apa-apa, Aku sepertinya mengenal pria itu dan sepertinya pria itu merindukanku. aku akan pergi sebentar, sebaiknya kamu tidak ikut jika tak mau terlibat hal-hal yang merepotkan " aku tersenyum simpul seraya berlalu pergi.
"oke!!! " mike yang mengerti maksudku hanya mengangkat jempol dan tersenyum penuh makna.
kepala sekolah, ada kejutan apalagi yang akan dia rencanakan. Terakhir kali aku bertemu dengan pak philip adalah saat pemakaman sarah.
"Mencari seseorang? "
"Pak phillip. Bukankah anda yang sedang merindukanku" ucapku sambil menaikkan sebelah alisku.
"Sangat peka, ikutlah. Aku akan memberikan sebuah hadiah menarik untukmu" pak phillip tertawa kecil sembari berjalan santai akupun hanya mengekor di belakang.
Kami akhirnya sampai di sebuah ruangan cukup luas tapi hanya ada sebuah meja dan kursi dengan desain mewah di ruangan tersebut.
"Jadi, hadiah apa yang pantas kudapatkan"
"sangat tidak sabaran, padahal kamu sudah bolos dari sekolahku" pak phillip duduk santai sambil menyilangkan kaki.
"Bukankah hampir semua murid di sekolah ini senang membolos, tapi yang jauh lebih aneh adalah anda sebagai kepala sekolah bahkan tak pernah marah apalagi menghukum mereka. bahkan di kelasku ada dua orang yang tidak pernah masuk ke kelas hampir setengah tahun"
__ADS_1
"ha.. ha.. ha..., kamu benar-benar lucu"
pak phillip tertawa agak keras, padahal menurutku tak ada yang lucu dari masalah siswa membolos. mungkin jika kepala sekolah normal pada umumnya akan prustasi ketika tau banyak murid membolos tapi pria aneh di depanku malah tertawa gembira.
"Anda sangat aneh" ucapku apa adanya.
"Brian, kamu memang sangat pandai beranalisis tapi sepertinya kamu masih belum mengerti tentang sistem pendidikan. Sekolahku merupakan sekolah khusus, setiap siswa yang ada di sini adalah anak-anak istimewa dan mereka istimewa dengan cara mereka sendiri.
Jika mereka berbakat olahraga maka aku tidak akan memaksa mereka untuk pandai matematika juga. jika mereka suka melukis maka aku akan biarkan mereka melukis setiap sudut tembok sekolah. aku percaya setiap anak istimewa dengan cara mereka sendiri.
Dan aku percaya kamu akan semakin istimewa ketika kemampuan analisis mu makin di asah. Maka dari itu aku membebaskan setiap siswa untuk belajar dengan cara mereka sendiri, dengan cara yang mereka sukai, selama itu masih baik dan tidak melanggar batasan. aku hanya akan jadi pemantau dan mengarahkan serta memberikan peluang bagi mereka untuk mengasah bakat dan kemampuan mereka"
pak philip menjelaskan panjang lebar mengenai pandangannya dalam dunia pendidikan, hal yang membuatku takjub. tak ku sangka pria yang kelihatan seperti playboy ini bisa memiliki pandangan yang luar biasa seperti itu.
"Aku tak menyangka pria yang kelihatan seperti playboy bisa memiliki pandangan yang sangat bijak tentang pendidikan"
"Bocah... kamu bilang aku mirip playboy. Aku masih kepal sekolahmu" ucap pak philip agak kesal.
"Maaf pak kepala sekolah, jadi sebetulnya ada hal penting apa yang akan anda bicarakan? " ucapku sambil tersenyum simpul
"Oh... ini hadiahmu" pak philip melemparkan sebuah kunci kecil padaku.
"ini....? " sepertinya ini adalah gembok kunci dari kotak kayu yang sebelumnya dia berikan.
Aku segera mengambil sebuah kotak kayu dari dalam tas. perlahan ku masuk kunci tersebut dan ternyata cocok. ku putar pelan hingga kotak tersebut terbuka. Aku tersentak kaget, wajahku memanas hingga air mata yak terasa mengalir di pipiku.
"Ini... Foto lama keluargaku, bagaimana bisa??? "
__ADS_1