
"bagaimana acara nya?" tanya ibu nya amel
" meriah Bu" sahut amel
" ya sudah kalo begitu ibu mau tidur"
" iya Bu.." amel juga segera masuk ke dalam kamar nya untuk membersihkan diri dan mengganti baju nya
lain hal nya dengan citra yang masih kebingungan bagaimana cara nya untuk menggantikan baju nya Lee di tambah lagi repotnya citra saat Lee muntah, bau yang sangat tidak enak membuat nya juga ikutan muntah
"begini kah susahnya menguruh orang mabuk" ucap citra yang kesal
" kakak bangun ganti baju nya" citra yang terus terusan memanggil Lee
"hhmm" sahut Lee yang setengah sadar, bukannya melepas baju Lee malah memeluk citra dengan erat membuat citra terjatuh di pelukan lee
"jangan tinggalkan kakak" ucap Lee
" ih kakak aku mau ganti baju" citra terus berusaha untuk menyingkirkan tangan nya Lee namun Lee terus terusan menaruh tangan nya ke atas perut nya citra
citra juga merasa capek karena mengurus Lee malam ini dan tiba tiba di juga tertidur di pelukan nya Lee
jam sudha menunjukkan pukul 23.50 tiba tiba ponselnya amel berbunyi
"duh siapa sih yang nelpon tengah malam ini " ucap amel sambil membuka mata nya, nomor baru yang tidak ada nama nya
"hallo ini siapa?" tanya amel debgan suara serak nya
orang itu tidak ada suara namun langsung mengalihkan dari telpon suara ke Vidio call
" Vidio call, siapa sih ini, iseng banget malam malam Vidio call" batin amel berbicara
saat mengangkat panggilan Vidio call amel langsung terkejut yang tadi matanya ngantuk langsung melotot saat melihat laki laki tampan menggunakan kaos oblong siapa lagi kalo bukan Dava lelaki dingin sedingin kutub Utara
" gak usah melotott seperti itu dan jangan mencari kesempatan untuk memandang gue" ucap Dava
" siaaapa yang memandang Lo" sahut citra dengan gerogi
"apa lagi yang dia mau, apakah dia tidak puas sudah bikin malu gue tadi" batin amel berbicara
"apa gak ada waktu lain?apa Lo gak tau ini jam berapa dan waktu nya orang tidur"
" gue tau" sahut Dava tidak merasa bersalah saat membangunkan amel di tengah malam
"terus Lo mau apa lagi?"
"gue perlu duit" sahut Dava
__ADS_1
" tapi untuk saat ini gue gak ada duit nya.. harus berapa kali sih gue jelasin sama Lo" ucap amel suara serak khas bangun tidur
" hhm... kalo gitu mulai besok Lo harus kerja dengan gue"
" hah kerja.? kerja apa?" amel kaget mendengar ucapan Dava kembali
"nih orang kalo lama lama sama dia bis amati jantungan gue" ucap amel dalam hati
" besok pagi jam 07.00 temui gue nanti alamat nya gue kirim lewat WhatsApp"
"huh.. ya udah gue mau tidur semoga malam ini gue gak mimpi buruk" ucap amel
"tanpa berkata apa apa Dava langsung mengakhiri telpon nya
" dasar gak sopan" ucap amel yang langsung menggeletakkan ponsel nya dan lanjut tidur
matahari sudah mulai bersinar memasuki jendela kamar nya amel, amel mulai mengucek-ngucek mata nya dan meraih ponsel nya
"06.00" jam yang tertera di layar ponselnya amel dan di lihat nya ada pesan masuk.
"temui gue di alamat, jalan *** komplek merpati no 34 rumah warna putih jam 07.00 jangan telat " amel benar benar kesal membaca pesan dari Dava
" ternyata gue salah menilai orang" gerutu amel menyesali pernah jadi fans nya.dava
"Mel apa kamu sudah bangun?" teriak ibu
" kamu mau kemana kok sudah rapi, bukan nya jam kuliah kamu siang?" tanya ibu
" aku kerumah teman Bu ada urusan "
"teman siapa? citra?"
" bukan bu.. teman kampus aku juga"
" oh gitu, ya sudah kamu sarapan dulu" ibunya sudah memasakkan nasi goreng kesukaan amel
beberapa menit kemudian
Amel sudah selesai makan dia langsung berpamitan dan langsung pergi menggunakan motor kesayangan nya
" hati hati di jalan" ucap ibu nya
" iyu Bu" amel pun langsung melakukan motornya
beberapa menit kemudian amel berhenti di depan komplek yang di beri alamat oleh Dava. dia melajukan motornya dekan rendah sambil mencari nomor rumah, dan dia pun terhenti di depan rumah dengan angka 305 tepat nya angka nomor rumah Dava..
rumah yang begitu besar dan mewah
__ADS_1
sebelum ingin memencet bel rumahnya ada pesan masuk di ponsel nya
"langsung masuk saja pagarnya tidak berkunci" pesan singkat yang di kirimkan oleh Dava
" dimana orang itu? kenapa dia bisa tahu kalo aku ada di depan rumah nya ?"
amel pun langsung membuka gerbang rumahnya dan juga memasukkan motor kesayangannya itu ke dalam rumah besar itu
" permisi..." panggil amel sebelum masuk ke dalam rumah
perlahan dia memasuki ruangan rumah itu, sepi, senyap seperti tidak ada ornag di rumah sebesar ini.
" kenapa heran melihat rumah saya?" terdengar suara laki laki dari arah kejauhan tapi amel masih tidak mengetahui dimana keberadaan laki laki itu
"apa itu Dava? monster ganteng itu?" batin amel berkata
terdengar suara langkah kaki yang turun dari anak tangga dan amel pun memberanikan diri untuk menoleh ke arah suara itu, dan tiba tiba tatapan amel menjadi membulat
"seperti tidak pernah melihat cowo ganteng saja" begitu pedas kata kata Dava
" hhmmm .." amel menarik napas panjang
"ada apa kamu menyuruh saja untuk datang kesini?" Amel bertanya kepada Dava
Dava mengeluarkan senyum tipis nya bukan nya amel menginginkan senyuman itu melainkan amel sangat membenci nya dengan senyuman itu, senyum yang penuh dengan keangkuhan dan kesombongan
" bukankan aku sudah berjanji akan melunasi utang nya nanti, atau kamu menyuruh aku kesini kamu ingin...." ucapan amel terhenti
" jaga pikiran kamu, saya gak akan berbuat macam macam dengan kamu, masih banyak perempuan yang mengantri dengan tubuh saya ini " ucap Dava yang tetap sombong
"wajar sih laki laki tampan seperti Dava ini pasti sombong " ucap amel dalam hati
" gak usah pikir macam, saya cuman mau kamu kerja dengan saya"
"kerja? kerja sebagai apa? apa sebagai pembantu kamu? saya tidak mau kalo kerja sebagai pembantu kamu"
"ya sudah kalo kamu gak mau kamu bisa ganti uang saya sekarang"
"kan kata saya nanti"
"gak bisa, pilihan kamu cuman dua, yang pertama kamu harus lunasin semua utang utang kamu sekarang, atau kamu harus bekerja dengan saya sampai utang kamu lunas"
"apa tidak ada pilihan lain selain itu?"
"tidak ada, itu sudah pilihan terakhir "
" tapi kan saya kemaren gak pengen minta tolong dengan kamu"
__ADS_1
"oke gak pengen minta tolong dengan saya, tapi apa kamu mau melihat ibu kamu mati karena kamu tidk berusaha?"